
"Happy birthday to you ... happy birthday to you ...." Suara bening Yue terdengar ceria. Gadis itu membawa tart kecil buatannya dan di atas tart itu ada angka 24. Terdapat pula tulisan 'Happy Birthday To Ryu Hikaru'.
Ryu membuka matanya. Ah ... lagi-lagi dia merayakan hal yang tak penting. Kenapa dia begitu perhatian padaku?
"Kakak ... selamat ulang tahun," kata Yue senang, dia mendekati Ryu lalu mencium pipinya.
"Terima kasih," jawabnya pelan pada gadis cantik itu. Ia menatap gadis yang usianya mulai beranjak remaja.
Kini usia gadis cilik itu sudah 12 tahun. 6 tahun lamanya ia menghabiskan hidupnya menemani Ryu yang berbaring tak berdaya. Yue tumbuh menjelma bak dewi Aphrodhite, legenda Yunani yang disebut-sebut sebagai dewi kecantikan. Kecantikannya yang alami merupakan turunan dari sang ibu.
Ryu sadar sadar, bahwa mungkin sebentar lagi Yue akan menjadi primadona yang akan diperebutkan banyak pria dalam hitungan tahun ini.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya gadis itu heran.
Pemuda itu hanya tersenyum. "Mungkin sebentar lagi kau akan meninggalkanku."
"Mana mungkin." Yue cemberut.
"Itu pasti, kau sekarang sudah mulai remaja, jika kau sudah punya pacar, kau pasti akan melupakanku. Aku jadi sedih, aku akan sendiri."
Yue tersenyum cerah. "Jangan khawatir. Aku tak mau disibukkan dengan urusan pacaran. Guru baletku mengatakan lebih baik aku meneruskan mimpiku yang pasti. Yaitu menjadi balerina
terkenal dan diakui dunia. Di saat terkenal nanti akan aku tunjukkan pada dunia, kalau aku seperti ini karena memiliku tekad kuat seorang Ryu Hikaru. Karena di hatiku kau tetap nomer satu, ya setelah Lucas Hikaru."
"Wah ... wah ... aku jadi tersanjung, bagaimana jika kelak kau dewasa nanti menikah denganku saja. Mau, kan?" goda Ryu.
Yue cekikikan. "Hm ... meskipun kau tampan, but sorry ... you not my style."
"Lalu apa bedanya aku dengan Lucas? Marga kami sama. Bukankah dia lebih tua dariku?"
Lucas Hikaru, aktor ternama blesteran asal Jepang - Kanada, yang usianya di pertengahan 30 tahunan itu merupakan tipe pria idaman Yue sejak kecil. Wajah tampan berkharismatik yang ditambah dengan sifatnya yang cool dan lumayan sombong telah berhasil mencuri perhatian sang balerina kecil.
"Jangan menyamakan Lucas denganmu. Sangat jauh! Dia itu seperti matahari. Silau jika dipandang."
Ryu tertawa. "Kalau begitu, katakan padaku siapa laki-laki selain Lucas?"
Wajah Yue memerah. "Sayangnya dia tak suka padaku," jawabnya malas. Antara sedih dan kesal.
Ryu berpikir sesaat. "Apa jangan-jangan anak laki-laki itu? Pasangan tari baletmu, benar, kan?"
Yue mengangguk malas. "Namanya Leon. Leonard Piscassio, tapi Leon lebih menyukai Lauren sahabatku. Ah ... menyebalkan. Sudahlah, tiup lilinnya sekarang dan buat permintaan."
"Kau saja yang melakukan."
Alis Yue terangkat. "Kenapa?"
Ryu hanya tersenyum datar. "Setiap hari aku selalu membuat permohonan pada Tuhan, tapi Tuhan mengabulkannya dalam waktu yang sangat lama. Aku ingin kau yang meminta pada-Nya untuk kebahagianku."
"Baiklah." Yue mengatubkan kedua tangannya memohon sebuah permintaan. Gadis kecil itu tahu, ayahnya berkata kalau kemungkinan besar Ryu akan menghabiskan sisa hidupnya berada di atas kursi roda. Kelumpuhan itu seakan mengisyaratkan pemuda Hikaru tersebut tak punya harapan untuk bisa kembali seperti dulu.
__ADS_1
Sementar Ryu hanya melamun menatap jendela. Miku, aku merindukanmu.
🌷🌷🌷🌷
Matahari menerobos masuk melalui celah-celah lubang angin yang ada di kamar Masaya. Pria itu merasakan kepalanya berdenyut pelan. Pusing. Perlahan dia membuka matanya dan melihat weker di samping tempat tidurnya. Jam 08.40 pagi. Dia bangun dari tidurnya lalu duduk.
Kepalanya masih pusing akibat wine yang diteguknya kemarin. Masaya ingat bahwa dirinya menghabiskan dua botol wine bermerk 'Sherry'. Masaya juga melihat kemeja biru mudanya tergeletak di lantai. Dia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, lalu menjambak rambutnya pelan.
Tiba-tiba dia teringat Miku.
Matanya membolak besar. Ya Tuhan, apa aku sudah menyakitinya semalam? Pria Fujimine itu terlihat cemas. Pikirannya langsung tertuju pada kamar mandi yang ada di sebelah pojok kamarnya. Buru-buru ia mengenakan pakaiannya, lalu menggedor pintu itu cemas. "Miku ... kau di dalam, kan?
Kau baik-baik saja?" tanyanya takut. "Miku, buka pintunya."
Tak ada jawaban selain suara air dari kran yang mengalir. Ia menggedornya sekali lagi. Entah kenapa hatinya sangat mencemaskan keadaan istrinya. "Miku, jawablah! Jangan membuatku takut!"
Tetap tak ada jawaban.
Akhirnya Masaya membiarkan istrinya berlama-lama di kamar mandi. Dia sendiri lebih memilih mandi di kamar mandi tamu di bawah.
Miku membiarkan tubuhnya diguyur air shower. Dia menangis sedih mengingat perlakuan Masaya yang kasar padanya. Semalam sang suami melukai bagian hatinya yang terdalam.
Usai mandi ia mengenakan piyama putih lalu keluar dari kamar mandinya. Dilihatnya suaminya sedang duduk di pinggir kasur menatap lantai.
Masaya menoleh saat hidungnya mencium harumnya shampo yang biasa dipakai istrinya. Dilihatnya Miku mengenakan piyama putih seperti yang piyama ia kenakan saat ini. Dulu mereka membeli piyama itu karena ada promosi untuk couple di toko.
Ditatapnya lekat-lekat wajah itu. Ingin rasanya dia membawa istrinya ke dalam dekapannya, tapi tubuhnya enggan melakukan. "Miku ... maafkan aku," ujarnya serak dan menyesal.
Miku bungkam. Ia menggenggam piyamanya erat-erat agar tubuhnya tak bergetar. Kata-kata Masaya kembali mengusik telinganya. Jika bukan karenamu aku sanggup mengembalikan Satoshi pada ayah kandungnya. Anakku hanya Himeka. Satoshi ... dia hanya anak haram yang ditinggalkan ayahnya sebelum dilahirkan. Kasihan sekali nasibnya.
"Miku,"
Wanita itu tersadar dari lamunannya, air matanya kembali menetes tapi dengan cepat dia menghapus.
Masaya memejamkan matanya. Aku pasti sudah menyakitinya. Tuhan ... apa yang sudah kuperbuat padanya semalam sampai dia menangis seperti ini? Tanpa mendengar penjelasan dari istrinya dia mulai mengira-ngira, menebak apa yang sudah terjadi semalam. Masaya hanya bisa mengutuk dirinya saat ini.
Miku menengadahkan wajah untuk melihat wajah suaminya. Wajah itu penuh penyesalan dan muram. Wajah Masaya terlihat segar sehabis mandi, tapi tetap saja raut kesedihan wajahnya tergambar jelas. Tetesan air jatuh dari ujung rambutnya yang basah. Sebenarnya, Masaya terlihat menyedihkan dan terluka dengan penampilan yang seperti itu.
Tiba-tiba Miku memeluk suaminya. Masaya kaget, tapi hanya sesaat karena dia balas memeluk Miku sambil tersenyum. "Anata ... jangan pernah mabuk lagi. Aku mohon," isaknya.
Pria Fujimine itu mendorong tubuh istrinya pelan dan menatap bola matanya. Sementara kedua tangannya masih memegang pundak Miku. "Apa semalam aku menyakitimu?"
Miku mengangguk.
Mata Masaya terpejam. Sedetik kemudian dia berlutut di depan Miku, sementara kedua tangannya menggenggam tangan sang istri. Kepalanya menunduk menatap lantai.
"A-anata ...."
"Maafkan aku. Aku ... menyesal, aku mohon maafkan aku," pintanya memohon benar-benar menyesal. Suaranya begitu serak dan bergetar.
__ADS_1
Entah kenapa hati Miku lebih hancur melihat Masaya sampai memohon seperti itu dibanding perlakuannya semalam. Dia mencintai Masaya melebihi apa pun. "Aku maafkan."
Pria tampan itu menengadahkan wajahnya tak percaya. Semudah itukah istrinya memaafkannya? "Benarkah, kau memaafkanku?" tanyanya tak percaya. Begitu Miku mengangguk tulus betapa bahagianya hati Masaya. Ia segera berdiri lalu memeluknya erat dan berterima kasih.
Satoshi yang sejak tadi diam menyaksikan kejadian itu di depan pintu kamar orang tuanya, yang tak sengaja dibiarkan terbuka. Pandangan bocah kecil itu bertemu dengan Masaya yang kini tersenyum ke arahnya.
Masaya melambaikan tangannya menyuruh Satoshi mendekat, awalnya, anak lelaki itu ragu, tapi setelah melihat kesungguhan di mata ayahnya, putra Ryu itu berlari mendekati orang tuanya. Satoshi ikut berpelukan di antara keduanya. Jika dilihat baik-baik, mereka bak sekumpulan Teletubis yang selalu melakukan adegan 'berpelukan'.
Masaya mencium kening istrinya, lalu menggendong Satoshi dan mencubit pipinya gemas. "Ayah minta maaf, ya?"
Bocah itu mengangguk senang.
"Ayah tidak menghukumku?" tanyanya polos.
Masaya tersenyum geli. "Kenapa harus menghukummu? Ayah sangat menyayangimu."
"Aku juga sayaaaaang Ayah," ujar Satoshi berlagak yang kemudian mendapat ciuman dari kedua orangtuanya. Masaya di pipi kanannya, sedangkan Miku di pipi kirinya. Satoshi terlihat bahagia.
"Ayah memang hebat."
Kembali Masaya mencium pipinya. Terima kasih Tuhan, kau masih memberiku kesempatan untuk menjaga mereka. Merekalah sebenarnya hidupku. Pria itu mengacak rambut Satoshi, dan tak ada sedetik mereka saling menggelitik. Satoshi berteriak-teriak geli dan minta dilepas.
"Ayah, lepaskan, geli," teriak Satoshi memohon. Sayangnya, mereka malah semakin gencar menggelitik bocah itu, "nanti aku pipis di sini, loh!"
🌷🌷🌷
🌷🌷🌷 To be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
___________________________________
Jumat, 29 Mei 2020
__ADS_1