Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[35] Mimpi Buruk


__ADS_3

Malam yang gelap. Masaya berjalan di kegelapan lorong-lorong klinik Sone, semenjak tiga tahun lalu klinik tersebut dipindah dan dibangun lebih luas sehingga menjadi sebuah rumah sakit. Samar-samar dia mendengar derap langkah kaki yang sangat dia hafal. Sosok kecil itu berlari ke arahnya sambil membawa bola.


"Ayah!" panggil bocah itu tersenyum.


Masaya balas tersenyum lalu menghampiri dan jongkok mengimbangi tubuh Satoshi. "Kenapa sendirian? Di mana ibu dan adikmu?"


Satoshi menunjuk Miku yang sedang menggandeng Himeka. Mereka berjalan ke arah Masaya, tapi saat mereka hampir dekat tiba-tiba sesosok manusia lain muncul dan menarik tangan Miku.


"Miku, aku datang. Di mana anak kita?" sapa pemuda itu sambil tersenyum.


"Ry-Ryu," ujar Miku terkejut.


Pemuda yang dipanggil Ryu itu tersenyum. "Iya ini aku, Miku. Aku datang untuk membawa kalian."


Masaya merasakan jantungnya berdetak hebat. Ada rasa nyeri yang tak bisa dijelaskan melihat kemunculan sosok yang mendadak muncul itu. Dia menatap Miku.


"Tapi ... aku sudah mempunyai keluarga," ujar Miku menahan air matanya.


Ryu menyentuh pundak itu pelan. "Percayalah, aku tetap mencintaimu sampai kapan pun. Bukankah aku pernah bilang jika aku akan kembali demi kau dan anak kita?"


Miku menatap dua orang yang paling berati baginya. Satoshi dan Masaya yang sedang menatapnya.


"Miku, jangan pergi." Masaya menggeleng takut kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Perlahan Satoshi beranjak meninggalkannya dan


menghampiri Ryu dan Miku. "Satoshi!"


"Ibu, dia ini siapa?" tanya Saoshi sambil menatap sosok ayah kandungnya.


Ryu tersenyum. "Akulah ayahmu, Satoshi. Kau putraku."


"Ayahku dia." Tunjuk anak lelaki itu pada Masaya.


Ryu menggeleng pelan. "Dia bukan ayahmu. Tapi akulah ayahmu. Lihatlah kita memiliki mata dan rambut yang sama, bukan? Ayo kita pergi bersama ibu. Kita akan tinggal di Italia bersama. Ayah berjanji kita akan hidup bahagia."


"Italia? Di mana itu?"


"Eropa. Kita akan tinggal di Eropa, benua sepak bola nomer satu di dunia."


"Sepak bola? Benarkah?" Satoshi tampak girang mendengar nama Eropa, karena ada salah satu temannya yang berasal dari Eropa, Inggris itu selalu berpenampilan keren.


"Iya." Ryu menggendong tubuh kecil itu lalu menggandeng Miku.  Mereka menatap Masaya yang diam tak bergerak. "Pelatih Fujimine, terima kasih sudah menjaga mereka dengan baik, tapi maaf aku akan membawa mereka pergi bersamaku," ujar Ryu tegas.


Masaya ingin berlari ke arah mereka namun kakinya tak bisa digerakkan. "Miku ... Satoshi ... jangan pergi!" Masaya berteriak gila tapi mereka tak peduli dan pergi meninggalkan


dirinya bersama Himeka yang menangis.


"Ibu ... kakak jangan tinggalkan aku dan ayah ... hiks," isak Himeka.


Masaya menggendong Himeka, kemudian berlari sekuat mungkin mengejar mereka, tapi semuanya lenyap begitu saja. Di mana mereka?


*Masaya bertanya-tanya cemas. Dia ingin menangis. Dia terus berteriak memanggil Satoshi, tapi suaranya seolah tercekat dan tak bisa dikeluarkan. Ada apa denganku? Di mana suaraku? Kenapa kakiku tak bisa bergerak? Kenapa bisa begini?!! Masaya terlihat putus asa.


"SATOSHI!!"


🌷🌷🌷🌷*


Pria itu terbangun dari mimpi buruknya, keringat dingin membasahi wajah tampannya.


"Syukurlah. Anata, kau sudah sadar?" Miku mendekati dan menatapnya cemas karena suaminya itu tampak seperti habis dikejar setan. Butiran


keringat muncul dari wajahnya sebesar biji jagung. "Anata?"


Masaya bungkam.

__ADS_1


"Anata!"


"Di mana Satoshi? Miku, anak itu di mana?" tanya Masaya khawatir takut putranya benar-benar pergi.


"Tentu saja bersekolah. Apa kau ingat kenapa sampai ada di sini?"


Masaya menggeleng sejenak. Kepalanya memang terasa ngilu berdenyut-denyut. "Aku kenapa?"


Wanita Higashiyama itu duduk di sampingnya. "Kepalamu membentur tiang gawang saat pertandingan. Lalu pingsan sejak kemarin sore," jelas Miku khawatir.


Masaya menghela napas. Jadi aku terbaring tak sadarkan diri sejak kemarin hari? Pantas kepalaku sakit. Pria itu menyentuh kepalanya yang diperban. Dia ingat kalau cedera saat


pertandingan karena pikirannya sedang kacau memikirkan lelaki yang ditemui Satoshi waktu itu. Firasatnya berkata kalau lelaki yang dimaksud Satoshi pastilah ayah Ryu. Albert Hikaru. Ia menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut. Sakit.


"Miku, kapan aku boleh keluar dari rumah sakit?"


"Dokter Shigeru berpesan jika hasil pemeriksaan itu sudah keluar. Saat ini semua dokter sedang mengadakan rapat. Anata, kau ingin keluar sebentar?"


Masaya menggeleng, ia hanya minta menyalakan televisi.


"jika Satoshi dan Himeka datang, aku beri tahu nanti."


Masaya mengangguk. Miku mencium kening suaminya.


"Anata, harus cepat sembuh karena saat persalinan nanti aku ingin kau di sampingku. Melihatmu kesakitan kemarin, aku sampai syok dan ketakutan hingga timbul kontraksi palsu." Miku menggigit bibirnya.


Masaya tersenyum. "Tentu saja, aku sudah tak sabar menunggu jagoan kecilku," ujarnya senang sambil mengelus perut Miku yang membuncit besar.


🌷🌷🌷🌷


5 hari kemudian, sebuah marcedes kuning itu berhenti di depan SD Hoshi. Seminggu terakhir ini Albert tak bisa nyenyak tidur memikirkan bocah yang kemungkinan anak Ryu itu.


"Benar ini sekolah anak itu, Jill?"


Albert keluar dari Marcedes kuningnya, setelah cukup lama dia menunggu Satoshi, akhirnya bel istirahat berbunyi. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya, dia bisa menemukan Satoshi di antara puluhan murid yang baru keluar dari kelas masing-masing. Tentu saja sangat mudah menemukan Satoshi di antara puluhan anak-anak lainnya karena rambut Satoshi yang paling mencolok


dibanding yang lain. Berwarna kuning secerah mentari


Langkah kakinya mendadak berhenti saat dirinya melihat sosok lelaki tua menghampiri Satoshi. Dari jarak 10 meter dia bisa melihat jelas mereka.


"Kakek Koichiro, kenapa kemari?" tanya Satoshi heran melihat kedatangan kakeknya.


"Adikmu lahir."


"Sungguh?" Mata Satoshi berbinar cerah.


"Iya, karena itulah kakek yang akan menjemput kalian. Ayahmu juga sedang dalam perjalan pulang dari daerah Saitama."


"Aku ingin cepat-cepat ke rumah sakit dan melihat adikku."


Kiochiro mengangguk. "Mainlah bersama temanmu, Kakek akan menunggumu di sini."


Satoshi mengangguk senang. Adik laki-laki yang dia harapkan lahir juga. Dia pun menghambur bermain bersama temannya. "Hei ... Diego, Zero, Mitsuki adikku lahir. Dia laki-laki sepertiku," pamernya bangga karena selama ini mereka selalu menertawakan dirinya yang tak punya adik adik laki-laki.


"Wah asyik tuh," ujar Diego yang notabenenya adalah anak tunggal. Sedangkan Akai punya kakak Aoi yang usianya terpaut empat tahun dengannya. Sedangkan Zero juga punya saudara perempuan seperti Satoshi, namanya Mayumi.


"Dia nanti akan aku ajari bermain sepak bola nanti."


"Aku ingin tahu adikmu. Nanti aku ikut, ya ke rumah sakit?" pinta Diego.


"Aku juga!" seru Zero


"Aku juga mau ikut!" kata dua Kobayashi juga tak mau kalah. Satoshi mengangguk senang. Sementara itu, tak jauh dari anak-anak itu berkumpul, Koichiro memperhatikan cucunya

__ADS_1


bermain dengan teman-temannya.


"Khem!" Albert sengaja berdehem untuk menarik perhatian lelaki yang usianya lumayan dekat dengan usianya.


Koichiro menoleh, sambil tersenyum dia menyapa ramah lelaki tinggi itu. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Ya," Albert membuka kacamata hitamnya lalu bertanya, "anak laki-laki itu, apa dia cucumu?"


"Benar, dia cucu saya."


"Siapa namanya?"


Koichiro menatapnya heran. "Maaf, Anda ini siapa? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang cucu saya? Saya tidak mengenal Anda."


Albert sama sekali tidak tersenyum. "Albert, kau bisa menyebutku seperti itu," jawab pria Hikaru itu datar. "Cucumu itu mengingatkanku pada anakku saat dia masih kecil. Aku sampai syok dan tak bisa tidur karenanya."


"Oh begitu."


Kembali Albert menyeringai. "Apa benar dia cucumu?"


"Apa maksud Anda, Tuan?"


"Huh, aku tak akan buang-buang waktu. Aku akan bertanya pada intinya. Siapa ayah anak itu? Di dunia ini tak mungkin ada wajah yang sangat begitu mirip jika tak ada keterlibatan hubungan darah. Kalau pun ada itu 1:100 juta."


Koichiro terdiam seketika. Diperhatikannya wajah laki-laki itu seksama. Garis wajahnya memang mirip dengan Satoshi. Matanya, hidungnya juga rambutnya. Apa mungkin Satoshi masih punya hubungan darah dengan lelaki ini? Atau jangan-jangan ayah kandung Satoshi adalah anak dari lelaki ini? Apa dulu putrinya diperkosa? Dia tahu kalau dulu Masaya menikahi putrinya karena untuk melindungi Miku dan saat melihat Satoshi lahir,


wajah Satoshi tidak mirip dengan Masaya sama sekali. Juga tidak mirip dengan keluarga Higashiyama lainnya.


"Kenapa diam?"


Koichiro terhenyak, smbil tersenyum lelaki itu berkata, "Ayahnya adalah seorang malaikat yang baik hati."


"Malaikat?" cibir Albert, "jika kau tak mau memberitahuku, aku sendiri yang akan mencari tahu siapa cucumu itu." Albert memakai kacamata hitamnya.


"Anda tak punya hak melakukannya," ucap Koichiro bergetar.


Albert menghentikan langkah dan berbalik menatap wajahnya. "Karena aku sangat yakin kalau anak laki-laki itu adalah cucuku. Anak dari putra kandungku Ryu Christian Hikaru."


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Jumat, 19 Juni 2020


___________________________________


Klik, please

__ADS_1


👇


__ADS_2