Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[40] Terbongkar


__ADS_3

Botol obat itu jatuh dari meja. Masaya terduduk begitu saja. Tubuhnya sudah tak kuat menahan sakit di kepalanya. Hingga detik ini dia terus mengkonsumsi obat penahan sakit, dan saat ini dia sudah melebihi batas maksimal yang diperbolehkan dikonsumsinya. Napasnya terasa berat. Keringat mulai bermunculan. Dengan


segala kekuatan yang masih dimilikinya di menekan angka 3 pada nomer ponselnya.


Beberapa detik kemudian terdengar jawaban di sebrang.


"Shi-Geru... t-to-tolong aku," ujarnya dengan napas terengah-engah lalu dia menutup telponnya.


Masaya menuju tempat tidur lalu dengan cepat dia membaringkan tubuhnya. Tuhan ... kepalaku sakit sekali! Jika kau memberiku penyakit kanker sesakit ini, kumohon jangan kau berikan pada anak-anakku ... cukup aku saja merasakannya.


Masaya memejamkan matanya menahan sakit. Sungguh dia tak pernah menyangka akan sesakit ini rasanya. Jika bukan karena masih ingin hidup dan bersama keluarganya, sudah dari dulu dia akan membenturkan kepalanya pada tembok berkali-kali karena saking hebatnya kanker itu menggerogoti otaknya.


Dia memukul kepalanya keras karena sudah tak kuat lagi menahan sakit di kepalanya.


"Masaya!" Dokter Shigeru berseru panik melihat Masaya yang mulai mengamuk di kamar itu. Sejak tiga hari lalu pria Fujimine itu opname di Sone klinik tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia hanya berpamitan ada panggilan kerja ke daerah Nara bersama tim sepak bolanya.


"Aku ingin mati! Aku ingin mati!" teriak Masaya menggila. Dia meronta-ronta hebat saat dokter Shigeru memegangi lengannya.


"Jangan seperti ini, bertahanlah!"


"Aku sudah tidak sanggup! Ini sakit sekali!" keluhnya kesakitan sambil membenturkan kepalanya ke dinding, "aku ingin mati saja ...."


"Jika kau mati bagaimana dengan istri dan anak-anakmu? Mereka masih membutuhkanmu! Masaya, bersabarlah aku akan memberimu obat penenang." Dokter muda itu seraya


menyuntikkan obat ke lengannya dengan cepat


Masaya mulai tenang dan akhirnya tertidur.


Dokter Shigeru memandang sedih wajah pucat itu. "Masaya, bertahanlah sedikit lagi," ucapnya parau melihat penderitaan sahabatnya itu.


🌷🌷🌷🌷


Untuk pertama kalinya Miku merasakan dirinya tak tenang semenjak ditinggal ke luar kota oleh Masaya. Tidak tahu kenapa, perasaannya mengatakan kalau Masaya tidak di Nara. Dia menelpon Nagato untuk menanyakan keberadaan suaminya. Namun, betapa kagetnya dia saat tahu kalau suaminya sudah tidak aktif lagi di klub itu dan mengambil cuti selama 1 tahun lamanya. Bermacam-macam prasangka buruk langsung hinggap di kepalanya.


"Anata ... kau di mana? Jangan membuatku khawatir," ucapnya lirih. Baru beberapa detik dia


meletakkan gagang telponnya, kembali benda itu berdering. Hinata pun mengangkatnya. "Ah, Shiori. Ada apa?"


Wajah Miku berubah seketika begitu mendapat berita dari sahabatnya. "Aku segera kesana, tunggulah," ujarnya buru-buru.


"Ibu, mau ke mana?" Isao memandang ibunya penasaran.


"Ibu ada urusan sebentar, Isao sama buyut, ya." Miku menasehati putranya.

__ADS_1


"Kakak kapan pulang? Aku kesepian di sini. Tidak ada yang mau main bersamaku," Wajah Isao cemberut, "Ayah juga belum pulang, kan?"


Miku tersenyum. "Sebentar lagi kakak Himeka akan pulang. Nanti Ibu akan membawakan Isao apel, ya?"


Putra bungsu Masaya itu mengangguk. Dia pun kembali pada robot-robotannya di lantai. Tangan kecilnya sibuk mengadu robot-robot itu sambil sesekali mulutnya bersuara layaknya dua orang berperang.


🌷🌷🌷🌷


Hinata keluar dari kamar 293 kamar untuk manula di Sone klinik. Hari ini, ayah Shiori tutup usia. Dia melihat sahabatnya yang masih menangis di samping mayat ayahnya. Dia ikut menangis melihatnya. Juga Akio dan beberapa kerabat Shiori yang ada di sana.


"Kak Akio ... kau tak perlu mengantarku. Temani saja Shiori. Di saat-saat seperti ini, hanya kaulah yang dibutuhkan."


"Iya, aku mengerti." Akio memeluk adiknya itu lalu melepasnya. "Mungkin pemakamannya 3 hari lagi. Keluarga Shiori masih menunggu kerabat lainnya yang ada di China."


Miku mengangguk. "Aku pasti datang." Setelah itu dia berpamitan. Saat berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit itu, ia berpikir secepat itukah ayah Shiori pergi. Dia masih tak percaya dan ingat kata-kata sahabatnya tadi.


"Ayah mengidap osteosarkoma atau kanker tulang sejak empat tahun yang lalu dan perjuangannya melawan penyakitnya berakhir sekarang. Ayah bahkan tidak memberitahuku soal penyakitnya karena dia tak mau aku bersedih memikirkannya."


Air mata Miku jatuh. Dari dulu ayah Shiori selalu tak ingin merepotkan anak-anaknya. Itulah hebatnya pria asal China tersebut, menanggung penderitaannya sendiri.


Miku duduk di kursi dan menangis sejenak. Wanita itu tidak tahu kalau dia duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan kamar Masaya di rawat saat ini. Dia terus menangis.


"Miku," Dokter Shigeru kaget antara percaya atau tidak melihat istri Masaya itu duduk sedang menangis.


Miku mendongak sebentar lalu kembali menangis.


Miku mengangguk.


"Padahal sudah lama sakit, tapi kenapa saat tak bisa ditolong lagi baru bercerita. Tidakkah itu keterlaluan?" Suara Miku parau mengingat kembali cerita Shiori tentang ayahnya.


Dokter Shigeru mendesah. "Karena dia tak ingin merepotkan semuanya."


"Sejahat itukah kanker?"


"Ya, sangat jahat. Memang sulit dipercaya. Padahal sudah menjalani pengobatan tiga tahun dan menyembunyikannya darimu, tapi ketahuan juga. Padahal dia sangat enerjik, muda dan penuh semangat, tapi malah mengidap kanker otak." Dokter itu menghela napasnya berat. "Kau harus sabar,"


"Hah?" Miku menatapnya aneh.


"Karena kau sudah tahu, aku hanya bisa berkata temanilah dia di akhir sisa-sisa hidupnya yang sudah tidak lama lagi. Masaya membutuhkanmu. Hidup Masaya tinggal menghitung hari."


"Dokter ... apa maksudmu?" Miku bertanya tak percaya, "apa yang sudah terjadi pada suamiku?"


Dokter Shigeru terkesiap. Dia pun menutup mulutnya. "Aku kira kau menangisi Masaya yang mengidap penyakit kanker otak ...."

__ADS_1


Miku menggeleng tak percaya, dia menggertakkan giginya kuat. "A-aku tidak tahu! Aku tidak tahu ...." Tubuh Miku lemas seketika. Jantungnya seakan diremas-remas mendengar Masaya yang baik-baik saja selama ini ternyata menderita kanker otak.


Dokter Shigeru mengusap wajahnya sendiri, merasa bersalah. Ia menunjuk kamar Masaya.


Miku bagai orang bodoh. Suaminya mengidap kanker otak stadium akhir dan dia baru tahu. Wanita itu melangkahkan kakinya menuju kamar 210 itu, begitu dibuka, dia melihat Masaya terbaring lemah dengan kepala diperban. Wajahnya sangat pucat. Karena tak tahan dengan sakitnya, semalam pria itu membenturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah.


"Anata ...." Miku tak tahu harus bicara apa, mulutnya terkunci. Dia melihat Masaya yang kaget, panik dan bingung. Sejenak mereka tenggelam dalam kesunyian.


Masaya mulai menguasai keadaan, dia pun tersenyum. "Miku ...," sapanya sambil memperbaiki posisi tidurnya, dia menatap istrinya yang berdiri dengan napas seperti habis diburu di depan pintu, "sudah ketahuan, ya? Ah ... sudahlah." Masaya tetap tersenyum seolah dia kepergok habis mencuri oleh ibunya.


Dunia Miku bergoncang. LangitΒ  runtuh seakan mengubur sejuta kebahagian di kehidupan Miku itu. Napas wanita itu sesak.


Di depannya, Masaya Fujimine. Suaminya. Ayah dari anak-anaknya mengidap kanker otak.


"Anata ...." ucapnya pelan. Air mata itu jatuh.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


________________________________


Senin, 22 Juni 2020

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2