Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[14] The Little Ryu


__ADS_3

Pagi itu Masaya sudah bersiap pergi karena ada panggilan dari tim sepak bolanya. "Kakek, aku pergi. Mungkin aku pulang larut karena latihan di luar kota," pamitnya segera berlalu.


Hayato tersenyum meremehkan. "Suami macam apa dia tidak memberi istrinya morning kiss setiap pagi, padahal tiga tahun tinggal di Inggris, tapi sejak menikah, dia tak pernah melakukannya padamu."


"Mo-morning kiss?" ulang Miku dengan pipi yang memerah.


"Itu ciuman di kening yang biasa dilakukan suami pada istrinya saat mereka akan pergi kerja, tapi lihat apa yang sudah si bodoh itu lakukan?" ujarnya sewot sambil menatap Miku yang tersipu, "dia berlalu begitu


saja, dasar tidak romantis."


"Kakek, sudahlah. Hari ini Masaya harus cepat-cepat pergi."


"Anata."


"Eh?"


"Seharusnya kalian saling memanggil sebutan Anata."


Gadis itu berlalu, wajahnya sudah merah digoda habis-habisan. Mendadak ia meringis kesakitan saat menuju ke dapur. Perutnya agak mulas. Jangan-jangan ini sudah kontraksi. Bukankah usia kandunganku sudah 9 bulan? Miku mengingat-ngingat sesuatu. Menurut buku yang ia baca, tanda-tanda melahirkan di awali dengan sakit perut yang terus berkala. Biasanya akan memakan waktu 48 jam bagi ibuΒ  hamil anak pertama mereka. Miku mengabaikan rasa sakit itu dengan mengerjakan pekerjaan rumah.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Semakin lama, rasa sakit di perutnya terus bertambah sakit dan sering. Gadis itu berbaring untuk mengurangi rasa sakit. Tengah malam Miku terbangun dari tidurnya, ia merasakan perutnya semakin mulas. Meringis kesakitan. Mungkin sebentar lagi dia akan melahirkan. Kontraksi yang ia alami semakin hebat dan nyeri. Miku sudah tak tahan.


"Masaya," panggilnya sambil menahan sakit. Ia hampir menangis.


Masaya tak berkutik, karena dia sudah terlelap sejak pulang dari latihan klub sepak bola yang cukup menguras tenaga. Dengkuran halus keluar dari mulutnya.


"Masaya!" Kembali Miku mengguncang tubuh suaminya.


Perlahan Masaya membuka matanya yang terasa berat lalu memandang istrinya. "Kenapa? Ini masih tengah malam," ujarnya sambil menguap karena masih mengantuk.


"Perutku sakit sekali," jawabnya menangis karena menahan sakit yang tak main-main.


Mata Masaya langsung terbuka lebar. Rasa kantuk yang menyerangnya mendadak lenyap dan berganti rasa cemas. Mungkinkah dia akan


melahirkan sekarang?


"Sakit!" teriak Miku tak tahan, ia meringkuk susah.


"Iya ... iya ... kita ke rumah sakit


sekarang," jawab Masaya panik akan situasi yang dihadapinya saat ini. Dia menelpon pihak rumah sakit dan meminta ambulans supaya datang ke rumahnya sekarang dengan cepat. Setelah itu dia membantu istrinya turun dari tempat tidur dan segera menunggu ambulan datang.


Selang beberap menit kemudian ambulans datang lalu membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Di dalam ambulans Miku menjerit-jerit kesakitan membuat Masaya jadi stres.


Pria Fujimine itu tahu, dia harus siap menghadapi situasi seperti ini. Seharian tadi, Masaya latihan sepak bola dengan timnya yang akan di kirim ke kota Nara dua pekan lagi. Masaya tergabung dalam klub sepak bola Big Suzuki yang merupakan klub terbagus nomer satu di Jepang.


Sungguh Masaya sangat lelah usai latihan tadi dan butuh istirahat, tapi hal itu tak memungkinkan karena situasinya sekarang berbeda. Istrinya akan melahirkan.


Tuhan, tolong selamatkan keduanya.


15 menit kemudian mereka sampai di SONE klinik, dan Miku langsung dibawa ke ruangan bersalin.


Masaya terlihat frustrasi duduk sendiri. Dia berdiri lalu berjalan ke sana ke mari bak setrikaan baju. Berkali-kali dia menggigit ujung kukunya. Pikirannya kacau. Sungguh seperti bukan dirinya saat ini. Padahal dia jarang sekali menunjukkan sisi kekhawatirannya, tapi melihat dan mendengar Masaya menjerit kesakitan membuatnya cemas bukan main.


Selang beberapa menit kemudian, seorang dokter dengan wajah yang tak bisa diprediksi keluar. Masaya segera mendekatinya.


"Tuan Fujimine, selamat ... Anda sekarang menjadi seorang ayah. Putra Anda lahir dengan selamat, dia sehat dan tampan seperti Anda."


"Istriku?" tanya pria itu khawatir.


Dokter itu melanjutkan kata-katanya tanpa memedulikan pertanyaan Masaya, "silakan masuk ...."


"... aku tanya bagaimana keadaan istriku, bukan bayinya!" potong Masaya gemas.

__ADS_1


Dokter itu menatapnya iba. "Maafkan kami. Kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain. Kami gagal menyelamatkan ibunya. Maafkan kami." Dokter itu membungkuk 90 derajat tanda penyedalan.


Kaki Masaya terasa lemas. Dia jadi linglung. Bahkan tak mendengar saat tim dokter memanggil namanya berulang-ulang.


"Tuan Fujimine!"


Masaya tetap bisu meski berkali-kali dipanggil hingga akhirnya sebuah jambakan keras terasa menyakitkan di kepalanya. "Aaakkh!"


Masaya terlonjak kaget. Kepalanya terasa sakit dan berdenyut-denyut akibat sebuah tarikan yang luar biasa keras. Dia menatap tim dokter yang menatapnya sambil tersenyum aneh.


"ANATA, KENAPA KAU DIAM SAJA! CEPAT TURUN DARI AMBULANS!" Miku berteriak seperti habis dicopet. Sudah kesakitan tapi suaminya itu dari tadi hanya bengong seperti orang bodoh di dalam ambulans. Gadis itu sudah dipindah ke atas brankar.


Masaya mengelus kepalanya yang berdenyut. Sakit memang, tapi melihat sang istri masih hidup dan berteriak-teriak kesakitan.


"ANATA!!"


Astaga ... kupikir tadi nyata, syukurlah. Masaya segera turun dan mengikuti tim medis mengantar Miku ke ruangan bersalin. Dalam perjalanan menuju ruangan bersalin, Miku mencengkram tangannya supaya tak ditinggalkan. Pemuda itu mengangguk, lalu berkata, "Aku akan menemanimu. Jangan khawatir."


15 menit kemudian ...


"Aakkhh!!" Miku menjerit kesakitan saat proses persalinannya, dia tak pernah menyangka akan merasa sakit yang luar biasa. Umur gadis itu masih 16 tahun tapi harus melahirkan secara normal. Masaya terus menggenggam tangannya dan terus menyemangati agar tak menyerah.


"Tahan sebentar lagi, kau bisa," ujarnya seolah memberi kekuatan. Gadis itu menggeleng, "kau pasti bisa!"


Tim dokter yang menangani proses persalinan itu dengan sabar memberi petunjuk supaya Miku mengikuti apa yang mereka suruh. Lucunya, jika Miku berteriak, kadang Masaya juga ikut berteriak panik waktu sang istri menjerit kesakitan.


30 menit sudah berlalu, tapi kepala bayi itu belum juga muncul sementara Miku sudah kehabisan tenaga. Pria Fujimine itu ikut seperti kehabisan tenaga melihat perjuangan istrinya.


"Aku sudah tidak kuat," ujar Miku melemah. Ia mengalami kesakitan yang luar biasa di perutnya.


"Tidak, kau harus bertahan! Kumohon sabarlah, tahanlah sedikit lagi. Kau pasti bisa," kata Masaya khawatir bukan main, dia takut mimpinya tadi menjadi kenyataan, "Miku ...," pria berambut hitam itu semakin panik saat melihat wajah istrinya mulai pucat, tubuhnya tak lagi bertenaga dan cengraman tangannya mulai melemah.


"Nyonya Fujimine, Anda mendengar kami?" tanya perawat itu melihat keadaan pasiennya yang lemas.


Mata si manik sayu itu mulai terpejam. Miku sudah kelelahan menghadapi persalinannya. Pandangannya mulai kabur, dan pendengarannya sudah hampir tumpul meski sang suami meneriaki namanya.


"Dokter, kita tak bisa terus memaksanya, bagaimana jika dia tetap tak bisa?" tanya seorang perawat yang ikut membantu proses persalinan itu.


"Kita lakukan vacum segera."


"Vacum? Apa itu? Dokter ... apa pun itu, bagaimana pun caranya, tolong selamatkan mereka," pinta Masaya.


"Vacum adalah sejenis alat yang berfungsi untuk menarik kepala bayi supaya keluar, hal ini dilakukan jika sang calon ibu sudah tak sanggup lagi mengejan dikarenakan air ketuban sudah mulai mengering dan si calon ibu sudah kehabisan tenaga," jelas dokter itu sabar. Dia tahu jika pemuda di sampingnya itu sangat cemas karena kelahiran anak pertama, "berapa usia istrimu?"


"16 tahun,"


Dokter itu tersenyum. "Kami akan berusaha sebaik mungkin."


30 menit kemudian suara Miku yang menjerit kesakitan kemudian disusul tangis bayi memecah keheningan penghujung pagi. Masaya terharu menyambut bayi kecil kemerahan dan masih berdarah itu. Bayi laki-laki mungil.


Masaya tersenyum bahagia mendapatinya. Anakku.


"Anata ... dia laki-laki atau perempuan?" tanya Miku lemah.


Masaya tersenyum padanya. "Dia jagoanku."


Miku terisak bahagia, rasa sakit yang luar biasa tadi mendadak lenyap begitu melihat makhluk mungil tak berdosa itu keluar dari perutnya.


Setelah bayi laki-laki itu dibersihkan Miku segera menggendongnya. Dia menciumi wajah bayinya haru, lalu menyusuinya.


Tiba-tiba Masaya mencium kening sang istri hingga membuat wanita yang baru menyandang status ibu muda itu terdiam. "Terima kasih sudah bertahan," ujarnya sambil tersenyum.


Miku merona, ia hanya mengangguk. Morning kiss pertamanya.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“

__ADS_1


Berlin, Jerman.


Di waktu yang sama. Pasien bernama Ryu Hikaru itu akhirnya membuka mata. Suster penjaga segera memberi tahu dokter Peter Young. Selang satu menit dokter Young selesai memeriksa keadaan pasien istimewahnya. Dia pun segera menghubungi pihak keluarga Hikaru.


Keadaan mantan suami-istri itu mulai membaik, mereka sudah tak saling menyalahkan lagi. Bagi mereka hanya Ryu.


"Ryu mengalami kemajuan, hari ini dia sudah membuka matanya, tapi dia tetap lumpuh. Meski begitu, dia bisa mendengar dan melihat walau tubuhnya tak bisa digerakkan," jelas dokter Peter Young.


"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Juana.


"Tetap menyemangatinya agar terus bertahan. Keajaiban sudah terjadi, kita tinggal menunggu dia bicara dan bergerak. Tidak boleh menampakkan wajah sedih di depannya. Andalah sebagai penyemangat hidupnya"


"Terima kasih, Tuhan," bisik Albert bersyukur.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Bayi berkulit putih itu tertidur pulas dipangkuan Miku. wajahnya sangat mirip dengan Ryu. Mulai dari kulit yang putih, sepadang mata yang berwarna biru cerah dan rambut yang pirang. Benar-benar duplikat seorang Ryu Hikaru.


Masaya tersenyum menatap sang istri yang tak henti-hentinya mencium wajah bayi itu. "Kau sudah menyiapkan nama?"


"Kau saja yang memberinya nama," jawab Miku tanpa ragu, bahkan matanya tak mau lepas menatap makhluk mungil tampan itu. Menggemaskan.


"Terserah aku?"


"Hm, Aku percaya kau akan memberinya nama yang bagus."


Masaya pura-pura berpikir keras, padahal dia sudah menyiap nama sejak dulu. "Ryu?" godanya.


"ANATA!" Miku cemberut. Dia menatap suaminya sebal.


"Kau bilang terserah aku, kan?" Masaya menahan tawa.


"Kecuali satu nama itu!" jawabnya judes.


Reaksi Miku tadiΒ  membuat bayi seberat 3,1 kilo dan panjang 50 cm itu takut kemudian menangis.


"Ya ampun, baru tiga jam menjadi ibu sudah judes begitu, lihatlah dia menangis ketakutan," Masaya segera mengambil bayi itu lalu menimang-nimangnya.


"Kau yang memulai!" Masih dengan nada judes.


Masaya tersenyum menatap bayi itu. "Namamu adalah Satoshi. Satoshi Fujimine," ujar pria jangkung itu pada bayinya. Ia mencium Satoshi sayang, "Satoshi, cepat tumbuh besar ya, kita akan bermain bola bersama."


Ajaib. Bayi bernama Satoshi itu tersenyum.


🌷🌷 To be Continued🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_______________________________


Jumat, 1 Mei 2020

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2