Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[34] Syok


__ADS_3

Albert terpaku menatap wajah Satoshi. Anak ini begitu mirip dengan Ryu. Matanya yang biru, kulitnya yang putih, rambutnya yang pirang seperti bunga matahari bahkan cara dia menatap mataku sama seperti milik Ryu.


Semua teman-teman Satoshi heran, terlebih Satoshi yang malah ketakutan dengan sikap tak wajar lelaki tua ini.


"Ryu ... eh, maksudmu apa ayahmu Ryu! Kau ... kau sungguh mirip dengan putraku. Aku kakekmu! Kau pasti anak Ryu!" Albert mengguncang tubuh Satoshi.


Satoshi menoleh pada teman-temannya. "Kakek ini bicara apa, sih?" Bertanya-tanya tak paham.


"Kau putra anakku, aku sangat yakin itu. Ryu saat kecil sama sepertimu. Ayo katakan siapa nama ibumu, Nak?" ujar Albert yang sudah kehilangan akal.


"Namaku Satoshi dan aku bukan putra anakmu!" ujar Satoshi sambil mendorong tubuh lelaki itu.


"Tidak, aku yakin kau cucuku!" Dipeluknya Satoshi erat-erat hingga bocah itu kesulitan bernapas. Semua temannya jadi takut dengan kelakuan aneh lelaki tua tak dikenalnya. Satoshi meronta minta dilepaskan tapi Albert tak peduli hingga akhirnya bocah itu menyerah, dia berpikir kalau lelaki tua itu tak waras.


"A-aku tak ... bisa bernapas...." ujar Satoshi susah.


Akhirnya Albert melepas pelukannya, dia tetap tersenyum menatap anak lelaki itu.


Aku harus kabur. Dia melirik ke arah teman-temannya agar memberi isyarat kabur. Dan yang paling paham maksud Satoshi adalah Zero.


Anak berkulit putih itu menendang bola ke arah Satoshi. "Satoshi, giliranmu yang jaga. Ayo cepat," kata Zero pura-pura marah.


Satoshi mengangguk. Pelan-pelan dia menjauh dari lelaki tua itu kemudian mengambil bolanya. Saat hendak menendang bolanya dia menatap wajah teman-temannya serius. "AYO SEMUA KITA KABUR!!" Satoshi melesat pergi dari Albert yang kemudian diikuti oleh ke keenam temannya itu.


"Kakek itu benar-benar sinting! Aku takut padanya!" ujar Satoshi tersenggal-senggal di tengah-tengah larinya.


"Mulai sekarang jangan bermain di lapangan itu lagi, kita bermain di rumahku saja," kata Diego. Semua mengangguk setuju karena rumah anak lelaki berambut hitam itu seluas alun-alun. Ya, Diego merupakan anak orang kaya yang jenius


Sementara kembali pada Albert Hikaru yang termangu.


"Tuan ...." sapa Jill pada Albert yang masih menatap kepergian Satoshi.


"Jill ... tidakkah kau lihat anak berambut blonde dengan sorot mata yang angkuh tadi?"


"Ya, mirip sekali dengan tuan muda Ryu. Apa mungkin dia anak tuan muda yang dulu pacarnya ditinggal itu?" gumam Jill.


Albert tersenyum aneh. "Firasatku mengatakan begitu. Wajahnya sangat mirip dengan Ryu saat kecil."


"Lalu, Tuan jadi menemui klien hari ini? Taxinya sudah datang."


"Tentu, setelah itu cari tahu tentang anak kecil bernama ... siapa tadi? Sial aku lupa namanya."


🌷🌷🌷🌷


Masaya tertawa mendengar cerita Satoshi. Malam ini mereka berkumpul di meja makan dan makan bersama.


"Anata, kenapa tertawa bukannya iba." tanya Miku heran, "dan kau Satoshi, lain kali mainnya hati-hati, jangan sampai kena wajah orang lagi."


"Aku tidak sengaja kok," jawabnya cuek sambil memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.


"Kau sudah minta maaf?" selidik Masaya.


Satoshi berhenti mengunyah lalu meneguk air. "Bagaimana aku mau minta maaf karena aku langsung kabur, kakek itu menyeramkan."

__ADS_1


"Satoshi Fujimine!" Kompak semua yang ada di ruangan itu bersuara dan menatap Satoshi. Mendapat tatapan yang jelas akan memojokkan dirinya bocah itu sedikit takut.


"Aku memang ingin minta maaf ...," Satoshi menunduk, "tapi, kakek itu yang awalnya mau memarahiku tiba-tiba saja memelukku erat dan berkata kalau aku adalah cucunya."


"Hah?" Alis Masaya bertaut tak paham.


"Iya, karena takut dengan sikapnya yang aneh, Zero memberi isyarat agar kabur. Semua temanku juga ketakutan saat melihat kakek itu memelukku seperti seseorang yang kehilangan anaknya. Menakutkan, kan?"


Miku mengangguk, menyeramkan juga kalau bertemu orang seperti itu. Syukurlah Satoshi cerdas dan tak terpengaruh cepat terhadap orang lain. Kemudian wanita itu menata piring kotor dn membawanya ke dapur.


"Seperti apa orangnya?" tanya Masaya penasaran.


"Hm ... tua, kakek itu tinggi sekali. Dia terlihat kaya tapi juga terlihat bodoh?" jawab Satoshi polos.


"Bodoh?"


"Habisnya bahasanya aneh, saat berbicara dia memakai memang menggunakan bahasa Jepang tapi logatnya aneh. Bahkan bahasa Jepangnya lebih jelek dari Xiao Feng." Satoshi membandingkan sosok Fugaku dengan Xiao Feng yang murid pindahan dari Cina itu. "Oh ya, matanya besar berwarna biru ... juga rambutnya kuning seperti rambutku," jelasnya lagi.


Masaya tampak serius memikirkan kata-kata Satoshi. "Ya sudah sekarang kau cepat tidur, jangan lupa gosok gigimu."


Satoshi mengangguk. Sementar pria Fujimine itu terdiam. Serius memikirkan kata-kata putranya. Apa mungkin lelaki itu ayah Ryu? Ia menghela napasnya berat. Tidak ... Itu tidak mungkin! Ini sudah sepuluh tahun lewat, tak mungkin pria itu datang ke Jepang. Bukankah mereka menetap di Italia?


Sayangnya, harapan Masaya kandas ketika putranya menghampiri lalu dengan santainya Satoshi berbisik, "Kakek itu bilang aku itu anak Ryu. Aku ini anak ayah, kan?"


Masaya terdiam kaku. Langit seolah runtuh. Ya Tuhan ... bagaimana mungkin ini menjadi sebuah kebetulan yang ....


"Ayah?"


Pria itu tersadar dari lamunannya, menatap Satoshi lalu membelai kepala putranya. "Tentu saja kau putraku. Putra Masaya Fujimine yang keren. Ingat Satoshi, jangan cerita masalah ini pada ibumu. Nanti dia sedih. Mengerti?"


"Sekarang pergilah ke kamarmu. Bersiaplah tidur."


"Oyasumi, Ayah!" Bocah itu berlalu pergi masuk ke kamarnya.


Sementara Masaya masih tertegun.


🌷🌷🌷🌷


Esok harinya, tampak Himeka protes kepada ayahnya.


"Ayah, kenapa kakak terus sih yang ikut ayah dan dijadikan anak lapangan, kenapa bukan aku?" protes Himeka sebal saat mereka akan berangkat ke stadion untuk melihat pertandingan sepak bola.


Masaya selalu menggandeng Satoshi masuk lapangan ketika pertandingan akan dimulai. Ya, Satoshi adalah anak lapangan yang selalu menggiring para pemain saat memasuki lapangan bersama beberapa teman lainnya yang juga menjadi anak lapangan.


"Karena kau perempuan, week?" Satoshi terus menggoda adiknya.


"Ayah ... gantian, aku juga mau digandeng seperti kakak," rengek Himeka.


Masaya berpikir sejenak. "Baiklah, boleh, lagipula Satoshi sering, kan digandeng Ayah. Sekarang giliran Himeka ...."


"... Ayah!!" Potong Satoshi merengut cemberut.


"Kau bersamaku saja, Satoshi," ujar Nagato sang kapten lapangan. Dari pada tidak turun ke lapangan menggiring sang ayah, tak ada pilihan lain lagi dan bocah itu setuju.

__ADS_1


Pertandingan dimulai. Meski kedudukan masih sama-sama kosong antara Big Honda melawan kembali musuh sejatinya, klub Gold Osaka. namun,


Masaya berusaha keras untuk mencetak gol bersama klubnya.


Tapi suatu kejadian yang tak terpikirkan terjadi. Saat pria Fujimine itu akan menghadang bola yang hampir mengenai gawang mereka, bola itu justru menghantam kepalanya keras dan membuat Masaya kaget. Pria tampan itu tak sempat menghindar dan berakhir dengan tragis. Kepala Masaya


membentur tiang gawang!


Darah pun mengalir dari kepalanya.


"MASAYA!!" Nagato berteriak kaget melihat kawannya ambruk. Gin, yang bertugas menjaga gawang, yang paling dekat jaraknya dengan Masaya segera menolong rekan timnya itu.


Para penonton yang menyaksikan hal itu jadi tegang. Wasit pun segera menghentikan pertandingan itu.


Stadion jadi bungkam.


"Ayah!!" Satoshi dan Himeka berteriak ketakutan melihat ayah mereka tak sadarkan diri dengan darah yang banyak mengalir dari kepalanya. Mereka menangis keras. Bahkan Miku tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Entah kenapa perutnya mendadak mulas melihat kejadian itu. Kontraksi palsu mulai menyerangnya akibat panik yang berlebihan.


"Ibu!" Satoshi kaget melihat ibunya memegang perutnya yang kesakitan. Efek terkejut yang luar biasa sanggup membuat kontraksi sebelum waktunya.


Detik-detik selanjutnya ambulan datang dan membawa pria berambjt hitam itu pergi ke rumah sakit terdekat.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_______________________________


Jumat, 19 Juni 2020


_______________________________


Klik, please

__ADS_1


👇


__ADS_2