
Masaya sering dipanggil ke lapangan untuk mengikuti pertandingan liga Jepang. Miku sendiri hanya bisa menontonnya di TV, channel lokal yang disiarkan langsung.
Lebih tiga bulan Miku bersekolah dan sebentar lagi ujian semester awal. Dia menjadi rajin belajar agar di terima di universitas impiannya. Universitas Tokyo. Sambil menikmati makanannya, ia juga menyuapi Satoshi.
Umur Satoshi sudah 18 bulan
dan suka sekali bola, anak itu suka menendang-nendang bola dan sudah banyak perabotan pecah gara-gara tendangannya.
"Tak akan ada yang salah, Anata," ujarnya sambil menyuapi Satoshi.
"Percaya diri sekali," ujar pria itu seraya mengangkat sebelah alisnya, "bukan berarti jawabanmu betul semua."
"Kau sendiri bilang aku cerdas, kan? Soal seperti itu sih, bagiku gampang dari pada mendiamkan Satoshi yang menangis."
Masaya menatapnya gemas. "Miku, jika ada satu saja jawabanmu yang salah akan kucium kau. Mengerti?"
Miku tersenyum meremehkan. "Oke, tapi jangan menangis jika jawabanku benar semua."
Masaya mengoreksinya teliti. Berharap ada yang salah, satu saja agar ia bisa mencium istrinya. Sayangnya, jawaban Miku tak ada yang salah. Sempurna. Pria itu menggerutu karena gagal mencium sang istri. "Hei, itu bagian Satoshi, kenapa juga kau makan?" protesnya gemas.
"Satoshi sudah tidak mau. Dari tadi cuma disembur-sembur, masih sisa banyak jadi aku habiskan," jawabnya cuek.
Masaya menatapnya lekat-lekat. "Miku, selera makanmu akhir-akhir ini bertambah besar. Apa kau tidak ingin diet seperti kebanyakan temanmu? Kau itu ...,"
"Apa?" Tantangnya sambil memasukkan potongan sosis dan telur yang kecil-kecil ke dalam mulutnya.
"Kau gendut!"
CTAR! Bagai disambar petir saat suaminya mengucapkan satu kata itu, nafsu makannya yang tadi tinggi mendadak lenyap. "Apa kau bilang?"
"Lihat saja dirimu saat ini, pipimu tambah tembem, lenganmu juga tambah besar dan itu ...." Tunjuknya pada perutnya, "perutmu juga besar. Aku tak suka istriku menjadi gendut!"
"Ulangi sekali lagi, Anata?!" Emosi Miku tersulut.
"Kau gendut!" Masaya menjelaskan sekali lagi dengan tegas.
"Anata, kau ingin mati? Aku kabulkan!" Ditariknya rambut Masaya kesal, lalu diomelinya suaminya itu. Well, pertengkaran kecil pun terjadi. Miku sensitif sekali jika dikatai gemuk. Dengan tarikan setan ia menjambak rambut si guru tampan tersebut sembari berteriak, "Aku gendut? Katakan sekali lagi!" Saat ini Miku mirip banteng mengamuk di antara barang pecah belah.
"Aaaakh! Lepaskan, sakit! Gendut! Kau gendut Miku Fujimine!"
"Anata!" Miku semakin gemas.
Satoshi menatap mereka heran. Mata lucunya mengerjap-ngerjap tak mengerti, tapi melihat orang tuanya seperti itu, bayi tampan itu menangis keras dan pertengkaran pun selesai akibat tangisannya.
Masaya melepas diri segera dari Miku, ia menggendong Satoshi lalu menenangkannya. "Cup ... cup ... anak ayah yang tampan jangan menangis, ya, Sayang," hiburnya sembari menghindari Miku. Takut dijambak lagi rambutnya.
Akibat dikatai gendut, Miku jadi mogok makan dua hari dan itu membuatnya sakit. Masaya jadi menyesal, dia meminta maaf dan tak akan mengatainya gendut lagi, asal Miku sehat. Karena tak kunjung sembuh keesokan harinya, Masaya menyuruh sang istri agar ke rumah sakit.
π·π·π·π·
"Tadi aku sudah telpon dokter Ayame, kau periksa saja sendiri, hari ini aku ada pertadingan."
"Aku ingin melihatmu di lapangan. Bukankah Midori hospital dekat?"
"Tidak. Pokoknya jam 5 sore kau
harus tiba di ruangan dokter Ayame. Tak ada penawaran lagi. Biar Satoshi bersama kakek, jika hasil pemeriksaannya belum keluar, jangan pergi."
"Tapi ...,"
"... aku akan menyusulmu segera."
Miku tersenyum. "Baiklah!" Diciumnya pipi suaminya sekilas.
π·π·π·π·
Jam 15.30 di stadion Tokyo ....
"Kedudukan masih 0-0, babak ke dua perpanjangan waktu memasuki injury time!" Suara komentator terdengar begitu bersemangat, menyiarkan siaran langsung liga Jepang antara klub Big Honda melawan klub Kinkaku.
Saat ini Hayato berada di tengah-tengah ribuan penonton yang memadati stadion itu. Dia
memperhatikan aksi cucunya bersama Satoshi. Tak lupa bocah tampan itu mengenakan kaos olahraga hitam bertuliskan Fujimine dengan nomer punggung 9. Nomer punggung Masaya. Topi bola di kepala balita itu yang membuatnya semakin imut.
"Oh ... sebuah operan manis dari kapten kesebelasan Big Honda, Nagato! Lalu diterima oleh Fujimine! Pemain belakang tak bisa mengejar! Ini adalah kesempatan emas untuk Big Honda mencetak goal!" Lanjut komentator itu.
__ADS_1
Hayato menatap cemas Masaya yang menggiring bola ke arah gawang.
"AYO TEMBAK, FUJIMINE!" seru beberapa penggemar klub Big Honda bersemangat yang ada di samping Hayato. Hampir seluruh isi stadion berseru "TEMBAK!"
"Oh ... sayang sekali membentur tiang gawang!" Komentator nampak kecewa begitu bola yang ditendang Masaya gagal mencetak goal.
"Padahal sedikit lagi," gumam Hayato yang masih menggendong Satoshi.
Lapangan kembali ramai.
"Fujimine terjatuh, dia benar-benar terdesak! Walau begitu, pendukungnya tetap memberinya semangat!" Suara penonton kembali ramai tatkala Masaya berdiri kembali lalu mengejar bola meski dikawal ketat oleh klub Kinkaku.
"Masaya, aku serahkan padamu!" Pria tampan berambut merah mengoper bola pada rekannya.
"Sebuah operan lagi dari Akasuna diterima baik oleh Fujimine. Kita lihat apakah Big Honda berhasil mencetak goal!"
Suasana lapangan semakin heboh.
"Fujimine kembali beraksi! Satu orang! Dua orang! Tiga orang! Empat orang dilewatinya dengan mudah! Duel satu lawan satu di depan gawang. Oh ... ternyata ke samping!" komentator tampak shock namun sedetik kemudian dia berteriak. "GOAAL!!"
Semua penonton berteriak heboh dan mengelu-elukan nama Masaya.
"Peluit panjang tanda pertandingan telah berakhir berbunyi! Goal Fujimine di injury time mengantarkan Big Honda menuju kemenangan, sekaligus menumbangkan Kinkaku."
Penonton menatap Masaya yang dikerubuti teman-temannya.
"Pemain baru nomer punggung 9 itu hebat ya, melewati empat orang sekaligus," puji penonton.
"Lincah sekali. Masih muda, tampan lagi seperti artis."
"Pria bermarga Fujimine sudah tidak diragukan lagi ketampanannya."
"Iya, melesat sebelum operan dari kapten Nagato datang."
"Dengar-dengar dia sudah menikah dan punya anak. Hari ini, menurut sumber terpercaya, dia akan ke Midori Hospital mengantar istrinya yang sakit."
"Oh ya? Aku akan menghubungi teman-teman dan datang ke Midori Hospital."
π·π·π·π·
Midori Hospital.
"APA?" Miku terlonjak kaget. Aku hamil lagi?
"Ya, janin di perut Anda sudah lebih dari empat belas minggu."
Miku meraba perutnya. Jadi perutku yang besar ini karena sudah ada bayinya? Apa yang harus aku lakukan? Aku masih sekolah, aku tak mau dikeluarkan seperti dulu lagi. Aku ingin masuk Universitas. Dia menatap dokter Ayame yang heran menatapnya. "Anak saya yang pertama baru berumur 18 bulan dan saya masih melanjutkan study."
Wanita cantik berambut blonde itu mengerti kenapa wanita muda dihadapannya ini cemas bukannya senang. "Kau bisa melakukan aborsi meski telat dua minggu,"
"Tidak!" Gelengnya cepat, "Bayi ini tak salah, saya tak akan tega melakukannya. Saya rasa, ayahnya juga tak akan mengizinkan,"
"Kalau begitu kita tunggu keputusan suamimu. Bukankah dia akan kemari?"
Miku mengangguk. Dia meraba perutnya. Buliran bening yang basah jatuh dari bola matanya. Anata ... ini anak kita.
π·π·π·π·
"Hah? Tidak ikut merayakan kemenangan?" tanya Nagato sang kapten lapangan itu heran.
Masaya tersenyum. "Maaf, aku sungguh tak bisa,"
"Tapi kau, kan yang mencetak goal kemenangan? Ayolah, Masaya." Paksa Hide.
"Kami janji tidak akan membuatmu mabuk lagi." Tambah Hattori meyakinkan karena dulu dia pernah membuat pria Fujimine itu mabuk berat.
"Iya, ini perta kemenanganmu." sahut Gin membujuknya. Mereka berusaha membujuk Masaya, tapi pemuda itu bersikeras ingin pulang.
"Maaf, hari ini saja ijinkan cucuku pulang. Istrinya sakit." Tiba-tiba Hayato sudah berdiri di pintu, Satoshi langsung berteriak senang melihat ayahnya.
"Oo ...." Mulut mereka membulat tanda menggoda Masaya. Di antara semua pemain sepak bola, hanya Masaya yang sudah menikah dan punya anak. Yang lainnya kebanyakan masih singel dan ada juga yang pacaran, termasuk si kapten kesebelasan, Nagato yang berpacaran dengan artis oendatang baru di Jepang.
"Ya, kami mengerti."
"Masaya ... salam untuk istrimu yang cantik itu, ya?" goda Higeo sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.
__ADS_1
Masaya hanya tersenyum lalu pamit pulang.
π·π·π·π·
Midori Hospital.
Masaya berjalan santai sambil menggendong Satoshi menuju ruangan dokter Ayame. "Ayo Satoshi, kita cari kaa-san dan katakan padanya kalau Ayah pulang dengan membawa kemenangan," bisiknya sayang sambil mencium pipi tembem itu.
Satoshi mengoceh tak karuan,
tidak mengena pada topik awal karena mata Fujimine kecil itu lebih tertuju pada pakaian para dokter yang lalu lalang. Mungkin balita itu senang melihat baju yang dikenakan para dokter.
Sesekali Satoshi menunjuk-nunjuk dokter sambil bicara dengan bahasanya sendiri.
"Hei, Masaya! Selamat ya, kau sunguh hebat," tiba-tiba seorang dokter tampan berkacamata bulat dengan surai keperakan itu menepuk pundak Itachi. Namanya adalah Shigeru. Temannya saat SMA dulu, "kau menghindar dari kanan ke kiri secara berturut-turut hingga tak ada yang mengejarmu!" Shigeru meniru cara Masaya berlari tadi lalu tertawa.
"Kau menyaksikan pertandinganku?" tanya Masaya kaget. Dia tahu dokter sekelas Shigeru tipe dokter yang sibuk mengurusi pasien. Dokter tampan itu merupakan dokter spesialis bedah, jadi sangat langka bisa menyaksikan pertandingannya di tengah-tengah kesibukannya yang mengobati pasien.
Dokter Shigeru tersenyum. "Mendadak jadwalku diganti malam, saat mau pulang karena banyak pasien yang berteriak menonton bola, aku pun ikut menonton dan ternyata kau si bintang lapangan."
Tiba-tiba saja dari arah berlawana terdengar teriakan heboh yang ditujukan pada pria Fujimine itu.
"Itu Masaya Fujimine, kan?" teriak seorang pasien yang membuat beberapa orang di sana ikut menoleh. Tak ada lima detik Masaya sudah diserbu.
Dokter Shigeru jadi teracuhkan gara-gara kehadiran orang-orang itu.
"Fujimine, minta tanda tangannya!"
"Fujimine, aku ingin foto bersama,"
"Fujimine, kau tampan sekali,"
"Anaknya lucu,"
"Goal Anda hebat, Fujimine!
Sebenarnya Masaya ingin kabur, tapi saat melihat wajah mereka yang sumringah melihatnya, ia jadi tidak tega. Dipenuhinya permintaan mereka. Foto bersama, tanda-tangan bahkan ada remaja genit yang berhasil mencium pipinya. Reflek Masaya kaget dan memegang pipinya. Astaga pipiku ....
Dokter Sgiheru tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya yang kaget. Terakhir pria tampan itu menandatangani sebuah kaos olahraga bertuliskan nomer 9, nomer punggungnya pada seorang anak lelaki kecil yang sangat menyukainya. Mereka semua memberi ucapan selamat atas goal kemenangannya.
Ruangan dokter Ayame sudah di depannya. Dibukanya pintu itu nampak Miku menoleh. "Anata!"
π·π·π·
π·π·π· To Be Continuedπ·π·π·
π·
π·
π·
π·
π·π·π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [π] usai membaca, ya π
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
________________________________
Sabtu, 9 Mei 2020
___________________________________
Catatan :
Adegan bermain sepak bola terinspirasi dari pertandingan Higo di Big Osaka dalam serial Detektif Conan
_________________________________
__ADS_1
Klik, please
π