
Setiap hari usai sekolah Satoshi langsung datang ke Sone klinik dengan masih membawa ransel sekolahnya. Kedua adiknya tidak diberitahu tentang penyakit yang diderita ayahnya. Namun, dengan naluri anak-anak seperti mereka, kedua anak itu tampaknya bisa merasakannya. Selama ada di rumah sakit baik Himeka, Satoshi dan Isao tak mau jauh-jauh dari ayahnya.
Terlebih Isao, bocah 4 tahun itu sengaja mengambil kursi agar dapat duduk di samping tempat tidur ayahnya. Lalu dia meneruskan pekerjaannya yang sudah dilakukan sejak seminggu lalu. Yaitu membuat bangau kertas.
"Kata teman-temanku jika aku bisa membuat seribu bangau kertas doaku bisa dikabulkan. Ayah jangan takut, aku akan membuatk seribu bangau kertas dengan cepat," katanya senang.
Mendengar kata-kata Isao yang polos dan penuh pengharapan itu, dada Masaya terasa sakit ingin menangis. "Terima kasih, Isao," kata Masaya lemah.
Kini kondisinya semakin
memburuk. Perawatan medis yang dijalaninya hanya mencegah agar kanker itu tidak membesar, tak ada cara lain.
Masaya sudah tak bisa memasukkan makanan melalui kerongkongannya karena sakit. Sangat menderita sekali, dan sebagai pengganti makanan, maka dia diberikan infus gizi makanan di pembuluh darah balik di lengannya, tapi hal itu malah membuatnya muntah.
Miku yang melihatnya pun menangis. Ia tak bisa menggantikan rasa sakit itu tapi hanya bisa melihat suaminya menderita berjuang melawan
penyakitnya.
Dua pekan kondisinya semakin memburuk, bahkan dokter Shigeru sudah angkat tangan. "Maafkan aku Miku ... dengan berbagai pertimbangan bersama dokter-dokter lainnya, fisik Masaya sudak tak bisa menerima pemakaian obat dan terapi lagi. Kalau diteruskan akan berisiko tinggi. Dia berkata tak perlu diteruskan lagi dan ingin pulang menghabiskan sisa waktunya bersama keluarga. Kami tak menyangka kondisinya terus memburuk." Dokter muda itu melanjutkan kata-katanya.
Miku menggertakkan giginya. Dia hanya bisa mengangguk dan kembali ke ruangan Masaya. Anata ... kau yang ditimpa penderitaan yang tiada ampun, kehilangan kebahagian tanpa alasan. Tapi itu semua tak ada yang mampu menghapus senyumanmu yang memang datang dari dasar jiwamu. Anata ... aku bersyukur kau begitu tegar menjalini semuanya. Aku juga terharu melihat keadaanmu yang tak menyerah.
"Ayah sudah boleh pulang?" tanya Satoshi kaget.
Masaya mengangguk. Meski wajahnya sudah pucat dia masih tersenyum. "Ayah bosan di sini dan ingin di rumah."
"Asyik!" Wajah Isao berseri-seri, dia menghambur kepelukan ayahnya senang. "Padahal tinggal sedikit lagi bangau kertasnya mencapai seribu tapi Ayah sudah mau pulang."
"Lanjutkan saja, jika sudah pas seribu nanti gantung di dekat kamar kita," kata Masaya. Hari ini pun mereka pulang ke rumahnya. "Miku ... aku ingin seharian besok hanya bersamamu tanpa anak-anak. Aku ingin naik kereta seperti saat pertama kita bertemu," ujar Masaya sambil menatap istrinya.
Miku hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata.
Mengenang masa lalu. Terkadang di saat mendekati kematiannya, seseorang akan menjadi sehat secara mendadak meski dirinya dalam keadaan sekarat.
🌷🌷🌷🌷
"Aku Peter Young pemilik Asklepios barmbek hospital secara resmi mengumumkan, bahwa jabatan GM di rumah sakit ini akan di berikan kepada Vein Piscassio. Dan juga mengumumkan pertunangan putriku Yue Schneider Young dengan putra Vein Piscassio, yaitu Leonard Piscassio." Dokter Peter Young memberi pengumuman di acara pertunangan Yue dengan Leon yang disiarkan langsung melalui Channel lokal di Jerman. Beberapa wartawan bersiap menuliskan artikel tentang sang Balerina dunia
Mereka bertukar cincin, tampak wajah Yue berseri-seri bahagia sekali.
Dari bangku penonton Ryu bertepuk tangan malas. Meski dia tak punya hak atas pilihan Yue, dia sangat menyayangkan perihal itu.
🌷🌷🌷🌷
Masaya dan Miku turun dari kereta seharian ini mereka jalan-jalan berdua. Meski terkadang Masaya jadi susah berjalan Miku membantunya. Dia terus menggandeng lengan suaminya.
"Maaf, aku jadi merepotkanmu."
Miku menggeleng.
Saat mereka tiba di dekat lapangan sepak bola tempat biasa ia latihan, Masaga dengan semangat masuk ke dalam tempat itu. Di sana dia bertemu Nagato dan tim sepak bolanya. Mereka sedang istirahat dari latihan. Entah ada apa dengan Sean Hattori si pemilih wajah imut-imut itu, yang jelas pemuda tampan blasteran Jerman Jepang itu jadi bully-an Nagato dan teman-temannya.
"Astaga Hattori, kenapa kau jadi patah hati seperti itu? Sepanjang latihan kau tidak semangat!" Nagato tersenyum mengejek.
"Kapten, kau tidak mengerti perasaanku, ya. Wanita yang kusukai lebih memilih bertunangan dengan orang lain!" Hattori tidur-tiduran malas di rumput. "Seseorang kirim aku ke Jerman sekarang!"
"Hei, idiot! Balerina itu mana mau menikahimu. Bangun dari mimpimu!" Suara Kagame datang menghampiri mereka sembari membawa minuman dan makanan ringan.
"Astaga Kak Kagame, kau jahat sekali!" Hattori semakin berguling-guling tak suka. "YUE!"
"Masaya!" Seru Kagame senang. Ia dan tim Big Tokyo lainnya menyambut kedatangan mereka dengan senang.
"Wah ... kalian seperti pengantin baru saja, jalan-jalan berdua tanpa anak," goda Nagato sambil menepuk pundak Masaya.
"Kapten, ayo kita bertanding sekali saja. Sudah lama aku tak bermain bola."
"Anata, jangan!" protes Miku keberatan karena dia tahu tubuh suaminya tidak sedang dalam kondisi olahraga.
"Tidak apa-apa." Dia menepis kata-kata istrinya enteng, dia nampak bersemangat. Padahal napasnya tampak sesak. Masaya tak mau menyerah.
__ADS_1
"Kau serius?" tanya Nagato ragu saat melihat wajah Masaya yang pucat, tapi melihat kesungguhan pada diri timnya itu, Nagato menyetujuinya.
"Miku, perhatikan baik-baik ya, karena ini yang terakhir," ucapnya sambil bersiap mengambil ancang-ancang menendang bola.
Miku menggigit bibirnya. Untuk yang terakhir. Tanpa sadar air matanya menetes. Ia melihat sang suami mengerahkan tenaganya yang terakhir tak takut menghadapi apa pun yang akan terjadi di sana. Ia sangat percaya diri jika seperti itu.
Hati Miku kosong, pandangan matanya hanya pada Masaya.
"AKU MENCINTAIMU, MIKU HIGASHIYAMA!" Setelah berteriak kencang begitu dia menendang bola itu sekerasnya hingga tepat menjebol gawang Nagato. Senyuman kepuasan tersungging di bibirnya. Dia masih sempat mengedipkan sebelah matanya nakal pada sang istri.
Malam harinya, Masaya kesulitan bernapas. Dia menjadi kejang dalam hitungan menit. Ambulans datang membawanya kembali ke Sone klinik.
Di perjalanan Miku terus menggenggam tangannya, dia berusaha tidak menangis di hadapan suaminya. Dalam sekejap mereka sudah sampai di ruangan emergenci, dokter Shigeru melarang Miku masuk tapi Masaya meminta agar terus ditemani. Akhirnya dokter itu mengabulkannya.
Kau harus kuat Miku! Bukankah kau berjanji akan mengantarkan pada kematiannya? Miku sekuat tenaga menyaksikan suaminya berjuang melawan penyakitnya.
Detik-detik menjelang kematiannya. Mesin bantu nafas buatan sudah tak mempan lagi. Dokter Shigeru dan tenaga medis lainnya sudah tahu, ini adalah saat di mata pasien mereka mendekati detik-detik kematiannya.
Masaya begitu kesulitan bernapas. Dia membuang benda itu dari mulutnya. "Miku ...," pintanya memohon. Dokter Shigeru memberi isyarat pada wanita berambut cokelat itu agar mendekat. Miku sekuat tenaga mendampinginya sambil menggenggam tangan suaminya. "Anata ... aku di sini."
Masaya tersenyum meski sesak. "Aku mencintaimu," ucapnya pelan, ada air mata yang menetes dari wajahnya itu, "maafkan ... aku tak bisa menemanimu ... maaf ..." ucapnya terpatah-patah.
Miku hanya menggeleng.
"Maaf ... Aku lebih dulu pergi."
Lanjutnya semakin pelan. Tubuhnya mulai dingin. Wajahnya sudah sangat pucat. Bahkan para dokter sudah tak tega melihat penderitaan pemuda itu.
Tangis Miku pecah.
Masaya tersenyum. "Aku bahagia bisa bertemu ... denganmu ... juga sudah ... melahir ... kan anak ... anak ... ku. Terima ... kasih ...," Masaya semakin kesulitan bernapas.
Tiba-tiba pintu emergenci tersebut terbuka, lalu muncullah ketiga anaknya yang habis menangis kecuali Isao. Mereka baru datang bersama Madara setelah malam-malam berlari dari rumah menuju Sone klinik karena sulitnya menemukan taxi. Untunglah jaraknya tidak sampai lima kilo.
Satoshi menggenggang tangan Himeka yang menangis. Masaya tersenyum di detik-detik kematiannya dia tidak sendiri.
Pandangan Masaya tertuju pada Isao yang sibuk membuat bangau kertas. Perlahan pandangannya mulai kabur hingga sudah tak bisa melihat apa pun.
"Miku ... dingin sekali ... aku ... aku tak ... bisa meli ... hat wajah ... mu ..." ucapnya terbata. Miku memeluknya. Tuhan, inikah akhir kisah kami?
Perlahan Masaya mendengar suara dirinya yang menangis saat kecil lalu muncullah sang ibu yang menenangkannya saat itu.
"Masaya ... tutup matamu sakitnya akan berkurang. Percayalah. Ibu akan mengobati lukamu. Jika sudah tidak sakit buka kembali matamu."
Masaya perlahan menutup mata dan saat dia sudah merasakan sakitnya hilang, dia membuka matanya. Namun, betapa kagetnya dia karena melihat dirinya ada dalam dekapan istrinya yang kini menjerit memanggilnya. Bahkan anak- anaknya ikut menangis hebat.
"ANATA!!" teriak Miku menggila begitu sudah merasakan denyut jantung Itachi sudah tak lagi berdetak. Mesin monitor jantung itu berjalan datar.
"AYAH! JANGAN PERGI!" Tangis mereka sedih.
Dokter Shigeru menutup mulutnya. Tak dapat dipercaya, inilah berakhirnya kehidupan seorang manusia. Berlalu seperti sesuatu yang alami.
Isao yang tak mengerti menghampiri saudara sambil membawa lipatan bangau kertasnya. "Kenapa kalian kenapa menangis?" tanya Isao sedih lalu ikut menangis.
"Ayah sudah meninggal Isao!" kata Satoshi di sela-sela menangisnya. "Ayah sudah pergi."
"Kita tidak punya ayah lagi." Lanjut Himeka sesegukan.
Isao masih tak mengerti, dia pun mendekati ibunya yang mendekap mayat sang ayah. "Ibu ... hiks ... katanya ayah sudah pergi, ya?" tanyanya polos.
Miku tak bisa menjawab, tapi melihat ibunya menangis hebat akhirnya Isao tahu kalau ayahnya sudah tiada. Pergi menjadi bintang seperti ceritanya dulu.
"HUWAA! Ayahku sudah pergi ... apa aku tak punya ayah lagi? ... huhu!!" Tangis Isao pecah. Dokter Shigeru yang melihatnya tak tega dia pun menggendong Isao. "Ayah ... Ayah ... Ayah kembali, jangan pergi!" panggilnya sesegukan.
Masaya terdiam menyaksikan dirinya ditangisi oleh orang-orang yang dicintainya. Dia ingin menyentuh mereka untuk yang terakhir kalinya, tapi perlahan tubuhnya menghilang seperti kabut.
Dalam kesakitan itu, Hayato mendekati tubuh cucunya. Ia memeluk Masaya untuk yang terakhir kalinya. Pria tua itu menangis.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Suara telpon duduk berdering. Albert mengangkatnya. Terdengar suara Hayato yang habis menangis dan bergetar.
"Masaya meninggal, Albert. Aku rasa kau perlu tahu."
Jantung pria itu seakan lepas dari tempatnya. Dunianya seakan runtuh. Tangannya gemetar, namun suara yang keluar bukanlah hal yang seharusnya ia lontarkan. "Sejak dia kuserahkan padamu. Di hatiku, dia sudah mati. Tak artinya kau mengabarkan kematiannya."
"Keparat, kau Albert! Aku hanya mau memberitahumu bahwa kau masih memiliki cucu dari Masaya. Aku menyesal memberitahumu jika jawabanmu seperti! Tua bangka sialan!"
Wajah datar Albert terlihat sendu. Ia menutup wajahnya. "Maafkan aku, Masaya. Maafkan aku!"
Albert Christian Hikaru yang arogan. Albert yang kuat tak terkalahkan. Albert yang paling ditakuti dan disegani lawannya. Hari ini pria itu menangis. Menyumpahi dirinya yang menjadi ayah paling kejam di dunia.
Ponselnya kembali berdering, tapi kali ini dari dokter Young.
"Albert, Ryu mendadak kejang. Ia tak sadarkan diri. Sekarang berada di ruang ICU. Ini sungguh buruk. Jika dia terus tak sadarkan diri, besar kemungkinan dia tidak akan tertolong."
🌷🌷🌷🌷
Upacara pemakaman sudah selesai. Gundukan tanah itu masih baru dan sebuah nisan terukir jelas. Masaya Fujimine.
"Ibu ... kenapa ayah dimasukkan ke dalam tanah?" tanya Isao.
"Di sana tempat ayah sekarang."
"Bagaimana kalau ayah lapar? Apa ayah tidak lapar. Kalau aku ingin bertemu ayah bagaimana cara bertemunya?" Isao terus berceloteh.
Miku mengelus kepala Isao. "Ayah akan melihat kita dari langit."
Isao ikut menabur bunga di atas makam itu. Himeka memeluk ibunya.
Satoshi menghapus air matanya. "Ayah selama jalan," ucapnya tegar. Remaja itu menatap langit. "Ryu Hikaru, seperti siapa kau?" desisnya pelan.
🌷🌷🌷
🌷🌷
🌷🌷
🌷
🌷🌷🌷 To be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
_________________________________
Part ini terinspirasi dari novel "Shining Time, You Can"t Hurry Love"
Selasa, 23 Juni 2020
Klik please
👇
__ADS_1