Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[58] Ayah, Kau di Mana?


__ADS_3

Ryu menunggu Satoshi di kantin rumah sakit. Di depannya sudah ada secangkir kopi yang menemaninya. Dia tengah sibuk membaca koran.


Dari jauh Satoshi datang menghampirinya bersama Miku. "Itu orangnya." Tunjuk remaja itu pada sosok lelaki yang asyik dengan korannya, bahkan beberapa pasien, suster dan dokter wanita yang ada di sana tersenyum melihat Ryu yang terlihat cool.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan Hikaru. Perkenalkan wanita ini ibu saya," ujar Satoshi sambil mengenalkan sang ibu pada Ryu.


Ryu segera melipat korannya lalu membuka kacamata hitamnya. Seketika itu aliran darahnya seakan berhenti mengalir. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Miku .... Kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya, tak bisa dikeluarkan. Tubuh Ryu seakan telah membatu melihat siapa ibu Satoshi.


Begitu pula dengan Miku, dia merasa dirinya dihempaskan ke dasar jurang yang curam melihat sosok di depannya itu. Mereka saling menatap lama.


Satoshi tersenyum cerah melihat keduanya. "Ibu, kenalkan dirimu."


Tubuh Miku lemas saat menyebut namanya.


Ryu bergetar. "Apa kabar, Ibu Satoshi?" ujar pria itu datar.


Seakan mau pingsan wanita itu berusaha sekuat mungkin untuk tetap berdiri melihat Ryu berdiri di depannya. "B-ba-baik," jawabnya gugup. Sungguh Miku ingin berlari sejauh mungkin dari tempat itu asal tak melihat Ryu, pria itu menatap tajam ke arahnya.


Satoshi merasa aneh dengan keduanya. "Ibu, kenapa jadi tegang begitu? Tuan Hikaru itu orang yang baik," bisik remaja itu bingung.


Ryu menatap Satoshi. Jadi ... dia adalah putraku? Putra yang selama ini aku cari-cari ternyata ada di sampingku? Pria itu memejamkan matanya. Menyadari kebodohan dan ketidakpekaannya. Satoshi putraku?


Mereka diam dalam kesunyian. Saling menatap dan terkadang membuang muka. Bahkan saat hidangan disediakan mereka tetap diam.


Sebelum Ryu beranjak, dia menatap keduanya. "Satoshi, sebenarnya aku kenal ibumu."


Mata Miku memanas. Ia tak ingin Ryu menjelaskan semuanya saat ini. Oh tidak!! Demi Tuhan dia tidak siap.


Ryu tersenyum, pandangan matanya tak lepas dari Miku. "Ibumu sepertinya salah paham padaku dan mengira aku orang jahat."


"Eh?" Satoshi kaget. Ia meminta penjelasan pada ibunya.


"Aku yang salah, aku tak sengaja menabraknya waktu itu. Ibumu mungkin saat ini masih membenciku." Ryu tersenyum pahit. Memang benar dia yang menabrak Miku semenjak kakinya menginjakkan kota Tokyo pertama kali. Pertemuan pertama mereka setelah belasan tahun terpisah.


Miku memalingkan wajahnya. Ia menggigit bibirnya agar tak terisak.


Satoshi memandang ibunya. Ia melihat ada genangan air mata yang hampir tumpah di bola mata sang ibu. Pemuda itu merasa ada yang aneh dengan tingkah keduanya. Bahkan sangat tidak wajar. Apa mungkin mereka saling kenal? "Terima kasih atas makan


siangnya," kata Satoshi senang. "Hati-hati di jalan, Tuan. Jangan lupa minum obatnya." Remaja itu melambaikan tangannya.


Ryu berlalu begitu saja, dia terus memegang dadanya yang sakit sejak tadi. Sakit sekali rasanya saat Satoshi memanggilnya 'tuan'. "Bodoh! Bodoh! Kau bodoh, Ryu!!" umpatnya sambil memukul kemudinya. Ryu menangis di


dalam mobilnya. "Satoshi ... akulah laki-laki brengsek yang meninggalkan ibumu itu," isaknya terguncang.


🌷🌷🌷🌷


Sejak siuman dari operasinya, Isao tak mau bicara pada siapa pun. Pikiran bocah itu kosong dan selalu nampak melamun menatap keluar jendela. Ayah ... kau di mana? Anak kecil itu menatap langit dengan tatapan sendu.


Miku hampir putus asa melihat putra bungsunya tak mau bicara. Berbagai hal sudah ia lakukan namun gagal. Isao tetap membisu.


"Akibat cedera itu, Isao mengalami trauma hebat. Jika kita tak bisa mengajaknya bicara sedini mungkin, mungkin selamanya Isao akan seperti itu," ujar dokter Shigeru sambil menghela napasnya. Ia menatap Miku yang mengusap air matanya menatap putranya yang bisu. "Miku, kita harus bisa menarik rasa takut di hatinya. Jika tidak, Isao selamanya akan seperti itu."


"Aku tak akan membiarkan anakku seperti itu." Miku menggeleng.

__ADS_1


"Karena itulah hari aku berencana akan melakukan tera-..."


Brak! Pintu ruangan dokter Shigeru dibuka agak kasar membuat keduanya kaget, lalu muncul Ryu yang membuat Miku bertanya-tanya.


"Hikaru, mau apa kau kemari?" tanya Miku kaget dan tak suka.


Ryu tambah bete mendengar Miku menyebut belakangnya seperti dulu. Bertindak tak acuh pria itu tak menggubris kata-kata Miku. Lelaki itu mendekati Isao lalu menggendongnya dan membawanya pergi dari ruangan itu.


"Ryu Hikaru, apa yang kau lakukan?! Mau dibawa ke mana anakku?!" Miku berteriak membuat beberapa orang yang ada disana mau tak mau menoleh ke mereka. "RYU, BERHENTI!!"


Tetap saja Ryu tak peduli, toh Isao juga tak bersuara.


"Ryu!" Hinata berhasil menarik tangannya hingga pria itu berhenti. "Kau sudah gila? Mau dibawa ke mana anakku?"


"Terserah aku," jawab Ryu dingin.


"Dia anakku?!" teriak Miku tak terima.


"Lalu?" Alis Ryu bertaut tak acuh. "Dia tak menyebutmu ibu, bahkan saat dia kubawa pergi anak ini hanya diam. Jadi diamlah kau di sini, anak ini akan kubawa pergi." Ryu menatapnya intens, lalu dia membawa Isao pergi.


Miku jadi bingung terlebih dia melihat dokter Shigeru hanya diam. "Kenapa kau tak mencegahnya?" jeritnya kesal.


"Jika kau tak bisa mencegahnya, ikuti lelaki itu."


"Apa?"


Dokter Shigeru menatap Miku cermat. "Lelaki itu tak akan mencelakai anakmu. Semalam dia datang menemuiku dan menanyakan keadaan Isao. Ikutilah dia, percaya padaku." Pria itu tersenyum tipis. "Lagi pula dia tidak akan berani macam-macam pada seorang anak dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan anak kandungnya."


Mata Miku membelalak." Kau ...."


Miku menggigit bibirnya pelan.


"Cepat susul dia." Dokter Shigeru mendorong tubuh Miku menjauh. "Semangat!" Sebuah semangat plus kedipan nakal dari dokter muda tampan itu tertuju pada Miku.


Akhirnya Miku menurutinya dan mengejar Ryu. Dokter Shigeru bernapas lega. "Masaya, kuharap mereka bersatu seperti keinginanmu."


"Ryu Hikaru, tunggu!" Miku berteriak keras saat melihat Ryu sudah berada di Ferari Enzo merahnya bersama Isao.


Ryu mendengus kesal. Lama sekali menyusulku. Wajahnya terlihat bete menunggu Miku.


Sementara Isao tetap diam tanpa peduli sekitarnya, bahkan saat ibunya masuk ke dalam mobil anak itu hanya diam.


"Kenapa lama?" tanya Ryu datar.


"Sudah diam!" bentak Miku dan hampir saja mereka bertengkar lagi jika tidak ingat kalau ada Isao di antara mereka. Setelah dirasa tenang, pria tampan itu memacu mobilnya menuju sekolah Isao.


25 menit kemudian mereka tiba di sekolah Isao, Ryu menggendong anak itu menuju gudang belakang tempat di mana putra Masaya itu terjatuh.


Isao yang awalnya tenang kini mulai beraksi tak nyaman melihat tangga yang dipanjatnya dua hari lalu dan membuatnya terjatuh. Wajah anak itu terlihat tegang. Tangannya memegang erat baju ibunya. Namun, ia masih belum mau bicara.


Ryu menatap Isao sesaat lalu menepuk pundaknya pelan. "Isao, kau tahu tempat ini, kan? Ingat tangga itu?"


Isao masih bungkam. Tapi anak itu terlihat sekali gelisa.

__ADS_1


"Baiklah, jika kau tak mau bicara, biar aku yang ke atas." Ryu menaiki tangga itu hati-hati, sesekali ia menoleh pada Isao. Benar. Anak itu mulai ketakutan. Dia menggeleng-geleng tapi tetap tak mau bicara. Ia berharap Ryu segera turun meski tak mau bicara.


Miku masih tak mengerti apa yang akan dilakukan ayah dari Satoshi itu. Ryu ... sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?


"Isao ... apa yang kau cari di atas? Bukankah kau terjatuh karena pergi ke atas? Ada apa di atas sana, hah?!" tanya Ryu agak berteriak karena saat ini dia berada di tingkat cukup tinggi. Karena tak menjawab, Ryu terus menaiki tangga lagi. Saat ia mulai tergelincir dan hampir jatuh, Isao dan Miku berteriak cemas. Untunglah Ryu tak jatuh.


"Jangan naik, Paman! Huhuhu.. Paman jangan naik ke atas, kumohon." Isao akhirnya membuka suaranya. Dengan diiringi tangisan yang keras sambil menatap Ryu takut jatuh.


"Kenapa? Kenapa kau melarangku naik ke atas?"


Isao sesegukan keras. "Aku mencari ayahku," jawab anak itu jujur. "Teman-temanku bilang kalau ... kalau ayahku sudah mati ... dan tak akan kembali ... hiks ... m-mereka berkata orang yang sudah mati tinggal di surga. Dan ... surga itu ada di atas," isaknya sesegukan.


Air mata Miku menetes tak bisa dibendung lagi. Ia sesegukan.


"... lalu ... aku berniat pergi ke atas untuk mencari ayah agar pulang ... tapi ... tapi hiks ... waktu sampai di atas ayah tidak ada. Bahkan aku sudah berteriak memanggilnya sambil menangis pun, ayah tetap saja tidak ada sampai suaraku habis Dan saat turun aku jatuh ...."


Miku mendekap anaknya sambil menangis. Betapa Isao sangat merindukan Masaya.


Ryu yang mendengarnya jadi ingin menangis juga. Rupanya anak itu rindu ayahnya. Ryu hati-hati menuruni tangga itu, tapi mendadak kakinya kembali ngilu. Karena begitu mendadak Ryu hilang kontrol dan membuatnya tidak seimbang.


Ryu terjatuh.


"Paman!"


"RYU!!" Miku berteriak histeris dan mendekati Ryu yang tak sadarkan diri. Miku kembali seperti dihantam badai tatkala melihat belakang kepala Ryu berdarah. Banyak. Mengalir bagai air, membasahi sebagian rerumputan hijau.


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


To be Continued


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya 😄


Menerima segala kritik dan saran yang membangun 😊


__________________________________


Btw scene tangga itu aku terinspirasi dari drama Mandarin "Ring Ring Bell" yang dibintangi oleh Janine Chan sama Peter Ho. Adakah yang pernah nonton?


Selasa, 30 Juni 2020


__________________________________


Klik, please

__ADS_1


👇


__ADS_2