
Eleven Angel Cafe.
Miku menatap wajah Ryu. Pria itu sudah berubah banyak dan lebih dewasa. Garis wajahnya kelihatan lebih keras dan tegas dari yang terakhir kali Miku melihatnya saat di bandara Narita dulu. Kulit Ryu semakin putih. Rambutnya sepanjang bahu dan diikat ke belakang mirip buntut kuda. Helai-helai rambutnya yang pirang di bagian depan menjuntai karena lepas dari ikatannya sedikit. Bola matanya yang biru cerah seperti punya Satoshi kini menatapnya hangat. Senyum di bibirnya terus terukir seolah tak mau lepas. Entah kenapa justru Ryu saat ini terlihat mirip dengan mendiang suaminya. Dan Miku membenci kemiripan itu.
"Bagaimana kabarmu, Miku?" Ryu memecah keheningan yang tercipta cukup lama di antara mereka.
"Seperti yang kau lihat," jawab Miku dingin penuh kebencian. Tentu saja Ryu sangat mengerti perubahan Miku yang seperti itu. Detik ini pun pria itu yakin Miku masih membencinya. "Apa
tujuanmu datang kemari?"
"Tentu saja kau."
Miku tersenyum sinis. "Aku? Apa yang ada di pikiranmu itu sehingga kau begitu yakin dan berasumsi bahwa aku akan kembali padamu?"
Ryu tersenyum. "Anak kita
berdua." Oh Tuhan, Miku membenciku dalam tatapan matanya, namun aku bahagia melihatnya. Karena bahasa tubuhnya memberitahu jika dia masih memiliki rasa yang sama denganku.
Segurat senyum kebencian kembali tersungging di bibir Miku. "Aku tak pernah melahirkan anakmu."
"Oh, ya?" Ryu tersenyum lepas seakan perkataan wanita di depannya itu adalah lelucon.
Ukh! Aku benci senyumnya yang seperti itu! Senyum pemikat yang sudah membuatku gila karena terus menerus memikirkannya! Wajah Miku memerah. Ia tidak tahu rasa yang dihadapinya saat ini. Marah? Benci? Ataukah rindu?
Ryu menyicipi capocinno miliknya lalu tatapan matanya kembali pada wajah Miku. "Aku sudah tahu tentang anak kita. Kau membesarkannya dengan sangat baik walau tanpaku. Terima kasih."
Aliran darah Miku bertambah panas. "Sudah aku katakan, aku tak pernah melahirkan anakmu!" Suaranya mulai meninggi membuat beberapa orang yang ada di dalam kafe itu jadi menoleh ke arah mereka.
"Keahlianmu bukan berbohong. Kau tak tak bisa bersandiwara di depanku." Kembali Ryu tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mematahkan kebohongan sang pujaan hati.
Miku berdiri kemudian mengambil tasnya dan beranjak meninggalkan Ryu. Tapi sayangnya ayah kandung Satoshi itu terus mengekorinya. Bahkan dia tak peduli ketika pelayan kafe itu berteriak menanyakan kembalian uangnya.
"Miku, tunggu!" Kejarnya buru-buru keluar dari kafe itu, sementara yang dipanggil tak peduli, malah terus berjalan cepat agar Ryu tak mengejarnya. "Kubilang tunggu!" bentaknya saat berhasil mengamit lengan Miku.
"Lepaskan!"
"Jangan harap!"
"Apa maumu?!" Miku semakin emosi. Ingin mencakar wajah tampan Ryu agar menjadi jelek.
"Dengarkan dulu penjekasanku!"
Miku tersenyum getir. "Kau tak perlu menjelaskan apa-apa. Kau sudah membuangku seperti sampah!" teriak Miku berusaha mengeluarkan kekesalannya. Air matanya sudah tak mampu lagi ia bendung dan mengalir
dengan sendirinya. "Mau menjelasan apa lagi?"
"Aku tak pernah membuangmu. Pikiranmu salah!"
"Pikiranku salah?" Miku menghapus air matanya kasar. Dadanya seakan mau meledak melihat pria tak tahu malu yang sudah mencampakkan dirinya. "Lelaki sepertimu selalu punya seribu alasan!"
Ryu menggeleng. "Kau tak tahu apa yang terjadi padaku selama ini. Bahkan untuk hidup pun aku harus berjuang keras."
"Ryu Hikaru, simpan saja ceritamu. Aku sudah tak mempercayaimu." Suara Miku terdengar dingin. Ditatapnya bola mata secerah langit biru itu. "Asal kau tahu. Aku sangat membencimu!"
"... dan aku terus mencintaimu!" potong Ryu.
Miku memalingkan wajah. Ia benci mendengar Ryu mengucapkan kata-kata itu. "Sayangnya aku sudah terlanjur membencimu. Semua yang pernah terjadi di antara kita aku anggap hanya mimpi. Mungkin dulu kau tak berani mengakuinya dengan jantan di depanku. Bahkan untuk ucapan selamat tinggal pun ... " Air mata Miku kembali menetes. Ia menggeleng. "Aku sangat memben ...."
Ryu menarik Miku ke dalam pelukannya dan mendekap sang pujaan hati erat. Hal yang pasti dilakukannya saat SMA saat gadisnya marah.
"Lepaskan ... lepaskan aku!" isaknya sambil memukul-mukul dada Ryu. Sayangnya, bule tampan itu tak mau melepasnya. Dalam beberapa menit mereka terdiam. Barulah Ryu melepas Miku saat tangisannya reda.
__ADS_1
"Kumohon, jangan membenciku," ujar Ryu parau. Kedua tangannya menghapus air mata yang mengalir dari bola mata sendu itu. "Karena aku tahu, kau pun masih mencintaiku. Aku yakin itu."
"Pergilah ... aku mohon pergi," lirihnya.
Ryu mengangguk, dia membalikkan badannya. "Aku akan pergi, tapi aku tak akan menyerah mendapatkanmu." Ryu berlalu dengan perasaan bahagia tak terhingga. Terima kasih, Tuhan! Kau mempertemukan aku dengannya.
π·π·π·π·
"Goal!" Satoshi berteriak senang begitu bola yang ditendangnya meluncur mulus menjebol gawang Zero. Anak muda itu berlari-lari senang dan melompat-lompat seperti anak kecil.
Zero tertawa. "Istirahat dulu, Satoshi! Aku capek," ujarnya sambil selonjoran di atas rumput.
Sabtu ini Zero mengajak pacarnya Minako ikut ke rumah Ryu, karena setiap akhir pekan Ryu mengijinkan dua anak itu pulang ke rumahnya. Jadilah mereka bermain bola. Satoshi satu tim dengan Yue sedang Zero bersama Minako. Dua gadis itu bertugas menjadi kiper. Dan yang paling capek Minako karena dia sering menghalau bola yang masuk ke gawangnya di banding Yue yang hanya dua kali. Namun, selalu gagal karena setiap Satoshi menendang bola, Minako langsung menyingkir takut.
Mereka bertiga duduk sedangkan Satoshi masih asyik bermain bola. Dia menendang bola itu dan mengenai sebuah Buggati Veron silver yang baru saja memasuki halaman rumah itu.
Ryu kaget melihat bola mengenai samping mobilnya. Dia pun keluar. "Satoshi! Kau sengaja, ya?"
"Maaf, Tuan."
Ketiga anak muda itu tak percaya melihat bola yang ditendang Satoshi lagi-lagi mengenai mobil sport majikannya.
"Kak ... Satoshi ....,"
Ryu tertawa, dia tersenyum cuek. "Kenapa wajah kalian pucat begitu? Yue, beritahu Theo kalau aku tak suka mobil baru ini. Urus mobil ini karena aku merasa tak cocok mengendarainya."
Yue melongo. "Kak ..."
Ryu menoleh pada Satoshi yang terdian dengan wajah pucat. "Nice shooter my Satoshi, I like this." Ryu mengedipkan matanya sebelah lalu dia bersiul-siul memasuki rumahnya.
Keempat anak muda itu heran.
"Yue, saudaramu tidak sedang mabuk, kan?" tanya Zero. Entah mengapa dia merinding mendengar Sasuke menyebut sahabatnya dengan panggilan, 'My Satoshi'.
"Satoshi, kau beruntung," kata Minako ikut lega.
Yue menggeleng. "Aku tidak tahu dia kemasukan malaikat apa, asal kalian tahu Buggati Veron itu mobil sport paling mahal di antara koleksiannya. Bahkan sepuluh kali lipat dibanding Ferary Enzo merah itu. Bisa kalian bayangkan jika dia dalam kondisi buruk lalu minta ganti rugi."
Satoshi mengelus dadanya. "Syukurlah, Tuahn masih melindungiku."
"My sweet heart, come here!" Suara Ryu yang begitu norak memanggil Yue. Si balerina berlalu menemuinya, begitu sampai di pintu tiba-tiba Ryu menarik tangannya lalu dia mulai berdansa. Yue yang masih tak mengerti mau tak mau mengikuti pria itu yang berdansa.
Dari balik jendela Satoshi, Zero dan Minako mengintip.
"Kau terlihat bahagia sekali. Apa yang terjadi?"
Ryu mendekatkan tubuhnya lalu memutar tubuh Yue dua kali putaran, wajahnya terus mengukir senyum indah. "Aku menemukannya." Lanjutnya sambil terus berdansa. "Aku bertemu kekasihku tercinta. Dia sangat shock saat melihatku." Ryu tersenyum.
"Memangnya dia masih singel?" Kata-kata itu meluncur begitu saja. "Rasanya mustahil dia masih menunggumu." Lanjut Yue hati-hati.
Ryu langsung melotot. "Aku tak sempat bertanya karena dia mengusirku," jawabnya mulai frustrasi. Keceriaannya hilang dalam sekejab berkat ucapan Yue.
Dari balik jendela ketiga anak itu
menertawakannya. "Rasakan kau Tuan Hikaru. Siap-siap patah hati." Satoshi menahan tawanya. Bahagia sekali rasanya dia melihat wajah Sasuke frustrasi.
π·π·π·π·
Satoshi melipat kedua tangannya sebal, sementara mulutnya maju beberapa centi melihat sosok bernama Mark Akechi akrab dengan keluarganya. "Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?" tanyanya sebal. Baru pulang ke rumahnya sudah disuguhi pemandangan menyebalkan menurutnya.
"Tentu saja Hime-ku, Kakak Ipar," ujar Mark dengan mata berbinar-benar.
__ADS_1
"Sudah berapa kali kuberi tahu jangan memanggilku Kakak Ipar!" Satoshi mulai kesal. Mark tak peduli dan terus memanggilnya kakak ipar bahkan adiknya Himeka mulai terpesona pada sosok pemuda itu.
"Bibi, masih ingat janjiku, kan?" tanya Mark manja dan kekanakan pada Miku yang malah membuat Satoshi mual melihat tingkahnya.
Miku tertawa. "Kau serius, Mark?"
Pemuda itu mengangguk.
"Janji apa?" Satoshi ikut nimbrung.
"Mark berkata bahwa dia akan menjadi pengantin laki-laki Himeka."
Satoshi itu menatap ibunya. "Ibu bilang tidak, kan?" todongnya tak rela.
"Sayangnya orang tua kalian setuju kok." Mark tersenyum penuh kemenangan.
"APA?"
"Kakak Ipar, sebaiknya kau merestuiku karena orang tuamu setuju."
"Siapa yang mau bersaudara ipar denganmu?"
"Aku mau." Mendadak Isao ikut bicara. Mendapat dukungan dari Fujimine kecil itu, Mark seperti di atas awan. "Terima kasih Adik Ipar," ujarnya sambil mencubit pipi Isao gemas.
"Tapi kau harus memberiku sebuah laptop terbaru di ulang tahunku dua hari lagi."
"Tentu, akan kubelikan yang palimg mahal." Jika cuma laptop itu kecil bagi Mark.
"Hei, Isao, kenapa kau mengkhianati kakakmu sendiri?" protes Satoshi.
Isao berlagak bodoh. "Ingat, besok ulang tahunku. Aku tunggu hadiahnya. Jika kau bohong, sebaiknya kau kembali ke habitatmu!"
Antara gemas dan kesal mendengar omongan Isao, Mark menoleh pada Himeka, "Omongannya membuatku kesal, Hime."
Zhou mendekati Isao. "2 hari lagi?Β 7 Oktober ulang tahunmu?"
"Ya."
Mark dan Zhou saling berpandangan. Mata mereka berkata, 'Itukan juga hari ulang tahun Yue."
π·π· To be Continued π·π·
π·
π·
π·
π·
π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda likeΒ [π] usai membacanya, ya ππ
Menerima kritik dan saran yang membangun ππ
__________________________________
Senin, 29 Juni 2020
_________________________________
__ADS_1
Klik, please
π