Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[33] Bertemu Kakek


__ADS_3

Satoshi menghambur ke pelukan ibunya ketika dia berhasil keluar lapangan. "Ibu, aku hebat, kan?"


Miku mengelus kepalanya. "Anak Ibu selalu hebat."


"Perut Ibu semakin besar saja, aku jadi susah memeluk Ibu," keluh Satoshi.


"Iya, karena sebentar lagi adikmu akan lahir. Kau harus menjadi seorang kakak yang baik," ujar Miku menasehati.


"Wuah ... aku tak sabar menunggu, jika sudah lahir aku akan mengajarinya bola dan bermain bersama," serunya girang.


Saat kandungan Miku 7 bulan, dia memeriksakan jenis kelamin calon bayinya dan dokter menyatakan kalau bayi itu laki-laki, dan yang paling bersorak senang adalah Satoshi, karena dia sangat ingin sekali memiliki adik laki-laki.


"Kakak, ayo pulang," seru Himeka yang berada di atas pundak Masaya, si Miku kecil itu sangat senang bisa duduk di pundak ayahnya dan dengan bangga dia akan menyebut dirinya paling tinggi.


"Himeka kau ini sudah 9 tahun, kasihan ayah dia keberatan menggendongmu."


"Tidak mau, aku suka naik di pundak ayah."


Satoshi mencibir. "Dasar manja!"


Himeka hanya menjulurkan lidahnya dan tentunya Satoshi tak bisa menjangkaunya meski dia sebal.


"SATOSHI!"


Terdengar beberapa anak seusia Satoshi menghampiri mereka.


"Selamat sore, Paman Fujimine!" sapa bocah-bocah itu semangat.


"Wah ... kalian teman-teman Satoshi, ya?" tanya Miku.


Mereka adalah teman SD Satoshi di sekolah. Zero, Akai, Diego,Β Mitsuki, lalu kakak adik dari keluarga Kobayashi yaitu Ichiya dan Daichi. Keenam bocah itu teman Satoshi di SD.


"Main bola, yuk," ajak Mitsuki semangat.


Satoshi menoleh pada ayahnya dan Masaya mengangguk. Begitu mendapat ijin dari ayahnya, ketujuh anak itu bermain bola di lapangan dengan gembira.


Masaya menatap Satoshi lama.


"Dia semakin mirip dengan Ryu," kata Miku pelan dan datar, "semakin dia tambah besar, dia akan terus mengingatkanku pada Ryu."


Masaya menggenggam tangan istrinya. "Satoshi putraku. Apa kau lupa?" ujarnya tersenyum, "jangan membuatku cemburu dengan mengatakan Satoshi anak Hikaru." Ditatapnya wajah Miku lekat-lekat. Bibirnya membentuk seutas senyum indah yang kerap membuat Miku merasakan yang namanya jatuh cinta kembali.


"Satoshi anak kita," kata Miku mantap.


"Ayah, ayo pulang," rengek Himeka yang mulai mengantuk.


Masaya menurunkan putrinya, lalu ganti menggendongnya. Tak ada satu menit, Himeka sudah terlelap. Mungkin dia kelelahan karena dari awal pertandingan, gadis kecil itu berteriak-teriak terus mengelu-elukan kakaknya.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Seorang lelaki paruh baya berambut pirang yang mulai didominasi putih itu baru turun dari pesawat, dan keluar dari bandara Narita. Albert Hikaru membuka kacamata hitamnya, menatap keindahan kota Tokyo. Begitu ia keluar dari bandara beberapa langkah, sebuah Marcedes SLR Mc Laren kuning berhenti tepat di depannya. Albert masuk ke dalam kendaraan pribadinya, sedetik kemudian marcedes kuning itu melaju cepat meninggalkan bandara Narita.


Baru 30 menit marcedes kuning itu melaju tiba-tiba saja oleng sejenak membuat sopir berparas Eropa itu menginjakkan remnya mendadak.


"Ada apa, Jill?" Albert membuka matanya sejenak. Ia menatap tajam ke arah sopirnya itu.


"Sepertinya ban mobil ini kempes, Tuan."


Albert mendengkus. "Cepat periksa, satu jam lagi aku ada rapat menemui klienku di Shibuya."


Jill mengangguk, dia segera turun memeriksa keadaan, satu menit kemudian. "Maaf Tuan, saya rasa Anda harus mencari taxi, saya tidak bisa memperbaiki ban bocor mobil sport ini," ujarnya takut.


Pria itu menggerutu. "Cepat carikan aku taxi, aku sudah lama tidak ke daerah ini!" bentaknya kesal, lelaki itu turun dari mobil pribadinya, sedangkan Jill berusaha keras mencari taxi di tempat yang.sebelumnya tak pernah dia datangi. Susah baginya, terlebih Jill tak bisa berbahasa Jepang layaknya sang majikan.


Albert keluar dari mobil sport itu. Tokyo tidak sedingin di Jerman saat ini, buktinya lelaki tua itu tidak merasakan dinginnya salju meski hanya mengenakan jas tanpa mantel. Ia memperhatikan daerah sekitarnya, lalu pandangannya tertuju pada segerombolan anak kecil yang bermain bola di lapangan dan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Entah kenapa dia jadi teringat pada Ryu yang sekarang masih dalam pengobatan di Jerman. Dulu saat masih kanak-kanak, Ryu sangat senang sekali bermain bola.


"Dad, aku menang lagi di kejuaraan tingkat SD. Lihatkan aku ini hebat?" Ryu berlari ke arah Albert dan melompat masuk ke pelukan ayahnya. Ryu kecil memamerkan piala yang baru didapatnya tadi bersama teman-temannya.


"Tentu saja. Kau adalah anakku. Daddy bangga padamu!"


Saat itu Albert tersenyum senang melihat Ryu yang lincah.


"Dad, jika aku besar nanti, aku ingin menjadi atlet sepak bola seperti Senju bersaudara."


Albert tersenyum simpul mengingat kata-kata Ryu saat itu. Anaknya yang bersemangat dan lincah, tapi sekarang putranya malah lumpuh meski dalam tahap terapi pengobatan.


Ryu, maafkan Daddy. Asal kau tahu, aku sangat menyayangimu. Ada genangan air mata dipelupuk mata lelaki berparas tampan itu.


Tiba-tiba ...


DUAK!!


Albert tersadar dari lamunannya ketika sebuah bola mampir di wajahnya dengan sangat keras. Dia menatap bola sialan itu. Siapa yang berani melakukannya?


"Hey ... Mitsuki, kenapa kau tidak tangkap bolanya?" tanya Diego pada Mitsuki yang bertugas menjaga gawang.


"Sulit itu sulit!" jawab Mitsuki, "tendangan Satoshi itu menakutkan. Xiao Feng yang hebat saja tak bisa menangkapnya," lanjut bocah bermata sipit itu tak mau disalahkan. Mereka jadi saling adu mulut.


Dasar anak nakal! Akan aku marahi siapa yang berani menendang bola ini dan mengenai wajahku! Pria paruh baya itu terlihat marah, wajahnya pun


merah seperti kepiting rebus. Lelaki itu mendatangi ke enam bocah itu. "Siapa yang melakukannya?!" Suaranya menggelegar bak petir.


Semua anak itu menunduk takut tak berani menatap kilatan kemarahan lelaki tua itu.


"Jika tidak ada yang mengaku akan aku buang bola ini!" ancamnya tak main-main.


Ketujuh bocah laki-laki itu saling menyenggol. Mereka semua membisu. Melihat hal itu, kesabaran Albert hilang. Dia pun bersiap melempar bola itu ke jalan raya. "Dasar anak-anak nakal. Jangan salahkan aku jika kalian tidak mau mengaku."

__ADS_1


Mereka masih bungkam. Namun, saat lelaki tua itu hendak melempar bola yang dipegangnya, tiba-tiba salah satu dari mereka angkat bicara


"Aku yang melakukannya. Jangan buang bolanya!" aku Satoshi memberanikan diri sambil menatap wajah lelaki tak dikenalnya itu.


Alnert menatap bocah pemberani itu, entah mengapa ada sesuatu hebat yang menjalar di hatinya, begitu melihat wajah anak kecil bermata biru terang dan pirang secerah mentari. Lelaki tua itu termangu menatap Satoshi.


Keenam bocah itu menatap Satoshi, mereka takut lelaki itu akan memukul Satoshi.


"Ryu," ucapnya bergetar tanpa sadar menyebut nama putranya. Wajahnya yang galak berubah menjadi kaget luar biasa. "R-ryu?" ulangnya lagi. Ia bergerak menyentuh Satoshi.


Keenam bocah itu heran, terlebih Satoshi. Albert terdiam, bola yang dipegangnya menggelinding ke tanah. Dia syok melihat wajah Satoshi yang sama persis seperti Ryu saat kecil.


Satoshi menautkan kedua alisnya heran. Kakek ini kenapa, sih?


Diego, Daichi, Akai dan Zero memandang heran. Sedangkan Ichiya dan Mitsuki ingin tertawa melihat lelaki tua itu yang terlihat seperti orang gila. Terlebih bahasa Jepangnya agak berantakan.


"Apa dia gila?" bisik Akai takut.


"Nak, siapa nama ibumu?" tanya Albert akhirnya.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Sabtu, 6 Juni 2020


___________________________________

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2