Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[4] Kereta Pertemuan


__ADS_3

SMA Seika Jogakkan, Kelas 2-1


"Miku Higashiyama!" Guru matematika--Pak Yamato--mengabsen muridnya satu-persatu. Semua siswa dan siswi di kelas itu menatap bangku kosong nomer tiga dari depan, tepat di samping jendela. Ini sudah tiga hari lamanya Miku tidak masuk sekolah. Bahkan tak ada satu pun yang tahu kemana si juara paralel perginya.


"Hei, Imamura, kau, 'kan sahabat Higashiyama. Memangnya kau tidak tahu dia ke mana?" tanya Shikadai sang ketua kela 2-1 saat mereka berada di lapangan sepak bola.


"Miku tidak masuk sekolah? Setiap hari aku melihatnya memakai seragam sekolah dan kami selalu bertemu di kereta."


Shikadai mengangguk, lalu memastikan bertanya, "Apa iya? Hari ini dia bolos lagi, loh."


Shiori menggeleng tak percaya. "Mana mungkin Miku berani bolos. Asal kau tahu ayah Miku itu lebih mengerikan dibanding kepala sekolah kita Pak Mouri," jelas gadis bercepol itu. Danzo Mouri merupakan kepala sekolah sekaligus pemilik SMA Seika Jogakkan yang paling ditakuti dan disegani semua murid-murid di sekolah tersebut. Dari zaman ke zaman anak-anak SMA Seika Jogakkan menyebutnya 'Si Muka Gorila'.


"Sebenarnya Miku sudah tiga hari tidak masuk sekolah."


"APA?" Shiori kaget sekali, dia menatap Shikadai tak percaya. "Kau tak bertanya pada kapten temperamen itu?"


Shikadai tersenyum kecut. "Jika aku bertanya tentang Higashiyama pada si bule itu, sama saja aku mengantar nyawa."


Shiori mengangguk paham. Ryu adalah pacar tipe pencemburu berat.


🍓🍓🍓🍓


Sementara itu kereta berjalan cepat meninggalkan daerah Tokyo. Di antara banyaknya orang, Miku duduk menyendiri hingga sebuah kaleng minuman yang masih utuh terulur padanya. Gadis berponi itu menengadahkan wajah.


"Minumlah," ucap pemuda itu sambil ikut duduk di sebelahnya. Lelaki itu tersenyum tulus membuat Miku tak ragu menerima minuman kaleng tersebut.


Miku mencoba membuka kaleng minuman itu, tapi tak juga berhasil meski dicobanya berkali-kali.


Tanpa berkata apa-apa, lelaki berambut hitam pekat itu mengambil minuman kaleng dari tangan Miku. Membukanya dengan satu gerakan mudah lalu menyerahkannya pada si gadis penyuka bunga lavender.


"Terima kasih," kata Miku pelan, perlahan dia meneguk minumannya. Mata itu masih sembab karena habis menangis hingga matanya terlihat sipit. Sejenak si pemilik mata indah itu menatap wajah yang tak asing baginya. Ya, dia adalah pelatih muda yang keren dan tampan, Masaya Fujimie.


Masaya memiliki mata berwarna hitam pekat, rambut berwarna hitam yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Mata pelatih itu fokus pada koran yang dibacanya.


Tiba-tiba saja perut Miku berbunyi. Astaga memalukan sekali.


"Belum sarapan?" Masaya mengalihkan pandangan matanya pada Miku. Gadis berkulit putih itu menggeleng malu. Pelatih muda itu tersenyum lalu mengeluarkan bekal yang dibawa dan memberikannya pada Miku, "sebagai gantinya jangan bolos sekolah lagi." Lanjutnya santai seolah tahu apa yang ada di pikiran anak itu.


Awalnya Miku ingin menolak tapi aroma bekal yang disodorkan itu berhasil menggoda perutnya. Onigiri isi tuna. Miku menerima bekal itu dan menyantap tanpa sisa. "Kenapa Pelatih tahu kalau saya bolos?"


Masaya tersenyum simpul, matanya tetap fokus pada koran yang dibacanya saat ini. "Sebenarnya aku tidak tahu, tapi tiga hari berturut-turut melihatmu di kereta dan tidak turun juga, meski sudah sampai stasiun dekat sekolah. Jadi ... aku menyimpulkan bahwa kau bolos."


Miku menatap wajah pelatih muda itu. Wajahnya tampan dan menarik, walau masih kalah tampan jika dibanding Ryu. Juga masih keren sang pujaan hati. Akan tetapi, wajah pelatih ini seperti memiliki sesuatu yang bahkan Ryu tak mungkin bisa memilikinya. Karisma. Ya, Ryu tak memiliki karisma seperti pelatih muda di depannya ini.


"Apa yang kau lamunkan?"


Miku tersadar karena sudah cukup lama dia menatap wajah pelatihnya itu. "T-Tidak ada,"


Masaya melipat korannya. "Sang juara paralel tiba-tiba bolos sekolah, aku rasa itu bukan hobi barumu. Jadi apa masalahmu?"


Wajah gadis manis itu kaget bukan main, kenapa pelatihnya ini bisa tahu kalau dirinya sedang punya masalah?


"Tidak ada masalah serius. Hanya saja bosan," kilahnya sambil menatap ke luar jendela.


"Kau tak bisa membohongiku!"


"S-saya tidak bohong!"


"Benarkah?" Masaya menatap tepat ke dalam retina gadis bermata indah nan sayu ini. Seketika Miku terhipnotis saat menatap mata pelatihnya.

__ADS_1


Tuhan, dia mempunyai sebuah tatapan mata yang sanggup merontokkan kebohonganku. Tatapan mata yang seolah menutunku untuk berkata jujur.


Merasa aneh dan sudah membuat salah tingkah muridnya, Masaya jadi tidak enak. "Apa di wajahku ada sesuatu?" tanyanya heran.


Miku menggeleng gugup.


"Sebentar lagi aku turun di stasiun ini, tidak baik anak sekolah sepertimu bolos. Pulanglah jika kau tak ingin sekolah," ujar Masaya hampir beranjak.


"Tiket ...,"


"Maaf?"


Miku menunduk malu. "Saya sudah tak punya uang untuk membeli tiket pulang," jawabnya polos.


Masaya berpikir sejenak. Lalu tanpa ragu memberikan tiket yang tadi dia beli. "Terima dan pulanglah."


Gadis itu menerima tiket. "Pelatih sendiri?"


"Aku bisa membelinya lagi nanti, waktu mengajarku sudah tiba, jika tidak cepat-cepat turun aku bisa telat mengajar di SMA Minami."


"Pelatih juga mengajar di SMA Minami?"


"Ya, menjadi guru pengganti bahasa Inggris sementara." Masaya segera berlalu. Miku menatapnya hingga punggung itu hilang di balik keramaian.


🍓🍓🍓🍓


Usai mengajar, Masaya dikagetkan dengan keadaan pacar murid didiknya yang masih juga belum pulang. Gadis itu tertidur di bangku stasiun.


Astaga, kenapa anak ini masih di sini? apa dia tidak takut diculik? Masaya mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pundak Miku, tapi mendadak tangannya berhenti bergerak, padahal tinggal sedikit lagi. Pelatih muda itu mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Miku yang tertidur pulas. Dia tidak tega membangunkan dan lebih memilih duduk di sampingnya.


30 menit kemudian Miku terbangun sendiri dari tidurnya karena suara kereta yang datang. Hal pertama yang dilihat adalah sosok berambut hitam. Duduk santai di sampingnya.


"Di dekat sini ada kedai Ikeibu," Masaya melipat korannya, "jika tidak cepat antriannya bisa panjang sampai malam."


"Pelatih, besok saya pasti kembali sekolah," ujar Miku ceria.


"Tentu saja, kau sudah menghabiskan bekalku," canda Masaya, "sudah bosan membolos?"


Gadis bermarga Higashiyama itu menggeleng. Setidaknya wajah cantik itu tidak sesedih tadi pagi saat bertemu. Wajah Miku kini tersenyum ceria.


"Kenapa?"


"Karena saya ingin melihat wajah Pelatih Fujimine besok!"


Masaya tertawa pelan, wajahnya berubah semakin memperlihatkan sisi kelembutan pemuda tersebut.


Miku membungkuk hormat lalu pamit pada pelatihnya saat kereta sudah berhenti di pemberhentian kota Tokyo. Masaya tertawa mendengar jawaban Miku, membuat gadis itu ikut tertawa.


"Tentu saja, jangan membuat anak didikku uring-uringan setiap hari karena memikirkanmu terus. Hikaru mencemaskan keadaanmu."


Miku mengangguk.


🍓🍓 Muzukashii no Ai 🍓🍓


Sore itu, usai dari supermarket terdekat, Miku dikagetkan dengan kedatangan remaja jangkung setinggi 185 centi, sedang menyandarkan tubuhnya pada pohon sakura yang mulai berguguran tepat di depan pagar halaman rumahnya.


Wajah sendu Ryu menatap langit sore yang mulai kuning keemasan, yang menandakan sebentar lagi malam mulai datang. Sementara sebelah tangannya dimasukkan ke dalam katong celana.


"Hi-Hikaru," sapanya terkejut.

__ADS_1


Pemilik mata sebiru langit itu menoleh. Remaja itu tersenyum cerah begitu orang yang ditunggunya sudah ada di depan mata.


Kafe itu kebetulan sepi pengunjung. Hanya ada dua pengunjung lainnya. Miku dan Ryu memilih duduk di dekat jendela.


"Aku tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa setelah kejadian itu," ujar Ryu memulai pembicaraannya, "Miku, aku ...."


Sang gadis tetap bergeming. Ditatapnya wajah Ryu lekat-lekat. "Jika terjadi sesuatu padaku suatu hari nanti, apa kau mau bertanggung jawab?"


Ryu mengangguk. "Aku janji."


"Kau juga harus berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi." Kali suaranya terdengar bergetar.


"Aku janji, kejadian itu tidak akan kuulang lagi." Ryu meyakinkan.


"Jika kau melanggar janjimu, selamanya aku tak akan pernah memaafkanmu. Sampai mati dan di kehidupan selanjutnya."


"Aku janji tidak akan melanggar janjiku pada gadis bernama Miku Higashiyama." Remaja itu mengacungkan dua jarinya.


Miku tersenyum, yang mana membuat wajah Ryu ikut tersenyum hangat. Usai menghabiskan makanan dan minumannya mereka pulang.


Di tengah jalan, Miku merasa seperti ada sesuatu yang mengaduk-ngaduk di dalam perutnya. Gadis itu jongkok sejenak sembari memegang perutnya.


"Kenapa?" tanya Ryu khawatir.


Miku menggeleng. "Aku ke toilet sebentar." Gadis itu berlari meninggalkan Ryu di tengah jalan, mencari toilet umum. Ia harus mengeluarkan isi perutnya.


Ryu termenung begitu melihat gelagat sang kekasih ke toilet. Apa mungkin dia hamil? Mana mungkin, kami hanya melakukannya dua kali. Mual belum tentu hamil, lagi pula Miku punya penyakit asam lambung. Dia juga sering muntah-muntah ketika di awal kami berpacaran.


Ryu mengangkat bahu tak acuh. Tapi saat melakukannya, kau tak memakai pengaman apa pun, bodoh! Maki otaknya yang mana membuat dirinya tersentak.


Begitu Miku keluar dari toilet, wajah gadis itu terlihat pucat.


"Miku kita ke dokter pribadiku sekarang," kata Ryu tegas tanpa meminta persetujuan gadis itu.


Dalam perjalanan mereka sama-sama terdiam takut. Takut akan bayangan buruk dalam imajinasi masing-masing.


Dokter cantik bernama Ameno memeriksa keadaan Miku. Usai memeriksanya dokter pribadi keluarga Hikaru itu memberikan resep obat pada gadis berambut cokelat tersebut.


"Asam lambung Anda kambuh, Nona Higashiyama. Jaga pola makan dan jangan terlalu banyak pikiran. Stress adalah pemicu utama kambuhnya penyakit Anda," jelasnya sambil tersenyum.


Ryu tampak lega. Hanya asam lambung. Remaja itu pamit setelah menerima resep obat dari dokter Ameno.


Ketika mereka keluar dari ruangan itu, dokter berambut hitam itu langsung menelpon seseorang. "Tolong sambungkan telpon saya pada Tuan Albert Hikaru. Dari dokter pribadinya. Ameno Fujiwara"


🌷🌷🌷 ToBe Continued 🍓🍓🍓


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [❤] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.

__ADS_1


Salam,


Ren Hikaru


__ADS_2