Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[37] Takdir


__ADS_3

Tokyo, 5 Januari, 3 tahun kemudian.


"Happy birtday to you ... happy birthday to you ... happy birthday, happy birthday ... happy birthday to Isao." Masaya, Miku, Satoshi dan juga Himeka berkumpul di ruang keluarga bersama.


Isao usianya sudah 3 tahun. Balita lucu nan tampan itu sangat senang melihat tart coklat di depannya. Setelah meniup lilin berangka 3 semua bertepuk tangan.


"Isao, ini untukmu." Himeka memberikan hadiah syal rajutan berwarna putih buatannya sendiri.


"Terima kasih. Nanti aku akan memakainya setiap hari," kata Isao senang.


Satoshi memberi hadiah bola, Miku memberi sepasang sepatu olahraga, sedangkan Masaya memberi jaket tebal lucu yang ada tulisan namanya.


Isao memotong kue itu dibantu sang ibu lalu membagikan potongan tart coklat itu pada yang lainnya.


Meski baru tiga tahun usianya, wajah Isao semakin mirip Masaya. Satoshi sendiri sudah beranjak remaja dan usianya kini 13 tahun, sedangkan Himeka 12 tahun.


Tiga tahun lalu, Masaya menjalani operasi pengangkatan tumor di kepalanya, dan berjalan lancar tanpa harus memberitahu keluarganya. Setiap bulan, dia chek up kesehatannya rutin hingga dia terbebas dari tumor sialan itu.


"Ayo kita foto bersama," kata Masata setelah mempersiapkan semuanya.


Klik.


Sebuah foto keluarga bahagia terpotret sempurna. Semuanya tersenyum indah karena senang. Tampak Satoshi tersenyum sedang memakai baju biru, lalu di sampingnya Miku yang juga tersenyum indah sambil merangkul Isao yang mencolek tart coklat itu. Sementara Masaya tersenyum bahagia mencubit pipi chubby Isao sambil menatap kamera dan Himeka dengan


rambut cokelat ikalnya yang sepinggang tersenyum dengan jari membentuk huruf V. Koichiro di pinggir Satoshi sedangkan Hayato di samping Himeka.


Benar-benar potret yang sempurna. Siapa pun pasti iri melihat hasil foto itu. Terlebih wajah lucu Isao yang


menggemaskan.


🌷🌷🌷🌷


Sementara di hari yang sama di Desa Schockingen, Ditzingen di Stuttgart, Jerman.


"Kakak Ryu!!" Yue berlari senang ke arah Ryu yang belajar berjalan. Wajahnya sangat bahagia. "Tebak hari ini aku mendapat kejutan apa?" tanya gadis itu bahagia.


"Lucad bercerai dari istrinya? Bukankah itu berita yang paling kau tunggu sejak SMP?" jawab Ryu asal.


Gadis itu menggeleng. "No,"


"Kau menang lagi di acara kompetisi di Amerika sebagai pasangan terbaik bersama Leon?"


Yue menggeleng senang.


"Kau mendapat hadiah mobil sport impianmu dari papamu?"


Kembali gadis itu menggeleng.


"Anak China itu datang ke acara ulang tahunmu tadi?" tebaknya yakin karena Ryu yakin tak ada yang membuat sang Balerina senang selain tiga orang pemuda tampan yang disukainya. Lucas Hikaru sang aktor legendaris kebangsaan Kanada - Jepang, Mark Akechi pesepak bola junior dan Leonard Piscasio, pasangan tari baletnya yang sudah bersamanya sejak SD.


"Bukan," Gadis itu masih tersenyum bahagia.


"Lalu apa??" Ryu jadi sebal.


"Leon putus dengan Lauren dan sekarang Leon menyatakan cintanya padaku," ceritanya senang. Rona merah sudah menjalar di pipinya.


"Apa itu penting?" tanya Ryu tak suka. Entahlah setiap Yue menyebut nama Leon, ia tak pernah suka.


"Kenapa?" Yue cemberut.


"Apa kau menggoda Leon sehingga anak itu putus dari Lauren?" Tatapnya tajam.

__ADS_1


"Tidak ... tidak," Yue menggeleng, "Lauren berselingkuh dengan pemuda lain lalu ketahuan Leon. Mereka bertengkar hebat lalu ...,"


"... dia menyatakan cintanya padamu?" Lanjutnya sinis.


"Ya, begitulah." Wajah gadis itu merah merona karena sangat bahagianya. Seperti dilanda muism semi.


"Cih, pemuda itu hanya memanfaatkanmu! Tidakkah kau sadar kalau Leon hanya dijadikanmu tempat pelarian? Dari sekian banyak laki-laki kenapa pilihanmu hanya si ******** itu?!" teriak Ryu marah.


"Leon orang baik! Kenapa kau dari dulu membencinya? Apa salahnya?"


Tak biasanya, mereka yang dulunya saling pengertian dan mendukung, tapi jadi bertengkar hari ini. Karena pemuda bernama Leon.


"Dia itu ********, brengsek dan sangat playboy. Dia juga penipu! Aku tak mau kau terluka gara-gara pemuda seperti dia!"


"Cukup!" teriak Yue sambil menutup kedua telinganya.


Ryu tersenyum datar. "Yue, untuk orang sebaik dirimu, aku akui tak bisa membaca pikiranmu," ujarnya ditekan, "tapi jika ******** macam Leon, aku ahlinya!"


Air mata Yue jatuh, dia tak menyangka Ryu yang selama ini pengertian menjadi gila jika menyangkut soal Leon.


Sejujurnya ia tahu kalau Leon tak bisa dipercaya, tapi entah kenapa hatinya terus cenderung pada pemuda bule itu, meski Ryu berkali-kali mengingatkan agar tak jatuh cinta pada Leon.


"I hate you!!" teriak Yue menangis lalu pergi dari hadapannya.


Ryu menghantam dinding kesal. "Kenapa harus Leon? Dia itu tidak bisa dipercaya. Aku hanya tak ingin melihatmu menangis suatu hari nanti. Hanya itu," gumamnya pelan.


Pria itu menatap langit biru di atas.


🌷🌷🌷🌷


Terlihat dokter Shigeru tengah buru-buru mengeluarkan berkas pasien pribadinya dari lemari di ruangan khusus. Ada yang aneh dengan perkembangan pasiennya. Setelah ketemu akhirnya dia membaca detail rincian keterangan tersebut. Tubuh dokter tampan itu mendadak tak bertenaga. "Ini tidak mungkin ... bagaimana bisa?" ujarnya tak percaya. Pemuda itu terduduk lemas. Dirogohnya ponsel yang ada di saku baju kebesaran para dokter itu. Setelah terdengar nada sambung dan diangkatnya panggilan darinya, barulah dokter Shigeru bersuara.


Setelah berkata seperti itu dia memutus percakapannya. Dokter muda itu terlihat frustrasi. Tangannya menghantam dinding pelan.


"Kenapa begini?" Ulangnya syok.


🌷🌷🌷🌷


"Ayah, ayo main lagi." Isao menarik-narik lengan kemeja ayahnya.


Masaya menutup telponnya, pikirannya langsung kacau begitu mendapat telpon dari sahabatnya. Dia tersenyum pada Isao lalu mengelus kepalanya. "Isao, Ayah ada urusan sebentar. Kau bermainlah sendiri, ya?" bujuk Masaya.


"Tidak mau, Kak Satoshi sedang sekolah. Aku ingin main bola bersama Ayah," rengek bocah tampan itu dengan manja.


"Tapi Ayah harus pergi, nanti kita main lagi."


Tes! Setetes darah segar keluar dari hidung Masaya.


Astaga, darah ini keluar lagi. Pria itu segera menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Akhir-akhir ini ia sering mimisan tanpa sebab. Dokter Shigeru berkata mungkin efek dari cuaca yang kelewat dingin.


"Ayah, hidungmu berdarah. Apa sakit?"


Masaya tersenyum. "Ayah tidak apa-apa. Sekarang Isao bermain bola sendiri, ya?"


Isao menggeleng. Meski dibujuk, bocah itu tak mau ditinggal ayahnya. Akhirnya Masaya menghela napasnya. "Kau ingin apa? Katsudon atau ...,"


"Apel," jawabnya senang.


"Baiklah, nanti pulang dari sana, Ayah akan membelikanmu apel," janji Masaya.


"Benarkah?" Mata Isao berbinar cerah mendengar janji ayahnya. Dia mengacungkan kelingking jarinya.

__ADS_1


"Iya, Ayah janji." Pria itu mengikat jari kelingkingnya pada Isao sambil tersenyum.


Akhirnya Isao bermain bola sendiri. Masaya segera bergegas menuju SONE klinik. Selama di perjalanan Masaya tak bisa tenang, perkataan dokter Shigeru membuatnya takut. Apa yang terjadi? Kenapa perasaanku tidak enak?


🌷🌷🌷🌷


Masaya jadi bingung melihat sahabatnya yang terlihat muram dan sepertinya sangat tertekan. Ada apa ini? Pria itu kembali bertanya-tanya. Ini bukan seperti Shigeru yang aku kenal, kenapa dia muram sekali? Masaya terus menatapnya meski perasaannya tidak enak.


"Shigeru, kenapa diam saja, katanya ada hal penting. Apa itu?" desaknya tak sabar karena sudah sepuluj menit berlalu, tapi dokter tinggi berkacamata bulat itu masih bungkam. Meski saat ini mereka berhadapan tapi dokter Shigeru tak berani menatap wajahnya. "Shigeru!" bentak Masaya kesal.


Pria itu menatapnya sendu. "Sebulan yang lalu, aku pernah mengatakan, kalau penyakitmu suatu waktu bisa kambuh lagi?"


"Ya." Masaa menelan air ludahnya susah. "Apa tumor itu tumbuh lagi?"


Dokter Shigeru tak bergeming. "Tiga belas tahun lalu, kau pernah dikeroyok orang hingga kepalamu cedera hebat. Lalu setelah melewati sepuluh tahun lamanya, kau cedera kembali. Luka tiga belas tahun lalu itu berefek besar saat ini." Dengan lirih dokter tampan itu melanjutkan kata-katanya, "satu minggu ini aku menekuni penyakitmu yang mendadak kembali menyerangmu, dan aku  ... aku baru menyadarinya."


Tubuh Masaya mulai panas dingin. Memang benar dua bulan terakhir ini kepalanya kembali sakit meski dia sudah meminum obat penenang tapi efeknya hanya sementara. Jika dia tidak meminumnya rasa pusing itu akan semakin hebat menyerang. Lalu mimisan tanpa sebab dan semakin sering. Bahkan Nagato sampai menyuruhnya untuk cuti satu tahun lamanya karena melihat kondisinya yang kini cepat lelah dan juga prestasinya tak ada kemajuan.


"Apa yang terjadi padaku? Katakan saja. Apa pun hasilnya aku sudah siap mendengarnya. Meski hal terburuk sekali pun."


Dokter Shigeru menatapnya sendu. "Maafkan aku, Masaya. Aku harus memberitahumu kabar ini."


Pria itu semakin ketakutan. Sebenarnya dia tak ingin mendengar tapi entah kenapa mulutnya dengan lancar menantangnya. "Katakanlah,"


"Kanker otak," jawab dokter Shigeru lemah, "kau menderita kanker otak dan sudah stadium tiga."


Kepala Masaya seakan terbelah tepat menjadi dua setelah mendengar berita itu.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_______________________________


Jumat, 19 Juni 2020


_______________________________


Klik, please


👇

__ADS_1


__ADS_2