
Gadis kecil itu dengan lenturnya menari balet, bak peri cantik yang menari-nari di atas jembatan pelangi. Usai menyempurnakan gerakan itu, ia membungkuk hormat dan tersenyum. Suara tepuk tangan penonton mulai bergemuruh.
Ryu tersenyum dalam diam, menatap Yue yang tersenyum ke arah penonton melalui televisi yang disiarkan langsung di Berlin. Ingin rasanya dia berlari memeluk tubuh kecil itu dan mengucapkan terima kasih, karena hampir setiap hari gadis kecil itu tak pernah bosan mengajaknya bicara.
Yue ... kau sehebat namamu. Ryu melirik ibunya yang tertidur lelah menjaganya seharian. Mommy ... apa kau lelah menjagaku? Apa aku merepotkanmu?
Dalam siaran televisi itu, sang presenter bertanya pada Yue tentang kemenangannya dalam ajang lomba menari itu, dia tujukan untuk siapa.
Gadis cantik blasteran China Jerman itu tersenyum bangga, lalu menjawab, "Kemenangan ini aku berikan untuk papaku yang selalu menjadi malaikatku, juga kakakku yang hebat."
"Untuk mamamu?" Presenter itu penasaran karena gadis kecil yang cantik ini tidak menyebut sang ibu.
Yue menggeleng pelan, masih dengan senyum yang sama. Gadis itu menunduk sebentar, mengambil napas panjang kemudian menjawab, "Mama dan Kakak Mingxing sudah dipanggil Tuhan, mereka pasti melihatku dari surga sana, dan mungkin karena doa mereka, aku bisa menjadi pemenang. Terima kasih papa, mama dan kakak Mingxing atas doa kalian."
Para penonton kembali bertepuk tangan, penuh haru karena tak disangka gadis kecil itu sudah piatu sejak kecil.
Yue kembali tersenyum sambil memamerkan piala kemenangannya di podium.
Mata Ryu memanas saat melihatnya. Dia ingin bergerak, tapi tubuhnya tak bisa. Sulit sekali. Pemuda itu terus berusaha hingga sebuah gelas jatuh akibat senggolan tangannya.
Pyaar!
Juana terbangun dari tidurnya kaget.
"I'm sorry, Mom!" kata Ryu spontan. Merasa bersalah sudah membangunkan sang ibu, tanpa ia sadari, satu keajaiban kembali terjadi pada dirinya. Suaranya telah kembali.
Wanita cantik itu terhenyak, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Mo-Mommy ... I just ...," Lagi, Ryu merasa bersalah karena sudah membangunkan ibunya, tapi sedetik kemudian dia sadar kalau baru saja dirinya sudah bisa bicara normal. "Mommy ... aku bisa ... s-suaraku kembali." Ada air mata yang menetes dari bola matanya yang besar itu.
"Honey!" Juana menutup mulutnya kaget. Detik selanjutnya, wanita itu langsung memeluk sang putra bahagia. Akhirnya, selama lebih dari dua tahun ini, ia bisa mendengar kembali suara Ryu. Juana menangis bahagia. "Ryu, suaramu telah kembali. Suaramu kembali."
Meski Ryu masih belum bisa bergerak seutuhnya, tapi dia sudah bisa bicara. Tuhan, terima kasih kau kembalikan suaraku.
π·π·π·π·
SMA Putri Minami.
"Wuah ... Miku, kau semakin gemuk, ya?" kata salah seorang temannya takjub.
"Ya, di rumah aku makan sebanyak lima kali," jawab Miku mengakui kalau akhir-akhir ini, dia lebih suka makan tanpa ada yang melarang.
"Ah, senangnya bisa makan banyak tanpa takut gemuk," gumam yang lain iri melihat Miku makan apa pun yang ia mau.
Istri Masaya itu tersenyum menanggapi reaksi teman-temannya. "Bukankah nanti pelajaran olahraga? Aku harus banyak sarapan agar kuat, aku cepat lapar."
Teman-temannya mengangguk, hari ini kelas 3 ujian praktek. Semua siswi memakai kaos olahraga. Miku tampak senang menikmati latihan praktek untuk ujian akhir ini, karena itulah dia menjadi bersemangat sekali mengikuti praktek olahraga.
__ADS_1
Namun, tidak dengan Masaya, pria dengan rambut hitam itu malah hampir frustrasi saat tahu istrinya yang hamil lebih dari 5 bulan itu akan mengikuti ujian praktek.
Masaya stres berat.
Berbagai cara dia lakukan agar perut istrinya tidak tampak besar, seragam yang dikenakan itu dilonggarkan hingga Miku terlihat besar. Para guru tak menyadari kalau istrinya hamil karena mengira istri Masaya ini bertambah gemuk.
"Pak Fujimine, kenapa Anda terlihat cemas sekali melihat kelas 3 mengikuti ujian praktek?" tanya kepala sekolah itu heran. Sejak bertemu dengan Masaya, kepala sekolah itu seperti melihat ada seton baja yang dipikul pemuda itu.
Masaya tersenyum pasrah. "Saya hanya merasa tegang saja, karena istri saya tidak dalam keadaan normal,"
"Apa Miku sakit?" Lelaki tua itu menatapnya khawatir.
"Tidak, saya hanya mencemaskan keadaannya, karena dulunya dia tak pernah mengikuti kegiatan klub apa pun. Saya khawatir dia kesulitan nantinya," dalihnya bohong.
Kepala sekolah itu menepuk pundak Masaya lalu berkata, "Jangan khawatir, Miku terlihat menikmatinya. Dia akan baik-baik saja. Santai saja, Pak Fujimine,"
Masaya hanya nyengir, tapi hatinya tegang bukan main. Anda tidak tahu, istri saya sedang hamil lima bulan, makanya saya tegang. Mau tak mau Masaya harus menyaksikan sendiri ujian praktek itu. Dalam hati dia tak pernah melewatkan sedetik pun untuk berdoa agar istri dan calon bayinya baik-baik saja.
Dia melihat sang istri harus berlari sejauh 4 kilo meter, lompat jauh, dan terakhir yang ingin membuatnya pingsan adalah saat melihat Miku
harus berguling-guling di tanah berkali-kali.
Tuhan ... bayiku, semoga kau tidak apa-apa sayang. Ingin rasanya dia memindahkan kandungan Miku barang sejenak ke perutnya. Usai acara berguling-guling, Masaya kembali bernapas lega. Rasanya, aku seperti habis dikeluarkan dari kandang singa.
π·π·π·π·
"Segarnya," ujar Miku saat membasuh wajahnya di toilet.
Miku tertawa. "Semalam dia melarangku, tapi aku bersikeras mengikutinya."
Mereka keluar dari toilet usai berganti pakaian lalu duduk di dekat pohon yang bersebrangan langsung dengan halaman sepak bola.
"Wah, kau beruntung sekali. Pak Fujimine adalah laki-laki ideal idaman setiap wanita. Apa kau tidak cemburu, Nyonya Fujimine?" goda Sakura sembari meluruskan kakinya.
"Tentu saja cemburu, rasanya aku ingin menyingkirkan siapa pun yang dekat-dekat dengannya. Aku adalah tipe istri pencemburu."
Sakura tertawa.
Miku menatapnya. "Jika kau berani menggodanya, aku akan membuangmu ke segi tiga bermuda," candanya.
"Nyonya Fujimine , kau membuatku takut." Lanjut Sakura pura-pura takut, lalu keduanya tertawa bersama. Mereka terus saja bercanda tanpa disadari di sebelah mereka ada Yui yang mendengar semuanya yang kebetulan.
Mata gadis itu memancarkan aura kebencian. Merasa dibohongi selama ini. Miku Higashiyama ... jadi selama ini kau membohongi kami, ya? Lihat saja apa yang akan terjadi denganmu besok. Jika seisi sekolah tahu kau sudah menikah, maka kau akan dikeluarkan dari sekolah.
Yui melirik dua anak manusia itu yang saling tertawa, perlahan dia pergi diam-diam. Sesekali ia menoleh pada kedua anak bersahabat itu dengan tatapan sinis.
"Yui!" teriak Ai pada sahabatnya, wajahnya heran mendapati sahabatnya yang menatap sinis pada dua temannya yang duduk di dekat pohon. "Hei, kau kenapa?"
__ADS_1
Yui menggeleng. "Aku ditipu oleh seseorang. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
Ai mengikuti arah pandang sahabatnya, lalu bertanya, "Maksudmu mereka?" Tunjuknya pada Miku dan Sakura yang terlihat tertawa bahagia.
"Ya."
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Memangnya apa yang akan kau lakukan? Sebentar lagi kita akan lulus. Kita akan masuk universitas. Jangan membuat masalah," kata Ai mengingatkan tegas.
Wajah Yui mengeras.
"Hei, bukankah Miku sudah membantumu memberi jawaban matematika ujian kemarin? Sudahlah, Yui, lupakan saja."
Gadis itu tetap bergeming.
"Kau tahu sendiri, ayah Sakura itu kepala sekolah kita. Jangan macam-macam, nanti kau sendiri yang dapat masalah,"
Hati Yui masih sakit mendengar rahasia yang Miku sembunyikan selama ini. Kau sudah membohongi kami Higashiyama. Hidupmu akan hancur besok dasar pembohong. Lihat saja. Ia membatin kesal. Tangannya pun mengepal.
Sementara Miku dan Sakura masih asyik bercanda, tanpa tahu besok akan ada masalah apa yang akan ia hadapi.
π·π·π·
π·π·π· To Be Continuedπ·π·π·
π·
π·
π·
π·
π·π·π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [π] usai membaca, ya π
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
___________________________________
Senin, 11 Mei 2020
___________________________________
__ADS_1
Klik, please
π