
Musim gugur telah tiba, pepohonan bersiap-siap menghadapi bulan-bulan musim dingin dan terlebih dahulu menggugurkan daunnya. Meskipun demikian, pertama-tama pepohonan tersebut menghisap kembali krolofil yang penting dalam daun sehingga membuat daun berubah menjadi warna merah, jingga atau coklat cerah.
Waktu berjalan cepat, tak terasa 5 tahun berlalu begitu saja.
"Yue hilang?" Suara dokter Young terdengar kaget. Kurang dari 3 jam, pertunjukan balerina di Berlin akan dimulai tapi putrinya mendadak lenyap. Sementara anak lelaki di sampingnya mendumel kesal.
Leonard Piscassio. Remaja 17 tahun, berambut putih panjang dengan sepasang mata emerald. Jangkung, pahatan wajah tampannya terlihat kokoh yang melambangkan kesombongan. "Ini pertarungan terakhir kami melawan Martin dan Lauren. Jika Yue tidak datang, otomatis kami akan kalah."
Seorang lelaki berperawakan jangkung dengan rambut blonde menyerahkan secarik kertas. Salah seorang pengawal kepercayaan dokter Young yang menjaga Yue jika ada pertunjukan balet putrinya.
'Papa, aku pergi sebentar. Aku janji akan datang sebelum acaranya dimulai. Ini pertemuan keduaku dengan suamiku tercinta.'
By : Putrimu yang paling cantik.
Dokter Young menghela napasnya. Ia menyentuh keningnya yang mulai pening. Kepalanya pusing. Ia menatap pengawal tinggi itu. "Cari informasi Lucas Hikaru sedang konser di mana. Lalu temukan Yue di sana. Mengerti?"
"Menurut informasi, Lucas Hikaru tidak mengadakan konser, tapi fans meeting di Dresden."
"Dresden?!" Mata Leon melotot kaget. Bagaimana remaja itu tidak kaget, jarak antara kota Dresden dengan Hamburg yang mereka tempati hampir 500 km. Butuh sekitar 4,5 jam jika harus menjemput Yue ke sana, sedangkan pertunjukan balet mereka akan dimulai 3 jam dari sekarang.
Dokter Young menatap Leon. "Kita bertemu di Berlin, aku akan menjemput putriku. Aku janji kalian akan berkolaborasi untuk mengalahkan Martin dan Lauren. Siapkan helikopter segera."
Yue memang gila jika menyangkut Lucas. Gadis itu menghilang sejak semalam untuk sampai di Dresden demi bertemu sang idola.
Sementara itu, di sebuah gedung bertingkat. Yue harus rela menunggu berjam-jam untuk mengantri agar bisa bertemu Lucas dan meminta tanda tangannya. Dan sialnya dia mendapatkan antrian paling akhir. Ia mengenakan celana panjang, jaket tebal, kacamata hitam dan wig hitam untuk menutupi penyamarannya. Pertunjukan baletnya tinggal 1,5 jam lagi tapi dia tak peduli asal bertemu Lucas dia rela kalah, toh selama ini dia selalu menang. Ini suami tercintanya.
"Namamu?"
Yue terdiam. Suara maskulin itu menusuk gendang telinganya. Oh my God. Lucas berbicara denganku. Matanya menatap mataku. Jangan cabut nyawaku sekarang.
Pria berambut blonde itu menatapnya heran.
"... Yu-e Hi-karu." Gadis itu menjawab gugup. "T-tolong tulis di sini, 'aku sa-sangat m-mencinta-*** Y-yue.' Kumohon."
"Hikaru?" Alis Lucas bertaut tak percaya. Lalu tersenyum tipis. Managernya tadi berkata jika ada seorang balerina kebanggaan Jerman datang sebagai salah satu penggemarnya. Pesan itu didapat 30 menit sebelum fans meeting dimulai. Tentu saja dokter Young sendiri yang memberitahu melalui telpon pribadi melalui koneksi yang ia punya.
Yue mengangguk. Usai mendapat tanda tangannya gadis itu bersorak senang. Namun, senyumnya lenyap saat sang ayah sudah ada di depannya.
"Sudah cukup bermainmu. Ayo kembali ke Berlin." Perintah mutlak dari sang ayah membuat Yue mengkerut.
"Yue Schneider Young. Terima kasih sudah menjadi fans-ku. Aku tersanjung seorang balerina sepertimu adalah pengagumku." Lucas beranjak membuat gadis itu menoleh.
"Aku bukan fans-mu. Aku calon istrimu." Yeah mungkin nanti jika kau sudah menduda, Sayangku.
Lucas tersenyum. "Aku bukan pedofil. Aku menyukai wanita yang lebih dewasa dariku."
Yue melipat tangannya. "Jika suatu hari nanti kau jadi duda, jangan ragu menghubungiku!" Tanpa memedulikan tatapan kesal ayahnya yang siap memakinya.
🌷🌷🌷🌷
Tahun ini Satoshi sudah kelas 4 SD sedangkan Himeka kelas 3. Hari ini suara yang sangat bising menggema SD Saram. Murid-murid berkumpul untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara SD Kaminari melawan SD Hoshi.
Perolehan angka sementara masih 1-1. Kedua tim tampak sama-sama kuat dan imbang. Penjaga gawang SD Kaminari adalah Feng anak lelaki asal China, sedangkan SD Hoshi bernama Zero.
Masaya menghampiri salah satu pemain dari SD Hoshi yang bernomer punggung 09 yang bertuliskan nama 'Satoshi'. "Jika kau pulang dengan membawa kemenangan, Ayah akan
mengajarimu teknik baru, tapi kalau kalah, kau harus menunggu satu tahun lagi, baru setelah itu Ayah akan mengajarimu."
"Kenapa harus menunggu satu tahun? Itu lama sekali," protes Satoshi manyun.
"Lalu apa kau akan menunggu waktu setahun atau besok?"
__ADS_1
"Tentu saja besok,"
Masaya tersenyum. "Kalau begitu cetaklah gol sebanyak yang kau bisa."
"Tapi ...."
"Anak Ayah pasti bisa." Masaya mengelus kepala Satoshi lembut dan memberinya semangat.
"Baiklah." Lalu Satoshi bertos ria dengan ayahnya. "Ayah lihat saja, aku pasti bisa mencetak gol yang banyak," janjinya semangat.
Kembali Masaya mengelus kepala itu. Satoshi, kau semakin mirip dengan Hikaru, ayah kandungmu. Masaya terus menatap bocah itu seolah dia akan kehilangan Satoshi. Hikaru, lihatlah dia ... dia sangat mirip denganmu. Mulai dari mata, rambut, hidung ... bahkan cara bermainnya pun sama sepertimu. Aku iri padamu Hikaru. Kau bisa memiliki anak seperti dia. Aku selalu berpikir kenapa Satoshi tidak lahir dari benihku saja? Tapi meski begitu aku bangga, karena bisa membesarkannya hingga seperti sekarang.
"Ayah," panggil Satoshi heran karena Masaya menatapnya aneh.
Pria itu tersadar dari lamunannya. Dia pun tersenyum pada Satoshi. "Jangan membuat kami kecewa, ya? Lihatlah, Himeka dari tadi berteriak menyemangatimu."
Satoshi menoleh ke arah adiknya yang sedang berdiri di barisan terdepan sambil berteriak-teriak memanggil namanya. Di samping Himeka, Miku duduk sambil tersenyum ke arah putranya. Perutnya membuncit besar karena hamil 8 bulan lebih yang mendekati persalinan.
"Ibu, kakak keren, ya? Sama seperti ayah saat ada di lapangan," kata Himeka bangga.
Miku hanya tersenyum.
Pertandingan dimulai. Tak satu pun bola masuk ke gawang SD Hoshi. Anak-anak SD Hoshi berteriak heboh senang memuji kehebatan Zero si penjaga gawang. Saat giliran SD Hoshi yang harus mencetak gol, Satoshi maju sebagai penentu kemenangan.
Feng semakin bersemangat saat tahu penyerang selanjutnya adalah anak dengan rambut gagak yang berhasil menjebol gawangnya tadi.
Ayo Fujimine majulah kau. Aku tidak akan membiarkanmu mencetak gol lagi.
Satoshi berancang-ancang hendak menendang bola, Feng sudah siap di tempat. Anak itu menendang bolanya tepat ke arah gawang. Bola meluncur sangat cepat. Semua mata memandangnya tegang terlebih saat si alis tebal berhasil menangkap bola tersebut.
"Pasti masuk!" kata Masaya yakin dengan senyum khas dibibirnya yang selalu dipamerkan tatkala dia berhasil mencetak gol.
Bola itu memang berhasil ditangkap Feng, tapi karena terus berputar akhirnya bola itu terlepas dari tangan bocah bertubuh kurus nan lentur itu.
Masaya tersenyum bangga dan memberikan acungan jempol pada Satoshi yang dikerubungi teman-temannya bak super hero sang penyelamat bumi. Anak-anak SD Hoshi berteriak senang saat komentator membacakan skor akhir yang dimenangkan oleh SD Hoshi, yaitu 2-1.
🌷🌷🌷🌷
Usai bertemu Lucas di Dresden, sang balerina terbang langsung ke Berlin menggunakan helikopter pribadi milik keluarga Schneider.
"Hei, selamat atas kemenanganmu, Yue," sapa Ryu pada gadis secantik bidadari yang baru saja selesai berdiri di balkon utama podium setelah kemenangannya menjadi balerina muda di usianya yang ke 17 tahun.
"Kakak!" pekik gadis cantik memakai kostum putih bagai bidadari tanpa sayap itu menghampiri sosok pemuda yang duduk di kursi roda dan membawakannya sebuah karangan bunga. "Kenapa tidak memberitahuku kalau mau datang?"
"Suprise," jawab Ryu singkat.
Yue tersenyum cerah, dengan penampilannya tadi yang memukau ia tampak seperti bidadari yang turun dari kahyangan dan menebarkan aura cinta di bumi. "Thanks," ucapnya sambil mencium pipi Ryu, lalu dia mendorong kursi roda itu menuju ke luar.
Ada rasa bangga di hati Ryu bisa kenal dengan gadis berbakat multitalenta seperti Yue. Seringnya gadis itu mengikuti lomba balet hingga mengantarkannya pada sosok yang namanya mulai di kenal dunia seni. Dia dan Leon dikenal sebagai pasangan yang serasi karena saat menari, mereka seperti dewa-dewi Yunani kuno pujaan manusia.
Yue berwajah cantik, perpaduan Jerman dan China membuatnya terlihat seperti boneka porselin yang imut. Rambut ikal panjang kecokelatan, memiliki sepasang mata safir yang cerah dengan hidung mancung. Bibirnya kemerahan, tipis dan kecil. Kulitnya putih dengan tubuhnya tinggi.
"Tadi aku menonton pertandingan sepak bola junior. China melawan Jerman. Ada satu anak yang sangat lincah dan bersemangat sekali."
"Apa Mark Akechi?" tebak Yue yakin sambil tersenyum. "Pemain junior 14 tahun yang mendapat julukan malaikat karena parasnya yang rupawan."
"Hei, kau mengenalnya?" tanya Ryu heran.
"Tentu, saat aku dan Leon mengukuti kompetisi di China, dia datang sebagai tamu kehormatan dalam penyambutan kami. Aku bahkan punya fotonya. Dia terlihat senang sekali saat kami berfoto. Kudengar papanya yang menggelar menjadi sponsor utama pertunjukan balet kami."
Ryu melamun.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Anak itu mengingatkannku pada masa kanak- kanakku. Mark itu." Tatapan mata Ryu kembali pada Yue. "Menurutmu, anak itu seperti apa?"
Sang balerina tersenyum, memamerkan giginya yang putih " Ya, dia anak yang baik. Aku suka."
Ryu menatapnya. "Suka dalam arti?"
"Suka saja. Kenapa, kau cemburu?"
Ryu tersenyum tipis. "Apa kau akan menggilainya seperti halnya kau menggilai aktor Lucas Hikaru?"
"Tidak, Dia berbeda. Porsinya tidak sama seperti aku mengagumi aktor itu. Tadi aku bertemu dengannya di Dresden," bisiknya dengan wajah kemerahan.
"Baguslah, aku bisa cemburu jika kau menyukai bocah itu. Kau lebih baik berjodoh dengan si Lucas itu, ya ... paling tidak menjadi istri keduanya."
Yue memukul gemas Ryu.
"Ingat, pria dengan marga Hikaru itu limited edition,"
"Eh, Papa ...." sapa gadis itu senang tatkala melihat ayahnya datang sembari membawa bunga.
"Selamat, Sayang. Papa bangga padamu. Kupikir kau dan Leon akan didiskualifikasi karena telat datang 5 menit."
"Berkat doa suamiku tadi," jawab Yue mencibir.
Dokter Young mendekat, diciumnya pipi putrinya kemudian memberinya seikat bunga. Lalu matanya fokus pada Ryu. "Hari ini kau akan menjalani operasi kakimu yang akan diberi besi agar kau bisa berjalan. Semoga kali berhasil." Ryu sudah menjalani dua kali operasi pada kakinya, tapi gagal.
Ryu mengangguk.
"Mommy-mu kembali ke Kanada, grandma-mu mengalami situasi buruk. Lalu Daddy-mu ... dia ke Jepang untuk mengurusi bisnisnya yang semakin pesat berkembang di sana," jelas dokter Young.
Ryu tak peduli. Seolah dia tak peduli ayahnya akan ke Pluto dan tak kembali. Ya, Ryu sungguh tak peduli. Karena lelaki itu, dia sampai seperti ini. Ia membiarkan rambutnya ditiup angin.
🌷🌷🌷
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷🌷🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
_________________________________
Sabtu, 6 Juni 2020
__ADS_1
_________________________________
Klik, please