
"Untuk istriku." Tiba-tiba saja Masaya menyerahkan seikat mawar merah pada Miku, tatkala mereka sudah sampai di rumahnya. Masaya berlagak layaknya Romeo yang akan melamar Juliet dengan sebelah kakinya ditekuk.
Rona merah kembali menjalar di pipi Miku. "Anata ... kau membuatku malu."
"Ayo cepat diterima." Pria Fujimine itu menyodorkan mawarnya agar segera diambil Miku, tak lupa ia tersenyum manis padanya. "Ini hadiah karena kau sudah lulus."
Si pemilik mata bolak nan indah itu menerima mawar merah, hatinya terasa cerah seolah-olah dia disiram kelopak mawar. "Terima kasih," ujarnya senang, sambil mencium aroma wangi khas bunga berduri itu.
"Aku tak mau ucapan terima kasih, aku mau yang lainnya." Masaya berdiri mengimbangi istrinya.
"Apa?"
"Itu ...," kata Masaya enggan menyebutnya, tapi Miku tidak mengerti. Sampai pria itu menunjuk bibir sang istri. "Aku mau ini." Lanjutnya nakal sembari menggoda.
Wajah Miku kembali merona. Ia tersenyum, menjinjitkan kakinya lalu mencium pipi kiri suaminya. "Sudah."
Masaya menggeleng. Dia menunjuk pipi kanannya, Miku kembali menurutinya. Kemudian menunjuk keningnya dan istrinya kembali menuruti keinginannya. "Yang di sini?" menunjuk pada bibirnya sendiri sambil tersenyum.
"A-anata ..."
"Cepat lakukan sebelum ada kakek,"
"Tidak mau,"
"Kenapa?" Masaya terus mendesaknya. Dia menatap Miku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jika kau menolak, aku akan memaksamu."
Wanita itu jadi gemas. Sebenarnya dia malu memulainya, tapi Masaya terus mendesaknya hingga dia luluh. Entah kenapa semenjak pulang dari acara perpisahan itu suaminya itu menjadi lain.
Miku menoleh sejenak berharap tak ada siapa pun di rumahnya, agak ragu dia melakukankan. Namun, tatapan mata Masaya sanggup menuntunnya dan merontokkan keraguan itu hingga sirna. Tubuh Miku bergerak, wajah mereka semakin mendekat. Hingga di antara keduanya sudah tak ada jarak lagi.
Kerinduan, keinginan dan hasrat yang selama ini mereka tahan akhirnya tersalurkan juga. Tangan Masaya bergerak cepat merengkuh tubuh sang istri. Demikian juga Miku, tangannya bergerak merengkuh leher suaminya. Menikmati apa yang kini mereka lakukan. Semakin lama, ciuman itu semakin menuntut.
"Miku, sela ... mat ...." Suara Hayato tercekat begitu melihat keduanya sedang melakukan ciuman di ruang tamu dengan keadaan pintu terbuka lebar. Dengan cepat lelaki tua itu menutup mata Satoshi yang digendong. Padahal Hayato ingin memberinya kejutan, hadiah untuk mereka tiket liburan honey moon ke Okinawa tiga hari, tapi justru dia sendiri yang terkejut dengan kejadian itu.
Mendengar suara Hayato, Miku segera mendorong tubuh Masaya menjauh. "K-Kakek ...," sapanya gugup.
"Ah ... selamat menikmati. Aku dan Satoshi tidak melihat apa pun," ujarnya sambil berlalu.
Masaya tersenyum tipis. Ini kali keduanya dia kepergok seperti ini. Ah ... kenapa kakek datang mengganggu dan muncul di saat yang tidak tepat. Mengganggu keasyikan kami saja.
"Su ... sudah selesai, kan? Aku akan ke kamar mengganti seragam." Miku berlalu malu, tapi sang suami mencegahnya.
"Anata ..."
Masaya memeluknya dari belakang. "Biar aku yang melakukannya ...." godanya sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Aku tidak mau!" Miku berusaha melepaskan pelukannya, tapi sia-sia. Pria tampan itu tak membiarkannya menjauh. Dia menggendong istrinya yang berteriak-teriak minta diturunkan. "Anata, lepaskan aku! Turunkan aku!" Miku kembali berteriak, dengan bandelnya, Masaya tak menghiraukan hal itu, ia dengan cuek membawa sang istri ke dalam kamarnya.
"Miku, jangan berisik. Nanti seisi rumah tahu," katanya menahan tawa.
"Kau ini apa-apan! Kenapa jadi genit begini! Aku tidak mau!! Lepaskan aku, Masaya Fujimine!"
Brak!!
Pintu tertutup keras oleh kaki Masaya.
π·π·π·π·
__ADS_1
Tiga bulan kemudian di klinik SONE.
Seorang bocah tampan berlari keluar dari sebuah ruangan sambil menangis. Usianya mungkin baru 5 tahun. Rambutnya hitam mirip jamur.
"Mark, kembali! Jangan lari. Kau tidak tahu rumah sakit ini." Kejar seorang lelaki tinggi itu cemas.
Namun, bocah tampan yang dipanggil Mark itu tak mau mendengar, dia terus berlari tanpa mendengar kata-kata ayahnya. Lorong demi lorong dia lalui hingga akhirnya dia tersesat di sebuah kamar 334. Meski dia tidak tahu siapa yang ada di kamar itu, tapi dia merasa aman jika harus bersembunyi di sana.
SementaraΒ itu ...
"Wah ... Satoshi, lihatlah." Masaya memamerkan bayi mungil berkulit pucat yang cantik pada Satoshi yang sedang duduk di kursi bersama buyutnya. "Dia adik perempuanmu. Sangat cantik, kan?" tanya Masaya.
Satoshi menatap bayi itu tersenyum menyambut kelahiran saudaranya meski dia belum tahu apa itu adik? Bocah tampan menunjuk-nunjuk senang pada bayi mungil itu. Setidaknya Satoshi sudah mulai bisa meniru kata perkata. Termasuk kata adik. Meski cadel.
Hayato, Koichiro dan Mina bergantian menggendong si cantik. Bayi mungil itu sangat lucu. Dan tentunya kulitnya seputih salju meski tubuhnya tidak sebesar Satoshi waktu lahir.
"Kakak, dia mirip sekali denganmu." Mina takjub melihat keponakan barunya.
Miku tersenyum melihat buah hatinya yang baru lahir beberapa jam lalu. Yang paling bahagia adalah Hayato karena Masaya memberinya keturunan perempuan yang sangat jarang di keluarga Fujimine.
"Miku, lihatlah dia sangat cantik, bukan?" puji Masaya bangga.
"Tentu saja, aku, kan ibunya. Iya kan, Satoshi?" Miku menoleh pada putra sulungnya yang asyik dengan susu botolnya. Dia mengelus kepala bocah itu senang.
Di saat mereka tertawa, di sudut ruangan terdengar isak tangis seorang bocah.
"Siapa di sana?" tanya Mina sembari mendekat, yang kemudian diikuti Masaya. Pria Fujimine itu mendekati anak kecil tersebut.
"Nak, kenapa kau menangis? Apa kau tersesat?"
Bocah itu bungkam. Seperti bingung dengan ucapan Masaya.
Mark menghentikan tangisannya. Ia berdiri untuk menatap sosok lelaki yang usianya lebih muda dari ayahnya itu. "Tentu saja!" jawabnya sedikit angkuh. "Papa dan Mama bilang aku tidak boleh melupakan bahasa nenek moyangku meskipun kami lama di China!"
Mina bersungut-sungut menahan kesal. Ia meninggalkan bocah itu. Lalu menatap ke arah Satoshi. "Satoshi, kelak jika kau dewasa, jangan jadi menyebalkan seperti dia. Mengerti?" Tunjuk Mina pada Mark kesal.
"Siapa namamu?"
"Mark," ucapnya tegas.
"Nama yang bagus. Sebagus orangnya," Masaya mengelus kepala bocah bernama Mark itu, "lalu kenapa kau menangis?"
"Papa berbohong."
"Mark ... di sini kau." Tiba-tiba sosok tinggi menjulang itu muncul. "Papa tidak bohong. Adikmu memang sudah lahir, tapi karena satu hal adikmu tak bisa diselamatkan."
"Apa artinya dia pergi seperti mama?"
Pria tinggi itu menghela napasnya. Putranya pasti terguncang jiwanya saat ini. Seminggu yang lalu sang istri meninggal usai melahirkan putrinya akibat komplikasi. Lalu beberapa jam lalu sang buah hati ikut menyusul istri tercinta.
"Mereka semua meninggalkanku." Mata Mark mulai berkaca-kaca.
Barulah Masaya mengerti kalau bocah di depannya ini menangis karena adiknya yang baru lahir meninggal. Masaya tersenyum. "Mark ... kau lihat adik kecil itu? Namanya Satoshi. Hari ini Satoshi mendapatkan adik perempuan."
"Adikku juga perempuan namanya Queen ... tapi kata dokter adikku sudah meninggal ... seperti mama ...." Mark menunduk.
Masaya mengajak bocah itu melihat putri kecilnya. "Namanya Himeka. Cantik bukan?"
__ADS_1
"Queen adikku juga cantik."
"Himeka bisa menjadi adikmu juga, asal kau berhenti menangis."
"Benarkah?" Mata Mark membolak senang.
Masaya mengangguk.
"Baiklah, aku tidak akan menangis lagi." Mark berpikir sejenak, "boleh aku mencium Himeka?"
"Tentu."
Mark tersenyum cerah ketika Masaya menyerahkan adik barunya. Dia mencium bayi mungil itu, tapi hanya sebentar karena Satoshi tiba-tiba memukul kepalanya dengan botol susunya. Duplikat Ryu itu tampak tak suka jika saudaranya dicium anak asing.
"Akh!" Ditariknya rambut Mark kesal sembari mengoceh dengan bahasanya sendiri. Dia ingin memberi peringatan pada Mark jika adiknya hanya miliknya seorang. Jadi menjauhlah! Tapi apalah daya yang keluar dari bibir mungilnya hanya kata "Akh".
"Aduh, kepalaku!" Rengek bocah tampan itu kesakitan sembari memegang kepalanya yang sakit karena ulah Satoshi.
Satoshi memarahi Mark dengan bahasanya sendiri. Mukanya bete berkerut-kerut.
"Wah, Satoshi cemburu," ujar Masaya tertawa melihat kelakuan putranya. Ia memandang wajah lelaki sepantaran dirinya yang dengan isyarat mata lelaki itu mengucapkan terima kasih.
Mark menatap sebal ke arah balita itu. "Sakit tahu! Sini kujambak rambut mataharimu itu, biar kau tahu rasanya sakit!"
Lalu terjadilah tarik menarik rambut antara Satoshi melawan Mark. Mereka menjerit-jerit heboh. Satoshi yang masih mengucapkan mantra 'akh'-nya sementara Mark menyebutnya bule.
Ah, benar. Rambut Satoshi meniru rambut Ryu. Pirang tebal seperti bersinar terang layaknya bunga matahari. Tak salah jika Toneri menjulukinya bule.
π·π·π·
π·π·π· To Be Continued π·π·π·
π·
π·
π·
π·
π·π·π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda bintang [π] usai membaca, ya π
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
________________________________
Kelasa, 12 Mei 2020
__________________________________
Klik, please
__ADS_1
π