
Malam mulai menyapa, dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Hinata hanya bisa diam mendengarkan Ryu yang terus mengoceh. Udara semakin dingin. Pergantian musim panas ke musim dingin membuat udara ikut berubah.
"Miku, kau mendengarku tidak?" tanya si remaja bermata safir itu gemas.
"Ya, tak perlu berlebihan seperti itu. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Aku seperti ini karena aku mencemaskan keadaanmu!"
Miku tersenyum. "Ya, Tuan Hikaru, aku mendengar semuanya. Pulanglah, aku sudah sampai di rumah kecuali kau mau mendapatkan bonus bantingan dari ayahku."
Ryu mengangguk. "Miku," panggilnya sebelum gadis itu masuk memasuki rumahnya.
Gadis penyuka buah jeruk itu menoleh. "Apa lagi?"
"Bisakah kau memanggiku Ryu mulai sekarang?" Remaja itu bertanya penuh harap.
Miku tersenyum geli. "I-itu ...,"
"Lupakan," Ryu berusaha tersenyum meski dia kecewa.
"Hikaru aku ...,"
"... sudahlah, aku tidak akan memaksamu jika kau tak mau. Selamat tidur." Remaja itu pamit dan berlalu.
Miku menahan senyum. "Selamat tidur, Ryu! Mimpi yang indah!" teriaknya.
Ryu yang mendengarnya langsung menoleh ke belakang. Ada secercah kebahagiaan yang tak bisa dibendung. Si remaja stoic itu bersorak senang. "Akhirnya dia memanggilku namaku!" ujarnya pelan. Ia kesenangan bahkan saking senangnya Ryu tanpa sadar melompat-lompat kegirangan.
Beberapa orang yang melihatnya menggeleng heran.
"Dasar anak muda yang sedang jatuh cinta!"
Ryu mendengar cibiran itu, tapi dia tak peduli. Bibirnya yang jarang tersenyum kini terus melengkung indah.
🍓🍓🍓🍓
Pagi itu Ryu dikagetkan dengan sosok yang tak pernah ingin ia ditemuinya saat ini.
"Dad!" Ryu kaget setengah mati melihat lelaki paruh baya itu telah duduk nyaman sambil membaca koran.
Lelaki tua itu tak acuh.
"When is Dad coming? Why suddenly?" Remaja 17 tahun itu jadi punya firasat jelek setiap ayahnya datang menjenguk.
"Daddy sudah merekomendasikanmu ke Itali. Semua keperluanmu sudah tersedia. Aku kemari hanya tinggal mengurus surat kepindahanmu."
"Dad, I'm not going anywhere. I will still stay here," ujar Ryu datar.
"Stay in here?"
"Yes," tegasnya lagi.
Lelaki tua itu tersenyum mengejek. "Ada yang tidak beres dengan kepalamu."
"Its not your problem, Dad."
"Not my problem?" Lelaki itu menggeleng. "Pasti ada yang mempengaruhimu. Siapa orangnya?"
"Nothing."
"Don't liar, Ryu!"
Ryu menatap ayahnya kesal. "Dad, please! Don't disturb my life."
__ADS_1
"Okay. Lets wait and see. Cepat atau lambat aku pasti akan mengirimmu ke Itali. Kau tak bisa melawanku. Remember, it." Usai memberi peringatan pada putranya, lelaki itu segera keluar dari apartemen.
Ryu terduduk begitu saja. Dia sangat paham dengan watak ayahnya yang keras. Jika ayahnya berkata akan mengirimnya ke Itali, secepat mungkin keinginan itu akan tercapai. Ryu terlihat frustrasi.
"Damn!!" Remaja itu melampiaskan kemarahannya dengan memukul dinding keras.
🍓🍓 Muzukashii no Ai 🍓🍓
Albert Christian Hikaru adalah sosok pria keturuna Jepang Amerik. Memiliki disiplin tinggi, cerdas dan mempunyai wibawa yang kuat sebagai pemimpin besar. Kekuasaannya sangat banyak. Dia tipe lelaki yang sangat otoriter dan ambisius. Pebisnis nomer satu di Amerika. Semua pebisnis kelas atas tak ada yang tak mengenalnya. Dia bahkan memiliki banyak anak perusahaan. Mulai di Korea, China, Hongkong, Thailand, Kanada, Swedia dan Jerman. Terakhir dia membeli perusahaan elektronik yang hampir bangkrut di Spanyol. Albert seorang jutawan.
Lelaki berusia lebih setengah abad itu sekarang duduk di sebuah restoran. Sesekali ia melihat benda bulat pipih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul setengah lima sore. Wajahnya terlihat tenang meski sebenarnya dia sudah lebih dari 30 menit menunggu kedatangan seseorang.
"Akhirnya datang juga kau," ucap Albert saat sosok bertubuh tinggi nan besar telah berdiri di depannya. Lelaki dengan rambut hitam yang panjang dan tebal. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sifat ramah. Ciri khas marga Fujimine.
"Apa yang membuatmu kembali ke Jepang?"
"Kau pasti tahu maksud kedatanganku untuk menemuimu."
Lelaki tua itu mendecih tak suka. Ia beranjak seraya berucap, "Seharusnya aku tak datang menemuimu."
"Bagaimana kabarnya, Hayato?" Suara Albert terdengar lain, seolah tertekan. Menahan beban berat yang selama ini ia simpan. Sorot mata lelaki tua itu melunak.
Lelaki tua yang dipanggil Hayato itu mengepalkan tangannya. Kau bahkan tak mau menyebut namanya, Albert. Dasar pria tua keparat. "Masaya baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, aku tak pernah membuka mulutku untuk menyebut namamu di depannya."
"Begitu?"
"Masaya Fujimine sudah menjadi cucuku sejak kau menyerahkannya padaku." Haato segera berlalu meninggalkan sahabatnya sendiri.
Sebenarnya Albert memiliki dua anak laki-laki. Anak lelaki pertamanya bernama Masaya. Saat menikah dengan istri pertamanya Nana Hiroyuki, lelaki itu sangatlah pencemburu, ia bahkan menuduh istrinya berselingkuh dengan rekan kerjanya hingga meragukan Masaya sebagai putra kandungnya.
Lelaki arogan itu dengan tega memisahkan Masaya yang masih bayi dengan ibunya. Nana frustrasi ketika suaminya mengatakan bahwa putra mereka meninggal saat dilahirkan. Masaya diberikan kepada sahabatnya, Hayato. Kebetulan anak dan menantu pria fujimine belum dikaruniai buah hati, jadilah Masaya diasuh anak Hayato. Mereka menganggap Masaya seperti putranya sendiri. Hingga setahun setelah itu Nana bunuh diri.
Beberap tahun kemudian Albert menikah denga wanita Amerika Serikat bernama Juana Spencer. Lalu lahirlah Ryu sebagai anak tunggal di keluarga Hikaru itu. Sayangnya remaja stoic itu tak pernah tahu jika dia memiliki saudara laki-laki. Yang ia tahu dia adalah anak tunggal pasangan Albert Hikaru dengan Juana Spencer.
🍓🍓🍓🍓
Malam itu terasa sepi. Udara dingin semakin menusuk kulit hingga menusuk pori. Miku melambaikan tangannya pada Shiori. "Hati-hati, Miku." Gadis bercepol itu mengingatkan sahabatnya. Mereka berdua baru pulang dari menonton bioskop.
"Aku tahu," ujar si gadis penyuka bunga lavender tak acuh lalu pergi. Dalam perjalanan pulang Miku dikagetkan dengan kedatangan empat orang laki-laki sedang memukuli seorang yang sudah tak berdaya. Tanpa ampun mereka memukulinya dengan garang seolah tubuh itu adalah mainan. Salah satu dari mereka memukul kepala itu keras.
Korban tersebut jatuh, tapi masih bisa melihat dan jelas sekali kalau sedang menahan sakit.
"Sudah kami katakan jauhi nona kami. Jika kau masih menemuinya, jangan salahkan kami. Kalau kau nekat, kami tak segan membunuhmu, Fujimine!"
Lelaki itu merasa kepalanya berdenyut-denyut hebat. Darah mengalir banyak dari bagian belakang kepalanya. Perlahan pandangan matanya mulai kabur. Yang dia tahu ada seorang yang mendekatinya. Terlihat panik dan berteriak memanggil namanya. Apa aku sudah mati? Tubuhku rasanya ringan. Siapa? Siapa itu? Perlahan mata itu mulai redup hingga akhirnya tertutup.
"Pelatih Fujimine! Anda masih hidup, 'kan? Tolong jangan membuat saya takut! Pelatih!" Miku berteriak panik melihat kondisi pemuda itu, "Tuhan ... darahnya banyak sekali ... bagaimana ini! Pelatih kumohon, jangan mati dulu." Gadis itu frustrasi dan ketakutan.
🍓🍓🍓🍓
Rumah sakit universitas Tokyo.
Miku menunggu cemas di luar ruangan IGD. Pikirannya kalut. Dia takut kalau pelatihnya tak bisa diselamatkan.
"Apa kau tadi yang menelpon ke rumah?"
Miku mendongak, dilihatnya seorang lelaki tua dengan wajah yang terlihat cemas.
"Namaku Hayato Fujimine, aku kakek Masaya."
"Anda Kakek pelatih Fujimine?" Ulang Miku memastikan.
Lelaki tua itu mengangguk lalu duduk di samping Miku. Air matanya jatuh, tapi lelaki tua itu berkali-kali mengusapnya. "Aku takut sekali. Saat kau menelpon ke rumah, tubuhku terasa lemas. Aku takut kehilangan satu-satunya orang yang kumiliki."
__ADS_1
Miku menatapnya iba. "Anda tak perlu khawatir. Pelatih Fujimine sudah diurus oleh dokter terbaik di rumah sakit ini."
"15 tahun lalu aku ditelpon pihak rumah sakit, lalu mendapati kabar bahwa anak dan menantuku tewas kecelakaan. 4 bulan yang lalu aku juga ditelpon pihak rumah sakit dan mendapat kabar kalau cucu bungsuku sudah tiada. Makanya saat menerima telpon darimu, aku terus berdoa agar Tuhan tak mengambil Masaya dariku." Hayato terlihat cemas.
Selang beberap menit tim dokter yang menangani Masaya keluar.
"Pasien sudah melewati masa kritis. Karena pendarahan yang cukup serius itu berefek pada syaraf di matanya, tapi untunglah tidak parah. Mungkin penglihatannya mulai kabur, tapi tidak sampai mengakibatkan kebutaan."
Hayato terlihat lega. "Syukurlah dia selamat."
"Untukmu Nona Manis, terima kasih sudah cepat membawanya kemari sehingga kami bisa menangani pasien dengan cepat. Juga terima kasih sudah menyumbangkan darahnya pada pasien," ucap dokter itu salut, "kalau begitu kami undur diri."
"Terima kasih. Sungguh aku berterima kasih padamu." Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ingin rasanya dia memeluk Miki sebagai ungkapan rasa terima kasih.
🍓🍓🍓🍓
Satu minggu kemudian Masaya sudah kembali beraktivitas. Tidak seperti biasanya, penampilan pria muda berambut hitam itu agak berbeda. Masaya mengenakan kacamata. Ketika melewati bagian kelas 2 hampir semua siswi berteriak heboh melihat perubahan yang terjadi pada pelatih sepak bola di SMA Seika Jogakkan tersebut.
"Wuah ... kalian lihat penampilan pelatih Fujimine tadi?"
"Iya, dia bahkan lebih tampan dari pacarku! Ini menyebalkan."
"Aku tak sabar menunggu bel berbunyi agar bisa ke lapangan sepak bola."
Begitu bel istirahat berbunyi banyak siswi yang berlari menuju lapangan sepak bola.
"Miku, apa kau tak merasa lain hari ini?" tanya Shiori aneh karena lapangan menjadi ramai.
"Tidak. Hari ini, kan turnamen sepak bola antara SMA kita melawan SMA Asahi," jawab Miku santai.
"Karena itulah, ada si bule yang cool itu melawan kekasihmu."
Miki mengerutkan kening.
"Shun Namiki! Kyaaaa ... aku sabar melihatnya melawan Ryu Hikaru nanti!' jerit Shiori heboh.
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [❤] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
______________________________
⏩ Sabtu, 18 Februari 2020
Klik, please
👇
__ADS_1