Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[59] Memory of School Life


__ADS_3

Sone Hospital ...


Ryu dibawa ke ruang ICU. Tampak Miku dan Isao mengikutinya dengan cemas.


"Paman, buka matamu," ujar Isao takut. "Aku, kan, sudah bilang jangan naik. Tapi kenapa paman masih naik!" Bocah itu mulai menangis. "Ibu, paman ini tidak akan mati seperti ayah, kan?"


Miku menggeleng kuat. Entah kenapa kata-kata Isao sangat membuatnya takut. Ryu ... akan mati? Tidak! Tuhan ... tolong selamatkan dia. Jangan kau ambil hal yang paling berarti bagiku untuk kedua kali kalinya. Aku mohon.


Mereka hanya bisa mengantar Ryu sampai di depan ruangan operasi. Lampu menyala tanda operasi dimulai.


Sementara di luar, Miku terdiam lama. Kenangan masa sekolah bersama Ryu tergambar di otaknya. Seolah memutar kembali waktu 18 tahun lalu seperti film di bioskop.


🌷🌷🌷🌷


SMA Seika Jogakkan 18 tahun lalu


Ruangan perpustakaan itu sepi, hanya terlihat beberapa murid yang ada. Penjaga perpustakaan bername tag Biyan Edogawa itu mulai menguap lalu tertidur. Di samping, dua temannya dengan bosan melihat-lihat isi buku.


Sementara di deretan rak buku ke dua, Miku tampak kesulitan menjangkau buku yang hendak dibacanya. Tiba-tiba sesosok pemuda jangkung dengan mudah mengambilnya lalu memberikan padanya. Mata biru pemuda itu berseri senang saat menatap mata sayu sang gadis.


Miku menerimanya tanpa berani menatap pemuda super tampan yang sering menjadi pembicaraan teman-temannya. Si kapten lapangan hijau. Ryu Christian Hikaru.


"Hei, mana ucapan terima kasihmu?" Suara Ryu begitu menggoda.


Wajah Miku memerah malu. Dia bahkan tak bisa berkata-kata meski sekedar menjawab terima kasih. Jantungnya keburu berdetak kencang. Ia justru menghindar tatapan mata sehitam jelaga malam yang intens menatap ke dalam retinanya.


Ryu hanya tersenyum. "Gadis yang menarik untuk mainan baruku. Baiklah, kau target selanjutnya, Miku Higashiyama."


Esok harinya pemuda itu kembali membuntuti Miku layaknya penguntit. Miku tahu jika satu minggu ini dia diikuti si kapten lapangan itu saat pulang sekolah. Bahkan kabar putusnya Ayame dengan Ryu beberapa hari lalu sempat heboh. Si bule brengsek itu kini gencar mengikutinya. Sudah pasti target permainan selanjutnya adalah dirinya. Miku tidak mau menangis gara-gara Ryu Hikaru.


"Sampai kapan kau akan terus mengikutiku?" Miku bertanya kesal. Matanya melotot tajam ke arahnya.


Ryu hanya tersenyum lepas saat dimarahi. Memamerkan deretan giginya yang putih dan cara tersenyumnya yang memikat.


"Aku ingin mengantarmu pulang."


"Tak perlu. Tujuh langkah lagi aku sudah sampai di rumah."


"Apa iya?" Ryu berjalan tujuh langkah mendahului Miku. "Tidak sampai, tuh!" Tatapnya jenaka yang malah semakin membuat Miku gemas. "Nah, Ayo kita pulang bersama."


Gadis itu berlalu cuek mendahuluinya. Tapi bukan Ryu jika dia tak mengejarnya. Ia bersiul-siul di samping Miku dengan wajah berseri-seri membuat si gadis semakin dibuat bete.


"Kau ini ... tipe gadis yang tak bisa jujur, ya?" Lirik Ryu nakal, pemuda dengan sejuta kegombalan manisnya itu meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.


Miku berhenti. Menatapnya tajam. "Aku ini apanya yang tidak jujur?"


Tawa Ryu lepas. Ia balas menatap Miku yang malah wajahnya jadi memerah malu saat pemuda itu menatap menggoda. Bule itu mendekat tanpa melepaskan pandangan matanya, membuat gadis bermata sendu itu takut hingga mundur ke belakang. Mata safir Ryu mengunci cokelat Miku. Ia terus mendekat hingga wajah mereka sangat dekat dan Miku tak bisa menghindar. Kaku. "Jika kau juga menyukaiku, bukankah sebaiknya katakan saja?" ucapnya cool.


Seketika Miku bengong, namun detik selanjutnya ia tak ragu untuk memaki, "Dasar gila! Siapa yang menyukaimu, Playboy Jelek! Kaupikir aku akan menyukaimu?!" teriaknya kesal. Ya Tuhan ... dia ini benar-benar menyebalkan. Miku menghindar dan berlari pergi. Ia tak menyadari jika pita merah yang mengikat rambutnya itu terlepas.

__ADS_1


Ryu tersenyum memungutnya dan mencium pita merah itu senang.


1 minggu kemudian ...


Pertandingan sepak bola antara SMA Seika Jogakkan melawan SMA Asahi telah dimulai. Terlihat Ryu dan teman-temannya berusaha mengalahkan lawan mereka. Hingga kemenangan berhasil mereka raih. Murid-murid SMA Seika Jogakkan berteriak senang dan mengelu-elukan si kapten tampan pujaan mereka.


Tiba-tiba saja Ryu membuka kaos olah raganya di tengah-tengah lapangan. Lalu ia mengenakan kaos putih yang bertuliskan 'Miku Higashiyama, Be Mine!'


Dan tentunya semua mata memandangnya takjub! Para siswa laki-laki langsung mundur terhormat kala pemuda super tampan itu menyatakan cintanya di depan umum. Sedang para siswi lainnya menjerit histeris. Mereka iri pada Miku. Karena sebelum-sebelumnya, Ryu tak pernah menyatakan cinta pada gadis mana pun di depan umum. Hanya Miku.


Namun, Miku menolaknya mentah-mentah. Semakin giat Ryu mendekatinya semakin Miku membencinya.


Hingga 4 bulan kemudian saat Miku duduk sendiri di bawah pohon maple yang mulai berguguran, gadis itu sedang asyik dengan buku yang dibacanya. Jika sudah bersama buku, anak itu seperti berada di dunianya sendiri.


Sekuntum mawar merah terulur di depan matanya. Ia sudah bisa menebak siapa orangnya. "Mau apa lagi? Berhenti mempermalukan dirimu."


"Be mine!" Ryu masih belum mau menyerah.


"Kau sudah tahu apa jawabanku, Hikaru," jawabnya datar. Ia memegang erat novel yang dibaca.


Ryu tersenyum kaku. "Terima cintaku atau kau kuhamili sekarang hingga kau meminta pertanggungjawabanku! Tentu saja dengan senang hati aku akan bertanggung jawab, lalu kita menikah dan kau akan hidup denganku selamanya!" Terlihat putus asa, ia mendekati Miku dan nekat hendak menciumnya.


Kontan saja Miku membelalak ketakutan. Reflek ia berkata, "A-aku mau. Tapi jangan lakukan hal itu." Miku menjawab gelagapan sambil menutup mulut Ryu dengan buku yang dipegangnya.


Ryu tersenyum cerah. "Mau jadi kekasihku?"


Miku mengangguk takut.


"Hi-Hikaru ...." Miku jadi kaget.


"Aku mengantuk, Miku. Biarkan aku tidur, hari ini aku sangat bahagia karena aku punya kekasih baru." Perlahan ia memejamkan matanya.


Miku membiarkan pemuda itu tidur. Diamatinya pelan wajah Ryu. Wajah yang rupawan. Alis tebalnya menaungi sepasang matanya yang bolak nan tajam. Hidungnya yang mancung lalu bibirnya yang seksi dengan rahang yang kuat. Garis wajahnya halus. Kala tertidur wajah Ryu seperti malaikat.


Tanpa sadar jemarinya menyentuh bibir Ryu. Berapa banyak bibir gadis-gadis cantik yang sudah tersentuh oleh bibirnya?


Astaga!! Miku mengutuk dirinya yang mulai terpesona pada pacarnya dalam sekejab. Reflek ia menarik tangannya dari bibir Ryu. Lama ia mengamati wajah Ryu dalam diam. Ia merenung. Kenapa bisa ada wajah super tampan seperti ini?


Tiba-tiba Ryu membuka matanya. Ia tersenyum mendapati Miku menatap wajahnya. "Apa kau sudah terpesona padaku?"


Pipi Miku memerah.


Pemuda tampan itu menyeringai, ia bangun dari posisi tidurnya. "Setiap hari aku akan mengantarmu pulang. Aku tak akan membiarkan kekasihku dilirik pemuda mana pun. Karena aku tipe pencemburu."


Sesuai janjinya, setiap hari dia mengantar Miku sampai di depan rumahnya. Naik kereta bersama, menikmati pemandangan dari dalam


kereta lalu turun dan berjalan sekitar 20 menit dari stasiun kereta lalu mereka akan tiba di rumah tradisional Jepang. Ryu tak pernah masuk ke dalam rumah itu mengingat ayah Miku yang terkenal galak. Demi keamanan hubungan itu, ia hanya mengantarnya sampai di depan rumah.


Hingga 6 bulan kemudian peristiwa itu terjadi. Di saat ulang tahun Ryu yang ke 17, Miku datang ke apartemen pemuda itu sambil membawa hadiah syal putih hasil rajutannya sendiri. Ia datang sendiri dikala mendung mulai

__ADS_1


menampakkan diri. Pergantian cuaca yang membuat udara semakin dingin.


Ryu yang sudah menunggu kekasihnya itu tersenyum begitu Miku datang. Pesta yang hanya dirayakan berdua. Dan sebotol Gin yang membuat mereka lupa akan batasan.


Pertahanan Miku runtuh dan ia menyerah tatkala Ryu mulai mencium bibir mungilnya dengan lembut. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Bahkan tangannya mulai menyentuh bagian lain tubuhnya dengan lihai. Miku mulai waspada. Wajah itu tampak ketakutan melihat kekasihnya begitu agresif padanya.


"Sekali saja. Aku menginginkanmu," bisiknya penuh hasrat. Gairah pemuda itu kini sudah berada dipuncaknya.


"Ta ... Tapi aku ...."


"Hanya sekali," ucapnya pelan. Mata itu meyakinkan. "Aku sudah memakai pengaman. Kau tidak akan hamil." Disentuhnya wajah itu lembut. Ia terus mendesaknya.


Miku masih ragu.


Rupanya Ryu tak menunggu jawaban gadis itu. Ia pun memulai aksi gilanya. Dan malam itu benih Ryu tertanam


di rahim Miku. Ryu bohong, malam itu ia tak memakai pengaman apa pun.


🌷🌷🌷🌷


Miku menengadah tatkala sentuhan lembut mendarat dipundaknya.


Satoshi datang dengan napas terengah. Ia mendengar jika Isao sudah kembali bicara. "Ibu,"


"Satoshi,"


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


To be Continued


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya 😄


Menerima segala kritik dan saran yang membangun 😊


__________________________________


Salasa, 30 Juni 2020


__________________________________

__ADS_1


Klik, please


👇


__ADS_2