
Sudut bibir Miku tertarik sedikit kaku. "Tuan Hikaru, walaupun saya miskin, saya tidak akan pernah membunuh bayi ini. Sebuah nyawa tidak bisa ditukar dengan uang," Ditatapnya wajah tua yang angkuh itu, "kalau pun sebuah nyawa bisa dibeli dengan uang, katakan pada saya berapa harga nyawa Anda agar saya bisa membelinya?"
Albert menggeleng pelan. "Sudah kukatakan padamu, berpisahlah baik-baik sebelum aku menunjukkan sesuatu padamu. Awalnya aku tak mau melakukan ini, tapi karena kau begitu gigih pada keinginanmu, dengan senang hati kutunjukkan surat Ryu padamu. Aku harap kau tak bunuh diri jika membacanya." Lelaki berambut hitam itu menyerahkan sebuah surat pada Miku.
Dengan ragu Miku membacanya.
"Jika kau memang mengenal Ryu, kau pasti hafal tulisan anak itu. Bacalah isinya baik-baik," ujarnya tersenyum penuh kemenangan.
Brukk ... Miku terduduk lemas setelah membaca pesan kekasihnya yang ditulis singkat di kertas itu. Lututnya bergetar. Ini tidak mungkin, kenapa Ryu menulisnya? Aku tak percaya. Air mata gadis berambut ikal itu hampir tumpah.
Albert tersenyum puas. "Sepertinya kau tidak tahu kalau putraku tak serius padamu, bukan? Kau tak mengenal baik siapa Ryu." Usai berkata seperti itu Albert meninggalkan Miku yang masih shock dengan isi pesan tersebut.
"Ryu, kau bohong padaku ..." ucapnya pelan, air mata gadis itu tumpah karena sudah tak terbendung lagi. Miku menangis keras menyadari kebodohan dirinya.
🍓🍓🍓🍓
Satu hari sebelum Albert terbang ke Jepang.
Ryu sangat frustrasi begitu sampai di bandara, pemuda itu ditolak oleh pihak penerbangan dengan alasan yang tak masuk akal, padahal paspornya tidak ada masalah, tapi tetap saja pihak penerbangan menolak membiarkannya meninggalkan Italia.
"Apanya yang salah dengan pasporku?!" bentak remaja itu kesal, bahkan dia mencengkram krah petugas di bandara sambil mengancam. Bandara jadi heboh hingga beberapa petugas lainnya menyeret Ryu ke luar.
"Lihat saja! Akan kuingat wajah dan kucari alamat kalian semua. Lalu akan kuratakan rumah kalian, *******!" maki remaja itu sambil meronta-ronta, sayangnya Ryu malah kalah melawan 5 orang sekaligus.
"Anak remaja itu mengerikan!" ujar salah satu petugas itu merinding.
"Lebih mengerikan lagi ayahnya. Kau ingat pesannya tadi pagi?"
Para petugas di bandara itu mengangguk, memori mereka langsung ingat kejadian itu.
Albert berdiri angkuh di depan puluhan petugas keamanan dan beberapa staf yang berjaga di bandara. Dengan menggunakan bahasa inggris yang fasih dia mempertontonkan foto putranya di layar monitor besar.
"Namanya Ryu Hikaru, dia putraku. Hafal baik-baik wajahnya. Jangan sampai dia berhasil keluar dari negara ini. Jika sampai dia lolos dari pemeriksaan, akan kukirim yakuza ke rumah kalian. Mengerti?!"
Semua petugas yang ada di sana mengangguk takut.
"Damn!" umpat Ryu kesal, dia tahu ayahnya sudah mensabotase pihak penerbangan sehingga dia tak bisa ke Jepang diam-diam.
Karena putus asa dia pulang kembali. Untunglah sebelum sampai di rumahnya, salah seorang teman tim sepak bolanya memberi tahu bahwa tiga hari lagi akan ada pertandingan uji coba di China tingkat junior. Agar dia bisa keluar dari Italia, pemuda itu harus meyakinkan ayahnya untuk mengikuti kompetisi tersebut. Setelah mendapat ijin remaja itu berniat kabur dan tak kembali.
"Dad, ijinkan aku ke Xi'an bersama timku."
"Xi'an?" Albert meliriknya curiga.
"Kecuali Daddy tak percaya padaku,"
"Jika bukan pelatihmu yang meminta, Daddy tak akan pernah mengijinkanmu."
"Hubungi saja pelatihku!" ujar Ryu kesal.
Dengan enggan Albert menelpon pelatih putranya. Lelaki tua itu tersenyum begitu mendengar bahwa Ryu terpilih ikut pertandingan sepak bola junior dan untuk memulai debutnya sebagai pesepak bola baru, pelatihnya mengadakan pertandingan di Xi'an, China.
Ryu tersenyum cerah. "Aku terpilih, kan? Aku hebat, kan? Aku pasti pulang membawa kemenangan. Karena aku ingin menjadi bintang lapangan dunia sepak bola."
"Lalu, bagaimana dengan gadismu?"
"Aku ingin mengejar mimpiku. Aku lebih memilih hidup dan mimpiku."
Sudut bibir Albert tertarik, membuat senyum kebanggaan di wajah tuanya "Bagus."
__ADS_1
"Tentu," Ryu tersenyum kaku.
Albert menepuk pundaknya bangga. Lalu ia bersiap bertemu klien bisnisnya dari Spanyol.
Remaja itu menatap punggung ayahnya sendu, I'm sorry, Dad. I'm liar. Jika pasporku sudah tak dipermasalahkan lagi, aku akan ke Jepang. Bagiku Miku dan bayi kami lebih penting. Mereka hidupku.
Ryu segera berkemas dan tak lupa dia menulis sebuah pesan singkat di meja belajarnya, agar ayahnya percaya. Isi pesan itu:
'Dady benar, masa depan dan impianku adalah sepak bola bukan yang lain. Aku akan mewujudkan mimpiku. Tak peduli apa pun yang pernah terjadi, aku menganggapnya tak pernah terjadi. Akan kuakhiri hubunganku dengan dia. Karena aku sadar mimpiku adalah sepak bola bukan dia.'
Your son. Ryu Hikaru'
Remaja itu tersenyum. Surat tipuan ini pasti berhasil membuat ayahnya percaya.
🍓🍓🍓🍓
Seorang gadis belia berambut cokelat bergegas mencari sosok yang memiliki rambut senada miliknya di rumah. Berkali-kali ia memanggil nama Akio. Ia berlari cepat agar bisa menemukan saudaranya. Namanya Mina, adik perempuan Mina. Si bungsu Higashiyama itu tak sengaja menemukan surat yang ia yakini baru saja ditinggalkan sang kakak di kamarnya. Miku yang lemah lembut itu berniat mengakhiri hidupnya.
'Ayah ... Mina ... maafkan aku, aku harus meninggalkan kalian dengan cara seperti ini. Jaga diri kalian baik-baik. Aku menyayangi kalian.
Miku Higashiyama.
"Kak Akio!" Mina menangis sembari menunjukkan surat Miku. "Tolong selamatkan kakakku."
Akio terlonjak kaget usai membaca pesan singkat Miku. Pemuda 18 tahun itu berusaha berdiri meski kakinya agak pincang. "Kakiku masih sakit! Kemarin aku terkilir!"
"Kita harus segera menemukan kakakku, aku tidak mau terjadi apa-apa padanya," isak Mina ketakutan.
"Apa paman tahu?"
Mina hanya menggeleng.
Karena kakinya yang masih sakit dipaksa berlari, akhirnya Akio terjatuh dan itu malah memperparah keadaannya.
"Kak Akio, kakimu!" teriak Mina cemas melihat kakak sepupunya semakin kesakitan memegang kaki kanannya.
"Akh, sial sekali, kenapa malah di saat seperti ini!" geram Akio kesal. Wajahnya berkeringat menahan sakit yang tak main-main. Tiba-tiba saja mata pemuda itu membola kaget dengan apa yang dilihatnya. Meski jauh jaraknya, tapi dia sangat hafal dengan postur tubuh adik sepupunya. Saat ini Miku berjalan ke arah rel kereta api yang sepi.
"Miku Higashiyama!" Akio berteriak gila, meneriaki namanya berkali-kali membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh ke arahnya. Pemuda itu bangkit, sayangnya kakinya kembali sakit hingga menimbulkan bunyi mengerikan. Kaki Akio semakin parah keadaannya. Bisa saja patah.
"Akio, apa yang terjadi?" Tiba-tiba saja Kiba dan Sena menghampiri mereka, lalu disusul oleh Masaya yang kebetulan berada di antara kumpulan manusia yang memerhatikan Akio dan Mina.
"Miku ... berusaha bunuh diri, tolong selamatkan dia. Anak itu berlari ke arah stasiun," ujar Akio sambil menahan sakit dan menunjuk ke arah Miku yang berdiri di atas rel.
"Astaga?! Itu Miku!" Bukan hanya wajah Kiba dan Sena yang kaget, tapi ada sosok lain yang ikut kaget dan langsung melesat ke arah Miku.
"Pelatih Fujimine," kata mereka bersamaan waktu melihat Masaya sudah melesat cepat tanpa disuruh.
Sementara itu, Masaya berlari sangat cepat. Berharap bisa menyelamatkan gadis bermata sayu yang pernah menyelamatkan nyawanya. Ia melihat Miku yang pandangannya sudah kosong menanti kereta yang siap menabrak tubuhnya.
"MIKU HIGASHIYAMA, MINGGIR!" Masaya berteriak keras dari jauh ketika melihat Miku tak menyingkir meski kereta mulai mendekat ke arahnya.
Miku tak menoleh meski ada yang meneriaki namanya berkali-kali. Kereta semakin berjalan cepat dan mendekatinya. Air matanya jatuh saat kenangannya bersama keluarganya bermunculan. Lalu Ryu yang memeluknya.
Ayah ... Mina ... Kak Akio ... Ryu ... maafkan aku jika pergi dengan cara seperti ini. Aku lelah. Gadis itu memejamkan mata tatkala kereta sudah hampir menabrak tubuhnya.
BRUUKH!! Tubuh Miku terlempar, suara kereta api masih terdengar keras melintas di telinganya. Apa aku sudah mati? Beginikah rasanya mati? Perlahan gadis itu membuka kelopak matanya. Suasana masih tetap bising, pemandangan alam masih tetap sama tatkala dia tadi berdiri. Bedanya kini dia sedang terbaring di rerumputan dan tampak sesosok lelaki berdiri dihadapannya. Miku sadar bahwa dia belum mati. Kakinya gemetar, dia berusaha berdiri menjajari sosok itu.
"DASAR BODOH! APA YANG SUDAH TADI KAU LAKUKAN, BODOH?!!" sentak Masaya marah luar biasa, napasnya tersendat-sendat tak beraturan. Namun, setidaknya dia lega karena berhasil menyelamatkan gadis itu, meski tadi keduanya hampir
__ADS_1
ditabrak kereta. Pemuda tampan itu menatap sang gadis tajam seolah-olah dia akan mencabut nyawa Miku.
"Biarkan aku mati. Aku tidak ingin hidup, semuanya sudah hancur!" Miku berteriak histeris. Menumpahkan segala kesalnya yang ia tahan. Gadis itu meronta-ronta saat Masaya mencengkram tangannya kuat lalu menyeretnya. "Lepaskan! Untuk apa aku hidup jika harus menanggung malu seumur hidup?!"
"Jangan nekat!"
"Mati pun tak akan ada yang menangisiku! Biarkan aku mati!"
PLAK!! Tubuh Miku terhuyunng lalu ambruk. Tangannya reflek menyentuh pipi kirinya. Ada rasa panas bercampur perih di pipinya. Merah sekali. Gadis berambut kecokelatan itu tak percaya apa yang sudah dilakukan pelatih muda yang dikenal lembut dan perhatian kini bisa kasar padanya.
Manik hitam Masaya menatap tajam ke retina gadis mungil 163 senti itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang Masaya Fujimine berani menampar seseorang sangat keras. Perempuan pula.
"Jangan bodoh kau," ucapnya datar. Suaranya ditekan, mengandung api kebencian yang seolah sanggup membakar habis tubuh Miku.
Mata gadis itu memerah dan berair karena menahan sakit di pipinya. Ya sakit sekali. Miku yakin bekas tangan Masaya sudah pasti tercetak di pipi kirinya.
"Aku yang akan menangis jika kau mati! Coba saja kau bunuh diri, aku akan terus menangis sampai mati! Lalu aku akan dendam padamu dan aku akan terus menderita karenamu!" teriak Masaya marah. Sorot mata tajamnya menghujam ke retina gadis itu.
Tubuh Miku bergetar, ia tergugu hingga akhirnya menangis. Tak menyangka pelatihnya ini begitu peduli padanya.
Masaya mendekatinya, dia jongkok mengimbangi Miku yang masih memegangi pipinya. "Berjanjilah kau tak akan mati," pintanya mulai melembut.
"Pe ... latih ...."
Masaya tak tersenyum, lalu pria itu menarik Miku ke dalam pelukannya. "Karena aku menyayangimu. Aku akan melindungimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika suatu hari nanti aku mengkhianatimu, di saat itulah kau boleh mati."
Miku menangis hebat. Entah mengapa kata-kata pelatihnya ini sanggup membuatnya berkeyakinan kalau pemuda ini tulus dan bersungguh-sungguh. Entahlah, saat ini dia lelah sekali. Tiba-tiba saja semuanya gelap.
"Higashiyama, kau kenapa? Bangunlah!" Masaya jadi cemas. Dia menyesal sudah begitu keras menamparnya hingga bibir gadis itu sobek dan berdarah. Pipinya pun merah sekali. "Maafkan aku," bisiknya lirih sembari mengusap bekas tamparan itu.
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [❤] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
_____________________________
Sabtu, 18 April 2020
______________________________
Klik, please
👇
__ADS_1