Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[28] Luka


__ADS_3

Esok harinya, Masaya sudah selesai sarapan dan bersiap berangkat ke wilayah Gunma, ada panggilan pekerjaan dari tim sepak bolanya. Semenjak Miku lulus dari SMA Putri Minami, Masaya resmi mengundurkan diri sebagai guru pengganti dan fokus di dunia sepak bola.


"Aku berangkat," ujarnya berlalu begitu saja.


Hayato yang tahu hal itu jadi marah. "Keterlaluan! Dia pikir hanya dirinya yang mencemaskan keadaan Himeka?" dengusnya kesal, "mengacuhkan istri dan anaknya yang lain. Dasar tidak dewasa."


"Kakek, sudahlah, mungkin Masaya masih marah karena aku tak menjaga mereka dengan baik saat bermain," kata Miku pelan.


"Ibu ... ayah masih marah padaku, ya?" tanya Satoshi seakan tahu situasi di rumahnya yang berubah sejak insiden itu.


Miku tersenyum. "Tidak, ayah hanya lupa kalau hari ini ada panggilan tugas di luar kota."


"Tapi ayah hanya diam saja tak menyapaku,"


"Karena ayah buru-buru."


"Oh." Satoshi melanjutkan makannya.


"Ayahmu butuh pelajaran dari Buyutmu ini," gumam Hayato sambil menyeduh tehnya.


Satoshi hanya mengangguk meski sebenarnya ia tak paham.


🌷🌷🌷🌷


Stadion Aoi, Gunma ...


Nagato, kapten kesebelasan Big Tokyo menatap temannya tak percaya yang kini duduk menyendiri. Nagato tahu sejak tadi Masaya terlihat tak bersemangat walau pertandingan tadi hasilnya seri 2-2 melawan kesebelasan tim Kaiho.


"Masaya, kau tidak semangat sekali hari ini. Ada masalah?" Nagato ikut duduk di samping pemuda bersurai panjang itu.


Masaya menoleh. "Sedikit," jawabnya singkat lalu pandangannya kembali ke bawah.


"Tapi caramu salah. Mabuk mungkin hanya membuatmu tenang sesaat, tapi tidak akan menyelesaikan masalahmu."


Masaya tersenyum malas, dia melirik sekilas botol wine bertuliskan 'Sherry' yang sudah diteguknya habis. "Aku hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa anak yang aku sayangi melakukan kesalahan. Itu melukaiku."


Nagato menghela napas. "Yang namanya anak tetap manusia. Dia bukan mesin yang tak pernah melakukan kesalahan," ditepuknya pundak Itachi pelan. "berhentilah mabuk, karena kau tak akan tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Karena itu lebih membuat istrimu terluka melihatmu mabuk."


Masaya terdiam. Sedetik kemudian dia menelpon Miku.


🌷🌷🌷🌷


Miku merenung, sudah tiga hari sikap Masaya sangat dingin padanya. Bahkan pria itu terkesan menghindar. Miku tak pernah melihat suaminya seperti itu sebelumya. Ada rasa sakit yang kian memasuki hatinya. Anata ... kenapa kau berubah? Jangan siksa kami seperti ini. Air matanya mulai menganak sungai.


"Ibu menangis?" Suara Satoshi memecah keheningan di antara mereka. Bocah itu menatap ibunya. Mereka berada di kamar Satoshi.

__ADS_1


Miku tersenyum menggeleng. "Ibu hanya kelilipan tadi," jawabnya bohong.


"Kata Bu guru Emi, kalau kita kelilipan mata, harus ditiup. Sini aku tiupkan."


Miku mengangguk lalu mendekatkan matanya pada Satoshi hingga bocah itu meniupnya pelan. "Terima kasih Satoshi. Kau memang anak baik," ucapnya sambil mengelus rambut putranya sayang.


Tiba-tiba ...


"Miku ... kau di mana, heh?" Suara Masaya terdengar aneh. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, seharusnya Masaya tadi jam 8 malam sampai di rumahnya jika dia tidak menginap di Gunma.


Pintu kamar Satoshi terbuka dan muncullah Masaya dengan kondisi agak gontai. "Ah ... kau di sini. Ayo kita ke kamar, Miku. Cepat!" ujarnya seperti anak kecil, seraya menarik istrinya kasar.


"Satoshi, tidurlah sendiri, ya."


Masaya tertegun sejenak menatap bocah yang sedang menatapnya.


"Ayah," panggil Satoshi takut.


"Ah ... Hikaru kecil masih di sini ..." ujar Masaya tertawa.


"Anata!" Miku itu benci jika suaminya menyebut nama lelaki itu.


Masaya menoleh ke arah istrinya. "Kenapa? Dia, kan anak Hikaru. Lihatlah, dia benar-benar menjelma sosok ayahnya hihihi ... temperamen. Bukankah begitu sifat aslinya, Miku?"


Miku segera mendorong Masaya agar keluar dari kamar putranya, dia tidak ingin Satoshi tahu siapa ayah kandungnya. Begitu mereka sampai di kamarnya, Masaya menutup pintu dan menguncinya. Dia tersenyum menatap Miku. "Istriku yang cantik," pujinya seraya mendekati istrinya gontai.


"Sedikit," jawab Masaya menyeringai. Memeluk Miku erat lalu mencium lehernya kasar dan bertubi-tubi.


Miku berontak, tapi sia-sia karena Masaya terlalu kuat baginya. "Lepaskan!" Tanpa sadar tangan tangannya bergerak menampar pipi suaminya keras. Miku kaget, dia tak menyangka akan berani melakukan hal itu pada suaminya.


Masaya terdiam.


Jika bukan karena telapak tangannya yang terasa panas, Miku tak akan percaya apa yang baru saja dia lakukan. Reflek dia mundur ketakutan. "Ma ... maaf ...."


Masaya menyentuh bekas tamparan istrinya. Tamparan barusan mampu merobek sudut bibirnya. Pria itu menyeringai melihat darah yang ada di telapak tangannya, mengusapnya pelan lalu menatap Miku.


"Anata ... maaf. Aku tidak sengaja." Wajah Miku terlihat takut.


Raut wajah Masaya berubah, ekspresi wajahnya terlihat terluka, tapi dengan cepat ia menutupinya. Ia maju selangkah untuk menyentuh sang istri, tapi Miku mundur, membiarkan suaminya menggapai udara kosong.


Lama mereka saling diam hingga Masaya menatapnya lekat-lekat dan cukup satu tarikan dia bisa membawa istrinya ke dalam pelukannya. Wanita itu berusaha melepaskan dirinya tapi tak bisa.


"Anata, lepaskan! Sadarlah!" pintanya hampir menangis .


Sayangnya, Masaya tak mengacuhkan permintaan istrinya. Dijatuhkannya Miku di atas tempat tidur dengan kasar. Belum sempat sang istri bangun, ia sudah mencengkram kedua lengan wanita berambut ikal tersebut dengan kuat. Masaya menatap wajah itu lekat-lekat.

__ADS_1


"Anata ...." Miku mulai ketakutan, mata suaminya memerah karena efek dari minuman. Sebelumnya Masaya tak pernah mabuk, melihatnya seperti ini dia jadi takut. Ia merasakan cengkraman tangan suaminya kelewat sakit hingga lengannya mulau merah. Miku meringis.


"Kau pikir siapa dirimu?" Masaya berkata dengan sinisnya. Dia benar-benar mabuk sehingga lupa mengontrol emosi dan kata-katanya. Amarahnya tidak proposional. Merambat ke mana-mana. "Kelakuannya semakin mirip Hikaru. Aku muak melihat dia ada di sini. Seharusnya aku tak merawatnya, tapi karena kau ... aku rela merawat, menyayanginya seperti anakku sendiri. Jika bukan karenamu, aku sanggup mengirim Satoshi kembali pada ayah kandungnya."


"Cukup!"


"Satoshi bukan anakku. Dia harus tahu hal itu. Dia ...," Masaya tersenyum sinis, "... dia hanya anak haram yang ditinggalkan ayahnya sebelum dilahirkan. Bukankah itu menyedihkan sekali, sayang?"


Air mata Miku mengalir deras, hatinya benar-benar hancur mendengar. "Anata ... benarkah kau tak menyayangi Satoshi? Dia juga anakmu,"


Masaya hanya menyeringai. "Anakku hanya Himeka," jawabnya sinis. Tiba-tiba pandangan mata Masaya berubah lain. Cengkraman tangannya mulai mengendur. "Bodohnya Hikaru itu meninggalkan wanita secantik dirimu di sini. Kau tahu, aku sangat bersyukur terlahir sebagai laki-laki lalu bertemu dan jatuh cinta padamu, Miku." Ia menyentuh wajah istrinya lembut lalu menundukkan wajahnya dan mencium bibir itu pelan. "Sayang ... kau pasti tahu apa yang bisa meredakan amarahku saat ini, bukan?" Mata itu tersenyum aneh.


Miku ingin berteriak melihat Masaya tak seperti dirinya. Ia melihat suaminya mulai melihat membuka satu persatu kancing bajunya.


Ditatapnya wajah Miku lekat-lekat. Kembali ia menundukkan kepalanya untuk mencium bibir mungil itu. Namun, hanya sebentar karena Hinata memalingkan wajahnya.


"Aku tak ingin melakukannya."


Masaya tersenyum sinis. "Turuti kata-kataku, Miku Higashiyama!"


Detik-detik selanjutnya sudah tak ada lagi makian yang keluar dari mulut Masaya.


Miku menggigit bibirnya pelan.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru

__ADS_1


__________________________________


Jumat, 29 Mei 2020


__ADS_2