Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[39] Menciptakan Kenangan Indah


__ADS_3

Saat ini Ryu melamun memikirkan perkataan dokter Young beberapa menit lalu. Ia ingat betul bagaimana ekspresi dokter jenius itu saat mengatakannya.


"Terima kasih, Ryu." Dokter Young menepuk pundaknya, "jika suatu hari terjadi sesuatu padaku, tolong jaga anak itu seperti halnya kau menjaga dirimu sendiri."


"Paman, bicaramu sangat mengerikan seolah-olah kau mau mati saja."


"Hanya berjaga-jaga. Pada siapa lagi aku bisa mempercayai putri semata wayangku pada orang selain dirimu. Leon? Seumur hidup aku tak akan percaya pada anak itu."


"Paman, kenapa Yue begitu menyayangiku? Padahal kita tidak terikat hubungan saudara?"


Lelaki itu tersenyum. "Tepat satu bulan kau dikirim ke Asklepios klinik Barmbek ini, dia baru saja kehilangan ibu dan kakak laki-lakinya. Mereka kecelakaan


dalam perjalanan pulang ke rumah usai menjenguk Yue yang sakit typus," Dokter itu menghela napas sejenak, "istriku tewas di tempat kejadian sedangkan Ming Xi putraku koma tujuh hari, dan setelah itu Ming Xi menyusul ibunya. Kebetulan tempat yang dulu kau tempati adalah tempat Ming Xi. Makanya saat melihatmu dengan kondisi sama persisnya dengan Ming Xi, anak itu ingin kau segera sadar dari komanya. Dia takut kau seperti kakaknya, yang tidur tapi tak pernah bangun lagi." Kenang dokter Young sedih.


"Begitu rupanya," gumamnya.


Usai itu dokter Young meninggalkan Sasuke sendiri. Pemuda tampan itu menatap kepergiannya hingga hilang di tikungan koridor rumah sakit.


Lamunannya buyar. Ia pun membuka bekal yang ada di tangannya. Di sana ada secarik kertas berisi.


'Brother sayang habiskan bekal ini, maaf aku tak bisa menemanimu.'


Dari adikmu yang paling cantik dan calon Nyonya Lucas. Yue Hikaru.


Ryu tersenyum membaca isi pesan itu. "Dasar kekanakan. Kau anak bodoh yang selalu mengkhawatirkanku meski


saat kencan bersama pemuda lain," gumam Ryu menggeleng, "Sejak kapan namamu jadi Hikaru. Dasar!" Lalu dia mulai menyendok bekal buatan Yue. Tidak buruk.


🌷🌷🌷🌷


Masaya sudah membuat jadwal untuk acara tiga bulan ke depan. Yaitu hanya bersama keluarganya. Dia ingin menghabiskan sisa-sia hidupnya bersama keluarga tercintanya.


Terkadang terbesit keinginan pada Kami-sama agar umurnya diperpanjang lagi. Namun, apa daya kanker otak stadium tiganya sudah parah dan tak bisa tertolong lagi.


Kini pria itu duduk di teras rumahnya menatap ke tiga anak-anaknya bermain bersama.


Dan yang selalu dijadikan mainan tentu saja si kecil Isao. Tak terasa air matanya kembali menetes melihat putra bungsunya berteriak-teriak memanggil ibunya karena mainannya diambil Satoshi.


Satoshi menertawai adiknya yang hampir menangis karena robot kesayangannya disembunyikan di belakang tubuhnya. Satoshi akan mengembalikan robot itu jika Isao tak lagi mengatainya rambutnya mirip matahari.


"Kakak ... kembalikan robotku." Air mata Isao hampir tumpah, tangan kecilnya menarik-narik lengan baju Satoshi.


"Ayo menangis dulu, baru aku berikan robotmu," kata Satoshi nakal. Suruh siapa mengatai rambutnya kuning seperti matahari. Menyebalkan!


"Hwuaaa ... Ayah, Kakak mengambil robotku hu ... hu ...." Balita itu menghampiri sang ayah sambil menangis, menabrak tubuh Masaya yang melamun.


Masaya menggendongnya. "Satoshi, kembalikan mainan adikmu," ujarnya sambil menenangkan Isao yang menangis.


"Isao mengataiku rambutku seperti matahari," kata Satoshi tak terima.


Masaya menatap putra bungsunyanya. "Isao, tidak boleh seperti itu. Ayo minta maaf."


"Kembalikan dulu robotku."


Masaa menghela napasnya. "Satoshi, berikan robotnya, ya." Dengan cemberut Satoshi mengembalikan robot itu. Masaya mengelus kepala Satoshi sayang. "Ayah senang kalian akur lagi. Anak yang baik akan disayang Tuhan dan malaikat."


"Wah, disayang malaikat. Aku mau." Mata Isao membolak lucu.


Melihat ayahnya mengangguk Isao pun meminta maaf pada Satoshi dan berjanji tidak akan mengatai kakaknya dengan julukan rambut mentari.


"Ayo kita main bola bersama. Ayah yang jaga gawang!" Ajak Masaya ceria.


Mereka berdua berteriak senang dan mereka pun bermain bola bersama. Terkadang Masaya pura-pura jatuh saat menjaga gawang hingga gawangnya kemasukan bola lalu berkata, "Wah, tendangan Isao hebat, Ayah tak bisa menangkapnya."


Dan Isao pun berteriak senang.

__ADS_1


Miku dan Himeka yang melihatnya tertawa melihat hal itu. Saat bola menggelinding ke arah mereka, Masaya menyuruh mereka agar ikut bergabung. Lalu membagi kelompok. Dia dan Isao satu tim sedangkan Satoshi, Himeka


dan Miku adalah lawannya.


Masaya mengangkat Isao naik ke pundaknya. Dengan lihainya menggiring bola itu ke gawang. "Isao, kita akan mencetak gol bersama."


"Iya!" seru Isao senang.


"Kapten Satoshi jaga gawangmu baik-baik, karena Kapten Masaya akan menjebol gawangmu!" teriaknya bersemangat.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," kata Satoshi.


"Satoshi halangi ayahmu, kita akan menjaga gawangnya." Miku berteriak tepat di depan gawang.


Masaya tersenyum senang saat gawang itu kosong, meski dijaga dua orang sekaligus, tapi itu tak ada artinya karena mereka sangat amatir.


"Terimalah tendangan kami. Tendangan macan duo Fujimine tampan!" teriak Masaya sambil menendang bolanya ke gawang.


Dan bola itu meluncur indah masuk ke gawang Satoshi.


"Yeah!" Duo sejoli itu berteriak senang lalu saling adu tos.


"Anata ... hari ini kau terlihat bersemangat dan gembira sekali. Sedang bahagia, ya?" goda Miku saat mereka istirahat karena lelah.


Pria tampan itu hanya tersenyum simpul. "Ya, aku sangat bahagia." Mereka duduk di hamparan rumput halaman rumah di bawah pohon sakura. Ditemani camilan ringan dan teh.


"Miku," panggilnya tersenyum.


"Apa?"


Cup ....


Sebuah ciuman hangat mampir di kening Hinata. Masaya menciumnya secara spontan di depan anak-anaknya membuat wajah Miku merona.


"Aku mencintaimu," ujar Masaya bersungguh-sungguh.


Ketiga buah hati mereka hanya melongo hebat melihat kelakuan ayah mereka.


"Wuah!" seru mereka bersamaan tatkala melihat sang ayah memandang ibunda tercinta dengan tatapan seperti seorang pemuda yang baru jatuh cinta.


Satoshi tak jadi memasukkan potongan kripik ke dalam mulutnya. Himeka menatap takjub, sementara Isao masih menatap mereka sambil menyedot habis susu kotaknya. Mungkin dipikiran anak itu berkata. Apa-apaan sih ayah ini? Seperti yang di film-film saja.


Dan sepertinya Masaya tak sadar kalau ketiga anaknya memperhatikan mereka. Tanpa ragu dia merengkuh tubuh istrinya hingga merapat lalu mencium mulut tipis itu seolah- olah itu adalah ciuman terakhirnya.


Miku kaget bukan main.


Satoshi dan Himeka segera membalikkan badannya tak ingin melihatnya. Tak lupa Satoshi menutup mata Isao dan mendekap adiknya.


"Kenapa mataku ditutup?" tanya Isao polos.


"Sudah diam!" ujar Satoshi. Remaja 13 tahun itu bertanya-tanya, ada apa dengan ayahnya?


Dari jauh Hayato melihatnya. "Masaya ... apa yang terjadi denganmu? Akhir-akhir ini sikapmu berubah. Kau sering menangis tengah malam. Tak ada tawa ceria seperti dulu. Matamu memaksakan diri untuk tersenyum," gumamnya pelan.  Lelaki tua itu terus memandang cucunya.


Mungkin dialah satu-satunya orang yang paling mengerti Masaya karena pria itulah yang merawatnya sejak kecil. Anak nakal, kau memang pintar menyembunyikan masalah. Walau sedih atau menderita yang kau perlihatkan hanya senyumanmu.


🌷🌷🌷🌷


"Belakangan ini sikapmu aneh." Hayato menghadangnya ketika mereka sama-sama terbangun tengah malam. Mereka berada di dapur.


"Aneh bagaimana?" tanya Masata santai.


"Meskipun tertawa tapi matamu tidak tertawa, tidak bersinar. Seperti lenyap entah ke mana."


Masaya terdiam. Tajam sekali, kakek bisa melihat sejauh itu? Apa yang kuperlihatkan di luar bisa ditembus ke dalam. Kakek bisa tahu aku yang sesungguhnya. Padahal semua berkata aku nampak riang setiap harinya, tapi kenapa kakek ....

__ADS_1


"Masaya!"


Masaya tersenyum. "Kakek, kau bicara apa sih, aku ...."


"... mungkin istri dan anak-anakmu bisa kau bohongi, tapi aku tidak. Apa yang telah terjadi? Seminggu ini aku sering melihatmu menangis diam-diam di malam hari, lalu paginya kau akan bersikap seolah kau adalah orang paling bahagia di dunia. Luar biasa!" sindirnya tajam.


Masaya terpekur.


"Masaya, jawab!"


"Aku terkena kanker otak," jawabnya lemah.


Hayato terdiam. Dunianya terasa runtuh mendengar berita itu. Tubuhnya mendadak dingin. Dia tak percaya.


"Aku ... aku mengidap kanker otak stadium tiga dan sisa hidupku tak lebih dari tiga bulan. Aku sangat syok dan tidak tahu harus bagaimana."


Mata mereka saling bertemu. Antara saling percaya atau tidak. Pandangan yang putus asa dan sudah menyerah pada nasib.


"Aku ... yang terlintas di pikiranku ... aku ingin bahagia di sisa hidupku."


Tubuh Hayato bergetar. "Aku pasti sedang bermimpi." Ada air mata yang mengalir di pelupuk matanya. "Aku tidak percaya, Iya aku pasti sedang bermimpi. Aku ingin segera bangun dari mimpi buruk ini, karena aku yakin kau baik-baik saja."


Masaya hanya tersenyum menatap punggung tua yang sudah membesarkannya selama ini sedang memasuki kamarnya.


Dan saat ke duanya kembali bersama duduk di dapur untuk sarapan pagi, Masata melihat mata kakeknya bengkak habis menangis semalaman.


Maafkan aku kakek. Aku sudah membuatmu sedih. Itu karena aku sudah tak tahu harus berbuat apa. Masaya menatap istri dan anak-anaknya yang tetap ceria seperti biasanya. Ia ikut tersenyum saat pandangan matanya bertemu Miku.


"Aku mencintaimu," ucapnya pelan, matanya berkedip nakal.


Dan Miku pun tersipu. Suaminya akhir-akhir ini sering membuat wajahnya merona.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


___________________________________


Senin, 22 Juni 2020


____________________________________


Klik, please


👇

__ADS_1


__ADS_2