
Ryu dan teman-temannya turun ke lapangan, suara gaduh langsung keluar dari siswi yang memang menyukai sang kapten sepak bola.
"Hikaru!" teriak mereka senang dan sebagian lain ada juga yang berteriak memanggil Shun Namiki. Namun, yang paling aneh adalah gerombolan siswa kelas 3. Mereka bukannya meneriaki sang kapten melainkan pelatihnya.
"Pelatih Fujimine, semangat!"
Sementara di lapangan itu, dua anak adam yang saling bermusuhan menatap benci satu sama lain. Mereka adalah kapten kesebelasan SMA Seika Jogakkan, si tampan Ryu Hikaru dan kapten kesebelasan SMA Asahi, Shun Namiki.
"Wah ... wah ... ini seperti awal dari film Diamond Cut Diamond, ya?" Seringai Akio sambil melirik Miku.
Akio yang tahu istilah itu hanya diam, tapi tidak dengan Shiori yang masih heboh bertanya membuat Miku sebal, " Kak Akio, kau cerewet sekali. Kenapa kau tidak ikut turun kelapangan?" judes Miku.
"Hohoho ... aku ini kelas 3, ujian sudah dekat, kami tak diijinkan ikut pertandingan."
Shiori yang masih tak mengerti dan tak diacuhkan bertanya pada Akio. "Apa maksudmu tadi yang tentang diamond cut diamond itu?"
"Itu peribahasa Belgia, yang artinya, untuk mengiris suatu berlian keras harus menggunakan berlian lagi."
"Aku masih tak mengerti karena kau menunjuk dua anak yang bertarung itu di lapangan." Shiori mulai sebal.
"Itu ungkapan perang dingin yang maha dahsyat antara orang-orang bijak dengan orang-orang kuat, tuh." Tunjuk Akio pada Ryu dan Shun.
Sementara itu di lapangan.
"Hikaru, aku tak peduli kau menang atau kalah kali ini, karena tak lama lagi kau akan dikirim ke Itali. Kau tak perlu khawatir soal gadismu, aku yang akan menjaganya. Menggantikan tempatmu," ujar Shun sambil menyeringai, sengaja memancing amarah Ryu.
Tangan Ryu mengepal. Ingin sekali dia menghajar wajah bule sipit ini. Andai dia bisa menolak perintah ayahnya. Andai ayahnya tak mengancam. Andai ia bisa menetap di sini! Ah, semuanya hanya omong kosong. Lelaki paruh baya itu sudah mengurus semuanya, dan hari ini adalah hari terakhir dia di tinggal Jepang karena besok dia harus ke Itali. DadΒ ... andai aku bisa membunuhmu!
Pertandingan dimulai, Shun terlihat sudah berancang-ancang menendang bola ke arah lawannya.
"Majulah kau Shun Namiki, tak akan kubiarkan bolamu menjebol gawang kami," kata Ryu sinis.
ππππ
Ryu merebahkan tubuhnya lelah. Tenaganya benar-benar terkuras habis melawan Shun dan teman-temannya, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Pertandingan tadi, SMA Seika Jogakkan unggul keluar sebagai pemenang meski hanya terpaut sedikit dengan goal tiga kali sedangkan SMA Asahi hanya dua kali mencetak goal.
Hampir saja remaja pirang itu tertidur karena kelelahan, tapi bayangan Miku yang tersenyum ke arahnya melintas begitu saja di benaknya, membuat sang kapten lapangan hijau itu segera menepis semua rasa lelahnya.
Aku harus menemuinya malam ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika Ryu sudah sampai di depan rumah Miku. Dia pun memencet bel rumah tersebut.
Selang beberapa menit, Miku akhirnya membuka pintu.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ryu memulai pembicaraannya dengan suara datar.
Gadis bertubuh mungil itu sedikit heran melihat raut wajah sang kekasih yang terlihat sedih di matanya. "Apa sangat penting?" Miku bertanya sangat hati-hati. Firasatnya mengatakan kalau semua tidak akan baik-baik saja.
Ryu terlihat mengepalkan tangan.
"Ryu, kenapa diam?" Miku semakin merasa tak tenang dibuatnya.
Si pemilik suara baritone itu terdiam cukup lama.
"Ryu, kau menakutiku."
"Aku akan pindah ke Itali. Besok pagi." Suara Ryu terdengar berat. Bahkan saat mengucapkan kata-kata itu terdengar sedih dan seperti susah mengucapkannya.
Bagai ditindih ribuan ton baja kepala gadis lavender itu hingga ia tak mampu bicara. Tubuhnya terasa lemas. Miku terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. "A-aku tak mendengarnya," ujarnya bergetar, "ka-katakan sekali l-lagi."
Ryu memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap wajah Miku yang kini menatap wajahnya.
"Ryu ...."
"Besok aku berangkat ke Itali. Daddy sudah mengurus semuanya tanpa sepengetahuanku, dan aku tak bisa menolaknya."
"Berapa lama?"
Ryu menggeleng. "Aku juga tidak tahu ... Miku ... jangan menangis. Please," pinta remaja itu merasa bersalah, meski tak bersuara, entah kenapa air mata Miku mengalir begitu cepat.
__ADS_1
Ryu menyesal karena harus meninggalkan gadis yang ia cintai demi ambisi ayahnya.
"Ryu, kau akan meninggalkanku? Benarkah?"
Sepi.
"Jangan tinggalkan aku," getirnya sambil menggigit bibir.
Ryu mati-matian menahan air matanya, tapi sayangnya tak bisa. Pertahanan putra Albert itu akhirnya jebol karena melihat air mata Miku. "Maafkan aku ... maafkan aku ..." Didekapnya tubuh mungil itu erat-erat.
Mereka berdua menangis.
Tuhan ... kenapa takdir yang kau berikan pada kami terasa kejam? Kenapa kau mau memisahkan kami? Aku sangat mencintainya, tak bisakah kau biarkan kami hidup bersama? Tubuh Ryu bergetar menahan tangis.
Salju pertama mulai turun dan udara semakin dingin.
Namun, dua hati anak manusia itu terasa membara. Ini adalah musim dingin yang menyakitkan bagi mereka.
Desember kelabu.
Mereka berciuman di bawah siraman salju yang mulai deras turunnya, tak peduli dinginnya salju yang mulai menyergap tubuh mereka.
ππππ
Hari ini Ryu dan teman-temannya sudah berkumpul di bandara Narita. Teman satu klubnya kaget begitu mendengar pemberitahuan mendadak bahwa kapten kebanggaan mereka harus pindah ke Itali.
"Kapten jaga dirimu baik-baik," kata Kiba terharu.
"Kami akan merindukanmu kapten," kata Kyousuke dan Sena.
Ryu hanya mengangguk, setelah menyalami mereka semua, ia beralih pada Miku. Wajah itu terlihat datar. Remaja stoic mendekat lalu memeluknya cukup lama, semua yang melihatnya ikut terharu. Usai memeluknya RyuΒ meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
15 menit kemudian pesawat yang ditumpangi remaja itu
meninggalkan negeri sakura.
Akio dan Shiori mendekati Miku yang masih diam sendiri menatap pesawat yang ditumpangi Ryu di langit hingga hilang di balik awan.
"Tak ada," jawabnya sedih.
"Hah?!" Shiori kaget.
"Dasar bule sialan, apa susahnya sih mengucapkan selamat tinggal!" maki Akio sebal.
"Pasti tidak bisa," Suara pelatih mereka ikut menimbrung. "sebab kata 'selamat tinggal' adalah kata-kata menyedihkan dan menusuk perasaan bersama," jelas Masaya sambil mendekati anak-anak didiknya. Dia melihat Miku yang masih bergeming. Gadis itu seolah kehilangan separuh jiwanya. [1]
"Benar juga, tapi lebih menyedihkan jika tidak mengucapkan apa pun, 'kan?" tanya Shiori.
"Mungkin Masaya berharap suatu hari nanti dia bisa kembali lagi, makanya dia tidak mengatakan hal apa pun karena dia yakin pasti akan kembali." Lanjut Masaya.
"Aku pulang duluan." Tiba-tiba Miku meninggalkan mereka.
Shiori yang melihatnya ingin mengejar tapi ditahan Masaya. "Pe-Pelatih ... kenapa?"
"Biarkan dia sendiri sekarang, kejadian hari ini sudah membuatnya sangat tertekan. Dia butuh sendiri untuk menenangkan hatinya."
Mereka mengangguk.
ππππ
Esok harinya, kelas 2-1.
"Miku Higashiyama!" Pak Guru Endou mengabsen kelas 2-1.
Tak ada jawaban.
Semua murid menatap bangku kosong itu dan mulai berbisik.
"Ada yang tahu ke mana Higashiyama?" tanya guru berambut perak dengan wajah yang jarang tersenyum.
__ADS_1
Namun, tak ada sedetik guru berpostur tinggi itu paham. Mungkin ada hubungannya dengan Ryu Hikaru.
Sementara itu di luar sekolah tampak kereta mulai berjalan meninggalkan kota Tokyo.
Miku hanya terdiam menatap pemandangan alam dari jendela kereta tersebut.
"Membolos lagi?"
Reflek gadis bersurai indigo itu menoleh. "Pelatih Fujimine?" tanya Miku ragu.
Masaya tersenyum menatapnya. Sejak insiden kecelakaan itu ia lebih memerhatikan gadis di depannya ini. Miku sudah menyelamatkan dirinya waktu itu. Rasa berhutang budi pada gadis bermata sayu ini terus tersimpan di hati untuk membalas kebaikannya.
Masaya duduk di samping Miku. "Aku berterima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Kau sudah menyelamatkan hidupku. Harus dengan apa aku
membayarnya?"
Miku terkekeh. "Kemarin Pelatih Fujimine sudah memberiku bekal dan tiket pulang juga traktiran makan. Saya rasa sudah cukup."
"Hanya dengan bekal kau membalasnya dengan nyawa? Murah hati sekali," puji Masaya.
"Em ... kenapa Pelatih memakai kacamata?" tanya Miku iseng, entah kenapa melihat pelatihnya mengenakan kacamata jadi terlihat semakin keren di matanya. Apa yang kau pikirkan, Miku?
"Kenapa? Tidak pantas?"
Gadis bermata sayu itu menggeleng. "Hanya saja terlihat berbeda, saya hampir tak mengenali Pelatih tadi,"
"Sejak insiden itu penglihatanku mulai kabur. Makanya aku memakai kacamata. Lalu ... apa masalahmu kali ini?"
Miku menggeleng.
"Jangan pura-pura, matamu tak bisa berbohong," Masaya menatapnya, "kau terlihat murung sejak ditinggal Hikaru. Jika ada yang kau risaukan, aku mau mendengarnya. Ya ... itu pun
kalau kau mau menceritakannya. Mungkin saja kau tak suka kalau lawan bicaramu laki-laki."
Miku mulai terisak. Entah kenapa dia tak segan pada pelatihnya ini. "Saya ... saya merindukan Ryu ...," gadis itu menggenggam lipatan roknya, "rasanya sakit sekali melepasnya pergi ..." Tangan Miku bergetar. Air matanya mulai jatuh.
Masaya menatapnya dalam diam. Sementara kereta semakin cepat meninggalkan kota tokyo.
π·π·π· To Be Continued π·π·π·
π·
π·
π·
π·
π·π·π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [β€] usai membaca, ya π
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
Sabtu, 18 April 2020
______________________________
Catatan :
Perkataan Ai Haibara dalam serial Detektif Conan
__ADS_1
Klik, please
π