Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[21] Tragedi Segitiga Pink


__ADS_3

SMA Putri Minami.


Usai ujian, para siswi sebagian menuju kantin. Terlebih Miku, karena sejak tadi perutnya sudah keroncongan. Tatkala menyerahkan nampan pada wanita penjaga kantin, ia terkejut melihat jatah miliknya lebih banyak dari biasanya.


"Bibi, apa ini tidak terlalu banyak?"


Wanita penjaga kantin itu hanya tersenyum, "Kau harus banyak makan sayur agar kuat," jawab wanita paruh baya itu seolah mengerti keadaannya.


Miku hanya tersenyum, lalu mengambil nampan itu dan mengucapkan terima kasih.


Sakura sudah menunggunya di meja. Beberapa siswi melihat nampan yang dibawa Miku itu bertanya-tanya. Ternyata ada juga yang makan dengan porsi besar.


Dengan cuek si putri sulung Koichiro menyantap makanan itu nikmat. Si gadis musim semi hanya tersenyum dengan kelakuan sahabatnya.


Ai dan teman segrupnya menghampiri takjub dengan porsi yang dimakan Miku. Di SMA Putri Minami, Ai-lah yang menguasai sekolah putri itu, dia dan ketiga temannya : Yui, Joy dan Fumiko. Mereka menyebut dirinya Four Angel.


"Miku, apa kau tidak takut gemuk?" tanya Joy heran.


"Tidak?" jawab Miku, terus fokus pada makanannya.


"Selera makanmu besar juga," sambung Ai.


"Aku iri padamu, bisa makan apa pun yang kau ingikan tanpa takut gemuk," kata Joy lagi.


Miku hanya tersenyum. "Kakek bilang, aku harus banyak makan."


"Apa pacarmu tidak protes?" tanya Fumiko, si gadis yang tak bisa diam itu.


"Tidak, dia malah menyuruhku makan apa pun yang aku suka."


"Wuah ... aku demi menjaga penampilanku, harus rela makan nasi porsi kecil dan jus sayuran yang menyebalkan tanpa boleh makan daging," keluh Joy, wajah cantiknya terlihat lesu.


"Apa itu tidak menyiksa?" tanya Sakura prihatin.


"Sangat menyiksa," sahut Joy dan Yui bersamaan, karena mereka adalah model utama majalah yang harus menjaga bentuk tubuhnya.


"Beruntung sekali kau, Miku."


Miku hanya mengangguk, dia tahu tubuhnya sudah mulai gemuk, tapi dia tak peduli asal yang ada di dalam perutnya mendapat asupan yang banyak.


Sakura menyodorkan jus jambu padanya. "Untukmu. Kau masih haus, kan?"


Lagi-lagi Miku terbantu dengan kehadiran gadis cantik itu. "Terima kasih, Sakura."


"Jangan dipikirkan. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri."


🌷🌷🌷🌷


Saat pelajaran bahasa Inggris berlangsung, Masaya bersin. Namun, semua murid di kelas itu fokus pada kertas ujian yang diberikan. Tak satu pun makhluk yang menatapnya karena ujian kali ini sangat susah.


Pria itu sedikit batuk karena tenggorokannya yang gatal, jika diperhatikan baik-baik, Masaya terserang flue.


Miku menatapnya iba. AnataΒ  ... apa kau baik- baik saja? Dia terus menatap sang suami hingga matanya terbelalak sangat lebar, tak percaya dengan apa yang dipandangnya itu.


Masaya merogoh kantong celananya, lalu tanpa melihat apa yang dipegang, dia mengusapkan benda itu pada keningnya yang berkeringat.


Bagai dihempaskan ke tanah, Miku melihat pemandangan itu. Ya, dia melihat suaminya menyeka keringatnya dengan kain segi tiga pink miliknya. Miku mengacungkan tangannya agar menarik perhatian suaminya, tapi Masaya tak peduli. "Pak guru ...," bisiknya sepelan mungkin agar yang lain tidak melihat.


Untung saja semua fokus pada kertas ujian masing-masing. Semua murid di kelas itu lebih mementingkan nilai ujian dibanding melihat wajah tampan gurunya.


"Pak guru ...," panggil si wangi lavender ketakutan. Wajah Miku sudah pucat.

__ADS_1


Masaya melihatnya heran, tangannya masih memegang kain segi tiga pink di keningnya. Matanya bertanya 'Apa?'


Miku menoleh ke kanan kiri dengan cemas, berharap tak ada yang melihatnya. Dia menunjuk kain segitiga pink yang dipegang suamiya khawatir, tapi sayangnya Masaya masih tak mengerti. Hingga Miku memberi isyarat tangan segi tiga dan menunjuk pada kain itu dengan wajah pucat.


Bukannya langsung paham, tapi Masaya malah membuka kain itu lebar-lebar, yang mana langsung disambut gerpakan meja cukup keras oleh Miku.


"PAK FUJIMINE!"


Semua mata temannya tertuju pada Miku kaget, sementara Masaya yang baru sadar kalau yang dipegangnya bukan sapu tangan, langsung menyembunyikan benda itu ke dalam saku celananya. Hampir saja dia membuang benda itu ke depan kelas, karena sangat kagetnya saat sang istri menggerpak meja dan menyerukan namanya lantang. Untung dengan cepat dia menangkapnya lalu memasukkannya ke dalam kantong celananya.


Tuhan ... tadi hampir saja aku membuatnya bunuh diri di depan teman-temannya karena kecerobohanku.


Semua murid yang menatap Miku heran, karena tiba-tiba gadis itu kesal tanpa sebab.


"Hei, kau kenapa?" tanya Sakura heran.


"Soalnya susah sekali, apa kau bisa menyelesaikannya dengan cepat?" dalih Miku asal sambil melirik Masaya yang memasang wajah meminta ampun padanya.


"Kau benar, soalnya lebih sulit dari yang aku pikirkan!" kata Ai ikut kesal.


"Kakak, kenapa kau tega sekali memberi soal yang sulit pada kami?" tanya beberapa siswinya sebal. Mereka mulai mendumel.


"Sudah ... sudah ... ayo kerjakan! Jangan ribut!" kata Masaya sambil memukul mejanya dengan penghapus.


Semua murid kembali pada soal di kertas mereka. Hanya Miku yang masih menatapnya kesal. Wajahnya seolah mengatakan, 'Aku butuh penjelasan!'


Pria itu memberi isyarat maaf, tapi sepertinya Miku sangat kesal padanya hingga dendam. Masaya jadi merinding karena dalam tatapan istrinya itu seperti mengatakan 'Anata! Aku akan membunuhmu nanti!'


'Maafkan aku, aku tidak sengaja membawanya' Mata itu nampak memohon.


🌷🌷🌷🌷


Miku membanting kesal tiga buah surat tepat ke meja suaminya ketika mereka sudah di rumah. Wajahnya berkerut-kerut tak karuan karena hal itu.


"Aku menemukan itu di tasmu. Surat cinta dari gadis bernama Shizuka Nakamouri," sahut Miku ketus. ",Kenapa bukankah kau senang, Masaya Fujimine? Bukankah Shizuka sangat cantik?" Saking kesalnya Miku memanggil Masaya dengan menyebut marganya.


Dalam hati Masaya tertawa. "Ya, dia sangat cantik."


"Apa?" Mata itu membelalak lebar. "Anata, kau ...."


"... dia lebih cantik darimu, bisa dikatakan, dia yang paling cantik di SMA Minami. Lalu apa masalahmu, heh?" Masaya menutup buku yang dibaca. Dia ingin tertawa melihat raut wajah istrinya yang merah bak kepiting rebus tanda cemburu. "Apa kau cemburu?"


"Siapa yang cemburu?! Katakan kenapa aku harus cemburu?" Emosinya mulai naik suaranya jadi melengking. Sudah pasti cemburu luar biasa.


"Lalu kenapa marah?" Masaya mulai menggodanya, mendekati istrinya itu.


"Tidak tahu!" Nada judesnya semakin tinggi. Ia manyun sendiri, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini, dia suka uring-uringan melihat suaminya ditempeli gadis-gadis cantik. Dia ingin marah, menampar atau apa pun saja terhadap teman-temannya itu, tapi tak bisa karena dia sadar dia tak bisa melakukannya.


Gadis yang paling dibencinya adalah Shizuka Nakamouri, cewek cantik super seksi yang selalu mencari-cari perhatian Masaya. Karena saat ini mereka di rumah, jadi ia bisa leluasa


memarahinya.


Masaya menatapnya lekat. Kupikir dia tak akan pernah pernah marah atau cemburu jika aku dikelilingi gadis-gadis cantik, tapi melihatnya dia seperti ini aku jadi tertarik untuk menggodanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau juga menatap Shizuka dengan tatapan seperti itu?" Miku menjadi salah tingkah melihat suaminya yang menatapnya intens. Antara gugup dan kesal. Mata pria itu terlihat penuh teka-teki terlebih saat Masaya mendekatinya tanpa melepas pandangan.


Miku tahu pandangan Masaya begitu lain terhadap dirinya saat ini. Dia mundur begitu suaminya terus mendekatinya. "A-anata ...," ujarnya gugup.


"Kau tahu apa yang aku inginkan," ujarnya terus menggoda Miku hingga istrinya itu mulai terpojok. Senyum evil mulai menghiasi wajah tampan kharismatik itu. "Aku mengerti ... di sekolah kita tidak bisa sedekat ini," Masaya sudah menempel pada istrinya. "Apalagi sampai melakukan hal itu," bisiknya tepat di telinga sang istri yang mana sukses membuat pipinya bersemu semerah tomat. Ah, Masaya jadi ingin menggigit pipi gembil itu.


Miku menjadi panas dingin. "H-ha-hal apa?"

__ADS_1


Masaya tertawa dalam hati melihat reaksi istrinya yang begitu polos dan ketakutan. "Sungguh kau tidak tahu maksudku?" Pria itu semakin agresif. Sengaja dia membuka kancing kemeja bagian atasnya.


"A-anata ...." Miku jadi stress. Tidak ... bukan hal seperti ini yang dia harapkan. Miku hanya ingin memaki-maki suaminya lalu Masaya meminta maaf dan berjanji tak akan menanggapi tingkah Shizuka. Akan tetapi, lihatlah keadaannya saat ini. Miku sudah tak bisa mundur dikarenakan tubuhnya yang sudah merapat pada tembok. Tak bisa bergerak karena tubuhnya mungkin sudah kaku, terlebih kedua tangan suaminya sudah mengurungnya agar dia tak bisa pergi.


"Miku, ayo kita mulai ... jangan membuatku kecewa. Aku sudah tak sabar," bisiknya mesra, sengaja meniup pelan telinga istrinya yang membuat Miku merinding dahsyat.


Anata! Kenapa di saat seperti ini! Aku tidak mau! Ini ruangan perpustakaan bukan kamar kita! Tubuh Miku jadi gemetar. Wajahnya bersemu merah bercampur pucat.


"Ah ... aku tahu, wanita suka pada laki-laki agresif. Aku akan memulainya ...." Masaya mendekatkan wajahnya. "Sekarang aku akan mengajarimu dengan berdiri."


Apa? Gaya berdiri yang bagaimana maksudnya? Tidak! Miku belum siap! "A-an-ana-ta ... jangan lakukan ...." Miku menutup matanya takut melihat suaminya seperti itu. Dia merasakan tangan Masaya mulai menyentuh pundaknya.


Beberapa detik berlalu, tapi Miku tak merasakan apa-apa, dia membuka matanya pelan. Tuhan ... dia melihat suaminya sedang meneguk segelas air putih yang diletakkan di samping tembok tepat di sebelah bahu kirinya.


"Akhirnya segar juga tenggorokanku, dari tadi aku sudah tidak tahan untuk menikmati sejuknya air es ini. Sekali-kali minum dengan berdiri memang perlu," ujar Masaya nikmat, tanpa dosa dia melirik Miku yang masih pucat. "Eh, kenapa ekspresimu begitu? Apa kau memikirkan sesuatu yang lain, yang akan terjadi padamu? Sepertinya kau tak paham kalau aku haus." Masaya meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu.


Miku bengong tiada akhir. Memalukan! Aku sungguh memalukan! Dia sudah memikirkan yang macam-macam.


"Hei, apa kau punya pikiran khusus? Apa itu? Bisa beri tahu aku?" godanya.


"ANATA!" Miku menjerit sebal karena sudah dikerjai.


Kutipu kau. Masaya tertawa dalam hati, lalu pandangan matanya tertuju pada tiga surat cinta itu. "Jika kau mau, surat itu untukmu saja, aku malas membacanya," ujarnya sambil berlalu meninggalkan Miku yang hampir pingsan karena kelakuannya.


BRUK! Miku terduduk lemas. "Dia seperti tak melakukan kesalahan? Aku baru tahu jika dia bisa seusil ini."


Miku kembali bengong luar biasa. Tak menyangka ada satu sifat suaminya yang begitu usil.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Senin, 11 Mei 2020


__________________________________


Catatan :


Insiden segi tiga pink di kelas terinspirasi dari film My Little Bride.


___________________________________

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2