Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[18] Menjadi Siswi Kembali


__ADS_3

Satu bulan kemudian ada kabar gembira, Miku akhirnya diterima di SMA Minami, tempat Masaya mengajar, walau hanya sekitar enam bulanan dia bersekolah. Kepala sekolah tersebut dan beberapa dewan guru lainnya bersedia menutupi status hubungan mereka.


Akhir-akhir ini pun, Miku disibukkan belajar kembali. Dia harus menjadi yang terbaik jika berhasil masuk di SMA putri itu.


Dengan sabar, Masaya mengoreksi jawaban istrinya teliti. Pria itu melirik Miku yang masih mengerjakan soal-soal lainnya yang diberikannya tadi sebagai latihan. Hm, sempurna. Tak ada satu pun jawabannya yang salah.


"Anata, aku sudah selesai." Akhir-akhir ini Miku lebih sering memanggil suaminya dengan kata 'anata'.


"Ada yang masih belum kau pahami?"


Miku menggeleng. "Tidak. Anata, hari ini mau aku masakin apa?"


"Katsudon."


"Aku tak mau! Aku jijik melihat daging babinya," ujar Miku begidik ngeri.


"Sashimi."


"Jangan ikan! Aku tak suka baunya."


"Kalau begitu ramen saja," ujarnya mengalah.


"Aku tak suka baunya!" Mulut Miku mengerucut malas. "Anata, kau saja yang masak ya, aku menemani Satoshi." Melenggang senang meninggalkan Masaya sendiri.


Alis Masaya terangkat sebelah, Bukannya dia paling suka ramen? Akhirnya Masaya menuju dapur, pria itu mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas lalu mulai memasak.


"Anata, mochi yang kemarin kaubeli kenapa tidak ada?" tanya Miku saat membuka kulkas kecewa. "Padahal aku ingin makan mochi yang kemarin kau bawa."


Masaya masih sibuk memotong ikan salmon, karena berniat makan sashimi. "Bukannya sudah kau habiskan sendiri tanpa sisa semalam. Aku bahkan belum makan satu pun."


"Benarkah tak tersisa?" jeritnya tak percaya, matanya menatap manik kelam suaminya dengan mimik sedih. "Aku ingin mochi itu lagi."


"Minggu depan saja, kebetulan aku akan berlatih bersama klub-ku di daerah Saitama." Siapa yang mau capek-capek pergi ke Saitama hanya untuk membeli mochi? Tidak!


"Anata! Kau bilang Nagato juga memborong banyak mochi semalam, kan? Ayo tanyakan apa dia masih ada sisa?" Miku kembali merengek bak anak kecil sambil menarik-narik lengan baju suaminya. Ia memasang wajah memelasnya.


Demi Tuhan! Masaya jadi gemas. Awalnya dia menolak, tapi Miku terus meneror dan mengancamnya. Dia menelpon Nagato, teman klub sepak bolanya yang kebetulan juga memborong mochi itu semalam. Untung saja, pria hobi bertindik itu masih punya sisa satu paket, jadinya Masaya tak perlu repot ke Saitama.


Satu jam kemudian wajah Miku kembali cerah begitu mendapati kue basah bulat berwarna warni itu. "Akhirnya kau datang, sayangku." Miku dengan teramat senang mengambil sebungkus mochi tersebut dari tangan suaminya.


Masaya takjub. Perubahan istrinya luar biasa ia rasakan semenjak 'hukuman' yang ia berikan satu bulan yang lalu. Miku menjadi anak penurut yang super manja kadang judes, sekaligus 'sedikit nakal'. Nakal karena suka menggoda Masaya tidak pada tempatnya.


Suatu hari Masaya sedang berolahraga untuk melatih ototnya di samping rumahnya, pria pecinta sepak bola itu melakukan push up. Saat hitungan ke-45 tiba-tiba saja Miku sudah berada di bawahnya sambil tersenyum manis.


"Minggirlah, aku ini bau dan berkeringat! Kenapa kau malah muncul di bawahku begini, Miku?!" Masaya menghentikan aksinya. Namun, masih enggan beranjak. Kedua tangannya masih menopang berat tubuhnya agar tak jatuh mengenai sang istri.


"Tidak mau, aku suka melihatmu yang seperti ini. Berkeringat." Miku masih ngotot di bawah suaminya. Manja!


"Miku ...." Suara Masaya begitu ditekan. Tak sadarkah ia dengan kelakuannya itu akan membangunkan adik kecilnya?


"Anata, kau terlihat keren,"


Tuhan ... aku bisa gila jika dia jadi begini terus. Dia ini kenapa?


🌷🌷🌷🌷


SMA Minami, kelas 3-A.


"Masuklah." Masaya menyuruh Miku memasuki ruang kelasnya yang baru. Ia menatap murid-muridnya lalu berkata, "Kenalkan dirimu pada teman-teman barumu."


Miku sedikit grogi dengan keadaan itu. "Namaku Miku Higashiyama, mohon bimbingannya," ujarnya sopan sambil membungkuk.


"Bangku kosong ada di samping Sakura Jougatsu, kau boleh duduk di sampingnya." Lanjut Masaya.


Miku bergegas menuju bangku yang dimaksud. Bangku deretan ke dua dari depan bagian tengah. Dia tersenyum pada Sakura.


Gadis cantik berambut pink itu balas tersenyum. "Aku tahu identitasmu, aku anak pemilik SMA Minami ini, dulu pak guru pernah mendonorkan darahnya untuk ibuku yang sakit dan akhirnya sembuh. Aku akan menjadi pelindungmu di sini, jangan khawatir," bisik Sakura.

__ADS_1


Miku terperajat kaget, tapi dia tahu kalau Sakura serius dan sepertinya bisa dipercaya. "Terima kasih, Sakura."


"Baiklah, pelajaran hari ini kita akan mendengarkan lagu Hobastank dan menerjemahkannya." Masaya


mulai serius, "ya, Mitsuri, ada pertanyaan?" tanya Masaya saat melihat gadis berambut cokelat itu mengacungkan telunjuk.


"Kakak, lupakan Hobastank. Sekarang dia pasti sudah menjadi lelaki tua yang meratapi nasibnya. Cerita saja tentang dirimu saja," kata Mitsuri menggoda.


"Ka-kakak?" Ulang Miku tak percaya. Murid-murid di sini memanggil suaminya dengan panggilan 'kakak' bukan 'Pak guru?' Si pemilik wangi lavender itu menatap suaminya, meminta penjelasan.


"Anak-anak, sebentar lagi kalian ujian. Belajarlah serius," kata Masaya sabar.


"Siapa cinta pertama kakak?" Kejar Ayumi. Well, pertanyaan sang ketua kelas sanggup membuat seluruh siswi di sana bertanya-tanya.


Masaya tersenyum.


Dari bangkunya Miku mencibir. "Siapa lagi kalau bukan Kyoko Hasekawa. Pasti dia akan bercerita kenangannya dulu," gumamnya kesal.


Diliriknya wajah Miku yang cemberut itu. "Cinta pertamaku ibarat kasih tak sampai." Masaya menjawab jujur dan itu membuat gadis-gadis di dalam menjerit tak percaya. Sambil tersenyum dia terus melanjutkan ceritanya, "jika sudah paham maksudnya, aku tak bisa melanjutkannya, karena itu menyedihkan dan tinggal kenangan."


"Kakak, apa benar bahwa wanita itu menyimpan cinta pertamanya di hati, sedangkan laki-laki menyimpan cinta pertamanya di dalam kenangan?" celetuk si gadis cantik yang mendapatkan julukan barbie, Ai.


"Jika itu benar, itu artinya kasihan sekali kaum adam karena mereka tak bisa mendapatkan hati wanita pujaannya jika wanita itu menyimpan cinta pertamanya di hati."


"Cinta pertama memang sebaiknya gagal," sadis Sakura.


"Sakura, apa kau tak percaya cinta?" tanya Fumiko heran.


"Bagiku cinta adalah nol. Sebanyak apa pun kau berusaha tidak akan ada artinya jika nilainya tetap nol." [1]


Hinata menyenggolnya. "Sakura, apa kau pernah gagal menjalin hubungan? Kenapa jawabanmu mengerikan seolah-olah tak ada cinta dalam kamus hidupmu?"


Sakura tersenyum. "Pak guru, setuju dengan pendapat saya?"


"Tentu saja," jawab Masaya.


"Hahh?" Semua murid heran.


"Kyaaa ... keren," teriak Ai.


Miku tersenyum. Ya semua berawal dari nol. Anata ... kenapa kau semakin menarik? Bagian mana lagi dari dirimu yang belum aku ketahui? Hinata menatap suaminya, saat pandangan mereka bertemu Masaya ikut tersenyum lalu kembali fokus pada pelajaran selanjutnya.


🌷🌷🌷🌷


Sulit bagi Miku untuk dekat dengan Itachi saat di sekolah, sepertinya, suaminya itu menyimpan magnet tersendiri yang cukup kuat menarik


perhatian wanita. Cemburu sudah tentu, tapi dia tahan meski pada akhirnya di rumah dia akan mengomel panjang. Seperti sekarang.


"Kakak?" ulangnya tak percaya, dia menatap Masaya sebal, "mereka memanggilmu dengan sebutan kakak? Apa-apan, menggelikan sekali." Dibantingnya tas sekolahnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi agak keras.


"Kenapa, kau cemburu?" Masaya melonggarkan dasinya tak acuh.


Wanita itu menatapnya sebal. "Siapa yang cemburu?!" tukasnya marah, "lagi pula, kau juga senangkan anak-anak memanggilmu kakak bukan Pak guru? Anata, kau sungguh menyebalkan!" Miku bergegas masuk kamarnya sambil membanting pintu keras.


Masaya terlongo. Dia menoleh pada kakeknya yang menggendong Satoshi. "Kakek lihat, kan? Dia jadi temperamen begitu akhir-akhir ini? Apa maunya? Aku benar-benar tak mengerti."


Hayato tersenyum. "Dulu ibumu juga temperamen karena hal-hal kecil dan suka aneh-aneh tapi saat mengandung Eriko."


Masaya menautkan alisnya.


"Masih tidak paham," tanya Hayato sengaja menyembunyikan sesuatu. "Ah ... kenapa kau tidak peka padanya, kau memang bodoh, sih."


"Apa, sih?" Pria Fujimine itu jadi gemas dikatai bodoh.


"Coba pikir baik-baik, dia jadi seperti itu karena siapa?"


"Aku tak mengerti maksud Kakek, apa sih maksudnya, bicara yang jelas." Masaya menahan kesabarannya.

__ADS_1


"Ya ampun, orang sepertimu yang pikirannya cuma sepak bola saja mana mengerti akan hal ini," Lelaki tua itu menggeleng, "heh, anak bodoh istrimu seperti itu bisa saja hamil."


"Hamil?" Mata Masaya hampir saja copot saat mendengar pernyataan kakeknya, "bagaimana mungkin!"


Hayato metatap wajah cucunya lekat-lekat. "Benar kau tak menyentuhnya, Masaya Fujimine?" Selidiknya. Pertanyaan lelaki tua itu mirip seorang jaksa yang bertanya pada seorang terdakwa.


Ibarat plastik, Masaya mengkerut karena panas mendengar pertanyaan kakeknya.


"Tak perlu dijawab, di dahimu sudah tertulis jelas jawabannya." Hayato segera berlalu meninggalkan cucunya yang bingung.


Mana mungkin langsung hamil, apa tidak terlalu cepat? Padahal, kan hanya sekali? Masaya bingung sendiri. Tidak, tidak ... itu terlalu cepat!


"ANATA!!" Mendadak Miku berteriak seolah melihat hantu yang tersenyum ke arahnya, yang mana membuat Masaya hampir jatuh karena saking kagetnya pria itu mendengar lengkingan suara cempreng sang istri. Telinganya hampir meledak.


"Apa berteriak sekarang menjadi kesukaanmu?" Masaya menatap istrinya yang kini berada di depannya.


"Beratku naik 3 kilo. Apa aku terlihat gendut?" tanya Miku hampir gila, "ini pasti karena aku sering makan malam-malam makanya berat badanku naik. Akh ... menyebalkan!"


"Memangnya kenapa kalau kau gendut?"


"Tidak mau! Gendut itu jelek!! Memangnya wanita mana yang mau tubuhnya gendut?!" Kemudian Miku kembali masuk ke kamarnya dan kembali pintu dibanting.


Masaya kembali melamun. Benarkah dia hamil? Ah tidak mungkin secepat itu kan? Masaya menggeleng tak percaya. Ponselnya berdering. ada kabar kalau besok dia harus ikut pertandingan di Shibuya.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Sabtu, 9 Mei 2020


___________________________________


Catatan :






Shinichi Kudo



__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2