
3 Tahun kemudian, Tokyo ....
"Himeka gantian!" seru bocah lelaki dengan sorot mata tajam, ia menatap kesal pada gadis kecil yang sedang bermain ayunan.
Rambut cokelat Himeka sama seperti ibunya dan dikepang dua dengan poni yang menutupi dahinya. "Tidak mau!" jawab Himeka cuek.
Satoshi memberengut kesal, sudah 1 jam dia menunggu adiknya bermain ayunan yang terletak di halaman samping rumah mereka. Awalnya anak lelaki itu sabar, meninggalkannya lalu bermain mobil-mobilan sendiri. Setelah cukup lama ia kembali dan berkata ingin bermain ayunan tapi si cantik itu enggan menuruti keinginan kakaknya.
Halaman rumah Fujimine itu cukup luas dengan ditanami banyak rumput dan bunga berwarna warni. Tampak beberapa pohon juga berjejer di sana hingga terlihat rumah itu sangat astri dan sejuk.
Himeka masih asyik dengan ayunannya, tak peduli kakaknya juga ingin bermain.
Satoshi kesal, menunggu gilirannya tak kunjung datang, dia pun marah. Satoshi mendorong Himeka hingga jatuh dari ayunannya lalu membentaknya, "Giliranku!"
Si copi-an Miku itu tak mau kalah, gadis kecil itu bangun dan gantian mendorong Satoshi. "Aku masih ingin bermain!" jawabnya judes.
Bocah bermata biru terang nan tampan itu marah, karena tingkah adiknya. Satoshi mengayunkan bandulan besi itu ke arah Himeka. "Mainlah sesukamu!" serunya marah sambil mendorong bandulan itu kuat-kuat ke arah adiknya dan sialnya tepat mengenai dahi gadis mungil itu.
Dahi Himeka sobek dan mengeluarkan banyak darah. Putri Masaya itu pun menangis keras hingga membuat orang tuanya keluar dari dalam rumah. Yang paling Syok adalah Satoshi, bocah itu tak pernah mengira kalau perbuatannya akan mencelakai saudaranya. Satoshi terdiam ketakutan.
"Himeka!" teriak Miku khawatir melihat putri kecilnya kepalanya berdarah seperti itu. Dia pun segera menggendong Himeka yang menangis karena dahinya yang mengeluarkan darah. "Kenapa dahimu seperti ini?"
"Kakak yang melakukannya huhuhu ..." adu Himeka menangis keras. "Ibu ... sakit ... sakit!" tangisnya kencang.
Masaya yang tahu hal itu melempar tatapan marah pada Satoshi. "Satoshi ... kau yang melakukannya?" tanya pria itu datar.
Satoshi hanya diam menunduk. Bocah itu sungguh menyesal dan kini dia tahu, pasti ayah dan ibunya akan marah.
"LIHAT APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA?!!" bentak Masaya marah. Wajahnya memerah sampai ke telinganya.
"A-anata ...." Suara Miku tercekat mendengar suaminya membentak Satoshi untuk yang pertama kalinya.
Masaya mengambil Himeka dari pangkuan istrinya, dan segera membawa putrinya ke rumah sakit karena Himeka tak mau berhenti menangis sementara darahnya terus mengucur keluar.
Miku menatap Satoshi yang masih diam menuduk. Tubuh kecil itu gemetar ketakutan. "Satoshi,"
Bungkam. Satoshi tetap menuduk.
Miku memeluk bocah itu. "Tidak apa-apa, Himeka hanya sakit sedikit. Ayo kita susul ayah dan Himeka ke rumah sakit."
__ADS_1
Satoshi tetap diam. Mata birunya mulai berair, lalu setetes air yang bening mirip kristal itu jatuh. Namun, dengan cepat ia menghapusnya.
🌷🌷🌷🌷
Diluar dugaan, ternyataa Masaya sangat marah dengan kejadian itu. Biar bagaimana pun, Himeka adalah putri kandungnya, sedangkan Satoshi? Miku menghela napas berat. Dia benar-benar bingung. Wanita itu tahu putranya melakukan hal tersebut tak sengaja tanpa maksud melukai Himeka sampai seperti itu.
Keadaan Himeka cukup kritis, sementara Satoshi terus saja diam menatap lantai.
Wanita itu sebenarnya lebih kasih pada Satoshi yang sudah dimarahi Masaya habis-habisan, hingga Satoshi syok dan ketakutan. Bahkan bocah berumur lima tahun itu tak bisa menangis karena saking takutnya. Di pihak lain, Miku juga cemas akan keadaan Himeka yang masih berada di ruangan IGD.
Masaya duduk diam tanpa berkomentar apa-apa. Wajahnya terlihat dingin. Selama lebih dari enam tahun lamanya dia hidup bersama pria Fujimine itu, baru kali ini Miku melihat ekspresi wajah lain suaminya yang tak pernah
ditampakan sebelumnya. Masaya terlihat begitu dingin.
Saat dokter Shigeru keluar dari IGD, Masaya langsung menghampirinya. "Shigeru ... bagaimana keadaannya?" tanyanya cemas.
"Syukurlah kau cepat membawanya ke mari, sehingga kami bisa mengobatinya denga baik. Untuk sementara biarkan dia istirahat," ujar pria berkacamata bulat tersebut.
"Dokter, boleh saya menemaninya?" tanya Miku penuh harap yang masih menggendong Satoshi yang masih bungkam.
"Tentu, tapi hanya satu orang."
"Ayah ...." Suara Satoshi memecah keheningan membuat pria yang memegang gagang pintu itu jadi diam. "Maafkan aku. Aku salah, Ayah boleh menghukumku nanti." Lanjut Satoshi serak.
Masaya hanya diam. "Pulanglah," perintahnya datar sambil berlalu masuk dan menutup pintu itu tanpa menoleh ke arah Satoshi.
Dokter Shigeru yang tahu masalah itu ikut prihatin dengan sikap Masaya pada putranya. Dokter tampan itu mengelus kepala Satoshi. "Satoshi, adikmu pasti sembuh, tadi Paman sudah merawatnya dengan baik. Lain kali mainnya hati-hati, ya?" hibur dokter jangkung itu.
Satoshi mendongak. "Ayah marah padaku, kan?"
"Tidak," jawab dokter Shigeru sabar.
"Tapi ayah tak mau bicara padaku." Mata biru terang itu mulai berair. "Aku ... hiks ... aku takut." Tangis bocah itu pecah.
Miku mendekap Satoshi agar berhenti menangis. "Satoshi, kita pulang, ya. Besok kita ke sini lagi."
"Hiks ... ayah benci padaku, kan? Hiks ... ayah pasti marah karena aku melukai Himeka."
"Jangan khawatir, ayah tidak marah padamu. Kita pulang, ya?" Ajak Miku. Akhirnya Satoshi mau menuruti keinginan ibunya meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Masaya yang sejak awal mendengarkan di balik pintu itu dadanya terasa sesak. Air matanya jatuh, dia menatap kepergian istri dan anaknya dari jendela. Maafkan Ayah, Satoshi ... maafkan Ayah. Masaya duduk di kursi, tangannya menggenggam tangan Himeka. Berkali-kali dia mencium kening putrinya sambil menangis. "Sayang, bangunlah, jangan membuat Ayah khawatir."
🌷🌷🌷🌷
"Ayah!" Satoshi berlari ke arah Masaya yang baru pulang dari rumah sakit. Akan tetapi Masaya tak memedulikannya. Tanpa berkata-kata, ia melewati Satoshi kemudian masuk ke kamarnya lalu tidur.
Satoshi menatap sedih ayahnya. Bocah itu tahu, kalau ayahnya masih marah padanya. Ia menunduk sejenak lalu berjalan ke halaman belakang rumahnya. Bocah tampan itu duduk sendiri menatap langit. "Aku baik-baik saja," gumamnya tiga kali sambil menepuk dadanya. Sayangnya, buliran bening itu malah jatuh dari bola matanya.
Ya, hal yang selalu Masaya ajarkan ketika dia sedang sedih untuk menghibur dirinya. Lebih tepatnya membohongi diri sendiri.
Sementara itu, di kamar Masaya ...
Miku menatap Masaya yang tidur memunggunginya. Sudah dua hari sikap suaminya berubah. Masaya berubah jadi dingin padanya juga Satoshi. Anata .. kumohon jangan abaikan kami. Hatiku sangat sakit. Air mata Miku mulai menetes, dia pun balik memunggungi suaminya.
Kehidupan rumah tangganya baru terasa sulit jika keadaannya seperti ini.
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
__________________________________
Jumat, 29 Mei 2020
__ADS_1