
Jerman, Berlin 3 tahun kemudian ...
Suara lonceng gereja bertalu-talu menyambut mempelai wanita yang sangat cantik dengan balutan pakaian putihnya. Wajahnya cerah sumringah karena hari ini dia akan mengikat janji dengan pemuda yang dicintainya.
Di samping mempelai wanita itu berdiri tegak sosok tinggi jangkung nan tampan lengkap dengan tuxedo putihnya. Matanya yang setajam elang, garis wajahnya yang keras dan senyumnya yang memikat setiap kaum hawa yang melihatnya. Rambut pirangnya yang semakin panjang diikat bak buntut kuda. Ada beberapa helai yang jatuh karena kurang panjang.
Mempelai wanita itu adalah Yue Schneider Young sedangkan lelaki tampan yang di gandengnya itu tak lain adalah Ryu Hikaru, mewakili dokter Peter Young yang dikarenakan kecelakaan enam bulan yang lalu hingga menyebabkan dokter tersebut tak bisa berjalan dan lebih nyaman duduk di kursi roda.
"Yue, aku sudah menyiapkan van hitam di depan gereja. Ini saatnya kau kabur. Kau tak boleh menikahi si brengsek itu!" Ryu berbisik pelan sembari dengan wajah tersenyum palsu.
"Kak, ini hari bahagiaku. Jangan pengaruhi aku," balas Yue tersenyum manis.
"Demi Tuhan. Aku paling tak rela melihatmu bersamanya."
Yue tertawa pelan. "Jangan berlebihan."
Mereka berjalan di altar gereja. Ketika sampai di samping pendeta Ryu mundur dan membiarkan Yue bersama calon pengantin lelakinya. Leonard Piscassio.
Beberapa undangan terlihat senang, akhirnya sang balerina itu dipersunting pasangannya sendiri. Beberapa wartawan datang untuk meliput sang balerina jelita itu.
"Leonard Piscassio bersediakah kau menerima Yue Schneider Young sebagai istrimu baik dalam keadan suka mau pun duka sampai maut memisahkan kalian?" tanya pendeta itu tegas.
Di bangku penonton, wajah Ryu tertekuk kesal. Berharap ada angin topan datang lalu memporak-porandakan acara ini, kemudian dia akan membawa Yue kabur. Tuhan, aku ingin pernikahan ini tak pernah terjadi. Gigi Ryu bergemerutuk melihat mereka. Ia tak rela menyerahkan malaikat kecilnya pada iblis seperti Leon.
Wajah Leon tegang sejenak. "A- aku bersedia."
"Yue Schneider Young, bersediakah kau menerima Leonard Piscassio sebagai suamimu dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kalian?"
"Aku bersedia."
Mata Ryu terpejam. Ayolah, dia ingin sebuah keajaiban terjadi hari ini. Apa pun itu agar pernikahan ini tak terjadi.
"Baiklah, di rumah Tuhan ini aku resmikan kalian sebagai ..."
"... saya keberatan dan tidak setuju!" Tiba-tiba muncul seorang gadis cantik dengan rambut pirang terengah-engah memasuki gereja itu. Semua penonton menoleh ke arah gadis itu.
Oh God! You have me a miracle!
"Leon ... batalkan pernikahanmu atau kau tak akan pernah melihatku dan Mason lagi," ancam wanita itu serius.
"Lauren," ujar Yue kaget, dia menatap Leon dengan berbagai pertanyaan. "Leon ... apa sebenarnya yang kau sembunyikan dariku?"
Lauren tersenyum tipis. "Maafkan aku Yue, tapi kau perlu tahu. Aku dan Leon sudah memiliki anak laki-laki, namanya Mason. Aku pikir kau harus tahu sebelum semuanya terlambat. Leon tak pernah mencintaimu. Dia hanya ingin mengambil alih rumah sakit milik keluargamu."
Tubuh Yue terguncang. Dia menatap Leon dengan beribu pertanyaan. "Apa artinya ini?" Tangannya bergetar hebat. Rasa dingin menyergap tubuhnya.
Well, saat ini Ryu membayangkan berada di sebuah drama dan dia akan melakoni pemeran antagonis dan dengan senang hati dia akan menghajar Leon.
Leon hanya tersenyum kecut. "Aku memang menginginkan rumah sakit itu, tapi 3 tahun ini aku tidak sadar kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu," ungkap Leo jujur.
"Pembohong."
"Aku tidak bohong!"
"Lalu siapa Mason?" tanya Yue datar, ada genangan air mata di pelupuk matanya.
__ADS_1
Leon hanya diam.
PLAK!
Leon sedikit terhuyung menerima tamparan itu, dia tak menyangka Yue yang begitu lembut akan melakukan hal itu.
"Sempurna sudah kebencianku padamu. Jika kau memang menginginkan rumah sakit itu, ambillah! Jangan pernah menemuiku lagi, *******!" Yue melempar buket bunganya tepat di wajah Leon lalu keluar dari gereja itu. Semua undangan jadi heran dan saling berbisik.
"Yue ... tunggu!" Kejar Leon, sayangnya dia tak bisa mengejar si jelita itu karena Ryu sudah menariknya.
"Langkahi dulu mayatku, brengsek!" katanya dingin lalu Ryu menghantam wajah Leon berkali-kali. Tak peduli dirinya menjadi sorotan media, pria itu terus melakukan aksinya dengan gila hingga Leon pingsan. "Go to hell, Leonard!" ujarnya geram lalu dia pun keluar mengejar Yue yang menangis dengan menggunakan mobilnya.
Dan kabar gagalnya pernikahan sang balerina dunia langsung heboh di dunia. Surat kabar berlomba-lomba mengisi cerita itu untuk meraup keuntungan. Media sosial pun ramai seketika membicarakan nasib sang balerina muda itu.
π·π·π·π·
China, Beijing ...
"PAPA!" Seorang pemuda berparas tampan dengan berambut hitam tak percaya dengan video yang disiarkan secara life sore itu. Berteriak heboh mirip anak SD yang melihat Dinosaurus terbang di depan matanya.
"Hei ... suaramu berisik sekali!" omel gadis tomboy itu sebal karena dia yang tidur di sofa jadi terbangun mendengar anak tiri adiknya berteriak heboh.
"PAPA! KIRIM AKU KE JERMAN SEKARANG! AKU MAU MENIKAHI YUE! PAPA!" jeritnya heboh, berlari ke sana kemari mencari sang ayah.
Lalu suara tangis bayi pecah. Rumah itu terasa bising.
Kemudian sebuah teflon menghantam kepala bagian belakang pemuda itu dengan keras. "Akh!"
"MARK AKECHI!" bentak wanita cantik itu sembari memegang teflon panas. Telurnya sudah jatuh entah ke mana. "Gara-gara suaramu, Kisaki jadi bangun!" Wanita itu mengamuk dan mengejar Mark.
Ming Zhou yang terlahir dengan sifat matre selangit itu langsung memberi perlindungan. "Adik, sudahlah, jangan kau ambil hati perkataan anak tirimu ini. Anggaplah kau sedang mengurus dua bayi."
Wanita bernama Mai itu terlihat kesal. Umurnya 20 tahun, teman Mark sejak TK hingga SMA. Menikah dengan Takeru Akech karena janji kecilnya saat TK untuk menjadi ibu Mark. Melihat si putih itu selalu menangis tak punya ibu, Mai selalu bersamanya dan berjanji akan jadi ibunya kelak. Namun, sepertinya Mai mulai menyesal memiliki anak sebandel Mark. Lihatlah, susah payah dirinya meninaboboknya si kecil Kisaki, Mark hanya cukup berteriak sudah membuat bayi kecil itu menangis.
"Sayang! Kau harus segera menikahkan putramu, aku hampir gila merawatnya!" Mai membentak suaminya yang sedang menggendong putri kecil mereka. "Aku bisa tua sebelum waktunya!"
Diam-diam, Mark dan Zhou pergi ke luar. Takut melihat wajah garang Mai.
Pemuda itu masih tak bisa diam. "Andai saja aku ada di Berlin saat ini, sudah pasti ku ganti posisi setan bernama Leo itu. Lalu hidupku akan bahagia."
Zhou tertawa. "Oh ya? Jika balerina itu adalah Angel-mu lalu siapa Princess-mu itu, hah?"
"Tentu saja cinta pertamaku," ucapnya bangga. "Angel-ku itu adalah semangatku. Dia adalah napasku karena dia aku bisa seperti ini sekarang." Lalu pemuda itu tertawa mirip iblis meminta tumbal.
Zhou paham, mungkin anak tiri adiknya ini ada benarnya karena dulu balerina cantik itulah yang menyemangatinya agar masuk dan menjadi pemain sepak bola. Kala itu Mark tak mau lagi menjadi pemain sepak bola karena cedera kakinya yang serius akibat tabrak lari saat berumur 10 tahun. Namun, saat Yue berada di China bersama Leon, gadis itu mengulurkannya dan berkata. 'Aku menyukai permainanmu. Maukah kau bermain lagi demi aku?' Mark tersenyum. Sejak saat itu dia bertekad akan menjadi atlet sepak bola terbaik di negaranya. Sang balerina adalah semangatnya.
π·π·π·π·
Tokyo, Jepang ....
Satoshi tersenyum bangga bisa memasuki sekolah elit di kotanya. Sebenarnya Miku lebih suka jika putranya masuk di SMA Kita dibanding SMA Hoshi yang biayanya lebih mahal. Tapi mau bagaimana lagi, anak itu bercita-cita ingin menjadi atlet sepak bola seperti ayahnya.
Satoshi mengenakan seragam kemeja putih yang dipadu blazer biru. Meski baru 17 tahun, wajah anak muda itu sudah terlihat nyata aura ketampanannya. Penampilannya yang menarik itu membuat setiap mata menoleh ke arahnya.
Kulitnya putih, tubuhnya yang tinggi dan matanya yang biru cerah, lalu rambutnya dia warnai hitam agar tak dipanggil rambut mentari lagi oleh Isao.
__ADS_1
Dan senjatanya yang paling ampuh untuk memikat gadis adalah senyumannya. Senyuman maut yang diwariskan Ryu padanya.
Berkali-kali beberapa gadis cantik yang berpapasan dengannya meliriknya sambil tersenyum, tanpa sungkan Satoshi membalas senyuman itu.
"Dasar. Ini semua gara-gara gigimu," ujar Zero dari belakang.
"Hah?"
"Ini gara-gara gigimu." Lanjut Akai menyusul dari belakang. Dua anak muda itu memperhatikan tak ada gadis yang tidak tersenyum ke arah Satoshi semenjak mereka bertiga memasuki sekolah barunya.
"Masa' tidak sadar kalau senyummu itu maut?"
Pemuda tampan itu berhenti melangkah dan menatap kedua sahabatnya. Beda dengan dirinya dua anak itu tidak menjadi pusat perhatian kaum hawa meski sama-sama mengenakan seragam yang sama karena Satoshi jauh lebih menarik. "Apa maksud kalian?"
"Senyummu cocok untuk iklan pasta gigi," Kata Zero lalu tertawa.
"Hei, jika kalian menyinggung soal gigiku lagi, akan kuberitahu Minako dan Himawari kalau kalian sudah berani main mata pada gadis lain." Ancam Satoshi pura-pura marah.
Mereka tersenyum kecut. "Ah.. Himawari dan Minako tak akan percaya," Zero santai. "Iya, kan, Akai?"
"Ya ... mereka tahu kok, kami tidak akan laku kalau kau berada di sekitar kami." Lanjut Akai yang malah mendapat pukulan main-main dari Satoshi.
"Kalian selalu pintar mencari alasan."
"Kalau begitu carilah pacar biar kau tak dipelototi gadis-gadis genit itu, memangnya kau itu gay apa"
"Siapa yang gay, bodoh!" Dipukulnya kepala sahabat dobe-nya sebal. "Aku tak punya waktu untuk pacaran karena setiap hari aku harus mengusir serangga yang mencoba masuk ke rumah."
Serangga yang dimaksud Satoshi adalah laki-laki yang sering datang ke rumahnya bukan sekedar membeli bunga tapi cuma mau melamar ibunya. Hampir setiap hari dia mengusir orang yang berbeda karena ibu dan juga adiknya Himeka yang kelewat cantik.
π·π· To be Continuedπ·π·
π·
π·
π·
π·
π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [π] usai membacanya ya π
Menerima kritik saran yang membangun ππ
_________________________________
Selasa, 23 Juni 2020
__________________________________
Klik, please
π
__ADS_1