Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[46] - Not Respec


__ADS_3

Narita airport.


Seorang pemuda 20 tahun dengan jelana jins yang dipadu dengan jaket merah tua itu memeriksa perlengkapan barangnya. Dia melepas kacamata hitamnya begitu baju limited edition yang baru dibeli dari Paris itu dicorat-coret. "MING ZHOU ! KAU APAKAN BAJUKU, HAH?!" teriak mengelegar bak petir di siang bolong.


Zhou yang sedang minum itu jadi kaget, reflek dia menyemburkan minuman yang diteguknya ke wajah pemuda bersurai putih. "Bruuus ..." Dengan mulus air itu menerpa wajah Mark.


"Hei?!" Pemuda itu merasakan siram air dari mulut Zhou di wajahnya. Ia mengusap wajahnya sejenak. 'Sialan! Wajah tampanku tersembur air bercampur liurnya!'


Sejenak gadis tomboy itu terbatuk. Dia menatap Mark. "Itu tandatangan si balerina idolamu, tadi aku bertemu waktu di dalam pesawat."


"Pembohong! Mana ada balerina itu satu pesawat dengan kita? Kau ingin mati, ya?" Mark bersiap mencekik leher kakak ibu tirinya itu, namun sayangnya Zhou lebih gesit dari yang dia kira. "Mau ke mana kau?" Pria Akechi itu berhasil menangkapnya.


"Berani menyentuhku, kubocorkan rahasiamu pada papamu kalau kau ke Jepang tidak sedang ikut turnamen sepak bola tapi hanya mencari harta karun bernama Princess itu! Bagaimana, ancamanku berguna bukan?" Zhou tersenyum kemenangan saat Mark berhasil menangkapnya.


"Katakan saja, aku tidak takut!" ujar Mark enteng karena dia ke Jepang didukung oleh Mai ketika berkata dengan pedenya akan bertemu calon istrinya. Kartu kredit milik Mark langsung mengembung penuh. Setidaknya sebulan ini Mai aman tanpa Mark yang hobi menjerit lalu akan membangunkan Kisaki.


Zhou berfikir sejenak. "Wuah ... Mayumi Hyuuga!" teriak Zhou sambil menunjuk sosok yang lewat.


"Di mana?" Mark segera menoleh karena dia sangat suka artis cantik Internasional bermarga Hyuuga itu, tapi sayangnya dia ditipu Zhou. "Kau menipuku?"


Mata gadis bermarga Ming itu membolak tak percaya. Ia langsung memjerit gila, "Yue Scheider young! Balerina itu!"


"... siapa yang akan tertipu kali ini, heh?" potong Mark gemas.


"Aku tidak bohong, dia ada di belakangmu." Tunjuk Zhou pada Yue yang sedang mendorong koper-kopernya bersama Ryu.


Mark terdiam. Dia menatap balerina cantik itu hingga hilang dari kerumunan. Pandangannya berubah ke Zhou. "Jadi kau benar-benar bertemu dengannya?"


"Ya."


"Dia yang menandatangani bajuku?"


"Yup, tepat sekali."


Mark tersenyum, "Wah ... terima kasih, Bibi." Pemuda itu mengelus kepala Zhou dengan mata berbinar senang.


Zhou hanya menaikkan sebelah alisnya puas. "Aku tak butuh butuh ucapan terima kasih. Tapi aku butuh yang ada di dalam ini ..." Gadis itu menunjuk dompet Mark tanda meminta uang.


"Baiklah berapa?" Sambil membuka dompetnya.


"100.000 Yuan." Zhou menyeringai. Ia tahu kemarin Mark habis ditransfer satu juta Yuan ke rekeningnya oleh Mai.


"Kau mau merampokku, Zhou?!"


🌷🌷🌷🌷


Ryu dan Yue sudah keluar dari Narita airport. Pria itu tersenyum menatap negara yang pernah ditempatinya dulu. Cintanya ada di sini. Dia sudah tak sabar ingin bertemu Miku. Sayangnya, dia tak mendapat info apa pun dari anak buah ayahnya mengenai keluarga Miku.


Sebuah mobil sport merah menyala metalic Ferari Enzo berhenti di depannya, lalu keluar sosok lelaki 40 tahunan sambil menyerahkan kunci mobil sport itu pada Ryu. Mereka manaiki mobil itu.


"Lagi-lagi mobil ini! Dulu waktu di Berlin kita sering jalan-jalan dengan mobil ini." Yue manyun karena dia ingin naik mobil yang lain. Ryu tidak hanya ada satu melainkan banyak. Tapi sepertinya Ryu paling menyukai mobil sport satu ini.


"Dulu pertama kali ada mobil sport ini saat aku SMA dan Miku begitu menyukai mobil ini. Katanya menyenangkan seandainya bisa berkendara dengan cepat. Karena itulah aku meminta Dad untuk membelikan mobil ini."


Yue tersenyum sinis. "Itu alasannya?"


"Ya."


"Pantas saja waktu itu kau marah saat aku menempel stiker Lucas di mobil ini."


"Ini mobil kesayanganku. Tak peduli siapa, jika ada yang menyentuhnya akan kugantung dia di menara Tokyo nanti. Jika kau ingin menempel stiker aktor itu, tempel saja di jidatmu!!"


Yue mendumel.


"Makanya jangan macam-macam dengan Ace." Ryu sangat menyayangi Ace. Ia membeli kembali ferari enzo merah itu dengan harga berkali-kali lipat agar pemilik sebelumnya mau menjual padanya.


Mobil itu melaju cepat menuju rumah yang sudah dibeli Ryu jauh hari sebelumnya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Satoshi melipat kedua tangannya sebal melihat seorang lelaki yang gigih menunggu ibunya. Bibir anak muda itu membentuk senyuman kecut.


Di antara semua lelaki, mungkin serangga yang satu ini yang paling bandel Satoshi usir. Bahkan cara bicaranya seperti membacakan puisi anak SD.


1 bulan lalu..


Lelaki itu datang dengan bunga Back Mew Jack dari Eropa yang melambangkan tanda persahabatan sembari berkata. "Cintaku sedalam lautan pada ibumu."


Satoshi meliriknya datar dan membalasnya dengan tak berperasaan. "Lautan bisa surut!"


2 minggu lalu ...


Lelaki itu datang sambil membawa bunga Dandelion dari Belanda yang melambangkan ingatan yang sempurna. "Cintaku sebesar gunung pada ibumu."


Jawaban Satoshi. "Gunung bisa meletus!"


Minggu lalu ...


Kembali lagi lelaki itu datang dengan bunga Mawar merah khas Irlandia. "Cintaku setinggi langit pada ibumu."


"Langit bisa runtuh! Paman, hentikan puisimu itu! Aku merinding mendengarnya! Dan jangan bawa bunga aneh-aneh lagi. Satu lagi." Tatapnya kesal. "Bunga yang cocok untukmu hanya satu. Bunga Bakung! Mengerti?" cerocosnya kesal hingga menyebut bunga bakung yang melambangkan bunga kematian.


Namun kini serangga itu kembali datang sekarang.


"Sudah kukatakan ibu sedang di luar kota."


"Aku akan menunggunya Satoshi."


"Pergilah," ujar Satoshi sabar.


"Tapi bungaku ini harus aku berikan sendiri pada ibumu," ujar lelaki culun itu. "Bunga Anemone ini aku dapatkan dari mendaki di gunung Fuji hanya untuk ibumu."


"Cih ..." Satoshi membuang wajahnya geram. Bunga Anemone melambangkan arti aku mencintaimu. Hari ini dia sudah 2 kali menemui


serangga macam dia. "Kalau begitu berikan bunganya padaku, nanti aku sampaikan salam Paman."


Satoshi jadi gemas. "Pergilah nanti aku beritahu ibuku!"


"Tapi ...."


"Akan kuberitahu ibu kalau Paman kemari tapi jika jisan pergi."


Lelaki itu putus asa. Mau tak mau dia pergi sambil menggerutu.


Satoshi menatap langit jenuh. "Ayah! Lihatkan, aku setiap hari harus mengusir para serangga itu. Aku bosan. Apa ayah tidak mau membantuku? Kirimlah seseorang padaku!" keluhnya.


🌷🌷🌷🌷


Tiga hari di Tokyo membuat Yue benar-benar menikmati pemandangan indah sakura. Gadis itu suka sekali pergi ke Akibahara yang terkenal akan surganya para waibu. Kemaren dia memaksa Ryu melakukan couple cosplay Kenshin si Battosai dan dirinya memakai kimono kuno meniru cosplay Kaoru. Alhasil banyak mata yang menatap mereka dengan tatapan memuja, terlebih wajah Ryu yang kelewat cool dan tak mau tersenyum. Pria sombong itu berkali-kali mengibarkan bendera perang pada Yue, namun gadis itu berdalih hanya cosplay yang bisa sedikit demi sedikit melupakan Leon. Dan ... Ryu luluh. Demi melupakan Leon. Akhirnya si pria pembenci makanan manis itu membelikan Yue mobil sendiri dan bebas melakukan cosplay apa pun asal tidak mengajak dirinya.


Ryu menepikan mobilnya sejenak di depan kantor polisi. Tadi Yue menelponnya dari kantor polisi dan mengatakan bahwa dia kecopetan. Saat ini si gadis Jerman itu masih memakai kostum Dewi Karin. Rambut ikal kecokelatannya dikepang dua. Baju putih seksinya yang berlapis-lapis, tak lupa sebuah tongkat ia pegang. Ia tersenyum menyapa Ryu.


"Kostum apa lagi yang kau kenakan itu?" Ryu menatapnya sebal.


"Dewi Karin."


"Saudara Anda keluar memakai baju cosplay dari Akibahara." Polisi itu melirik Yue yang tersenyum manis.


"Maafkan saya, kami lama tinggal di Jerman dan tidak mengetahui peraturan itu."


"Baik, itu tidak terlalu penting. Tapi bagaimana bisa kau membiarkan dia membawa mobil sendiri tanpa SIM, apa Anda tahu itu berbahaya bagi gadis di bawah umur?"


Yue berdecak sebal. "Aku sudah bilang, di dalam Akibahara aku kecopetan, tanpa sadar mengejar pencopet itu memakai mobilku. Mereka tidak percaya jika aku sudah punya SIM. Dipikir aku masih anak SMA."


Ryu menghela napas. "Saya ingin masalah in cepat selesai. Mohon kerjasamanya. Saya akan membayar dendanya."

__ADS_1


Polisi itu menyodorkan map yang berisi kertas agar ditanda tangani. Sejenak Ryu menatap para polisi itu. "Catat baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya." Sembari menunjuk Yue yang memain-mainkan tongkatnya dia berkata, "Namanya Yue Hikaru dan usianya 15 tahun, jika melihat dia berkeliaran mohon antar ke rumah." Ryu menyerahkan kartu namanya lalu menarik gadis itu keluar.


Yue yang mendengarnya melotot karena Sasuke menyebutnya berusia 15 tahun. Apa-apaan dia. Sang balerina mengomel tapi Sasuke memasang wajah tak acuh.


Mereka sudah dekat dengan Ace, namun yang terjadi sebuah bola basket terbang di depan mereka dan mendarat di kaca ferari enzo merah. Kaca mobil itu retak. Pasti tendangan itu sangat dahsyat.


🌷🌷🌷🌷


"COPET!!" Seorang wanita tua berteriak saat tas yang dibawanya dibawa lari seorang laki-laki.


Satoshi yang kebetulan berjaga di kedai buble tea itu melihat pencopet itu, dia pun berlari mengejarnya.


"Minggir!" Pencopet itu menghalau setiap yang di depannya dengan garang. Satoshi terus mengejarnya meski jarak mereka lumayan.


"Jangan harap kau bisa kabur." Satoshi tersenyum begitu ada bola menggelinding ke arahnya. Bola basket!


"Kakak ... bisa lempar bolanya?" teriak anak yang sedang bermain basket itu.


"Aku pinjam sebentar!" teriak Satoshi. Mereka yang melihatnya heran karena Satoshi mengambil ancang-ancang hendak menendang bola itu. Apa tidak salah?


Wuuuzzh ...


Bola basket itu meluncur bak peluru yang baru keluar dari sarangnya. Menembus sasaran. Lalu..


PRANG!!


Bola itu memantulkan dirinya dengan keras ke arah kaca mobil sport merah yang terparkir di pinggir jalan. Kaca mobil itu pecah!


Pencopet itu tak sadarkan diri akibat tembakan bola Satoshi yang mengenai kepalanya dengan keras lalu memantul pada kaca mobil hingga pecah.


"Mati aku ...," ujar Satoshi ketakutan melihat kaca mobil sport itu pecah. Matanya fokus pada mobil bukan pada pencopet yang terkapar tak berdaya.


Yue yang masih mengomeli Ryu memekik kaget. Dia berlari ke arah mobil itu. "ACE!" teriaknya kaget. Gadis itu menatap sosok pemuda di depannya. "Kau ..." Kata-katanya tercekat seketika saat melihat seorang pemuda tak sadarkan diri di dekat mobil sport itu. Pemuda yang sudah mencopetnya tadi.


Dari jauh Satoshi berlari ke arah Yue, ia membungkuk takut. "Maafkan aku! Aku tidak sengaja."


Yue mengeleng menatap hasil perbuatan pemuda di depannya itu. Dia menangkap pencopet itu dengan menghancurkan Ace! Sang balerina tanpa sadar mengacungkan kedua jempolnya. "ITS AMAZING, MAN!!"


Satoshi menengadahkan wajahnya heran. Padahal dia sudah siap menerima rentetan makian dari pemilik mobil ini. "Mobilmu?"


Dia membuat mobil ini rusak. Wuah ... akhirnya aku bisa melihat Ace yang sombong ini sebentar lagi jadi rongsokan. Yue terkikik pelan. Kekesalannya pada Ryu terbayar sudah dengan hancurnya kaca mobil ferari enzo ini.


"Kau apakan mobilku?" Tiba-tiba sebuah suara terdengar dingin dan sinis menusuk gendang telinga mereka. Ryu muncul di antara mereka. Dia menatap Ace-nya sejenak lalu beralih pada Satoshi yang mundur selangkah karena takut mendengar suara pria yang begitu menggetarkan hatinya.


Mereka saling menatap dalam diam. Ada rasa sakit yang menjalar di hati mereka dan tak bisa didefinisikan saat keduanya saling menatap.


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


To be Continued


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya


Menerima kritik dan saran yang membangun 😄😄


___________________________________


Selasa, 23 Juni 2020


___________________________________

__ADS_1


Klik, please


👇


__ADS_2