Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[41] Sesak


__ADS_3

Miku hanya bisa terdiam. Lama sekali. Dia bersama Masaya duduk di taman rumah sakit.


Taman rumah sakit yang sangat indah dan banyak sekali bunga. Entah sudah berapa air mata yang dikeluarkan hingga saat ini dia sudah tak bisa menangis lagi.


Masaya menatap lurus istrinya yang pandangan matanya kosong. Mungkin Miku merasa dirinya adalah wanita paling bodoh di dunia karena tak menyadari penderitaan suaminya. "Miku," sapa Masaya memulai pembicaraannya.


Miku tetap bisu. Ia bergeming, meski Masaya menyentuh tangannya.


Pria itu tersenyum paksa. "Apa yang kau takutkan, Miku? Kenapa sampai menangis seperti itu? Apa karena penyakitku?"


Lagi-lagi Miku hanya bungkam, tubuhnya mulai gemetar.


"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" Tatapnya lembut, "aku janji ini yang terakhir."


Mendengar kata yang 'terakhir' tangis Miku kembali pecah. Dia begitu sesegukan. Terakhir? Anata ... benarkah kau akan meninggalkanku? Tuhan ....


Melihat Miku yang kembali menangis hingga tubuhnya terguncang karena dirinya, Masaya semakin sedih melihatnya. Ia mendekap tubuh istrinya itu erat. "Maafkan aku." Tanpa sadar air mata pria berambut hitam itu ikut turun membasahi pipi. Hatinya lebih sakit melihat istrinya menangis sampai seperti itu.


"Anata, kau jahat ... se-kali!" Tangis Miku pecah, terisak-isak seperti anak kecil yang ditinggal ibunya. Dia memukul dada Masaya pelan seolah menumpahkan rasa sesak yang bergumul di dadanya. "Kenapa kau menyimpannya sendiri?" Miku mendongak manatap wajah suaminya yang sendu.


"Maaf,"


"Padahal kita ini kan keluarga ... kenapa kau ... menanggungnya sendiri ... hingga membuatku seperti istri bodoh," isak Miku masih menangis hebat. Sesaat kemudian dia menatap ke dalam retina sendu itu. "Anata ... bagaimana jika menjalani operasi? Jika kankernya diangkat kau akan sehat kembali, kan?"


Masaya menggeleng pelan. "Dokter Shigeru berkata, katanya sudah menjalar,"


Setetes darah kembali lolos dari hidung Masaya yang mana membuat Miku panik.


Masaya hanya mengusapnya menggunakan baju tidur khas Sone klinik, membuat warna merah itu mengotori pakaiannya. "Aku tidak apa-apa. Ini sudah sering terjadi."


Napas Miku jadi sesak. Sekuat tenaga dia berusaha untuk tetap bernapas normal. Takut mendengar kelanjutan kata-kata suaminya. Tangannya mengepal erat hingga bergetar.


"Kanker itu sudah menjalar ke sini." Lanjutnya sambil membawa telunjuk Miku ke dadanya. Kau pasti sudah mengerti, kan?"


Seluruh aliran darah Miku seakan turun ke bawah. Kalau begitu ... kanker itu sudah mengganas dan sudah menyerang paru-parunya. Hanya ada satu kesimpulan. Yaitu kematian.


"Miku,"


"Bohong, aku tidak percaya." Miku menggeleng kuat.


"Tapi itulah kenyataannya." Masaya menghapus air mata yang turun dari bola mata istrinya lembut.


"Anata!" Miku kembali menangis hebat, bahkan lebih gila dari reaksinya tadi. Berkali-kali dia berkata 'Ini bohong! suamiku tidak sakit. Semua hanya mimpi. Dokter Shigeru pasti salah mendeteksi.' Bahkan Miku sampai menyalahkan Tuhan yang mungkin keliru menulis takdir.


Masaya membelai rambut panjangnya. "Aku juga benci penyakit ini ... sangat benci," katanya pelan, "karena penyakit ini orang-orang di sekitarku menjadi sedih dan menangis memikirkannya."

__ADS_1


"A-anata ...." Air matanya kembali menetes kala ia memejamkan matanya. Tak sanggup menyingkirkan beban berat di hatinya saat ini. Susah sekali berucap.


"Jangan menangis. Aku benci melihatmu menangis," ujar Masaya sambil menghapus air mata Miku kembali.


"Bagai ... bagaimana ...aku tidak menangis melihatmu ... menderita sendiri? Aku tidak mau kehilanganmu. Aku ... aku tidak mau!! Cukup Ryu ... yang meninggalkanku, aku tak mau kau juga meninggalkanku." Tangisnya hebat di antara sedu sedannya.


"Miku." Masaya mengguncang tubuh istrinya yang kembali sesegukan.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku benci takdir ini!!" Miku menjerit histeris. "Aku tak mau kehilanganmu!"


"Miku." Masaya berusaha menenangkannya. "Aku juga tidak mau seperti ini." Ditatapnya wajah istrinya dalam-dalam sembari menyentuh pipinya dengan kedua tangannya. "Sungguh aku tak mau seperti ini." Masaya menggeleng.


"Anata ..."


"Tapi ini sudah garis hidupku, mau tak mau aku harus menjalaninya. Tuhan sudah menetapkan takdirku."


Miku menyentuh pipi suaminya. "Kenapa kau bisa sekuat itu? Aku ... aku tak bisa sekuat dirimu."


Masaya tersenyum getir. "Aku pun juga takut dan lemah, tapi aku tak mau ditangisi. Aku tidak mau." Pria Fujimine itu tidak tahu harus berbuat apa. Digenggangnya tangan Miku erat. Mereka saling menatap lama dan air mata mereka menetes. Masaya masih diam seribu bahasa lalu dia melepas cengkraman tangan itu.


Baru kali ini Miku melihat wajah suaminya yang penuh duka. Di matanya tergenang air mata. 'Anata ... air mata apakah itu? Kau pun ikut menangis ... air mukamu yang belum aku lihat sebelumnya. Penuh kesedihan, tegang dan muram. Anata ... haruskah kita berpisah seperti ini? Tuhan ... takdirmu sungguh menyakitkan!


"Jangan tangisi aku," ujar Masaya dengan ekspresi datar. Wajahnya tersenyum kecut. Lalu pandangan matanya berubah menjadi keras dan gelap. "Ada yang mengatakan, kalau seseorang pergi meninggalkan kita, itu artinya separuh hati kita pun akan dibawa pergi." Masaya berdiri dari duduknya. Dia menatap langit biru di atas. Lalu pandangan matanya turun menatap mata istrinya.


"Saat Ryu meninggalkamu, setengah dari hatimu dibawa pergi olehnya, dan sebentar lagi aku pun akan meninggalkanmu ..."


Masaya tersenyum dibuat-buat. "Tapi tenang saja aku tidak akan membawa separuh hatimu pergi bersamaku," katanya bersungguh- sungguh. "Tapi sebagai gantinya, kembalikan


separuh hatiku yang kau ambil itu agar aku bisa pergi dengan tenang dan kau tak menangisiku. Kau bisa, kan?"


Miku berdiri. "Dengan apa ... dengan apa aku harus melakukannya?" tanyanya lirih.


"Pergilah dari hidupku."


Miku menggeleng. "Itu tidak mungkin!" jeritnya kesal.


"Jangan keras kepala! Apa kau pikir kau sanggup mengantarku pada kematianku nanti?"


"Aku harus sanggup, meski nantinya aku akan berteriak hebat jika kita sudah benar-benar berpisah. Karena itu, aku akan tetap di sampingmu agar aku bisa mengantarkan kematianmu nanti. Aku pasti sanggup! Bukankah kau berkata aku ini wanita yang kuat!" jawab Miku tegas meski tak berperasaan.


Mereka saling membisu.


Anata ... maafkan aku. Di depanmu yang sekarat ini aku berkata akan mengantarkan kematianmu. Tuhan ... apa yang barusan aku ucapkan ini? Tak ada kata yang lebih kejam dari ini. Pada seorang malaikat sepertinya. Rasanya dadaku akan meledak.


Perlahan tubuh Miku merosot saat mencengkram baju Masaya. Ia terduduk begitu saja usai berkata seperti itu. "Anata ... dadaku sakit sekali ... dada ini sakit ..." Miku memukul dadanya pelan sembari sesegukan.

__ADS_1


Masaya diam melihat Miku yang meraung-raung dan mengatakan bagian dadanya terasa sakit. Hatinya ikut tercubit melihat wanita yang ia cintai menangis seperti itu. Menangisi dirinya karena kanker. "Miku,"


Wanita itu mendongak. "Kenapa dadaku sakit sekali?" Air matanya kembali turun. "Kami masih membutuhkanmu."


Masaya mengepalkan tangannya.


"Miku," panggilnya sembari mengajaknya berdiri.


Anata ... Miku menabrak tubuh itu lalu memeluknya erat. Senja sore mulai nampak, bahkan matahari sudah mulai tenggelam meninggalkan siang dan berganti malam.


Mereka saling menangis dalam kebisuan.


Diam-diam Dokter Shigeru ikut terenyuh melihat mereka. "Tuhan ... kau akan memisahkan mereka secepat itu?" Dokter muda itu berlalu pergi karena tak sanggup melihat penderitaan mereka.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


________________________________


Senin, 22 Juni 2020


____________________________________


Klik, please

__ADS_1


👇


__ADS_2