Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[52] Lupakan Aku, Miku


__ADS_3

Ryu menatap pantulan wajah tampannya di cermin. Rambutnya yang gondrong sebahu dia ikat kembali. Setiap pagi Yue dengan sabar menyisir rambutnya. "Kenapa kau tak memotongnya?"


"Untuk saat ini aku suka style panjang. Tapi aku tetap tampan, kan?"


"Ya, Kakakku paling tampan di dunia."


"Dibanding Leon?"


"Ge!!" Yue menjerit kesal hingga reflek dia menarik rambut Ryu dan membuatnya berteriak kesakitan. Dengan mulut yang masih mengomel dalam bahasa mandarin Yue keluar dari kamar Ryu.


"Kenapa harus menyebut namanya di depanku? Aku bahkan sangat muak mendengar namanya."


"Oh ya?" Ryu tiba-tiba muncul di belakangnya. "Syukurlah jika kau sudah mulai membencinya. Tapi aku tidak yakin kau benar-benar membencinya. Bukankah kau rela mati demi ******** itu?"


"Kak!"


"Siapa pun orangnya akan aku beri dia nilai plus jika sudah bisa melupakanmu pada sosok Leonard Piscassio itu. Yeah, siapa pun itu." Lanjut Ryu sambil berlalu dan tersenyum sendiri.


Yue masih manyun. Dia memejamkan matanya kesal. Dan saat pikirannya mulai tenang tiba-tiba muncul bayangan sosok yang sering menggodanya. Yang sering berkata :


'Siap-siap saja kakakmu patah hati lalu menangis meraung-meraung melihat kekasihnya digandeng pria lain.'


'Si bujang lapuk mengejar cinta ke Jepang!'


'Aku lebih tampan dari Lucas Hikaru.'


Yue terlonjak kaget dan membuka matanya. Astaga ... Kenapa wajahnya yang muncul?


"Siapa itu Leon?" Tiba-tiba Satoshi mengagetkannya. Remaja itu nyengir mirip kuda saat melihat wajah Yue yang berkerut-kerut kesal.


Sang balerina memalingkan wajahnya. "Bukan siapa-siapa."


Satoshi tersenyum geli. "Mantanmu? Aku betul, kan?"


"Bukan urusanmu?"


"Waow, kau pasti masih menyukainya." Satoshi tertawa menggoda sambil berlalu. Sebelum menghilang, remaja itu menoleh lagi. "Jangan serius, aku hanya bercanda."


Yue mengejarnya. "Hei, Satoshi Fujimine, jika kau berani menyebut nama itu lagi akan kupatahkan lehermu."


"Baik, aku tidak akan menyebut nama itu lagi." Satoshi berlalu, ia memasuki kamarnya untuk berganti pakaian.


Tiba-tiba Ryu muncul.


"Yue, aku lupa tanggal besok ulang tahunmu, kan?" tanyanya memastikan.


Yue mengangguk. "Aku ingin Lamborgini terbaru, bisa Kakak kabulkan keinginan Tuan Puteri ini?"


Ryu tersenyum menyeringai, sudah bisa menduga keinginan gadis itu. "Itu gampang." Dalam hati pria itu tertawa, karena sesuai janjinya dulu. Jika Yue tak jadi menikah dengan Leon dia akan membelikan Yue lamborgini putih. Dia menuju kamar Satoshi. "Satoshi, besok kau boleh libur dan pulang karena aku dan dia akan keluar."


"Benarkah?" tanya Satoshi berbinar karena besok adalah ulang tahun Isao.


"Ya," jawabnya singkat. Lalu Ryu berlalu begitu saja.


Satoshi keuar dari kamarnya, berlari mencari Yue. "Kakakmu akhir-akhir ini sudah tidak marah-marah lagi. Itu tanda tanya besar bagiku."


"Tentu saja karena dia sudah bertemu pacarnya. Dia akan melamar pacarnya."


"Astaga, percaya diri sekali, memangnya pacarnya masih mau?" Dan satu pukulan keras mendarat di jidat Satoshi membuat remaja itu berteriak kesakitan. "Kau kasar sekali! Jika sikapmu seperti itu, siapa yang mau menjadi suamimu."


"Masih ada Lucas!" Pelotot Yue tajam, "aku harap pacarnya mau menerimanya setelah masa-masa berat yang kakak alami. Dia adalah laki-laki paling kuat dan paling setia di dunia."


Satoshi mengusap bekas pukulan Yue di jidatnya. "Omong-omong ... melihat sifatnya yang seperti itu, aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi padanya hingga dia terlihat angkuh, sombong dan menyebalkan?"


"Kakak pernah kecelakaan lalu koma dan lumpuh bertahun-tahun." Kenangnya pahit. "Kau tahu, saat dia kecelakaan umurku baru 6 tahun, setahun koma. Lumpuh 13 tahun. Hebat bukan jika dia masih bertahan sampai saat ini?"


Entah kenapa tiba-tiba Satoshi jadi merinding. "Selama itu?"

__ADS_1


"Ya. Daddy-nya memisahkan dia dari pacarnya demi impian lelaki tua itu, yaitu menjadikan kakak atlet sepak bola terkenal. Dia dikirim ke Itali dan dipaksa putus dengan pacarnya. Ternyata pacarnya hamil dan kakak tahu setelah 3 bulan di Itali."


"Lalu?" Satoshi semakin tertarik.


"Kakak nekat kembali ke Jepang setelah bertengkar hebat dengan ayahnya. Sialnya dia mengalami kecelakaan hingga dia koma setahun." Yue terus bercerita hingga membuat Satoshi mulai mengagumi sosok Ryu Hikaru yang begitu gigih dalam perjuangan hidupnya.


"Syukurlah mereka bertemu. Jujur aku tak suka dengannya itu, tapi setelah mendengar ceritanya aku jadi terharu. Aku salah menilai tentangnya, ternyata dia sangat setia. Jika aku di posisinya mungkin aku lebih memilih mati." Satoshi menatapnya. "Tentunya kakakmu bersihkeras hidup karena adanya malaikat di sampingnya. Kaulah malaikat itu."


Yue tersenyum.


🌷🌷🌷🌷


Miku duduk termenung. Pikirannya kacau. Dia tak percaya Ryu kembali ke Jepang. Dia juga tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu saat ini. Entah kenapa dia jadi teringat mendiang suaminya.


"Anata ... tolong aku ...," isaknya pelan.


"Kenapa Ibu menangis?" tanya Isao yang berada di depannya. Bocah itu menatap ibunya.


Miku menghapus air matanya, dia tersenyum menatap wajah Isao yang selalu mengingatkannya pada Masaya. "Ibu hanya rindu pada ayah." Dipeluknya Isao. Sejenak dia melepas pelukannya lalu menatap lekat-lekat wajah copy-an mendiang suaminya itu. "Kau tahu, wajahmu benar-benar mirip ayah. Mulai dari mata, hidung, mulut ... semuanya sama seperti milik ayah."


"Benarkah?"


"Ya."


Isao memeluk ibunya. Bocah itu agak lupa seperti siapa wajah ayahnya. Yang dia ingat rambut ayahnya hitam. Dan yang pasti dia tahu bahwa ayahnya sudah bahagia di surga.


"Kalau Ibu menangis, ayah pasti sedih melihatnya."


"Ibu hanya merindukan ayah, Isao." Diusapnya wajah putranya sebentar. Terkadang Miku menemukan Isao tertidur sambil memeluk foto Masaya.


"Kita ke makam ayah sekarang. Besok, kan ulang tahunku."


"Ya. Cepat ganti bajumu."


Kurang lebih satu jam, akhirnya mereka tiba di pemakaman umum.


Mereka sampai di tempat tersebut. Miku menggandeng tangan Isao.


"Wah kebetulan sekali, Isao. Apa kau rindu ayahmu?"


"Tidak, tapi ibu yang rindu." Isao tersenyum. "Kalau pun aku merindukannya ayah tak akan datang." Lanjutnya polos.


Shun membelai rambutnya. "Rupanya Isao sudah dewasa, ya."


Isao tersenyum. "Paman, besok aku ulang tahun. Paman datang ke rumah ya?"


"Apa artinya kau mengundangku? Baiklah Paman akan datang."


"Asyik." Isao terlihat gembira. "Paman, sebenarnya surga itu ada di mana?"


Untuk sesaat Shun dan Miku terdiam. "Kenapa?"


"Kata temanku surga itu di atas langit. Apa itu artinya surga itu berada di tempat yang tinggi?"


"Eh ... mungkin," jawab Shun bingung. "Karena Paman belum pernah ke surga."


"Kenapa?" Kejar Isao.


"Karena ... surga hanya untuk orang-orang terpilih. Seperti ayahmu."


Isao hanya mengangguk. "Berarti ayah orang yang hebat karena terpilih masuk surga."


Shun mengangguk. Mereka tidak tahu apa yang direncanakan anak kecil itu dengan bertanya seperti itu.


🌷🌷🌷🌷


Sore harinya Miku kembali mengunjungi makam Masaya sendiri. Ia meletakkan bunga di makam bertuliskan Masaya Fujimine.

__ADS_1


"Anata, apa kabar?" sapanya lirih. Genangan air matanya mulai membendung di pelupuknya. "besok Isao kita berulang tahun ke-7. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Kau lihat sendiri, kan?" Lanjutnya lirih. "Anak-anak merindukanmu. Terlebih ... aku." Turun sudah air mata Miku.


Miku menutup mulutnya sambil terisak. "Aku sangat merindukanmu anata ... sungguh." Tangisnya mulai keras sampai bahunya bergetar.


Tiba-tiba angin bertiup kencang


menyapanya, hingga Miku membuat perisai di wajahnya karena debu yang beterbangan. Saat kembali membuka matanya dia mendapati sosok mendiang suaminya berdiri dua meter di depannya.


Dia ... Masaya Fujimine, berdiri di depannya.


"A-a-anata," katanya tak percaya. "Anata ...."


Pria tampan itu tersenyum menghampirinya. Mengenakan pakaian putih bersih. Wajahnya bersinar dan pucat sama saat terakhir kali Miku melihatnya di dalam peti mati empat tahun lalu.


"Miku." Pria itu berjalan pelan ke arahnya. Begitu mereka dekat, Masaya menggapai wajahnya. Ia menghapus air mata itu. "Sudah aku katakan, jangan menangis. Itu melukaiku."


Miku menghambur ke dalam pelukan Masaya dan menangis keras. Berkali-kali dia mengatakan kalau sangat merindukannya.


Masaya membelai rambutnya. "Aku percaya kau sangat mencintaiku. Aku sudah bahagia." Masaya menangkup wajah jelita itu, mencium keningnya. "Tapi aku mohon cukup sampai di sini kau mencintaiku. Jangan sampai kepergianku meninggalkan kesedihan yang mendalam hingga membuat


kebahagianmu jauh. Ingatlah kau masih punya tanggung jawab pada Satoshi. Kau harus bisa memulai hidup baru. Lupakan aku."


Miku menggeleng. "Aku tak bisa."


"Lalu bagaimana dengan anak-anak kita? Mereka membutuhkan sosok pengganti."


"Di hatiku kedudukanmu tak bisa digantikan!" potongnya cepat.


"Tidak, Miku. Hidup tidak sesederhana itu." Mata arang itu menatap ke dalam retina sang istri. "Mereka membutuhkan sosok pengganti. Mereka kesepian."


"Anata ...."


"Dia datang untukmu. Ryu datang mencarimu. Dialah masa depanmu."


"AKU MEMBENCINYA!"


Masaya tersenyum. "Kau masih mencintainya," ujarnya meyakinkan. Didekapnya tubuh Miku erat. "Demi aku dan anak-anak kembalilah pada Ryu. Dia masa depanmu." Perlahan Masaya menutup mata Miku dengan tangannya. Dia menghapus sebagian kenangan bahagianya bersama Miku lalu mengganti dengan kenangan indah dimana saat Miku bertemu Ryu.


"Kau harus bahagia. Sebagian hatiku, kubawa kembali. Berbahagialah, Sayangku," bisiknya Masaya bergetar. Perlahan tubuh jangkung itu mulai menghilang seperti kabut lalu lenyap tak tersisa.


"Anata ...." teriak Miku begitu membuka matanya.


Sepi.


Suasana pemakaman itu sepi, hanya terdengar suara angin. Perlahan dia menatap langit. Entah kenapa pikirannya sedikit tenang namun seperti ada yang hilang dari pikirannya. Miku beranjak meninggalkan tempat itu.


🌷🌷 To be Continued 🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda likeΒ  [πŸ‘] usai membacanya, ya πŸ˜„πŸ˜„


Menerima kritik dan saran yang membangun 😊😊


__________________________________


Senin, 29 Juni 2020


___________________________________

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2