
Masaya berlari ke luar rumah dan berteriak-teriak memanggil nama Kyoko. Seakan gila pria itu berlari ke sana ke mari mencari si gadis blonde karena tak ketemu.
"KYOKO!" Masaya berteriak keras begitu melihat Kyoko sudah memasuki sebuah taxi yang membawanya pergi. Pria Fujimine itu bagai orang gila menyetop taxi di tengah jalan lalu menyuruh pak sopir mengejar taxi yang dia maksud.
Di belakang Masaya, Miku menatapnya sedih. Ternyata memang tidak mungkin. Kau memang lebih memilih Kyoko. Dipeluknya Satoshi yang menangis itu. "Satoshi, ayo kita pulang ke rumah ibu," ujarnya pada bayi tampan itu, setelahnya ia mencari bus dan pulang ke rumahnya.
π·π·π·π·
Sementara di bandara Narita.
Masaya berlari mencari sosok Kyoko, begitu dia menemukan gadis itu, ia segera menghampirinya. "Kyoko Hasekawa!" panggilnya dengan napas yang masih diburu karena capek habis berlari. Ditatapnya gadis itu lekat-lekat.
Kyoko tersenyum, dia yakin kalau Masaya pasti memilihnya. Saat ia mendengar Masaya menikah dengan wanita lain, hatinya remuk, terlebih Masaya menikahinya bukan karena cinta tapi karena kasihan.
"Masaya," ujarnya senang, ia pun berlari ke arah sang pujaan hati.
Sejenak, pria tampan itu menenangkan napasnya. "Aku belum selesai bicara, kenapa kau pergi seenaknya?" Pemuda itu menatap mata Kyoko dalam-dalam, "aku mencintaimu."
Gadis itu terdiam. Hatinya menghangat.
"Ya, aku sangat mencintaimu. Di hatiku kau adalah orang istimewah, yang paling penting dalam hidupku," lanjut Masaya, disentuhnya pipi gadis blonde itu lembut, "tapi maafkan aku, itu sudah dulu, dan sekarang tempat itu sudah tergantikan orang lain. Aku benar-benar mencintainya."
"Ma-Masa-Ya ..." Kyoko tercekat tak percaya.
Masaya tersenyum kaku. "Tidak tahu sejak kapan dia sudah mulai menguasai hatiku, tapi saat melihatnya pergi dari rumah, aku merasa hancur. Bahkan lebih hancur saat daddy-mu menghinaku dulu. Aku mencintainya. Aku tak mau kehilangan dia. Dia ... dia tidak hanya mencuri hatiku, tapi dia sudah merampok hatiku sepenuhnya."
Air mata Kyoko menetes, dia berusaha tersenyum. "Lalu kenapa kau mengejarku, bukan mengejarnya?"
"Untuk mengakui perasaanku yang sebenarnya, agar kau tahu bahwa aku pernah mencintaimu dan sekaligus mengakhiri semuanya. Maafkan aku."
Gadis itu memalingkan wajahnya. "Kau pasti akan menyesal suatu hari nanti karena sudah menolakku."
"Ya, aku tahu, tapi aku harus memilih, dan pilihanku adalah dia. Hiduplah dengan bahagia tanpaku."
Gadis setinggi 165 senti itu memaksakan senyumnya. "Tentu, aku akan bahagia. Aku akan mencari pria yang lebih baik darimu---" tapi aku ragu tak bisa menemukannya yang seperti dirimu.
Masaya membungkuk hormat lalu
meninggalkannya. Pria itu berlari menuju kediaman Higashiyama. Menjelaskan kesalahpahaman dan akan mempertahankan rumah tangganya.
Kyoko menatapnya nanar. "Masaya, bukan kau yang kalah dari takdir, tapi aku."
Air mata itu menetes kembali.
π·π·π·π·
Sialnya, langit menjadi mendung dan gerimis mulai turun, Masaya akhirnya tiba di kediaman Higashiyama. Gerbang rumah yang tinggi menjulang itu tertutup.
"Miku, kau mendengarku? Buka pintunya!" teriak Masaya yang entah sudah keberapa kalinya. Tubuhnya menggigil kedinginan karena hujan yang terus tanpa ampun mengguyur tubuhnya.
Di dalam kamarnya, Miku duduk menyandar pada belakang pintu sambil memeluk lututnya. Kyoko ... Masaya ... aku benar-benar membenci kalian semua! Aku juga benci pada diriku sendiri yang malah jatuh cinta padamu, Masaya!!
"Miku, aku mohon buka pintunya!" teriakan Masaya kembali menggelegar meski masih kalah dengan suara petir dari luar. Gerbang keluarga Higashiyama berkali-kali digedor hingga bising. Namun, tak satu pun ada yang membukanya. Miku mendengar, tapi dia menutup kedua telinganya rapat-rapat.
"Miku, keluarlah. Temui suamimu." Suara sang ayah memperingatinya. Tubuh jangkungnya sedang menggendong Satoshi. "Ini urusan kalian berdua, sebagai orang tua aku tak berhak ikut campur masalah rumah tangga kalian."
"Biarkan saja! Ayah ... kumohon ... aku ingin sendiri."
Koichiro menghela napasnya. Dia yakin menantunya menggedor gerbang tua itu tidak menggunakan tangannya melainkan dengan kakinya.
"Miku, kau harus mendengar penjelasanku. Buka pintunya, aku mohon. Aku kedinginan!!" Kembali gerbang itu ditendang kesal dan suara putus asa Masaya.
Koichiro kembali menatap putri sulungnya datar. "Dengar, Miku! Aku tak akan membukakan pintunya. Urusan Masaya terserah padamu. Di luar dingin kecuali kau berniat suamimu mati membeku di luar!" Usai berkata seperti itu, pria itu keluar sembariΒ membawa Satoshi.
Miku sebenarnya tak tega, tapi rasa sakit di hatinya sudah mengalahkan semuanya. Istri mana yang bahagia melihat suaminya berciuman dengan mantan pacarnya.
"Miku, aku akan terus di sini sampai kau mau membukakan pintu untukku!" Lagi-lagi Masaya berteriak. Wajah pria itu semakin pucat karena dingin yang menyergap tubuhnya.
Wanita itu tak peduli, dia beranjak dari tempatnya menuju tempat tidur lalu memejamkan matanya. Ia tak peduli keadaan Masaya yang kehujanan di luar sana. Biarkan saja dia mati kedinginan.
__ADS_1
Hujan semakin deras.
π·π·π·π·
Esok harinya sekitar jam 8 pagi, Miku hendak keluar dari rumahnya. Begitu gerbang dibuka, Masaya tetap bersandar pada dinding gerbang satunya. Menahan dingin.
"Ma-Masaya?" ujar Miku kaget saat membuka pintu depan rumahnya. Masaya masih berdiri dan tak beranjak dari tempatnya sedikit pun. Tubuh itu bergetar hebat.
Pria bermata tajam itu tersenyum meski dia merasa tubuhnya sudah mati rasa, karena siraman air hujan semalam yang dingin. "Di sini dingin ... sekali ... kenapa kau ... baru membuka pintunya?" Bibirnya bergetar dan hampir terlihat biru.
"Kau bodoh!" Miku segera meraba tubuh suaminya. Tubuh itu dingin bagai es, wajahnya pun pucat. Tak mungkin Masaya tidur semalam melihat kondisinya saat seperti ini.
"Bodoh juga tidak ... apa-apa." Dipeluknya Miku erat, tapi pelukannya mulai mengendor. "Di sini dingin sekali ...."
BRUGH.
"Masaya!" Miku berteriak panik melihat Masaya tak sadarkan diri. Mendengar suara Miku yang menjerit panik, beberapa pelayan datang menghampirinya lalu menggotong tubuh Masaya ke dalam.
π·π·π·π·
Asklepios Klinik Barmberk, Hamburg, Jerman.
"Ryu ... you can hear me, Baby?" tanya Juana sambil menggenggam tangan putranya. Hampir dua tahun Ryu seperti mayat hidup.
Pemuda itu melirik ibunya sesaat, lalu pandangannya kembali pada langit-langit kamarnya. Tuhan, kenapa kau siksa aku seperti ini? Bukankah lebih baik kau ambil nyawaku, daripada kau
membiarkanku hidup, tapi dengan keadaan menyedihkan seperti ini? Air mata pemuda itu menetes.
"Aunty, bukankah Kakak Ryu sudah bangun, tapi kenapa masih tak mau bicara?" tanya gadis kecil cantik itu. Rambutnya hitam panjang. Matanya bundar tidak sipit dengan manik berwarna biru cerah. Kulitnya kuning.
"Kakak Ryu masih belum bisa bicara, Sayang. Teruslah di sampingnya dan temani dia." Juana mengelus kepala Yue.
"Di dongeng putri tidur, pangeran akan bangun kalau sudah dicium putri. Lalu siapa putri yang akan membangunkannya?"
Wanita berambut pirang itu tersenyum. "Putri itu masih ada di negeri yang jauh."
Yue mengangguk mengerti. Di dekatinya Ryu, lalu berbisik. "Kakak Ryu, aku akan mencarikan putri untukmu agar kau bisa bangun dan bisa bermain denganku. Aku janji." Gadis cilik itu mengikatkan jari kelingkingnya pada kelingking Ryu.
Yue tersenyum cerah.
π·π·π·π·
Sudah dua hari Masaya demam dan tak kunjung sembuh. Miku semakin bersalah melihat keadaan suaminya. "Maafkan aku, kau seperti ini gara-gara aku," ujarnya pelan sambil terisak, dia menggenggam tangan suaminya.
Perlahan Masaya membuka matanya karena tetesan air yang membasahi pipinya. Dia tersenyum. "Jangan menangis," ujarnya lemah.
Miku menghapus air matanya. "Kau seperti ini karena aku."
"Sudahlah jangan dipikirkan," Masaya bangun kemudian menghapus air mata itu, "sudah aku katakan, jangan menangis lagi, itu melukaiku."
"T-tapi ...,"
"... kau masih belum percaya padaku? Aku tak akan pernah mengkhianatimu. Aku pernah bilang, kan, kau boleh mati jika aku mengkhianatimu. Aku tak mungkin membiarkanmu mati setelah susah payah menyelamatkanmu dari insiden kereta api dulu."
"Tapi kau berciuman dengan ...."
Masaya menyentuh mulut itu dengan jarinya dan berkata, "Kami memang berciuman, tapi bagiku itu ciuman perpisahan. Tidak lebih."
Miku menunduk.
"Tak selamanya apa yang kau lihat itu benar, juga tak selamanya apa yang kau dengar juga benar. Melihat bukan berarti percaya. Mata dan telinga bisa salah. Percayalah pada mata hatimu."
Miku menatapnya. "Kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak tahu apa yang aku rasakan."
Masaya tersenyum. "Oh ya, apa yang kaurasakan? Bisa jelaskan padaku?" godanya.
"Kau!" Miku memukulnya sebal.
Pria Fujimine itu tertawa senang, disentilnya dahi sang istri pelan. "Anak bodoh. Untuk apa waktu itu aku berlari seperti mengejar setan saat melihatmu hampir ditabrak kereta api jika bukan karena aku mulai jatuh hati padamu?"
__ADS_1
Mata Miku terbelalak kaget. Dia tak berani menatap wajah suaminya.
"Miku, tatap mataku," perintahnya, tapi istrinya tetap menunduk, "hei, Miku Fujimine tatap mataku atau aku tak akan pernah menyatakan perasaanku padamu, heh?" Masaya mengangkat dagu itu dan menatap matanya.
"J-jangan seperti ... i-ini ...." Wanita itu semakin gugup. Jantungnya yang awalnya berada di zona nyaman, kini mendadak berdetak tak karu-karuan seolah mau meledak. Tubuhnya jadi dingin.
"Aku mencintaimu."
Hening tak ada suara. Mata mereka saling menatap.
Wajah Miku sudah semerah tomat.
"Aku jatuh cinta padamu, Miku Fujimine, istriku."
Miku memberanikan diri menatap Masaya. "A-aku juga ... aku..."
Masaya menutup mulut itu. "Aku sudah tahu. Terima kasih." Masaya memeluknya erat. Lalu dia
mencium kening sang istri lama. Pandangan mereka saling bertemu. Saat mulut mereka hampir mendekat dan tinggal satu centi mendadak pintu terbuka.
"Miku, dokter .... " Koichiro terdiam melihat adegan itu. Adegan panas yang baru saja dimulai tapi gagal karena ulah dirinya. Lelaki tua itu terlihat syok.
Baik Miku mau pun Masaya sama-sama kaget dan malu. Mereka berdua saling membuang muka dengan cepat dan Masaya terlihat santai.
"Ayah memanggil dokter?" tanya Masaya pura-pura tak peduli dengan kejadian barusan.
Lelaki tua itu menggeleng sejenak. "Sepertinya kau sudah sembuh. Lain kali tutup dan kunci pintu jika kalian mau seperti itu. Kalian ini membuatku jadi merasa bersalah dan tidak enak," ujar lelaki tua itu yang lebih tepatnya mengomel, "sudah lanjutkan saja." Kepala keluarga Higashiyama itu segera berlalu pergi dari kamar putrinya.
Di bawah terdengar suara Mina yang berteriak pada ayahnya jika Satoshi menangis karena buang air.
Miku terdiam malu, dia hendak keluar menemui putranya yang menangis tapi ditahan oleh suaminya. "A-aku akan ke b-bawah ... Satoshi ...."
"Ya? Satoshi kenapa?" Mata itu kembali menggodanya, "Ayah menyuruh kita melanjutkan."
"Masaya,"
Masaya tersenyum. Dia menarik Miku hingga menabrak tubuhnya lalu memeluk tubuh mungil sang istri. "Satoshi tidak apa-apa. Kau tetap di sini ... bersamaku. Kau harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu padaku."
"Eh?" Pipi Miku semakin merah. Tangannya pun dingin. Jantungnya bersalto-salto minta keluar.
"Sekarang, aku akan menghukummu," bisiknya nakal di telinga Miku. Pria itu membalik tubuh Miku hingga berada di bawah kendalinya. "Anak nakal, lihat saja hukuman apa yang pantas untukmu." Perlahan Masaya menunduk, menyentuh bibir mungil kemerahan tersebut. Lantas ... Miku menerima hukuman itu dengan suka rela. Matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang Masaya berikan padanya.
π·π·π·
π·π·π·To Be Continuedπ·π·π·
π·
π·
π·
π·
π·π·π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [π] usai membaca, ya π
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
__________________________________
Jumat, 8 Mei 2020
___________________________________
__ADS_1
Klik, please
π