Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[10] Garis Takdir


__ADS_3

Koichiro tersenyum sinis. "Ya, kau pantas mati. Bagiku sebuah kehormatan lebih penting


daripada punya putri memalukan sepertimu." Lelaki itu melepas Masaya, lalu pandangan matanya tertuju pada Miku. Mungkin hatinya saat ini sudah dikuasai setan hingga dia menuruti amarahnya. Tangan Koichiro menggapai leher putrinya lalu menekannya tanpa ampun seolah-olah yang dia cekik adalah setan.


Miku kesulitan bernapas karena cekikan tangan itu sangat kuat. Dia sangat paham watak ayahnya yang keras. Jika sang ayah ingin membunuhnya, sudah pasti dilakukan. Saat dirinya sudah tak sanggup bernapas, ia melihat pelatihnya mendorong tubuh sang ayah keras dan melindunginya.


"Hentikan! Dia putri Anda, Tuan Higashiyama!"


"Dia pantas mati."


"Tidak, dia masih pantas untuk hidup," kecam Masaya. Ia mendekap Miku seolah memberinya perisai dari amukan lelaki di hadapannya ini, "jika Anda berani menyentuhnya sedikit saja, saya tidak akan diam."


"Kalau begitu akan kubunuh kalian berdua."


"Tak bisakah Anda merestui kami?" Tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur dari mulut pria berambut hitam itu. Sebenarnya Masaya sendiri kaget dengan ucapannya yang di luar kendali. Telanjur basah, sekalian dia akan menyelam demi menyelamatkan Miku.


Suasana hening.


"Saya akui, saya bersalah dan sudah membuat putri Anda seperti ini. Saya sudah menghancurkan masa depannya. Maafkan saya, Tuan Higashiyama."


"Semudah itukah kau meminta maaf?" Koichiro kembali mencengkram baju pemuda bermarga Fujimine tersebut, lalu kembali memukulnya.


"Ayah, aku mohon hentikan." Tangis Miku memohon, gadis itu memeluk lutut ayahnya agar berhenti memukul pelatihnya.


"Tentu saja, saya akan mempertanggungjawabkan semuanya apa yang sudah saya lakukan padanya. Saya akan menikahinya."


"Pelatih ...." Miku kaget bukan main. Dia menarik lengan Masaya tak mau.


Pemuda tampan itu berlutut di hadapan pria jangkung dengan wajah kaku yang mustahil hatinya bisa berubah. "Dengan segala hormat, tolong restui hubungan kami. Saya mohon." Masaya membungkukkan badan, kedua tangannya menyentuh lantai dengan kepala yang terus menunduk hampir menyentuh lantai.


Koichiro mengepal tangannya kuat-kuat. "Aku sangat membencimu, Anak Muda," ujarnya bergetar, tapi ada kelegaan yang tak bisa dilukiskan begitu pemuda di hadapannya ini mau bertanggung jawab. "Enam belas tahun lebih aku menjaganya dan dia selalu ceria. Jika kulihat dia meneteskan air mata karenamu lagi, aku pasti membunuhmu."


Masaya tersenyum tipis. "Terima kasih ... saya akan menjaganya dengan baik. Anda bisa mempercayai saya."


Namun, justru Miku yang menangis keras. Kenapa hidupku seperti ini? Ini tidak adil! Aku tidak ingin melibatkan orang lain.


🍓🍓🍓🍓


Ryu memacu mobil sport-nya dengan sangat cepat. Pikirannya sangat kacau. "I hate you, Dad!" umpatnya sambil memukul setir mobil. Remaja itu menangis. Berkali-kali mobil itu meliuk-liuk mengerikan karena kurang mahirnya Ryu mengemudi.


Bayangan Miku dengan seorang anak perempuan yang tersenyum ke arahnya mendadak lenyap berganti wajah Miku yang sangat membencinya. Konsentrasinya pecah, ia tak memperhatikan jalan di depannya.


Sebuah palang kereta api baru saja diturunkan. Ryu tersentak kaget saat mobil yang dikendarainya semakin cepat mendekati palang rel kereta api tersebut. Sementara kereta api masih melintasi. Jarak yang begitu dekat sehingga membuat remaja 17 tahun itu syok dan lupa untuk menginjak rem, lalu terjadilah tabrakan yang sangat keras. Mobil sport biru itu menabrak kereta api yang sedang melintas.


Suara tabrakan dahsyat terdengar ke berbagai penjuru layaknya halilintar yang menyambar. Dalam sekejap tempat itu langsung ramai.

__ADS_1


🍓🍓🍓🍓


Pyaar!


Masaya tersentak saat menyadari vas bunga besar yang berisi mawar itu pecah akibat tangannya yang mendadak gemetar. Saat memunguti pecahan kaca tersebut, jarinya terluka.


Pemuda berambut hitam panjang itu terdiam. Ia duduk menyandar. Pikirannya kacau. Entah kenapa hatinya tak tenang. Aku kenapa? Ia memegang bagian dadanya yang berdenyut sakit. Padahal dia tak menderita penyakit jantung, tapi kali ini jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Sangat sakit hingga ia kesulitan bernapas.


"Masaya!"


Pemuda itu bungkam, tiba-tiba saja pandangannya berubah gelap. Pemuda itu tidak mendengar suara kakeknya yang terus memanggil namanya.


🍓🍓🍓🍓


Albert Hikaru dan Juana Spencer menunggu dengan cemas di depan ruangan instalasi gawat darurat. Wajah keduanya pucat, terlebih wajah Juana karena dia teringat akan salah seorang keponakannya yang tewas dalam kecelakaan. Di depan ruangan IGD seperti inilah, ia mendengar kabar kematian keponakannya dan kini putranya yang berada di dalam sana.


"Sekarang kau puas?" tanya Juana nyalang pada mantan suaminya. Matanya menatap tajam seolah ingin menguliti tubuh lelaki itu. Wanita cantik itu berteriak gila dan memukul-mukul Albert tanpa ampun.


"Diamlah." Suara lelaki itu terdengar bergetar. Ada rasa bersalah yang kian menggerogoti hatinya. Mendengar Ryu kecelakaan pria setengah baya itu merasa hidupnya benar-benar hancur.


"Jika terjadi apa-apa pada Ryu, kau pasti mati di tanganku Tuan Albert Christian Hikaru."


Ceklek. Pintu terbuka dan lampu IGD mati, tanda operasi sudah selesai.


"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Albert, dia bahkan terlihat putus asa begitu melihat ekspresi wajah para dokter yang baru keluar terlihat lemas. Tak ada wajah sumringah.


"Lukanya sangat parah terutama di bagian kepalanya. Banyak syaraf yang sudah tak berfungsi lagi. Dengan sangat menyesal kami menyatakan bahwa Ryu Christian Hikaru ...."


"Tidaak!" Juana histeris seketika, memotong pembicaraan dokter, lalu berteriak gila "anakku selamat, 'kan, Dokter? Dia baik-baik saja, 'kan? Dia satu-satunya anakku. Kau harus menyelamatkan Ryu!" Ditariknya baju kebesaran dokter itu marah.


"Putra Anda mengalami koma,"


Dunia Juana membeku seketika. Detik selanjutnya ia tak sadarkan diri. Untunglah dengan sigap Albert menyanggah tubuh wanita itu.


"Pasien mengalami kelumpuhan total, sebaiknya Anda membawanya ke Jerman, Tuan Hikaru. Perawatan dan kelengkapan peralatan kedokteran di Jerman lebih maju dan lebih canggih. Berdoalah, semoga Tuhan memberinya keajaiban. Kami undur diri."


🍓🍓🍓🍓


Kuil Mushubino terletak di dekat lereng pegunungan. Hari ini kuil itu cukup ramai karena acara pernikahan putri sulung Higashiyama. Meski tak banyak tamu, tapi keluarga Higashiyama cukup banyak. Sementara dari pihak laki-laki hanya beberapa orang saja yang hadir tanpa mengundang pihak luar.


Masaya yang mengenakan hakama hitam terlihat gagah dan begitu tampan. Sementara Miku mengenakan kimono dan penutup kepala berwarna putih. Mereka berjalan bersisihan masuk ke dalam kuil. Miku berjalan enggan memasuki altar. Wajah gadis itu terlihat tanpa ekspresi, sedangkan wajah Masaya cuek-cuek saja saat pengantin wanitanya sudah berada di sampingnya.


Ryu ... seharusnya kaulah yang ada di sampingku saat ini. Wajah Miku terlihat murung.


Mereka disucikan terlebih dahulu oleh pendeta Shinto. Melewati tahapan San-San-Kudo, di mana mempelai perempuan dan pria disuruh menghirup sake secara bergiliran. Masing-masing menghirup sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan.

__ADS_1


Masaya dan Miku mengucap sumpah suci yang disaksikan oleh semua anggota keluarga. Selanjutnya keluarga Higashiyama dan keluarga Fujimine bergantian meminum sake, pertanda bahwa mereka sudah dipersatukan sebagai keluarga. Lalu ditutup dengan sesaji yang dipersembahkan kepada Kami-sama bagi umat agama Shinto, yakni berupa ranting Sakaki.


"Tersenyumlah walau sebentar bahkan jika kau tak menginginkannya," ucap Masaya saat mereka akan difoto. Pemuda itu menggandeng tangan Miku. Menggenggamnya erat.


Hari ini, Miku Higashiyama resmi menjadi istri seorang Masaya Fujimine. Setelah berpamitan kepada ayah dan adiknya, Miku mengikuti Masaya tinggal di rumah suaminya. Mereka menikah tanpa mengadakan pesta.


Kini mereka berada di dalam kamar yang berukuran 4×5 meter milik pria bersurai hitam. Terdapat satu tempat tidur ukuran besar, satu lemari, rak buku yang sangat besar seperti lemari yang terletak di dekat jendela, lalu sebuah meja kecil dan kursinya. Sangat sederhana kamar ini. Masing-masing melepas out fit dan mengganti dengan baju tidur. Miku tidur di ranjang sembari memunggungi suaminya. Sementara Masaya sendiri duduk di dekat jendela, menatap langit malam yang begitu sempurna dengan taburan bintang.


Apa keputusanku ini benar? Masaya bertanya-tanya dalam hati, pemuda itu terlihat ragu dengan pernikahannya. Ibu ... bantu aku. Sebenarnya wanita yang ingin Masaya nikahi hanya Kyoko Hasekawa, bukan Miku Higashiyama. Masaya sempat berpikir bisa kabur waktu itu, tapi dia tak mungkin melakukannya. Pemuda itu menghela napas.


Tiba-tiba ia tersadar dari lamunan panjangnya yang masih memikirkan Kyoko. Astaga! apa yang dari tadi aku pikirkan di saat seperti ini? Pemuda itu menoleh pada Miku yang kini sudah terlelap. Ia mendekati istrinya yang telah terbuai ke alam mimpi. Cantik.


Tangannya bergerak menyentuh pipi Miku, sudut bibirnya tertarik, menciptakan garis lain pada wajah tegasnya. Lalu pandangannya tertuju pada bibir kecil kemerahan yang sedikit terbuka itu. Perlahan ia menunduk hingga dapat merasakan napas hangat Miku yang keluar dari mulutnya.


"Istirahatlah, Miku" bisiknya pelan. Ia mendaratkan ciuman di kening sang istri.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda bintang [🌟] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_________________________________


Selasa, 21 April 2020


_______________________________


Klik, please

__ADS_1


👇


__ADS_2