Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[24] Shun Namiki VS Yui Shimazaki


__ADS_3

2 minggu kemudian, ujian sudah berlalu, semua murid kelas 3 SMA Putri Minami tengah bersiap melakukan upacara perpisahan sekolah. Sejak dua hari yang lalu para siswi kelas 3 mendekorasi aula sebagus mungkin.


Miku sudah menyiapkan segala keperluannya. Hari ini di SMA Putri Minami akan menyelenggarakan


perpisahan di aula. Ia tertegun menatap suaminya yang memakai tuxedo hitam. Anata ... kau tampan sekali. Rasanya aku ingin terus menempel padamu.


"Sampai kapan kau akan bengong terus di sana?" tanya Masaya yang telah sempurna mengenakan tuxedo-nya.


Miku tersenyum, dia mendekati suaminya. "Anata, kau tampan sekali," pujinya senang.


"Aku memang sudah tampan sejak dilahirkan, apa kau baru menyadarinya?" sahutnya sombong sambil merapikan rambut panjangnya sejenak. Dia melirik istrinya. "Apa kau akan mengatakan kalau kau jatuh cinta lagi padaku?"


"Anata!"


Masaya tersenyum simpul. "Jangan hanya berdiri di sana, cepat ambil tasmu kita berangkat sekarang. Oh ya, berdandalah yang cantik agar aku tidak malu saat mendampingimu nanti waktu pemotretan," ledek Masaya.


Wajah Miku memerah sebal. "Anata, kau menyebalkan! Memangnya aku kurang cantik?"


"Cantik. Kau sangat cantik jika tersenyum tapi ...," Sengaja pria itu menggantung kata-katanya agar istrinya penasaran.


"... tapi apa?" potongnya tak sabar. Pasti dia akan membandingkan dengan Kyoko atau Shizuka.


"Jika kau marah kau mirip wanita tua penjual mochi di Saitama."


Ugh! Kenapa dia sangat menyebalkan! Tidak, tidak! Miku kau harus sabar menghadapinya. Dia hanya menggodamu. Lewat satu hari ini kau sudah tak perlu cemas akan statusmu yang kau sembunyikan selama ini. Miku bersikap tenang menganggap kata-kata Masaya tadi cuma dengungan lebah. Tak penting!


Masaya heran, biasanya Miku akan terus mengomel jika digoda, tapi kali ini istrinya lebih memilih diam. "Kau tahu siapa tamu kehormatan yang diundang kepala sekolah?"


Miku menggeleng.


"Shun Namiki. Tidak mungkin kau tak mengenalnya, bukankah dulu dia dan Ryu saingan?"


"Ya, mereka saingan di lapangan."


Masaya menggeleng pelan. Dasar tidak peka! Apa mungkin dulu di otaknya hanya ada Ryu hingga dia tidak sadar kalau si Hikaru itu dan Shun sering berkelahi hanya memperebutkanmu? Kau sungguh bodoh.


"Untuk apa kepala sekolah mengundangnya?" Suara Miku memecah keheningan.


"Shun akan memainkan biola di acara perpisahan nanti, lagi pula dia adik Ai Namiki."


"Hah? Adik Ai yang cantik dan galak itu? Tapi Ai tak pernah bercerita padaku kalau memiliki adik bernama Shun itu."


"Kau saja yang tidak tahu. Semua siswi di SMA putri Minami tahu."


Miku mengangguk-ngangguk pelan. "Memangnya Shun sehebat apa sampai kepala sekolah mengundangnya sebagai tamu kehormatan?" Miku menyempurnakan dandanannya. Ia memakai bedak tipis tanpa lipstik karena pada dasarnya bibir gadis itu sudah semerah cherry mengingat wajahnya yang putih bak buah persik. Sempurna.


"Selain hebat di permainan sepak bola, dia jago bermain biola. Dia sampai dijuluki Master of Violin karena sangat hebatnya. Dulu saat tinggal di Paris, dia pernah mengikuti kontes biola dan memenangkannya 4 tahun berturut-turut."


"Hebat!" pekik Miku takjub.


"Karena hebat banyak gadis berebut ingin menjadi pacarnya."


"Wah, beruntung sekali gadis itu. Pasti kisah cintanya seperti di drama-drama yang sering aku tonton. Sang putri yang dicintai pasti sedang bahagia punya pangeran seperti Shun Namiki." Miku membayangkan sambil tersenyum sendiri.


Masaya tersenyum sinis agak dongkol. "Sayangnya gadis yang disukai lebih memilih pemuda lain, makanya Shun jadi dingin pada gadis mana pun sampai sekarang." Lanjut Masaya gemas.


"Astaga gadis bodoh macam apa dia, bisa-bisanya dia menolak sebongkah permata. Huh ... sekarang gadis itu pasti menangis dipojok ruangan karena menyesali kebodohannya sudah menolak seorang Shun Namiki." Lanjut Miku masih tidak tahu siapa gadis yang dimaksud. "Dasar gadis bodoh!"


Dan kata-katanya itu sanggup membuat Masaya cemburu. "Ya, gadis yang sangat bodoh! Bahkan gadis paling bodoh sedunia karena sudah menolak sebongkah permata." Suara Masaya agak tinggi dan kesal. Cemburu.


Miku jadi tak mengerti. "Anata, kenapa kau marah?"


"Siapa yang marah?" tanyanya sebal, "aku hanya kesal padamu, kenapa kau tidak peka kalau gadis yang disukainya dulu itu kau." Ingin rasanya Masaya menggigit sendok.

__ADS_1


"Hah, aku?" Alis Miku terpaut, "tapi aku, kan hanya menyukaimu. Meski lewat di depanku seorang Brad Pitt atau Takuya Kimura sekali pun," ungkapnya jujur.


"Tentu saja kau harus memilihku. Jika kau memilih Brad Bitt aku akan memilih Angelina Jollie!" ujarnya sambil berlalu meninggalkan Miku sendiri yang bengong.


"Dia kenapa sih tiba-tiba marah tak jelas. Menyebalkan!"


🌷🌷🌷🌷


SMA Putri Minami.


Acara perpisahan berlangsung meriah terlebih saat Shun tampil memukau dengan biola kesayangannya. Tentunya para gadis berteriak heboh, terlebih Four Angel. Namun, di antara mereka hanya Yui yang terdiam tanpa senyum. Usai sambutan kepala sekolah dan penyerahan hadiah nanti dia akan membongkar identitas Miku di depan banyak orang.


Tunggulah sebentar lagi Miku, kau selama ini sudah membohongi semua murid dengan statusmu sebagai istri dari Pak Fujimine. Untuk gadis sepertimu tidak pantas berada di sekolah ini. Yui tersenyum sinis. Gadis itu beranjak dari duduknya, keluar menuju toilet.


Ketika ia keluar dari toilet, si gadis yang tergabung dengan klub renang itu kaget dengan kehadiran Shun di dekat pintu toilet. Remaja bule 17 tahun itu bersedekap, menatap Yui datar.


"Hentikan niatmu. Aku tahu kau bukan gadis jahat, kau hanya iri padanya," ucap si rambut blonde itu datar.


"Kau dipihaknya?"


"Ya."


Yui tertawa sumbang. "Kenapa?"


Shun menatap mata hitam milik Yue. "Kau akan menyesal jika melakukannya, mungkin sekarang kau senang, tapi suatu hari nanti kau pasti menyesalinya. Menghancurkan masa depanmu bukanlah sifatmu."


"Kau tak perlu ikut campur, Tuan Namiki!" Tangan Yue mulai mengepal.


Pemuda bule itu tersenyum samar. "Kalau begitu, tanyakan pada hati kecilmu. Kau orang jahat apa orang baik? Kaulah yang paling paham dengan dirimu sendiri, Nona Shimazaki." Saudara Ai Namiki itu berlalu meninggalkan Yui sendiri mematung di depan toilet.


🌷🌷 🌷🌷


Usai penyambutan kepala sekolah, wakil kepala sekolah mengumumkan juara paralel tahun ini di kelas 3.


"Nakamouri, kau adalah murid teladan di SMA ini. Selain pintar kau juga yang paling cantik di antara teman-temanmu," puji wakil kepala sekolah.


"Terima kasih."


"Apakah ada orang yang spesial selain orang tuamu yang ikut menghadiri acara ini? Pacarmu misalnya?" goda.


Shizuka hanya tersenyum tipis. "Memang ada yang spesial, tapi sayangnya pria yang aku sukai ternyata sudah menikah dengah teman kita sendiri," jawabnya santai.


Kontan saja pernyataan gadis berambut panjang itu membuat seisi aula jadi bertanya-tanya. Semua saling berbisik, kecuali Miku dan Sakura yang diam.


"Nakamouri, apa maksudmu?" tanya wakil kepala sekolah itu heran. "Di sekolah ini tak ada satu siswi pun yang boleh menikah. Itu melanggar aturan dan dia harus dikeluarkan."


Shizuka tersenyum tipis, ia berkata, "Silahkan Pak guru bertanya pada Pak guru Fujimine dengan istrinya," Shizuka menatap Miku benci. "Miku Higashiyama, jawablah pertanyaan wakil kepala sekolah dengan jujur!"


Semua mata tertuju pada Miku yang ada di bangku deretan ketiga dari depan. Wajah Miku pucat bukan main, padahal tinggal beberapa menit lagi dia akan lulus sebagai siswi SMA Putri Minami, namun angannya itu mendadak buyar mendengar omongan gadis cantik yang pernah menyatakan cintanya pada suaminya itu. Mata sayunya hampir meneteskan air.


Beberapa temannya bertanya-tanya.


"Miku, benarkah kau sudah menikah?"


"Jadi kau adalah istri dari Pak Fujimine?"


"Kenapa diam?"


"Miku, jelaskan semuanya pada kami sekarang!"


Tampak beberapa murid protes karena status Miku dan gurunya itu.


Sakura memegang tangan Miku seakan memberinya kekuatan.

__ADS_1


Dari sudut bangku Masaya memandang Miku yang terus dipojokkan.


"Pak Fujimine, bantulah istri Anda!" Sosok berambut pirang itu menatap Masaya.


Tak tahan melihat istrinya disudutkan, Masaya maju ke depan aula dan berdiri di depan mic.


Semua mata tertuju pada si pria tampan tersebut. Tuhan kenapa begini? Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya? Masaya tersenyum memberi kekuatan pada Miku yang akan berjalan ke arahnya.


"Miku, kau tak perlu kemari. Biar aku yang menjelaskan semuanya pada mereka," ujar Masaya meyakinkan. Perlahan pria Fujimine itu memejamkan matanya sejenak lalu menghirup udara dan mengeluarkannya. "Sebelumnya saya minta maaf." Masaya memulai.


Para murid bergumul tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.


"Memang benar kami sudah menikah satu tahun yang lalu, karena suatu hal kami harus menikah." Lanjutnya sopan. "Miku bukanlah gadis seperti apa yang kalian pikirkan saat ini. Dia adalah satu-satunya wanita luar biasa yang saya kenal. Dalam peraturan sekolah menikah memang dilarang, kami benar-benar minta maaf sudah membohongi banyak pihak. Setiap hari dia belajar rajin agar bisa masuk Universitas, dia begitu ingin melanjutkan sekolahnya yang dulu tertinggal. Saya mohon pada kalian jangan karena status kami Miku tak berhak menikmati sekolah dan lulus bersama kalian. Tolong jangan lihat seperti itu. Biarkan Miku ikut lulus dalam kelulusan ini. Saya mohon." Masaya membungkukkan badannya hingga 90 derajad. Tanda benar-benar serius.


Miku yang melihat pengorbanan suaminya menjadi sesegukan. Ia pun berjalan ke arah Itachi. "Anata ... berhentilah memohon seperti itu. Jika aku harus keluar aku tidak apa-apa ... tapi berhentilah memohon seperti itu."


Tapi tetap saja Masaya masih memohon berkali-kali agar Miku diperbolehkan lulus dari SMA Putri Minami itu. Hingga akhirnya terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang panggung. Kepala sekolah itu menghampiri ke duanya. "Pak Fujimine, aku sangat salut padamu, sebagai kepala sekolah SMA Putri Minami, aku bersedia meminta bantuan kepada semua hadirin yang ada di sini agar membolehkan Miku lulus. Kalau pun harus ada yang disalahkan, itu bukan kau, tapi akulah orangnya." Pria tua itu membungkuk 90 derajad. "Maafkan kesalahanku yang telah menutupi masalah ini sejak awal."


"Ayah," lirih Sakura tak percaya, si gadis pink itu ikut naik ke atas panggung lalu membungkuk 90 derajad. "Aku juga mohon, Miku sahabatku. Aku ingin dia lulus bersamaku."


Selanjutnya si pirang pecinta sepak bola yang ikut naik ke atas panggung. "Aku juga mohon, tolong biarkan dia lulus." Mereka bertiga membungkuk 90 derajat memohon agar Miku diperbolehkan lulus.


Tanpa diduga-duga, justru Yui ikut maju ke atas panggung dan membantu mereka. Hati kecilnya iba. "Miku adalah teman kami, sudah seharusnya dia lulus bersama kami. Kami mohon biarkan teman kami lulus. Selamanya kami akan berhutang budi pada kalian yang mau menerima permintaan kami."


Dan tak ada satu menit suara gaduh ikut menyorakkan agar meminta kelulusan teman mereka. Melihat kesungguhan itu akhirnya semua guru memutuskan untuk meluluskan Miku.


Si pemilik wangi lavender itu memeluk Masaya tatkala dirinya dibolehkan lulus. "Anata, terima kasih," isaknya bahagia. Semua terlihat senang hanya Shizuka yang masih dendam.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷  To Be Continued🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Senin, 11 Mei 2020


___________________________________


Catatan :


Scene kelulusan itu aku terinspirasi dari film My Little Bride.


___________________________________


Klik, please

__ADS_1


πŸ‘‡


__ADS_2