Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[48] Bertemu


__ADS_3

"I-ibu ...," panggil Satoshi takut.


"Hm," jawab Miku pendek karena fokus pada tumpukan baju setrikaannya. Wajah wanita itu terlihat lelah, tapi dia terus menyetrika, melihat hal itu


Satoshi tak berani berterus terang.


"Aku bantu, ya?" Si sulung itu menggantung baju yang sudah disetrika ke dalam lemari. Mereka bekerja dalam diam, sesekali Satoshi melirik ibunya. Hingga dua jam kemudian.


"Ada masalah apa?" Tatap Miku curiga. Satoshi terpekur, dia tak menyangka naluri ibunya lebih tajam dari samurai. Miku menghela napas. "Satoshi, jangan mengingatkan sosok dia padaku. Semakin kau mengelak seperti itu kau semakin mirip dengannya."


Satoshi tahu maksud ibunya, yang dimaksud dengan mirip dengan-'nya' adalah sosok sang ayah kandung. Ibunya selalu bungkam jika ditanya seperti apa ayahnya. Hal itu semakin


membuatnya penasaran seperti apakah sosok pria bernama Ryu Hikaru itu? Remaja itu penasaran sekali pada pria yang meninggalkan dia dan ibunya, bahkan sebelum ia dilahirkan.


"Aku tak sengaja menghancurkan kaca mobil orang. Lalu pemiliknya meminta ganti rugi satu 5000 dollar, aku tidak tahu jika dikurskan dalam yen akan menjari berapa puluh ribu," ceritanya lirih. Ia terus menunduk takut.


Suasana sepi hingga Satoshi memberanikan diri memandang wajah ibunya. "Jika aku tak bisa membayar kerugian itu, pemilik mobil tersebut akan mengirimku ke penjara."


"Lalu?"


"Pria itu memberiku pilihan bekerja padanya sampai hutangku lunas atau aku masuk penjara atas tuduhan perusakan."


Miku tak bereaksi. Detik selanjutnya dia beranjak ke kamarnya dengan membawa sebuah kotak kecil yang kemungkinan besar itu adalah perhiasan miliknya. "Kau bisa menjualnya dan tak perlu bekerja padanya."


"Tidak mau!" bantah remaja itu tegas. "Perhiasan itu milik Ibu. Ayah sengaja membelikannya untuk Ibu. Aku tak mau menjualnya!"


"Jangan keras kepala. Ini sudah tugasku menyelamatkanmu karena Ibu bertanggung jawab atasmu."


"... dan aku pun bertanggung jawab atas perbuatanku." Kali ini suara Satoshi lebih tegas dari sebelumnya. "Bukankah ayah selalu mengajariku untuk selalu bertanggung jawab atas perbuatanku?"


Tapi aku tak mau kau bekerja pada orang asing. Miku menatapnya berkaca-kaca.


Tiba-tiba suara si kecil Isao memecah ketegangan di antara mereka.


"Ibu, baju olahragaku mana?" Anak lelaki berusia hampir 7 tahun itu berlari ke arah mereka. "Hari ini aku dan teman-teman mau bermain bola di lapangan."


"Di lemari ayah dulu. Ada dibagian bawah sebelah kanan. Hati-hati mengambilnya, jangan dibuat berantakan lagi."


Isao mengangguk. "Nanti sore Ibu ke lapangan, ya? Semua orang tua teman-temanku datang."


Miku mengangguk tersenyum.


Satoshi menatap ibunya. "Hari ini aku akan membereskan baju-bajuku karena pria itu memintaku bekerja mulai hari ini. Aku bisa pulang setiap saat."


"Satoshi." Miku menarik tangannya. "Pria itu bisa dipercaya? Kau bersama siapa di sana? Apa dia punya istri dan anak?"


"Tidak tahu, tapi dia bersama adik perempuannya, usianya mungkin seumuran Himeka. Sepertinya mereka dari luar negeri yang baru pindah ke sini."


"Ibu hanya takut." Wajah Miku terlihat gelisah.


Satoshi tak paham. "Takut?"


Miku menggigit bibirnya. "Takut pria itu gay, lalu dia memanfaatkanmu. Bagaimana jika dia gay lalu naksir padamu? Ibu bisa gila memikirkannya," ujar Miku cemas yang malah membuat Satoshi tertawa.


"Ibu jangan khawatir, aku bersama Zero. Jika ada apa-apa dia pasti membantuku." Satoshi segera berpamitan.


Miku menatap ke langit-langit rumahnya. "Tuhan, kumohon lindungi putraku. Dia sudah banyak menderita. Semoga pria itu orang baik dan bukan gay."


Miku merupakan korban drama gay yang pernah ditontonnya seminggu yang lalu.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Isao membuka isi lemari mendiang ayahnya. Dia segera menemukan baju olahraganya. Saat dia menarik baju itu ada sebuah amplop yang sudah usang ikut terjatuh ke lantai.


"Apa ini?" Pungutnya penasaran, dia pun membuka amplop itu. Sebuah kertas usang yang terlipat rapi dan di dalamnya dua buah foto. Foto pertama adalah gambar Miku yang memakai seragam SMA Seika jogakkan bersama seorang pemuda tampan bermata biru cerah juga memakai seragam yang sama. Rambutnya pirang jabrik seperti rambut Satoshi dulu. Mirip mentari. Pemuda itu merangkul pinggang Miku dari belakang. Di foto itu mereka tersenyum bahagia sambil mengacungkan dua jarinya simbol 'V'.


Sekilas Isao mengira itu adalah foto Satoshi dan Himeka. Tapi bocah itu tahu itu bukan foto saudaranya akan tetapi foto ibunya saat SMA dulu karena foto itu sudah sangat usang.


Isao menatap lekat-lekat foto itu, dia bertanya-tanya siapa pemuda tampan yang sangat mirip dengan kakak laki-lakinya itu? Mereka seolah sama namun yang membedakan hanya rambutnya.


Isao melihat foto lainnya yaitu foto pemuda itu lagi sendirian dengan memakai kaos olahraga bernomer punggung 10. Masa bodoh bagi Isao siapa pemuda itu karena hari ini dia akan bermain bola.


🌷🌷🌷🌷


Astaga ... ini rumah apa lapangan? Satoshi menatap tak percaya kediaman si pria bule itu. Rupanya tempat yang akan ditempati ini adalah seorang jutawan.


"Satoshi, sudah sampai?" Suara Yue mengagetkan dirinya.


"Oh ... iya .. eh ...." Satoshi ragu menyapa gadis cantik di hadapannya.


"Yue Hikaru. Kau boleh memanggilku Yue."


"Yue?"


Yue tertawa. "Zero sudah datang sepuluh menit yang lalu. Ayo kita temui dia Satoshi!"


"Sa-Satoshi?" Satoshi sedikit keberatan. Padahal sangat menyenangkan jika gadis manis ini memanggilnya dengan kakak.


"Kenapa? Apa perlu kupanggil Hikaru begitu?"


"Tidak! Satoshi lebih baik." Satoshi jadi penasaran. Sebenarnya berapa umur Yue ini? Kenapa dia memperlakukanku seperti lebih muda darinya? Jika dilihat dari wajahnya dia mungkin masih 15 atau 16 tahun ya seperti Himeka.


"Apa di wajahku ada sesuatu?" Yue jadi tidak enak karena remaja di depannya ini terus menatapnya tak berkedip.


Satoshi Fujimine! Apa yang kau pikirkan?! Satoshi memalingkan wajahnya. "Oh ... aku harus bekerja sebagai apa, di mana Zero itu?"


"Lalu?"


"Bersih-bersih." Yue mengajaknya ke bagasi mobil koleksian Ryu. Di sana Zero sudah terlihat sibuk membersihkan lamborgini putih.


"Ini milik kakakmu semua?" tanya Satoshi heran melihat jejeran mobil-mobil sport berkelas. Yue membenarkan. "Mobil sebanyak dan semahal itu? Astaga ada-ada saja hobi orang kaya."


"Setiap tahun dia membelinya."


"Hah?"


"Katanya koleksi."


"Tapi aneh, kenapa dia sangat marah saat aku tak sengaja memecahkan kaca mobilnya itu?"


Yue tersenyum. "Ferari Enzo merah itu mobil kesayangannya. Tidak dibunuh sudah untung. Karena Ferari itu pilihan pacarnya dulu."


Satoshi hanya mengangguk. 'Pantas dia mau gila melihat Ferari ini kacanya pecah.' Satoshi menggeleng.


"Satoshi, jangan hanya mengobrol. Ayo lekas cuci mobil-mobil ini," omel Zero.


🌷🌷🌷🌷


Paggani Zonda hitam metalik itu meluncur keluar dari kantor polisi. Mobil sport itu melaju cepat meninggalkan basemen. Cukup jauh meninggalkan pusat kota, mobil itu menepi sejenak.


Buk!


Ryu memukul kemudinya kesal. Aku ini kenapa? Bukan hanya sekali dua kali aku salah orang. Tapi sudah berkali-kali. Apa aku begitu terobsesi pada Miku hingga terus menerus memikirkannya? Bule tampan itu memejamkan matanya. Ia sudah tiga kali berurusan dengan kepolisian Tokyo karena dituduh sebagai pelecehan.

__ADS_1


Mereka yang menuduh Ryu seperti itu karena tiba-tiba saja pria itu memeluk wanita tak dikenalnya dan berkata 'Miku, ini aku.' Kontan saja wanita yang dipeluk sekuat itu menjerit takut.


Ujung-ujungnya Ryu berurusan dengan polisi lalu diakhiri dengan damai.


Namun ada juga yang malah kesenangan dan berkata. 'Ya, aku adalah Miku Higashiyama.' Dan itu justru membuat Ryu merinding dahsyat.


Miku, kau di mana?


"Wanita tadi benar-benar mirip Miku," gumamnya. Sadarlah! di dunia ini banyak sekali orang yang wajahnya mirip, bantah otaknya. Ini sudah 17 tahun lebih aku meninggalkan Jepang. Apa mungkin Miku sudah menemukan pria lain dan hidup bahagia sekarang? Jika itu terjadi aku tak akan pernah rela dan tak bisa menerima kenyataan ini.


Tapi seandainya itu benar-benar terjadi? Air matanya menetes. Berat rasanya melihat Miku hidup dengan pria lain selain dirinya. Dia tak bisa membayangkan ada seorang pria yang memeluk Miku, mencium bibirnya atau bahkan mengajak belahan jiwanya itu naik ke tempat tidur lalu melakukan hal pernah ia lakukan dulu padanya.


"Tidak ... itu tidak boleh terjadi." Ryu menggeleng pelan, dia pun segera menstrater mobilnya. Karena konsentrasinya belum terkumpul semua, Ryu hampir menabrak seorang anak SD yang hendak menyebrang.


Buru-buru ia keluar lalu memungut bola yang lepas dari bocah di depannya itu. "Kau tidak apa-apa, Nak?" tanyanya cemas sambil menyentuh pundak anak laki-laki. Bocah itu menggeleng. "Syukurlah. Maaf ya, kau pasti tadi takut." Ryu mengelus kepala bocah itu sambil tersenyum.


"Isao!" Tampak bocah seumuran dengannya berlari ke arahnya. Sejenak bocah itu menatap temannya. "Hei, dia apamu?"


"Bukan siapa-siapa. Aku tidak tahu." Isao menatap Ryu yang menatap dirinya. Sepertinya dia pernah melihat pria berambut pirang dengan mata biru seperti milik kakaknya itu. Tapi di mana? Justru di saat seperti ini wajah paman di depannya ini mirip ayahnya hanya berbeda warna rambut dan mata.


"Ibumu sudah datang, itu!" Tunjuk Yuki.


"Aku tidak apa-apa." Isao membungkuk hormat pada Ryu lalu meninggalkannya sendiri. "Ibu!" Bocah dengan rambut hitam lurus mirip jamur itu berlari ke arah Miku yang melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arahnya.


Ryu menghela napasnya. Tuhan ... sampai kapan bayangan Miku akan terus menghantuiku? Semua orang jadi mirip dia! Pria tampan itu memandang Isao yang bergandengan tangan bersama ibunya. "Bahkan ibu anak itu pun terlihat seperti Miku!" keluhnya.


Ryu segera memasuki mobilnya lalu melaju pelan. Dia melewati Miku dan Isao yang sedang tertawa. Pria itu mendadak berhenti. Dia menoleh ke belakang. Ingin rasanya dia berlari ke arah wanita itu dan berteriak 'MIKU, INI AKU!' Tapi ia takut salah orang lagi lalu berurusan dengan polisi. Dia hanya bisa memukul kemudinya dan berteriak tak jelas.


Dari belakang Miku menatap mobil itu aneh. "Apa orang tadi baru belajar menyetir mobil?"


Isao mengangguk." Sepertinya iya, tadi paman itu mau menabrakku," adu Isao polos.


"Apa? Dia mau menabrakmu?" Miku terlihat kesal. Bagaimana bisa pria itu ceroboh hampir menabrak putra bungsunya. Miku geram, "Isao, apa perlu Ibu mendatanginya lalu memarahi orang tadi? Berani-beraninya mau menabrak anak Ibu yang tampan ini!"


"Iya, marahi saja." Isao bersemangat, paman tadi tadi pasti kaget jika ibunya melabraknya nanti. Ibunya nanti akan berubah menjadi macan jika sudah marah.


Baru dua langkah Miku maju, Ryu keluar dari mobilnya lalu menendang ban tersebut tiga kali sembari mengumpat sialan dalam bahasa Jerman. Terlihat frustrasi dan marah. Miku terdiam, nyalinya ciut, demikian pula Isao. "Isao, bagaimana jika kapan-kapan saja kita marahi, ya? Paman itu mengerikan."


Isao mengangguk.


🌷🌷 To be Continued  🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membacanya, ya πŸ˜„πŸ˜„


Menerima kritik dan saran yang membangun πŸ˜„πŸ˜„


______________________________


Selasa, 23 Juni 2020


__________________________________

__ADS_1


Klik, please


πŸ‘‡


__ADS_2