Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[30] Satoshi and Himeka Planing


__ADS_3

1 minggu kemudian ...


Pagi itu di kediaman keluarga Fujimine, Satoshi dan Himeka sedang duduk di samping teras rumah mereka. Hayato sendiri sedang berkebun.


"Kak, sepi, ya? Ayah kerja sedang ibu masih kuliah. Buyut mencabuti rumput," kata Himeka malas, bocah itu tidur-tiduran di samping saudaranya. "Bosan," keluhnya sambil berguling-guling di lantai.


Satoshi yang sedang membaca buku bergambarnya itu menutupnya kemudian berteriak. "Kakek Koichiro!"


Mata Himeka membolak tak melihat kedatangan sang kakek yang pastinya selalu membawa oleh-oleh untuk mereka jika datang berkunjung. "Kakek bawa hadiah apa?" Duplikat Miku itu menghambur ke pelukan Koichiro.


"Wah, Himeka dan Satoshi bertambah besar, ya?" Pria baya itu menggendong si cantik Himeka. Dari jauh Hayato datang menghampirinya.


"Ah, kenapa kau tidak mengabari jika akan kemari? Aku bisa menjemputmu di stasiun."


Lelaki berambut kecokelatan itu terkekeh sembari menurunkan Himeka. "Aku hanya mampir sebentar. Hari ini aku baru pulang mengunjungi Akio bersama Mina." Akio sendiri meneruskan pendidikan kuliahnya di Inggris.


"Kau jangan terlalu memanjakan mereka. Di sini sudah banyak mainan." Hayato melirik dua buah plastik besar. Mendengar omongan buyutnya, baik Satoshi mau pun Himeka berdecih sebal. Mata mereka seolah berkata 'Dasar buyut pelit'.


"Ini hadiah dari Akio untuk mereka." Koichiro mengeluarkan sebuah kotak kecil yang kemungkinan isinya adalah perhiasan. "Ini untuk Miku, kata Akio sebagai hadiah hari pernikahan mereka."


"Hari ... apa tadi?" Himeka kesulitan mengulangnya.


"Hari pernikahan," jawab Satoshi antusias. "Itu hari di mana ayah dan ibu memperingati hari pernikahan mereka."


"Pernikahan itu apa?" Himeka ikut duduk sambil menatap saudaranya. Gadis cilik itu menopangkan kedua tangan pada dagunya menunggu jawaban sang kakak.


Satoshi menggeleng sok dewasa. "Kau masih kecil sih, Himeka. Makanya tidak tahu apa artinya pernikahan. Aku yang anak remaja ini sudah tahu apa itu pernikahan," jelasnya seakan sudah berumur di atas 15 tahun.


"Kau lihat, Koichiro ... cucumu yang satu itu sok dewasa sekali," kata Hayato menggeleng. Pria baya itu hanya tertawa pelan lalu berpamitan.


"Kakak, apa itu pernikahan?"


"Pernikahan itu artinya kita hidup dengan orang yang kita sukai," jelas Satoshi antusias. Lagi sok dewasa.


"Kalau begitu aku akan menikah dengan Kakak karena aku suka Kakak."


"Tidak bisa begitu kita, kan saudara, itu tidak boleh."


"Lalu Kakak akan menikahi siapa?"


Satoshi tersenyum. "Nanti kalau aku besar, aku akan menikahi bola kesayanganku ini. Bola ini, kan bukan saudaraku."


"Oh begitu, ... nanti kalau sudah besar, aku akan menikahi boneka beruangku saja." Lanjut Himeka yakin.


"Kalau ada acara memperingati berarti harus ada pesta."


"Pesta? Wah keren. Pasti ada kue stroberi. Di pesta biasanya ada kue stroberi, kan?" Mata gadis cilik itu berbinar-binar. Membayangkan dirinya dihujani kue stroberi seperti di film kartun-kartun yang ditonton selama ini.


"Juga ada ayam goreng dan jus stroberi," tambah Satoshi senang, "Himeka ... kita suruh buyut untuk membuat kue stroberi dan ayam goreng, yuk?"


Himeka mengangguk. Mereka berlari ke arah Madara yang kini menggunting beberapa bunga mawar peliharaannya. "Buyut, buatkan kami kue stroberi, dong!" pinta keduanya sambil tersenyum semanis malaikat.


Hayato menatap keduanya. "Buyut tidak tahu, biasanya ibu kalian yang membuatnya."


"Kalau begitu gorengkan ayam!" kata Satoshi.


"Tidak ada ayam di kulkas."


"Minta uangnya!" sahut Himeka.


"Buyuy tidak punya uang. Kalian ini ada-ada saja." Lanjut lelaki tua itu gemas, lalu fokus pada mawar yang dipotongnya.


Mereka saling menatap. "Buyut ... kita main petak umpet, yuk," ajak keduanya tak putus asa.


"Buyut sibuk, masih banyak pekerjaan. Sudah kalian main bersama saja! jangan gangguku, Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Kalian mengerti?"


"Pelit!" kata Satoshi sebal.


"Apa?" Hayato menoleh.


"Kakak ... kita main saja, yuk. Buyut kan harus membersihkan tempat ini sendirian, jadi dia tak punya waktu santai-santai seperti kita. Di rumah ini buyut, kan bersih-bersih seperti bibi Ayame pembantunya Shinji tetangga kita," kata Himeka polos.


"Hei ... kalian ini bicara apa?!" Hayato jadi gemas karena kedua cicitnya sembarangan bicara.


Keduanya berlari sambil meninggalkan lelaki tua yang sedang mengomel itu.


"Himeka, bagaimana kalau kita yang siapkan pestanya?"


"Apa bisa?"


Satoshi mengangguk, lalu mengajak Himeka ke kamarnya. "Kita beli kue stroberi, ayam dan jus stroberi. Aku punya uang." Satoshi mengambil uang di dalam laci meja belajarnya. Ia

__ADS_1


mengeluarkan beberapa receh miliknya lalu menghitungnya. "Ada 630 ¥. Dengan ini kita bisa bisa membeli ayam," kata Satoshi senang.


"Wuah ... keren," seru Himeka berbinar. Bayangan hujan ayam kembali menghiasi imajinasinya.


"Apa kau juga punya uang?"


"Iya." Himeka berlari ke kamarnya, lalu mengambil dompet kecil, yanng isinya juga receh seperti milik Satoshi. "Ada 370 ¥."


"Asyik ... dengan uangmu, kita bisa beli kue stroberi."


Himeka berseru girang dengan mimpi berenang di antara kue stroberinya.


Kedua bocah itu sangat senang. Mereka bergegas keluar rumah sambil bergandengan tangan dan bernyanyi.


"Mau kemana?" tanya Hayato begitu melihat kedua cicitnya melewati dirinya.


"Mau belanja," jawab Himeka.


"Belanja ke mana?"


"Kakak, jangan bilang kita akan belanja kue stroberi. Nanti buyut minta. Padahal dia 'kan tidak menyumbang," bisik himeka tak suka.


"Toko dekat sini sebentar," jawab Satoshi, lalu meninggalkan Hayato sendiri. Mereka berdua tampak senang sekali diijinkan ke luar rumah.


Beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka jadi gemas melihat kelakuannya yang lucu.


Toko kue Ayaka ....


"Kue stroberi," gumam Himeka senang tak sabar begitu mereka ada di depan toko.


"Selamat datang," sapa pemilik toko itu ramah. Namanya Ayaka Shimura.


Mereka balas menyapanya sambil membungkukan badan, lalu bergegas ke arah kue stroberi yang menggiurkan itu. Namun, alangkah kagetnya mereka saat melihat harga kue stroberi yang dibandrol seharga 12.000 ¥ itu. Tart menggiurkan dengan banyak buah stroberi dan hiasan yang lucu.


"Hah?? Dua belas ribu yen?" ujar keduanya kaget sampai mulutnya menganga lebar.


"Kalian mau beli kue tart yang mana?" tanya Ayaka tersenyum. Dua Fujimine ini memang imut-imut menggemaskan minta diculik.


Keduanya saling pandang takut, karena uang yang mereka punya hanya 1000 ¥. Kue itu kelewat mahal bagi mereka.


"Ya-yang ... itu ...," Satoshi nampak ragu.


"Oh, yang ini?" Pelayan itu menujuk kue tart stroberi yang dimaksud.


Satoshi diam, mata berkeliaran mencari-cari kue lainnya hingga dia tak sengaja menemukan harga yang menurutnya terjangkau. Ada sepotong kue stroberi kecil yang harganya hanya 550 ¥.


Mata Satoshi berbinar. "Yang kecil saja," katanya tegas sambil menunjuk kue stroberi berukuran mini, yang mungkin hanya cukup dimakan dirinya.


"Eh?" Himeka menatapnya tak rela. "Kakak ...."


Akhirnya, mereka keluar dari toko kue itu dengan membeli sepotong kecil kue stroberi. Di sepanjang jalan, Himeka cemberut dan hampir menangis karena kue yang diinginkan tidak sesuai yang diharapkan.


"Hiks ... hiks ... hiks ...." Gadis cilik itu sesegukan menatap sepotong kue itu. Ia ingin kue yang besar bukan cuma yang sepotong, "Hiks ...."


Satoshi heran sekaligus iba melihat adiknya menangis bukannya senang. "Himeka, kenapa sih?"


"Kok, beli yang kecil sih, aku mau kue stroberi yang besar huwee ...." Air mata Himeka menetes sambil menatap kue kecil dibalik kotak yang dipegangnya. Tangisnya pecah, menggema ke mana-mana.


Satoshi menghela napasnya. "Habisnya mahal. Sudah jangan menangis lagi."


"Hiks ... hiks ... Kak, kuenya kecil sekali aku bahkan kurang jika cuma dikasih sepotong ini," katanya masih tidak terima. Bayangan berenang di antara kue stroberinya ambyar sudah.


Satoshi menghapus air mata adiknya dengan tangannya. Dia kasihan melihat adiknya menangis, tapi apa boleh buat uang mereka tidak cukup. "Himeka, jangan menangis lagi, nanti kita beli ayam yang besar," hibur bocah rambut pirang itu.


Himeka menghentikan tangisannya, lalu menatap kakaknya. "Janji ya? Kita akan beli ayam yang besar?"


Satoshi mengangguk.


Dan perjalanan pun berlanjut.


Toko Daging Akira ....


Tatkala mereka sampai di toko daging. Lagi-lagi mereka


menganga hebat begitu harga seekor ayam panggang 9000 ¥.


"Se ... sembilam ribu yen?!!" seru mereka kaget minta ampun.


"Wah, Satoshi sama Himeka. Mau membeli daging, ya?" Suara lembut itu menyapa mereka.


Satoshi menunduk lemas. "Himeka, uangnya tidak cukup. Bagaimana ini?" kata Satoshi memelas.

__ADS_1


"Kenapa mahal sekali?" tanya Himeka lesu.


Mereka terdiam lama menatap ayam panggang itu.


"Yang ini murah, cuma 200 ¥," kata Satoshi sambil menunjuk sepotong paha ayam goreng. "Bibi, aku mau yang ini dua. Cepat dibungkus, ya."


"Iya," sahut pemilik toko itu tersenyum. Duh, dua anak Fujimine ini benar-benar menggemaskan.


"Satoshi, ini jus stroberi untuk kalian." Shina, wanita bertubuh subur itu tersenyum. Kebetulan Shinji anak lelaki mereka seumuran Himeka.


Mereka berdua keluar dari toko daging tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Satoshi sangat senang karena sudah mendapatkan kue dan ayam. Sedangkan Himeka? Gadis cilik itu masih saja sedih.


"Kak, kok begini sih, yang kita dapatkan? Huweee!"


"Pokoknya ada kue dan ayam dan kita akan pesta. Nanti telpon ayah suruh pulang cepat biar kita bisa merayakan pesta."


Meski tak puas Himeka mengangguk saja. Mereka segera pulang ke rumahnya.


🌷🌷🌷🌷


PRANG!!!


Sebuah kaca pecah. Ryu membuang gelas yang dipegangnya.


"Kenapa?" tanya Yue kaget.


"Aku bosan. Aku ingin mati," keluhnya putus asa.


"Kenapa bicara seperti itu?"


"Kakiku tak bisa disembuhkan. Lalu untuk apa aku hidup? Aku hanya menyusahkan orang-orang saja."


"Kak!" Yue terlihat sedih, operasi pada kaki Ryu kemaren gagal.


"Kau juga tak akan mungkin terus di sisiku. Ada masanya di mana kau akan bosan dan mengeluh." Pemuda itu begitu putus asa.


Yue memeluknya. Ia menangis. "Jangan berkata seperti itu lagi. Selain papa yang aku punya, aku hanya punya kau. Aku mohon jangan bicara seperti itu lagi. Aku tak mau kehilangan lagi. Bagiku, kau adalah segalanya. Kau adalah hidupku. Tak peduli butuh berapa tahun lagi kau akan seperti ini, aku akan terus menemanimu. Percayalah," ujarnya meyakinkan. "Aku sangat menyayangimu."


Ryu balas memeluk Yue, ada air mata yang mengalir dari bola mata yang membasahi pipinya. "Terima kasih. Meski kita tidak terikat darah setetes pun, kau bahkan seperti adikku sendiri. Terima kasih tidak meninggalkanku sendiri."


Yue mengangguk. "Kita akan hidup bersama dan mencari putri impianmu suatu hari nanti."


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


__________________________________


Jumat, 5 Juni 2020


___________________________________


Klik, please


👇


Catatan :


Scene saat Himeka & Satoshi ke toko 😆 Terinspirasi dari anime "Baby & I"

__ADS_1


__ADS_2