
Jika menurutmu mati adalah jalan terakhir, tak bisakah kau membalikkan tubuhmu agar tak melangkah pada jalan kematian?
Serumit apa pun masalahmu, kau harus tegar menghadapinya, jangan pernah mau kalah dalam menghadapi masalah.
Kenyataan ada bukan untuk lari, tapi untuk kau hadapi."
Miku tersenyum mengingat kata-kata pelatihnya tadi saat di dalam kereta. "Hm ... dia keren juga," ujarnya kagum. Gadis itu menatap selembar foto yang selalu tersimpan di dalam dompetnya.
Foto dirinya dengan Ryu.
"Ryu, aku merindukanmu," lirih pelan.
Sementara itu di kota Milan, Italia.
Di sebuah rumah besar dan mewah, Ryu menatap langit-langit kamarnya. Bosan. Mungkin itu yang remaja stoic rasakan tanpa melihat wajah Miku. Ia pun menelpon nomer yang sudah hafal di luar kepalanya. Tak peduli nanti berapa tagihannya, yang penting dirinya bisa mendengar suara sang kekasih.
"Miku," sapanya begitu telpon di sebrang sudah terangkat, "apa kabar? Apa kau sehat?"
Diam. Masih tak ada jawaban.
"Miku, kau mendengarku?" tanya Ryu cemas.
"Ryu ...," jawab Miku bergetar, gadis itu berusaha menahan tangisnya. Ada rasa sesak di dada saat mendengar suara kekasihnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja."
Pembicaraan mengalir santai, ada perasaan senang di hati mereka. Terlebih Miku, ia menghapus air matanya dan kembali tersenyum.
Waktu berjalan begitu lambat, berusaha menyapu sisa-sisa kerinduan gadis berkulit putih itu malam ini. Di luar, bulan tersenyum lembut kagum akan ketegaran gadis lavender itu. Si pemilik mata sayu itu menutup jendela kamarnya, tapi ia masih bisa menatap taburan bintang di atas langit. Malam yang indah dan cerah. Secerah hatinya saat ini.
"Jaga dirimu baik-baik,"
"... kau juga."
"I Love you."
Pipi Miku merona mendengarnya. "Ry-Ryu ... kau kekanakan."
"Aku memang kekanakan, tapi siapa yang menyukai seorang yang kekanakan sepertiku?"
"Ryu" Sang gadis merajuk.
"Baiklah sampai jumpa." Ryu menutup telponnya. Ia tersenyum puas karena sudah mendengar suara pujaan hati.
ππππ
SMA Seika Jogakkan, kelas 2-1.
"Higashiyama, apa kau baik-baik saja? Wajahmu pucat," tanya Pak guru Eundou cemas, "jika kau sakit, kau bisa ke ruangan kesehatan atau pulang lebih dulu."
Miku mengangguk. Entah kenapa beberapa minggu ini penyakit asam lambungnya sering kumat. Gadis itu segera membereskan bukunya lalu pulang. Aku harus ke dokter sekarang.
ππππ
"Klik." Ryu bergeming kala saluran telponnya diputus sepihak. Tubuhnya bergetar hebat, wajah tampannya terlihat shock. Gagang telpon itu masih bergantung, tapi ia tak peduli. Pikirannya berkecamuk hebat. Hal yang tak pernah ia bayangkan terjadi juga.
Miku hamil. Dan dialah ayah biologis dari bayi yang dikandung gadis pendiam itu.
Ryu menatap sebuah bingkai foto dirinya dengan Miku ketika berulang tahun dulu. Bayangan masa lalunya datang seolah mengingatkan kembali kejadian yang sudah dia lakukan waktu itu.
__ADS_1
"Tuhan ... kenapa bisa begini?" ujarnya bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin kembali ke Jepang. Aku harus membujuk Daddy, agar bisa kembali ke Jepang.
Remaja itu keluar dari kamarnya. Di Milan, Ryu tidak tinggal di asrama seperti kebanyakan pelajar umum lainnya, tapi tinggal di rumah baru bersama ayahnya. Ryu mencari sang ayah ke ruang kerjanya, tapi ruangan itu kosong.
"Where is Dad?" tanya Ryu pada sekertaris ayahnya ketika berpapasan di ruang tamu.
"Bertemu dengan pemilik anggur dari Spanyol sejak kemarin, Tuan Muda,"
"Kapan pulang?" tanyanya sebal.
"Kamis."
"Katakan padanya, aku ada keperluan mendadak. Aku ingin segera bertemu dia nanti malam."
Sekertaris itu mengangguk. "Eh Tuan Muda, besok lusa Nyonya Besar akan kemari. Tepatnya hari minggu."
Ryu terdiam. Remaja 17 tahun itu rindu sekali pada ibunya setelah hampir empat tahun tak bertemu, dia teringat kata-kata ayahnya kala itu.
"Jika kau tak ke Itali, Daddy pastikan kau tak akan pernah bisa menemui mommy-mu. Bukankah kau sangat merindukannya, Ryu? Sadarlah kau lebih 4 tahun tak bisa menemuinya. Itu karena Daddy melarang kalian bertemu. Jika kau masih ingin bertemu dengannya kau harus ikut Daddy ke Itali, jika tidak, pertemuanmu dengan mommy-mu empat tahun yang lalu adalah pertemuan terakhir kalian."
Ryu menghela napasnya. Dia tak boleh membuang kesempatan untuk bertemu ibunya.
ππππ
"PLAKK!!" Ryu sedikit terhuyung, tapi dia tetap diam meski ayahnya menampar pipinya sangat keras. Sakit memang. Pipi kirinya bahkan sudah merah.
"You will still with Daddy, Ryu."
"No! I have too meet her, Dad!" teriak Ryu kesal.
"Don't dream!"
"Why?"
"Tapi Miku sedang mengandung anakku!" teriak remaja itu kesal.
Albert yang awalnya hendak meninggalkan putranya itu membalikkan tubuhnya begitu
mendengar pengakuan Ryu. Lelaki itu menatapnya tajam. "Jadi itu alasanmu, kau begitu ngotot mau kembali ke Jepang? Gadis itu memberitahumu kalau dia sedang mengandung anakmu? Heh, lelucon macam apa." Pria berambut hitam itu tersenyum mengejek.
"Itu bukan lelucon," tekan Ryu datar.
"... dan kau percaya anak itu adalah darah dagingmu?"
"Of course!" jawab remaja itu tegas, "kami sudah tidur bersama dan aku yang memaksanya bukan dia yang menggodaku."
"Ryu Hikaru!" Albert menatap Ryu seakan dia hendak menelannya bulat-bulat. Dengan perasaan marah, dicengkramnya baju yang dipakai putranya kasar lalu memukulnya berkali-kali.
Ryu tak melawan, bahkan ketika ayahnya sudah kehabisan tenaga untuk memukulnya dia tetap bergeming. Wajah Ryu mulai babak belur akibat amukan lelaki tua itu.
"Kenapa berhenti? Pukul saja aku terus sampai Daddy puas, tapi aku akan tetap berangkat ke Jepang danΒ jangan menghalangiku."
"Kau akan tetap di sini," tekan lelaki itu.
Ryu tersenyum sinis. "Jangan harap Daddy bisa bisa menghalangiku." Remaja pirang itu bergegas pergi.
Sementara Albert menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tak akan bisa melawanku. Akan kusingkirkan bayi dan gadis bernama Miku Higashiyama itu. Lihatlah," desisnya berambisi. Tangannya mengepal.
ππππ
__ADS_1
Hari mulai sore, Miku berjalan gontai ke luar kelasnya. Wajahnya terlihat lelah, pikirannya kacau. Sekolah sudah sepi hanya tinggal beberapa anak yang masih asyik berkumpul di sekolah karena kegiatan tambahan.
Semenjak dia tahu hamil, gadis itu merasa hidupnya hancur tak punya masa depan. Sampai saat ini Ryu masih belum menghubunginya.
"Jadi kau yang bernama Miku Higashiyama?"
Miku mendongak menatap sosok yang menyapanya. Sesosok lelaki tinggi menjulang, berpenampilan rapi dan tentunya kaya. Sosok itu menatapnya sambil tersenyum meremehkan.
Siapa dia? Wajahnya tidak kukenal bahkan ini untuk pertama kalinya kami bertemu pria terkesan angkuh ini.
"Namaku Albert Hikaru."
Wajah Miku langsung pucat begitu mendengar nama laki-laki yang pernah disebut Ryu. Kekasihnya pernah bercerita betapa sangat otoriternya sang ayah. Tentunya gadis itu tahu bahwa lelaki ini sangat disegani karena pengaruhnya yang sangat kuat. Miku mundur dua langkah.
"Kenapa kau kaget sekali, wajahmu sampai pucat. Apa wajahku sangat menakutkan?" Albert tersenyum sinis melihat Miku ketakutan. Gara-gara gadis ini, dirinya harus mendadak memesan tiket penerbangan ke Jepang secepatnya setelah satu hari pertengkarannya dengan putranya. "Miku, aku akui kau hebat karena sudah bisa membuat putraku berani melawanku. Bagaimana kalau kalian segera berpisah?"
Miku menatapnya lurus. "Kami tak akan berpisah, Ryu berjanji tak akan meninggalkanku."
Albert tertawa. "Apa karena janin itu?" Tunjuknya pada perut Miku.
Reflek Miku meraba perutnya.
"Sebenarnya aku itu orang baik, tapi jika ada yang menjadi batu sandungan bagi masa depan anakku, aku tidak akan berpikir dua kali untuk melakukan hal kejam,"
"A-apa maksud Anda?" Miku mulai takut.
"Gugur bayi itu dan tinggalkan Ryu."
"Itu tidak mungkin, bayi ini anak kami."
"Apanya yang tidak mungkin? Aku akan membantumu," Lelaki itu mendekatinya, "ini cek kosong yang sudah kutandatangani semua,
kau bisa menulis berapa pun angka yang kau mau dengan syarat tinggalkan putraku. Kau bisa memulai hidupmu yang baru dengan cek itu. Lagi pula kau dan putraku masih sangat muda. Ryu masih 17 tahun dan kau baru 16 tahun bukan? Masa depan kalian masih panjang, jangan sampai gara-gara kehadiran bayi itu bisa membuat hidup putraku berantakan. Jadi gugurkan saja," nasehat Albert sekaligus penekanan yang seolah mengancam, 'Tinggalkan dia atau kalian akan menyesal'.
π·π·π·
π·π·π· To Be Continued π·π·π·
π·
π·
π·
π·π·π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda love [β€] usai membaca, ya π
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
__________________________
Sabtu, 18 April 2020
______________________________
__ADS_1
Klik, please
π