Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[16] Miku Atau Kyoko


__ADS_3

Miku terjaga dari tidurnya


karena rasa haus. Dia menuruni tangga menuju dapur. Belum sampai di dapur, wanita itu melihat Kyoko tertidur di pundak suaminya dan selang beberapa detik, Masaya membopong tubuh itu masuk ke kamar tamu.


Melihat hal itu, rasa sakit di hati Miku kembali menjalar. Dia meraba dadanya yang terasa sesak.


"Kau belum tidur?"


Miku kaget karena tak menyadari suaminya sudah ada di depannya. Sejak kapan dia di sini? Ia memandang arah lain.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu hingga tak bisa tidur?" kejar Masaya.


"A-aku haus," jawabnya jujur, dia segera melewati suaminya, tapi pria itu menahan tangannya hingga sang istri tak bisa pergi.


Ditatapnya bola mata Miku. "Kau cemburu dengan kedatangan Kyoko, iya, kan?"


"Kenapa harus cemburu?" Miku berusaha tersenyum.


Mata Masaya terus mencari kebenaran di mata istrinya. Miku menunduk, ada air mata jatuh dari bola mata indah itu dan mengenai tangan Masaya.


Sedetik kemudian Masaya menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Miku, aku tak akan pernah mengkhianatimu. Kau bisa pegang kata-kataku." Dielusnya rambut ikal kecokelat yang panjang itu.


Miku membalas pelukan itu, ada perasaan hangat yang memasuki celah hatinya. Ia mulai sadar, perasaannya pada Masaya sudah berubah. Rasa simpati yang kecil bagai tetes air, kini sudah memupuk sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi cinta.


Perlahan Masaya mengangkat wajah Miku hingga berhadapan dengan wajahnya. Diamatinya wajah itu dengan seksama, lalu dia menundukkan kepala dan mulai mengecup bibir istrinya pelan. "Percayalah padaku."


Miku masih ragu, tapi saat mata sang suami kembali menatapnya, Miku jadi tak bisa berpikir. Mata itu ... mata yang paling mampu membuatku tak bisa berpikir apa-apa! Mata yang seolah-olah menuntunku untuk berkata 'ya'. Dan pada akhirnya Miku mengangguk.


Masaya tersenyum. "Di mana foto pengantin kita yang dipajang di ruang tamu?"


"Aku simpan di kamar Satoshi. Aku tak mau Kyoko melihatnya."


"Kau ini, untung kakek ke luar kota. Setidaknya Kyoko masih aman. Tidurlah, Satoshi membutuhkanmu. Jangan biarkan dia menangis ketakutan karena ibunya tak ada di sisinya."


🌷🌷🌷🌷


Memang suatu keberuntungan bagi Kyoko berada di rumah Masaya, karena Hayato sedang berada di luar kota selama tiga hari. Kyoko masih mengira jika Miku adalah Eriko, adik Masaya yang dulu sering kekasihnya itu ceritakan.


Pagi itu Masaya bangun agak siang, begitu selesai mandi dia segera menuju dapur untuk memasak, tapi begitu tiba di ruang makan, dia terkejut melihat hidangan yang sudah selesai dimasak. Dari aromanya sudah menggoda perut, menu kali ini benar-benar membuatnya bergairah untuk makan. Masaya tersenyum.


Tidak biasanya Miku sudah memasak di pagi hari sekali, memangnya dia itu bangun jam berapa? Masaya pun mulai mencicipi. Tanpa membuang-buang waktu lagi dia mulai menyumpit masakannya. Rasanya enak sekali, sudah lama dia tak memanjakan perutnya di pagi hari.


"Aku tahu kau pasti lapar, melihatmu makan begitu lahap, kau pasti suka," ujar Kyoko bangga, "enak, kan? Tidak sia-sia aku belajar memasak dari seorang chef asal Jepang selama enam bulan." Gadis berambut blonde itu langsung duduk di samping kanan Masaya.


Sumpit yang dipegang Masaya hampir saja jatuh, dia baru ingat kalau Kyoko kemarin datang ke rumahnya. Ya Tuhan ... kenapa aku bisa lupa kalau dia ada di sini? Entah kenapa Masaya mendadak menjadi orang paling idiot sedunia.


"Masaya ... bagaimana rasanya? Kenapa diam? Enak, kan?"


"Ya," jawabnya singkat. Entah kenapa masakan yang tadinya begitu lezat dan menggoda perutnya, mendadak terasa hambar. Dia menyumpit kembali masakan itu ke dalam mulut meski sudah tak lagi enak rasanya.


"Wah, kau sudah bangun juga. Ayo duduk di samping kakakmu, kita sarapan bersama." Dengan gembira Kyoko menyajikan masakannya untuk Miku.

__ADS_1


Pria berambut hitam itu meliriknya, Miku hanya bisu. Astaga ... apa-apaan ini, kenapa hidupku sesulit ini? Aku masih belum tega juga memberitahu yang sebenarnya pada Kyoko kalau wanita di hadapanku ini adalah istriku. Kenapa aku jadi pengecut begini?


Miku duduk di samping kiri Masaya dan mulai menyumpit makanan ke dalam mulutnya. Dia hanya diam tanpa bersuara. Terkadang sesekali dia melirik Kyoko yang bermanja-manja pada suaminya. Kyoko ... apa kau tahu, kalau aku sangat membencimu? Aku benci padamu! Dan kau Masaya, kenapa hanya diam saja saat dia bermanja-manja padamu? Mungkinkah kau masih menyukainya? Lalu kau anggap aku apa? Air mata Miku hampir jatuh, tapi dengan cepat dia menghapusnya.


Sebenarnya Masaya jadi risih dengan sikap Kyoko padanya. Namun, dia tak bisa menolak, mungkin di hatinya, pemuda itu masih menyimpan rasa terhadap gadis blonde itu.


Pria Fujimine itu menoleh pada istrinya yang ada di samping kirinya, sedangkan Kyoko di samping kanannya. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Masaya juga mulai ragu akan perasaannya pada mereka.


Sebenarnya siapa yang ia cintai. Miku atau Kyoko?


Masaya menyayangi Miku bahkan melebihi apa pun, juga Satoshi. Kebersamaannya bersama mereka jadi terasa indah. Namun, dengan kehadiran Kyoko, dia tak bisa menyangkal perasaannya kalau dia masih mencintai gadis itu. Terlebih Kyoko lebih agresif padanya dibanding Miku yang pasif.


Pria itu memejamkan matanya. Dia sadar kalau di antara kedua wanita itu pasti hatinya ada yang terluka. Dia harus memilih dan harus tegas.


Kyoko menyandarkan kepalanya pada bahu Masaya sambil mengingat saat mereka masih di Inggris dulu. Sesekali Masaya ikut tersenyum mendengarkan dan menyahut sekadarnya. Pria Fujimine itu tahu, istrinya mulai terabaikan berada di antara mereka. Namun, dia tak mau Miku pergi meninggalkannya.


Saat Miku selesai makan dan hendak bangun, dengan cepat Masaya menggenggam tangannya


membuat sang istri menoleh. Masaya tersenyum ke arahnya seakan mata itu meminta 'Jangan pergi, tetaplah di sini. Temani aku'.


Miku tak jadi pergi, ia pun membiarkan tangan kanannya diremas lembut oleh Masaya. Wanita itu itu tersenyum samar. Masaya masih memikirkanku.


🌷🌷🌷🌷🌷


Sore itu, Milu buru-buru ke ruang tengah untuk memberitahu suaminya kalau kakeknya tak jadi menginap tiga hari dan sudah pulang. Bahkan lelaki tua itu sudah sampai di stasiun saat menelponnya tadi.


"Masaya!" Miku mencari suaminya, tapi tidak ketemu, dia pun mencari keluar. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat Masaya dan Kyoko saling menatap lama dengan jarak yang sangat dekat. Suaranya mendadak hilang. Dia melihat dengan jelas Masaya sedang menyentuh kedua pundak gadis itu dan seperti mengatakan sesuatu. Sangat serius.


Miku memegang dadanya. Kenapa dadaku jadi sesak saat melihat mereka sedekat itu? Dipukulnya dadanya pelan. Rasa sakit itu semakin menjalar hebat tatkala melihat keduanya sama-sama saling mendekatkan wajah hingga akhirnya mereka saling berciuman.


"Anak itu sungguh tidak tahu malu!" Tiba-tiba suara Hayato mampir di telinga Miku.


"Ka-Kakek?" ujar Miku kaget.


Wajah lelaki tua itu memerah karena marah dengan kelakuan cucunya sendiri. "MASAYA FUJIMINE!" bentak Hayato marah.


Masaya dan Kyoko menoleh kaget. "Ka-kakek ...," ujarnya tak percaya, ia mendapati Miku yang menatapnya nanar. Apa mereka melihat apa yang sudah kulakukan tadi? Kuharap mereka tak salah paham. Wajah Masaya jadi pucat. Dia juga melihat istrinya yang memandangnya dengan mata ketidakpercayaan. "Miku ini tidak ...." Masaya menatap istrinya menyesal.


BUGH!


Masaya terhuyung ketika sebuah hantaman keras mengenai wajah tampannya. Hayato mengamuk tanpa ampun. "Kakek, aku bisa jelaskan semua?"


"Menjelaskan kalian berciuman di depan kami, begitu?" BUGH! Kembali amukan itu mengenai pipi kirinya.


Kyoko menjerit ketakutan dan memohon agar tak memukul Masaya lagi, tapi sayangnya, kemarahan pria tua itu tak bisa diredam. Hampir saja lelaki Hayato memukul Kyoko jika Masaya tak melindunginya. "Kakek hentikan! Jangan sakiti dia!" Masaya menghalangi kakeknya.


"Kau?!" Tunjuk Hayato tak percaya.


"Ma-Masaya," suara Miku terdengar pilu. Mata itu menatap keduanya nanar, lalu berkata, "Kau masih mencintainya, kan?"


Miku ....

__ADS_1


"Kau bisa kembali padanya. Mungkin selama ini aku yang egois mengharapkanmu tinggal di sisiku. Aku tak ingin memaksamu. Di sini ... biar aku yang pergi. Kau berhak bahagia." Usai berkata seperti itu air mata Miku menetes.


Masaya semakin bingung, selanjutnya Miku segera berlalu ke dalam rumahnya. Masaya memeluk Kyoko yang masih menangis syok, tapi saat dia melihat Miku pergi membawa Satoshi hatinya pun jadi bimbang. "Miku, kau mau kemana? Jangan pergi!" Masaya berusaha lari, tapi Kyoko menariknya.


"Masaya, jika kau mengejarnya, aku yang akan pergi!" ancam Kyoko tak main-main.


"Kyoko, dia istriku! Tolong jangan membuatku bingung!"


"Kau terpaksa menikahinya, bahkan anak itu bukan putra kandungmu. Kau jangan bodoh. Kau hanya kasihan padanya, bukan mencintainya!" Kyoko menatapnya memohon. Air matanya kembali menetes dan itu membuat Masaya semakin gelisah.


Masaya semakin bingung. Dia menatap kepergian Miku dan Satoshi yang menangis sambil memanggilnya dirinya.


"Masaya .... kau tak bisa menggenggam dua wanita sekaligus. Pilih salah satu jika kau tak mau kehilangan keduanya," ujar Hayato serak, "kau bisa memilih Miku atau dia." Ditatapnya wajah keduanya bergantian."Nona Hasekawa,


pergilah, biar cucuku sendiri yang menentukan pilihannya, dengan begitu aku tahu siapa yang akan dia pilih. Jika dia mengejarmu itu artinya


Itachi memilihmu. Pergilah."


Dengan berat hati Kyoko pergi.


Hayato menatap cucunya. "Aku yakin dengan pilihanmu, pilihanmu tak pernah salah. Pergilah dan bawa pulang salah satunya."


Masaya segera berlari, begitu sampai di deoan gerbang ia berteriak. "Kyoko, tunggu!" Pria Fujimine itu mengejar si gadis blonde menuju bandara saat melihat Kyoko menyetop sebuah taxi.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


________________________________


Jumat, 8 Mei 2020


_________________________________

__ADS_1


Klik, please


👇


__ADS_2