
Miku mulai menyukai Masaya! Gadis itu semakin hari semakin dibuat terharu dengan sikap suaminya. Tadi pria berambut gelap itu menunjukkan dua kamar yang sudah direnovasi menjadi kamar anak-anak. Kamar si kecil kelak.
Kamar pertama bernuansa biru dan cerah. Lengkap dengan peralatan bayi, mulai dari baju, sepatu, mainan dan bermacam-macam pernak-pernik lucu untuk ditinggali seorang anak laki-laki kelak.
Kamar kedua bernuansa pink dengan atribut berbagai tokoh barbie. Lengkap juga dengan segala macam pernak perniknya. Pria Fujimine itu sengaja menyicil membeli keperluan tersebut sejak lama.
Masaya ... jangan terlalu baik padaku. Aku takut nanti tak bisa menahan perasaanku, lalu jatuh cinta padamu. Gadis itu menatap sedih punggung Masaya yang sibuk menghiasi dinding bernuansa pink itu.
"Miku, kau suka? Jika tidak aku akan mengganti ...."
"... aku suka, benar-benar suka," potongnya cepat, "... terima kasih."
Masaya tersenyum. "Tapi ini tidak gratis, kau harus ikut denganku sore ini melihat sakura di dekat pegunungan belakang rumah. Bagaimana?"
Si pemilik mata sayu itu mengangguk. "Ya,"
"Siapkan onigiri tuna seperti kemarin." Masaya kembali menempel pernak pernik lainnya.
Miku tersenyum. Soal memasak dia memang pintar. Hayato mengatakan jika Masaya sejak kecil sangat menyukai onigiri, tapi menjadi jarang memakannya sejak ibunya meninggal dikarenakan rasa onigiri buatan ibunya tak sama dengan yang dijual di toko. Membuat sendiri pun sering gagal. Namun, Miku justru membuatnya dengan rasa yang sama persis dengan rasa yang dibuat mendiang ibunya. "Tidak bosan? Apa kau tidak menginginkan yang lainnya?"
"Tidak."
Sore hari yang dinanti akhirnya tiba. Sebenarnya, jarak antara gunung belakang rumah mereka cukup dekat, hanya berjalan kaki sekitar 600 meter mereka sudah sampai.
Mereka berdiri menatap sakura yang bermekaran indah itu. Angin sore berembus pelan berusaha memain-mainkan rambut lurus gadis cantik itu. Wajah Miku terlihat sangat ceria.
"Indahnya," puji Miku terpesona pada kelopak sakura yang berguguran dan diterbangkan angin. Bibirnya tersungging membentuk senyuman yang melebihi indahnya sakura yang mekar saat ini.
Masaya menatap wajah Miku yang tersenyum lepas. Ada getaran aneh yang kembali melanda hatinya. Kilatan mata tajamnya tersihir oleh kecantikan alami wajah istrinya. Tatapan matanya turun ke arah bibir Miku. Sebuah bibir mungil tipis yang kemerahan dan terukir sempurna. Pantas saja jika bule sekelas Ryu Hikaru tergila-gila pada gadis ini. Wanita yang sudah resmi menyandang status sebagai istrinya ini sangat cantik dan manis. Memiliki mata yang seindah bulan purnama, saat tersenyum mata itu seolah ikut tersenyum. Alisnya yang bagus melintang indah di atas matanya, hidungnya mancung. Poni di dahinya yang membuat gadis itu terlihat imut.
Diam-diam Masaya selalu menghentikan tatapannya pada bibir gadis itu. Terkadang dia berpikir bagaimana rasanya jika dia mencium bibir itu diam-diam dan Miku mengetahuinya. Masaya kembali tersenyum samar. "Ya, benar-benar sangat indah," ujarnya tanpa sempat melepas tatapan matanya ke arah lain.
"Kau lihatnya ke mana, sih? Sakuranya, kan di sana?" tanya Miku heran.
"Eh?" Masaya menyadari kebodohannya. Reflek dia
memalingkan wajahnya yang mulai kemerahan. Astaga, apa yang tadi aku pikirkan?!
"Masaya ..." Miku menegok wajah suaminya heran.
Masaya memaki dirinya. "Bukannya tadi kau ingin menanyakan sesuatu, katakan saja sekarang," kata pemuda itu berusaha mengalihkan topik.
Miku terlihat ragu. "Kau percaya ungkapan 'first love never deep'?" tanya gadis itu hati-hati.
Sebenarnya, Miku ingin menanyakan hal itu tentang Kyoko si cinta pertama suaminya. Sayangnya, Masaya salah paham, dia mengira Miku bertanya tentang cinta pertamanya pada sosok tampan berenerjik Ryu Hikaru.
"Aku percaya," jawab Masaya datar.
"Bisa dilupakan?"
Masaya tersenyum, dia menatap istrinya. "Sampai kapan pun yang namanya cinta pertama tak akan pernah bisa dilupakan. Sekeras apa pun kau berusaha melupakannya, cinta pertama itu akan terus hidup. Dia akan terus dikenang sampai mati."
Miku memalingkan wajahnya. Tangannya memengang erat besi yang melintang di depannya, yang memagari tempat tersebut sebagai pegangan. Masaya ... ternyata kau memang tak akan pernah bisa melupakan Kyoko. Kau bodoh Miku. Benar-benar bodoh!! Begitu bodohnya hingga berani mengkhayal Masaya akan jatuh cinta padamu. Kau pikir dirimu siapa? Tangan gadis itu bergetar, ada air mata yang mulai meloncat dari bola matanya.
Masaya jadi heran. Dibaliknya tubuh itu hingga saling berhadapan dengannya, ia menggapai wajah istrinya. Mereka saling menatap mata satu sama lain. Wajah Miku begitu terluka. "Miku,"
Sang istri terisak. Ada rasa sakit yang menjalar di hatinya. Sungguh dia mulai memiliki rasa terhadap suaminya. Salahkah rasa itu? Atau akibat hormon yang dirasakan saat mengandung membuatnya seperti ini?
"Aku tak keberatan jika kau masih memikirkan Ryu. Walau kalian tak bisa bertemu, aku selalu akan ada di sampingmu. Jangan lupakan dia."
__ADS_1
Miku terisak. Hatinya berdenyut sakit.
Masaya mendekapnya, membiarkan gadis manis itu menumpahkan tangisannya agar melepas rindu. "Kau tak perlu mengatakan apa-apa, aku
mengerti. Bagiku kau sangat penting meski kau tak menganggapku yang pertama. Jangan takut, aku selalu ada untukmu."
"Lalu kau sendiri?" Miku mendongakkan wajahnya. Menatap mata kelam sehitam jelaga itu.
Masaya tersenyum. Dia menyentil dahi istrinya sejenak. "Apa kau tidak tahu? Aku itu laki-laki dan laki-laki itu sangat kuat, aku lebih kuat dari yang kau kira."
Miku mendorong tubuh itu kesal. "Bukan itu maksudku!"
"Lalu apa?" Masaya jadi bingung.
"Gadis yang bernama Kyoko. Bagaimana dengan dia? Yakin bisa melupakannya?" cecarnya pelan. "Maaf ...."
Pria itu kaget, bagaimana mungkin istrinya bisa tahu tentang Kyoko? Dia bahkan tak pernah membahas soal mantan kekasihnya. "Itu ...."
"... a-aku tak sengaja tahu. Semalam saat mabuk, kau menyebut nama Kyoko sambil menangis. Masaya, kau masih sangat mencintainya, kan?"
Masaya terdiam, dia ingat malam itu mabuk, tapi dia tidak ingat apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah dia katakan.
"Kau bilang ...."
"... jangan dilanjutkan," potongnya bergetar, "aku tak ingin mendengar kelanjutannya." Pandangan matanya berubah lebih gelap dari biasanya. Dia
menatap istrinya. "Jangan pernah sebut namanya lagi di depanku."
"Masaya ...."
"Kau memang bukan yang pertama tapi kaulah yang terakhir dan akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Miku, sebenarnya kita ini sama. Kita mengalami cinta pertama yang tak bersambut. Aku tak mungkin bisa menggantikan posisi Ryu di hatimu," Disentuhnya pipi istrinya, "biarkan tempat itu kosong karena aku yakin Ryu akan datang padamu suatu hari nanti."
Masaya tersenyum pahit. Miku, tak adakah tempat untukku sedikit saja di hatimu? Meski pun itu hanya satu detik?
Masaya ... tak bisakah aku menggantikan kedudukan Kyoko di hatimu? Apa sebegitu besarnya cintamu padanya? Atau tak pantaskah aku bersanding denganmu?
Masaya menatapnya. Miku ... aku mencintaimu.
Mereka saling menatap bisu. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka, hanya sebuah tatapan yang saling meminta, tapi tak bisa diucapkan.
Hanya satu yang menggambarkan keadaan mereka. Mereka saling mencintai.
"Hei, berjanjilah kita akan bersahabat sampai mati."
"Sahabat?" Si gadis bermata indah itu tak percaya. Hanya sahabat?
Masaya mengangguk lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Menjadi sahabat hati selamanya," bisiknya.
Miku mengangguk meski hatinya menginginkan hal yang lebih.
🍓🍓🍓🍓
Sahabat hati? Apa maksudnya? Miku masih memikirkan kata-kata suaminya. Dia bingung dengan pernyataan itu hingga tak bisa tidur sampai saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Gadis itu menatap punggung sang suami yang sedang membelakanginya sekarang.
Gadis itu tersenyum pahit. Kyoko ... beruntung sekali kau bisa dicintai laki-laki seperti suamiku. Sejujurnya aku membencimu, walau aku tak tahu seperti apa wajahmu. Miku merentangkan sebelah tangannya ke arah punggung suaminya. Padahal kita sedekat ini hanya beberapa centi dariku. Rupanya aku salah mengira, kupikir kau mulai menyukaiku. Miku membalikkan tubuhnya hingga keadaannya sekarang saling membelakangi.
Kembali terisak pelan.
"Kau menangis?"
__ADS_1
Dengan cepat Miku menghapus air matanya. Kenapa dia bisa bangun? Apa tangisanku keras? Saat dia menoleh, kepala Masaya sudah condong menatap wajahnya.
"Kau menangis?" ulangnya.
"Tidak,"
Masaya menatapnya tak percaya.
Tiba-tiba Miku mengaduh kesakitan. Meringis kesakitan sambil memegang perutnya hingga membuat Masaya reflek melihat perut besar itu cemas.
"Kenapa?" tanyanya cemas sambil menatap wajah istrinya khawatir.
"Bayi ini menendangku," jawabnya polos sambil memegang perutnya yang barusan bergetar.
Masaya tertawa. "Wah, dia sudah belajar menendang dari perutmu. Aku semakin yakin kalau dia laki-laki," tebak Masaya. Lalu dia mengusap perut Miku yang membuncit itu, "jagoan kecil, ayo cepat keluar, Ayah akan mengajarimu bermain bola nanti."
Mata Miku sedikit memanas begitu Masaya menyebut dirinya 'ayah' pada bayinya tadi. Ada rasa bahagia yang tak bisa diucapkan hingga dia ingin menangis sekarang.
"Kenapa lagi?" Selidik Masaya heran melihat ada air mata yang mulai menetes dari matanya. Rasanya dia tak mengucapkan sesuatu yang salah.
"Aku senang saat kau menyebut kata ayah tadi."
"Memangnya kenapa, kau 'kan, istriku. Sudah tentu anak ini akan menjadi anakku bukan?" Dia kembali mengusap perut buncit itu. "Iya, kan, jagoanku? Kita akan bermain bola jika kau lahir nanti, jadi berhentilah menendang perut ibumu."
Sayangnya bayi yang ada di dalam perut Miku itu sepertinya bandel dan tak mau mendengar kata-kata Masaya. Karena itulah, sekali lagi bayi itu menendang cukup keras hingga membuat guncangan di perut Miku.
"Aduh!!"
"Hei ...hei ... sudah Ayah katakan jangan menendang lagi, kasihan ibumu, Nak." Masaya jadi gemas dan ingin sekali dia memukul bayi di dalam perut istrinya.
Miku hanya tersenyum.
🌷🌷🌷
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
_____________________________
Selasa, 21 April 2020
Klik, please
__ADS_1
👇