
Dokter Shigeru mendesah sejenak. Dua hari lalu Isao yang dioperasi kini pemuda berparas tampan nan angkuh itu yang sedang menjalani operasi.
Keadaan Ryu cukup parah. Ia terjatuh seperti halnya Isao, kepalanya membentur besi.
Dokter Shigeru yang menangani keadaan itu sudah memberitahu Miku kalau keadaan Ryu cukup parah dan jangan terlalu banyak berharap.
Di luar Miku menunggu dengan cemas, sementara Isao sudah tertidur di sampingnya. Selang beberapa saat kemudian Satoshi datang. Dia melihat ibunya yang nampak pucat dan sendu. Perlahan dia mendekati ibunya.
"Ibu,"
Hinata menoleh. "Satoshi."
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Satoshi datar. "Kenapa tiba-tiba Ibu menelpon dan mengatakan ayah kandungku datang? Apa ada hal penting lainnya?"
Miku menatapnya sendu. "Kau perlu tahu." Satoshi menyerigai sinis. "Begitu?" Entah kenapa, Satoshi begitu membenci sosok ayah kandungnya meski Masaya selalu mengingatkan agar tak membencinya, namun apa boleh dikata kebencian itu sudah melekat di hatinya.
Mereka duduk bersama dalam diam. Hingga akhirnya lampu ruangan operasi itu mati lalu tak lama setelahnya Dokter Shigeru keluar bersama beberapa perawat dan juga dokter ahli lainnya.
Dokter itu menatap keduanya. "Kondisi pasca operasi pasien terbilang sangat buruk. Kita lihat dalam 2x24 jam." Dokter itu menghela nafas sejenak. "Jika pasien bisa melewati masa kritisnya maka kemungkinan besar ia bisa selamat. Jika tidak, maka 2x24 jam itulah sisa waktu yang kalian miliki bersamanya."
Mendengar berita itu hampir saja Miku pingsan. Dadanya sesak. Persendian tulangnya seakan dilepas satu persatu. Tubuhnya bergetar.
"Ibu ...." Satoshi menopang tubuh sang ibu yang mulai lemas itu.
"Apa kau masih tidak mau memaafkannya, Satoshi? Jika sekarang adalah hari terakhir kalian bertemu?" tanya Miku lirih.
Satoshi memejamkan matanya. "Sejujurnya akíu tidak tahu, tapi aku akan berusaha demi Ibu."
Miku tersenyum lalu mereka memasuki ruangan itu. Dan alangkah terkejutnya remaja ketika tahu siapa yang terbaring tak sadarkan diri itu adalah tuannya, Ryu Hikaru. Dan saat mereka mendekati sosok itu tiba-tiba saja mesin di monitor itu berbunyi cepat dan datar.
"RYU!!!" Hinata berteriak histeris.
Satoshi terdiam shock. "Tidak mungkin," ucapnya bergetar. "Aku bahkan belum menyapanya,"
Dokter Shiheru tak kalah terkejutnya "Ya Tuhan ...."
🌷🌷🌷🌷
1 minggu kemudian.
"Kau tak perlu merasa bersalah begitu, ini sudah takdir, Shiheru," ujar dokter senior itu memandang juniornya yang memasang wajah datar.
Pria itu tersenyum kecut. "Jangan mengkhawatirkan saya dokter Higeo, Saya baik- baik saja. Toh semuanya sudah seperti itu. Ini sudah jalan Tuhan, bukankah begitu?"
Lelaki tua itu tersenyum.
"Oh ya, atas kejadian ini saya
ingin cuti satu pekan. Kakak saya mengajak saya untuk melakukan seminar di luar negeri. Sekaligus liburan."
"Tentu!"
"Kau butuh hiburan." Dokter muda itu mengangguk. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan dokter Higeo. Pria itu akan mengadakan seminar di London.
🌷🌷🌷🌷
Pemakaman itu mulai sepi. Tak ada yang mengeluarkan suara. Miku terdiam mematung menatap gundukan tanah baru. Air matanya sudah kering. Di sampingnya Satoshi terus memegang tangannya, takut kalau tiba-tiba ibunya pingsan.
Himeka, Isao dan beberapa keluarga Higashiyama itu sudah terlihat tenang dari sebelumnya. Dengan memakai pakaian serba hitam semua.
Mark datang bersama Zhou. Pemuda itu ikut berbela sungkawa atas kejadian tak terduga itu. Dipeluknya Himeka pelan agar gadisnya tak lagi menangis.
__ADS_1
Yue datang bersama lelaki tampan baruh baya. Dokter Peter Young. Ia melihat Satoshi sangat sedih. Satu anggota keluarganya telah tiada. Gadis itu mendekat lalu menggenggam tangan Satoshi seolah memberi kekuatan baru
"Terima kasih," bisiknya pelan.
Gadis itu hanya tersenyum.
Senja mulai menampakkan diri dan matahari mulai tenggelam di ufuk. Mereka pulang dalam keheningan yang cukup lama. Sesekali air mata Miku menetes.
"Jangan khawatir Satoshi. Ibu baik-baik saja," ucapnya pelan seolah mengerti perasaan putranya.
🌷🌷🌷🌷
Waktu berjalan begitu cepat hingga membuat hari-hari yang dijalani Satoshi terasa sebentar terlebih saat dia menghabiskan waktu bersama Yue. Ingin rasanya dia segera lulus SMA lalu kuliah dan bekerja. Tapi apa boleh buat tahun dia ada di kelas 3 dan dia harus rajin belajar agar diterima di Universitas. Waktu bersama Yue hanya sedikit.
"Tinggal dua bulan lagi Satoshi, kau jangan malas begitu. Kau karus mendapat predikat terbagus agar tak membuatku malu." Yue mengoceh melihat Satoshi malas belajar.
"Kenapa harus kau yang malu jika prestasiku jelek?" ujarnya cuek, ia lebih suka bermain bola dibanding belajar.
"Astaga," Mark ikut nimbrung. "Kau tidak tahu, Yue ini selalu juara kelas saat di Jerman dulu dan si Leon ...."
"Hei!! Jangan sebut nama setan itu!" Satoshi mulai sewot dan cemburu jika menyangkut soal Leon.
"Leon juga juara kelas. Karena itulah, gadismu ini menyukai orang-orang pintar." Mark jadi gemas.
Satoshi manyun. "Aku akan jadi juara kelas nanti, lihat saja!" Remaja itu kembali menekuni bukunya meski malas.
"Oh ya Yue, selamat untukmu."
"Eh? Selamat untuk apa?" Gadis mengernyitkan dahinya bingung. Padahal dia tak sedang menang mengikuti kompetisi.
"Aktor favoritmu itu. Bukankah dia sudah bercerai dari istrinya. Dia sekarang resmi menyandang status duda! Keren bukan? Berita sudah menyebar, loh!"
Yue memekik kaget dan tentunya itu membuat Satoshi menoleh padanya.
Tak ada sekejab Yue langsung membuka laptopnya lalu berburu sesuatu yang paling ditunggu-tunggunya. Bahkan gadis itu berteriak-teriak senang seolah mendapatkan lotre milyaran dollar.
Task!
Mendadak layar laptop itu mati. "Eh, kenapa ini?" Yue heran melihat laptopnya. Padahal ia yakin charge-nya tadi terpasang sempurna. Dan teriakan keras bersambut bahasa mandarin keluar dari mulut gadis itu tatkala Satoshi dengan jahil menggunting kabel yang terpasang pada laptop Yue. Remaja itu tertawa puas.
"SATOSHI! KAU INGIN MATI, YA?!" Yue bersiap meninjunya namun Satoshi sudah kabur duluan. "Zhou! Tangkap dia, kuberi kau 100 dollar! Bantu aku mematahkan lehernya!" Yue berteriak mengebu-gebu pada gadis tomboy yang sedang berlatih wushu.
"Siap laksanakan tugas!" Zhou dan kematreannya yang selangit tersenyum senang. Akhir-akhir ini dia menjadi kaya jika sepasang kekasih itu bertengkar. Bagaimana tidak, jika keduanya sudah bertengkar salah satu dari mereka akan meminta bantuannya, tentunya tak gratis. Lalu mereka akan saling menaikkan harga jika Zhou bersiap melaksanakan tugas.
"200 dollar!" tawar Satoshi.
"300 dollar!" Yue tak mau kalah.
"400 dollar!"
"500 dollar!" Yue tersenyum.
"1000 dollar, Zhou! Tidakkah kau memihakku?" Tawaran Satoshi mulai gila. Bahkan Mark ikut menganga.
"Satoshi kau benar-benar ...."
Yue mendengus. "Sudahlah, aku tak marah lagi. Lagi pula berita itu membuatku sangaaat bahagia." Ia berlalu cuek. "Mark, kita makan yuk. Aku yang traktir."
"Wuah terima kasih, Angel!"
"Zhou, aku tak mentraktirmu, bukankah 1000 dollar itu sangat banyak?" Yue melirik Satoshi tertawa. "Jika dia tak mau bayar, patahkan lehernya. Hahaha ... rasakan kau Satoshi, kau harus membayar 1000 dollar itu padanya." Yue berlalu senang.
__ADS_1
Sial batin Satoshi tatkala melihat Zhou berjalan ke arahnya. Ia melirik Isao. "Isao, ke mana ibu?"
"Tidak tahu," jawab bocah itu cuek.
Bulu kuduknya merinding tatkala Zhou sudah mengulurkan tangannya dengan manis. "Akan aku bayar nanti, tapi saat ibuku pulang, Oke?"
"Sekarang."
"Aku beri bonus," imingnya lagi.
Zhou berpikir. "Baiklah. Perjamnya 10 dollar. Tapi aku akan terus mengikutimu."
'Astaga! Ibu ... Ayah tolong anakmu yang tampan ini!'
🌷🌷🌷🌷
Suasana pemakaman kembali sepi. Tampak seorang wanita sedang berdoa. Sangat khusyuk. Kedua tangannya berkatup di dadanya.
Lebih dari setahun ia tak mengunjungi makam mendiang suaminya. Rambutnya tergerai indah.
"Apa yang kau katakan tadi?" Suara seseorang mengusiknya. Penasaran.
"Aku katakan kalau aku selalu mencintainya," ujarnya tersenyum indah, tapi justru mendatangkan petaka bagi orang yang mendengarnya tadi.
"Hei! Itu selingkuh namanya!" Lelaki berparas tampan dengan mata biru cerah itu tak terima.
Miku tertawa melihat sosok jangkung itu cemburu bukan main. Apa iya, lelaki itu cemburu pada orang yang sudah mati? Dasar bodoh!
"Hei Miku ... kau tak serius, kan?" dikejarnya wanita yang mulai meninggalkan makam bertuliskan Masaya Fujimine itu.
Miku ingin tertawa melihat tingkah kekanakannya. "Aku bohong, kok." Senyum manis terukir indah di wajahnya. "Aku katakan kalau aku bahagia hidup denganmu, Ryu."
Pria itu tersenyum lebar. Dia menggenggam tangan istrinya dan membantunya berjalan. Setahun lalu mereka menikah di Tokyo dan kini ... Perut wanita itu membuncit besar. Mereka berlalu meninggalkan makam itu.
Di makam bertuliskan Masaya Fujimine itu muncul sosok yang pernah menghiasi indahnya kehidupan wanita yang tengah mengandung anak ke dua dari pria bernama Ryu Hikaru itu. Sosok tersebut tersenyum bahagia.
Bahagialah selalu bidadariku. Aku akan terus melihatmu dari surga.
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
To be Continued
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya 😄
Menerima segala kritik dan saran yang membangun 😊
__________________________________
Selasa, 30 Juni 2020
__________________________________
__ADS_1
Klik, please
👇