Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[15] Cinta Pertama Datang Kembali


__ADS_3

Sejak kehadiran malaikat kecil bernama Satoshi, rumah Masaya terasa hidup, menyenangkan, juga ramai dengan tangisan bayi. Pria berambut hitam itu tak pernah terlambat pulang kerja karena dia ingin segera melihat Satoshi kecil.


Setiap malam, dia menyanyikan lagu nina bobo untuk putra kecilnya dengan semangat. Bahkan Miku hampir dibuat jantungan ketika melihat suaminya yang begitu bersemangat menyanyikan lagu nina bobok untuk Satoshi. Ya, saking bersemangatnya, Masaya


menimang-nimang Satoshi, sampai-sampai kepala bayi itu mau membentur tembok.


Pria Fujimine itu sangat mencintai bayi mungilnya.


"Satoshi, Ayah berangkat kerja dulu, ya? Jangan menangis jika Ayah belum pulang, oke?" ujarnya sayang sambil mencium pipi montok itu.


Satoshi tertawa melihat mimik wajah sang ayah, bayi itu mengira kalau ayahnya sedang mengajak bercanda seperti biasa. Umur Satoshi sudah 15 bulan dan sudah bisa berjalan sendiri. Kulitnya putih bersih mirip susu, matanya besar dan biru. Bayi itu mirip sekali dengan Ryu sang ayah kandung. Mulai dari wajah, mata yang kerap tersenyum menggoda, rambut pirang secerah mentari, itu semua adalah warisan dari Ryu. Yang paling mencolok dari peninggalan pemuda tersebut pada bayi itu adalah ketika Satoshi tersenyum.


Ya, Satoshi adalah the little Ryu Hikaru. Si pangeran tampan yang hingga kini tak diketahui bagaimana kabar dan keberadaannya. Ryu seolah menghilang ke dimensi lain.


Masaya menyerahkan putranya pada Miku setelah dia selesai menciumnya. Jujur saja, ia iri melihat kelakuan Masaya pada malaikat kecilnya. "Jaga Satoshi baik-baik ya, aku berangkat." Pria itu tersenyum indah.


"Kau juga hati-hati di jalan."


Masaya mengangguk, dia menggapai pipi istrinya. Ada sesuatu yang mulai memasuki ruang hati Miku. Perasaan yang begitu halus dan hangat. Pria Fujimine itu tersenyum menatap keduanya, dan sekali lagi, dia mencium pipi Satoshi lalu pergi begitu saja.


Miku menatap punggung itu nanar. "Masaya, kau bodoh," lirihnya bergetar, kemudian dia menutup pintu.


Di luar Hayato sudah menunggunya. "Tak ada morning kiss?"


Masaya hanya tersenyum simpul. Lalu mereka keluar bersama dari gerbang mansion Fujimine.


"Dasar payah! Kau payah sebagai lelaki. Istri cantik begitu diabaikan begitu saja."


Masaya hanya diam, akhir-akhir ini, ia sering melihat Miku dengan pandangan lain ke arahnya. Ya, Masaya tidak bodoh. Pandangan seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta padanya. Pandangan yang dulu sering ia lihat saat gadis bermata indah itu menatap mata biru cerah milik Ryu, kini beralih ke arahnya.


"Kenapa diam? Kau mau ketinggalan kereta?" Hayato menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang menatap heran cucunya yang berjarak tiga meter darinya. Masaya diam. Hari ini pria tua itu ada kepentingan ke Kyoto selama 3 hari, karena kebetulan jalur yang akan mereka lewati sama.


"Aku melupakan sesuatu. Kakek tunggu saja di stasiun." Masaya berlari ke rumahnya.


Miku baru sampai di lantai atas, tiba-tiba saja mata bulan itu melihat Masaya dari kejauhan berlari ke rumahnya. Pasti ada yang ketinggalan. Miku segera membuka pintu, terlihat suaminya sedang berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


"Kenapa kembali?" tanya Miku kaget.


Masaya menatapnya, menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu tersenyum sejenak. "Ada yang tertinggal, aku baru ingat,"


"Oh, apa? Biar aku ambilkan,"


Masaya langsung menahan tangan ibu Satoshi itu ketika Miku hendak meninggalkannya.


"Kenapa?"


"Tak perlu, yang ketinggalan bukan barang tapi ...." tanpa ragu pemuda itu menarik tangan Miku hingga dekat dengannya, tak perlu menunggu persetujuan sang istri yang masih menggendong Satoshi. Pria tampan itu mendaratkan ciuman di mulut tipis yang terukir sempurna dengan lembut.


Mata Miku melebar terkejut, suaranya tak bisa dikeluarkan, dia tak percaya apa yang sedang terjadi saat ini. Masaya mencium bibirnya. Getaran aneh yang selalu melanda hatinya kini terjadi lagi. Ada sesuatu yang lembut melintas di dadanya. Sebuah perasaan yang ingin memiliki laki-laki yang sedang menikmati mulutnya sekarang.


Satoshi hanya mengerjap-ngerjapkan mata melihat tingkah orang tuanya.


Perlahan Miku memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut lidah Masaya yang membelai lidahnya di dalam mulutnya. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Mereka bepangutan cukup lama seolah enggan melepasnya. Masaya melepas pangutannya kala Miku mulai kehabisan napas.Dalam sekian detik mereka mencari pasokan oksigen. Wajah mereka sama-sama bersemu merah.


"Itu yang tertinggal."

__ADS_1


Pipi Miku semerah tomat. Dia malu hingga tak berani menatap wajah suaminya.


"Aku berangkat," pamit Masaya tersenyum hangat, lalu pergi meninggalkan Miku yang masih shock. Bergegas secepat mungkin takut ketinggalan kereta, tak peduli nanti kakeknya akan mengomelinya.


Miku meraba bibirnya, ciuman itu masih terasa hangat. "Dia benar-benar menciumku? Ini bukan mimpi, kan?" Satoshi kembali mengoceh dengan bahasanya sendiri.


Selang beberapa menit kemudian bel kembali berbunyi, kali ini Miku meletakkan Satoshi sendiri di atas tatami dengan mainannya.


Kenapa masih juga belum berangkat? Apa yang ada dipikirannya? Ia pun membuka pintunya dan langsung membuka mulut, "Apa lagi yang terting ... gal?" Suara wanita itu terputus saat melihat siapa yang datang. Bukan Masaya! Melainkan seorang gadis cantik, "maaf ... aku pikir kau Masaya." Miku membungkuk hormat.


Gadis itu tersenyum. "Jadi ini betul rumah Masaya Fujimine?"


Si pemilik manik mata kecokelatan itu mengangguk, ditatapnya lekat-lekat gadis yang menurutnya sempurna itu. Gadis yang sangat cantik dengan penampilan yang anggun dan elegan. Sangat memesona dari penampilan dan aksesoris yang dipakainya. Fashionista. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menjuluki gadis di hadapannya ini.


Kulitnya putih, rambut lurus panjang blonde. Sepertinya, gadis ini sangat dekat dengan suaminya. Tapi siapa?


"Ah, kau pasti adik perempuannya, kan? Masaya sering bercerita tentangmu saat kuliah di Inggris dulu. Kau lebih cantik dari yang aku kira Eriko," tebak gadis itu akrab.


"Eh?" Miku kaget.


Gadis itu membuka kacamata hitamnya. "Kenalkan namaku Kyoko Hasekawa, kau pasti pernah mendengar namaku, bukan?" Kyoko mengulurkan tangannya.


Miku kaget bukan main. Jadi dia yang bernama Kyoko? Cinta pertama Masaya? Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghujam ulu hatinya.


🌷🌷🌷🌷


Kyoko menatap gemas Satoshi yang suka sekali tersenyum menggoda, sementara Miku melamun. Pandangan matanya kosong, dia tak menyangka Kyoko lebih cantik dari yang ia bayangkan. Entah kenapa dia tak ingin kehilangan Masaya. Ditatapnya wajah Kyoko yang sedang bermain dengan putranya. Gadis yang pandai membawa diri. Bahkan bayi seperti Satoshi pun menyukainya.


"Anakmu lucu sekali, aku jadi ingin secepatnya punya anak juga," ujar gadis Hasekawa itu senang.


Sempurna. Jika dibandingkan dengan dirinya, Miku harus mengakui bahwa dia masih jauh di bawah Kyoko.


Wanita beranak satu itu menatap jam dinding cemas, sebentar lagi Masaya pulang. Kumohon jangan pulang. Namun sayangnya, doa Miku tak terkabul karena sedetik kemudian terdengar suara pintu dibuka.


"Aku pulang."


Deg! Jantung Miku serasa berhenti berdetak begitu mendengar suara Masaya. Kakinya terasa lemas bahkan mulutnya jadi kaku.


"Kenapa denganmu? Apa kau sakit?" tanya suaminya heran melihat istrinya yang terlihat pucat wajahnya dan tampak gelisah.


"Masaya!" panggil Kyoko senang.


Pria tinggi itu terdiam. Dia sangat hafal dengan pemilik suara ini. Ya, suara cinta pertamanya. Sejenak dia merasa kalau dia hanya berhalusinasi. Namun, semua menjadi nyata tatkala Kyoko berlari ke arahnya dan menghambur ke kepelukannya.


"Aku merindukanmu."


Reflek Masaya melepas pelukan gadis cantik itu, dia kaget bukan main begitu gadis di hadapannya Kyoko dan itu nyata. "Kau ... kenapa ...."


"Aku sudah tahu semuanya, daddy sudah bercerita padaku. Aku tahu kalau daddy sangat menyayangiku makanya dia menginginkan yang terbaik untukku," jelas Kyoko penuh


penyesalan.


"Apa maksudmu?"


"Aku depresi setelah kau tinggal, bahkan hampir mati karena memikirkanmu. Akhirnya daddy

__ADS_1


menyerah dan mengijinkanku bersamamu." Kyoko kembali memeluk Masaya tanpa mau melepasnya.


"Lalu setelah penghinaan yang daddy-mu berikan padaku, kau ingin aku kembali padamu?" ujar Masaya begitu dingin.


Kyoko terperangah kaget. "Masaya ... aku mohon jangan seperti itu. Aku menderita karenamu. Jika saja aku tak pernah jatuh cinta padamu, mungkin aku akan baik-baik saja. Apa kau tak tahu bagaimana menderitanya aku hidup tanpamu?" Kyoko mulai terisak dan tetesan mirip kristal bening turun dari bola matanya yang indah.


Masaya bergeming.


"AKU MENCINTAIMU, MASAYA FUJIMINE!!"


Miku terdiam. Hatinya seolah remuk mendengar pernyataan cinta gadis lain kepada suaminya. Matanya terasa panas melihat adegan tersebut. Dia tahu kalau suaminya masih mencintai Kyoko.


Masaya bingung dengan keadaannya. Dia melirik Miku yang memandangnya nanar. Ia tahu istrinya pasti terluka dengan kejadian ini. Namun, wanita itu hanya memberinya senyuman palsu walau dia yakin dalam dua detik ini ibu dari Satoshi itu pasti menangis.


"Miku ...."


BRUGH. Kyoko pingsan. Masaya panik bukan main melihat wajah Kyoko yang pucat. "Kyoko bangun ... kau kenapa? Kyoko ...." Pria itu menepuk-nepuk pipi gadis blonde-nya cemas.


Miku terdiam menyaksikan hal itu, dia meninggalkan mereka, sadar jika kehadirannya hanya akan membuat luka di hatinya. Di kamarnya dia mencium Satoshi yang tertidur pulas, ada air mata yang membasahi pipinya. Ia tergugu. Hatinya sakit. Miku menangis dalam diam.


Ditatapnya langit-langit kamar bernuansa biru. Rasa sakit kembali menyelimuti hatinya. Aku ini kenapa? Mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Masaya? Atau hanya sebatas simpati padanya? Air matanya turun semakin deras.


Tidak ... tidak ... perasaan ini tak boleh dibiarkan. Perasaan ini sungguh menyiksa dan pada akhirnya hanya akan menyakiti. Dihapusnya air mata itu. Masaya ... bolehkah aku mencintaimu?


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷To Be Continued🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


________________________________


Jumat, 8 Mei 2020


_________________________________


Klik, plese


πŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2