
"Apa yang dilakukan anak itu?" Tatap Ryu datar pada Yue.
Sementara Yue menatap Satoshi tak percaya. "Kak, apa Lucas punya adik laki-laki? Kenapa dia mirip sekali dengannya?"
"Yue Schneider Young!"
Mendengar bentakan Ryu membuat gadis itu tersadar dari lamunannnya. "Tidak tahu, tapi sepertinya dia sedang mengejar pencopet ini." Tunjuk Yue pada seorang yang tak sadarkan diri itu.
Pandangan Ryu beralih pada Satoshi. "Apa kau tahu berapa harga mobilku?" tanyanya datar dan dingin.
Satoshi menunduk. "Maafkan saya Tuan. Saya benar-benar menyesal." Lagi-lagi anak muda itu membungkuk 90 derajad. "Kejadian ini tidak disengaja." Lanjutnya.
"Maaf tak menyelesaikan masalah. Kau harus mengganti kerugian mobilku."
"Kak! Bisakah kau tak membentaknya?" Yue menarik lengan Ryu tak suka.
"Diam kau!" bentaknya kesal. "Dan kau ...," Ryu menunjuk tepat ke wajah Satoshi. "... kau harus mengganti kerugian yang kau buat itu. Awas jika kau berani kabur dariku!" ancam Ryu.
"Saya pasti akan bertanggung jawab tuan."
Ryu tersenyum melecehkan. "Aku tak butuh janji, tapi buktikan ucapanmu itu, paling tidak kau siapkan uang 5000 dollar atau kau akan kukirim ke sel atas tuduhan perusakan."
"Astaga, Kak!" Tanpa sadar Yue membentak Ryu. "Bagaimana bisa harga kaca ferari 5000 dollar! Kau mau memerasnya?" ucapnya dalam bahasa Jerman.
Alis Ryu bertaut. "Kenapa jadi kau yang keberatan?"
Satoshi terhenyak. 5000 dollar? yang benar saja, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Jika ibh tahu hal ini ... Satoshi kebingungan. Kepalanya seakan mau pecah. Ada sedikit rasa menyesal sudah mengejar pencopet itu hingga dia yang mengalami musibah. Wajahnya agak pucat sementara keringat sebesar biji jagung mulai menetes di wajah tampannya.
Ryu berjalan ke arahnya, merampas name tag-nya yang melekat pada baju Satoshi. "Satoshi Fujimine." Pria itu membaca name tag yang terbuat dari plastik itu dan membuat Satoshi kaget.
"Tuan jangan ambil itu, saya tidak bisa kerja tanpa name tag di kedai tempat saya kerja." Satoshi berusaha mengambilnya namun Ryu menatapnya tajam seolah meminta jantungnya.
"Ini adalah jaminan agar kau tak kabur dariku." Ryu segera berlalu meninggalkan Satoshi yang menatapnya tanpa henti.
Sementara Yue masih terus menatap Satoshi hingga Ryu menegurnya.
🌷🌷🌷🌷
"5000 dollar?" ulang Zero kaget hampir berteriak, membuat beberapa mata pengunjung menoleh pada mereka berdua.
Satoshi segera menutup mulutnya. "Jangan keras-keras, Bodoh!"
"Kau gila, ya? 5000 dollar itu tidak sedikit. Itu bayaran kita selama 10 bulan di kedai ini jika dikurskan menjadi yen." Zero menggeleng kepalanya pelan. "Maaf, aku tak punya uang sebanyak itu."
Satoshi menghela napasnya. "Sudah kuduga uang 5000 dollar itu banyak. Lalu aku harus minta tolong pada siapa lagi?" Remaja itu mengacak rambutnya sesaat.
"Teman ibhmu, si Paman bule bernama Namiku itu, dia kaya bukan?"
"Aku tidak mau!" tolaknya tegas.
"Kenapa? Dia sangat perhatian pada keluargamu bahkan sudah menganggapmu anak sendiri. Jika cuma satu 5000 dollar bagi dia tak ada artinya." Zero menyakinkan namun Satoshi menggeleng.
"Paman Shun sudah terlalu sering membantu keluargaku, aku malu minta tolong padanya. Aku tak mau terlihat memanfaatkannya."
"Bukan memanfaatkannya, tapi lihat keadaanmu sekarang?" Zero terlihat gemas dan hampir saja dia ikut mengacak rambut Satoshi. "Lagi pula ...."
Satoshi menunggu kelanjutan perkataan sahabatnya.
Si wajah datar itu juga menyukai ibumu, bodoh! Apa kau tidak menyadarinya? Jika saja ibumu menikah dengan dia pasti hidup kalian tidak akan seperti ini. Remaja itu menggeleng pelan.
__ADS_1
"Lagi pula apa?" Satoshi menatapnya.
"Dari mana lagi kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu kecuali kau merampok bank!" ujar pemuda kulit putih itu kesal. "Jika kau tak mau berterus teras biar aku yang bicara."
"Aku mohon jangan. Tolong pahami posisiku saat ini." Satoshi menarik tangan sahabatnya memohon. Mereka terdiam cukup lama.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, mereka sudah bersiap pulang setelah membersihkan tempat itu.
"Satoshi, ada yang mencarimu!" Pemilik kedai itu memanggil Satoshi.
Satoshi segera datang menemui orang yang mencarinya yang kemudian disusul oleh Zero. Mereka berdua kaget begitu melihat sosok tinggi menjulang yang tadi dibicarakannya kini mendadak muncul di depan mereka.
"Satoshi, lelaki ini sudah menceritakan semuanya padaku, kalian bicaralah baik-baik."
"Iya." Satoshi hanya pasrah.
Mereka menemui Ryu. "Jadi apa pilihanmu? Membayar kerugian atau tinggal di sel?" Ryu menatap wajah Satoshi intens.
Remaja itu mendengus. Ini memang salahnya, Masaya selalu mengajarinya bertanggung jawab sejak dia kecil. Dengan pasrah dia menatap Ryu. "Baiklah ... kirim saja saya ke sel sekarang. Lagi pula Anda juga tahu kalau saya tak punya uang untuk mengganti kerugian sebesar itu."
"Satoshi!" Zero menatapnya tak percaya. "Sebentar lagi kita ujian, apa kau tidak memikirkan itu? Apa yang akan terjadi jika ibumu tahu kalau kau dimasukkan ke dalam sel?" bisiknya pelan.
Ryu tersenyum menyeringai. Persahabatan yang unik. Ryu akui si anak berkulit cokelat ini memiliki jiwa setia kawan. Seharusnya pria itu tak mempermasalahkan urusan kecil ini, tapi karena Ace kesayangannya yang jadi korban membuatnya ingin menelan mentah-mentah bocah di depannya ini. Itu mobil pilihan Miku dulu, bahkan gadisnya belum pernah menaikinya.
"Tuan, tolong maafkan teman saya. Tuan boleh melakukan apa saja asal jangan mengirimnya ke penjara." Zero memohon sembari membungkuk.
Ryu mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin?"
Mereka berdua saling menyenggol lengan. "Dia menyeramkan, bagaimana bisa kau memohon seperti itu," bisik Satoshi.
"Baiklah, aku tak akan memasukkannya ke penjara. Tapi sebagai gantinya kalian berdua bekerja padaku."
"Hah?" Mulut mereka menganga lebar, terutama Zero karena remaja itu merasa tak ada sangkut pautnya dengan kejadian itu namun harus ikut menanggung.
"Karena kau yang membuatku memikirkan jalan pintas ini. Jika kalian menolak dengan senang hati aku akan mengirim kalian ke penjara."
"Tapi ...." Zero masih keberatan.
"... perharinya 5000 yen." Ryu memberi penawaran.
"Setuju!" jawab keduanya kompak karena mereka tahu darimana lagi bisa mendapatkan gaji sebesar itu perharinya. 5000 yen bahkan sama dengan bayaran 2 minggu di kedai tempat mereka kerja.
Sebenarnya Satoshi dan Zero
kaget karena mulut mereka sendiri yang menyetujuinya walau otaknya tak siap berpikir. Tapi 5000 yen? Siapa yang akan menolak?
Ryu menyerahkan alamatnya lalu bergegas pergi.
"Ryu Hikaru," eja Zero begitu membaca kartu nama itu.
Satoshi mendengus tak suka. "Dari sekian nama dan marga kenapa harus sama persis Ryu Hikaru," dumelnya karena nama dan marganya mengingatkan pada sebuah nama yang paling dibencinya.
Ryu memasuki Lamborgini putih miliknya.
"Bagaimana? Dia mau menjadi tutorku selama di Tokyo?" tanya Yue penasaran. "Kakak tidak melaporkan dia ke polisi, kan?"
Ryu menatapnya. "Ya, aku tidak melaporkan anak itu pada polisi karena permintaanmu. Sepertinya kau suka padanya," ujar Ryu sewot.
"Tidakkah kau lihat baik-baik, wajahnya seperti Lucas. Bagaimana jika dia saudara jauhnya Lucas?" tanya gadis itu tersenyum.
__ADS_1
"Memangnya kalau dia saudaranya Lucas apa harus kuletakkan di kepalaku?!" Ryu menoleh tak suka.
Yue hanya tertawa. "Wah, kenapa? Dingin sekali sikapmu padanya."
"Entahlah, hanya reflek."
Yue menggeleng. "Sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa. Tapi perasaanku mengatakan jangan lepaskan anak itu. Seperti ada sebuah ikatan yang tak bisa dijelaskan waktu aku pertama kali menatap matanya. Apa karena dia benar-benar saudara Lucas?"
"Cih ... kau kebanyakan membaca novel picisan." Ryu memasang sabuk pengamannya lalu mulai menstrater Lamborgini putihnya. Kemudian mobil sport putih itu mulai berjalan meninggalkan kedai buble tea bersama Satoshi dan Zero yang menatapnya hingga hilang.
"Tidak," Yue menggeleng. "Matanya itu sama seperti matamu. Saat kau membuka mata waktu koma aku mendapati sorot mata anak itu sama seperti milikmu." Yue menghela napasnya. "Boleh aku berharap jika ...."
"... bukan!" bantah Ryu cepat karena dia paham maksud sang balerina.
"Tapi wajahnya agak mirip sepertimu."
Ryu menoleh kesal. "Apanya yang sama ...."
"... keangkuhan dan kesombonganmu!"
Ryu bungkam. Ya, itu memang betul.
Yue menghela napasnya. "Ya ... terlalu cepat untuk terjadi keajaiban menemukan anakmu. Di tivi-tivi seseorang yang mencari sanak saudaranya yang terpisah bertahun-tahun baru ketemu. Kita yang tidak sampai 1 bulan di sini tak akan mungkin secepat itu menemukannya."
Ryu cuek, dia fokus pada kemudinya.
"Tapi, seandainya anak itu ...." Yue tak putus asa.
"Sudah diam. Kau terlalu banyak menonton dorama dan membaca novel."
"Aku hanya menghibur diri."
Ryu tersenyum. "Tapi otakmu sudah teracuni drama-drama itu."
"Aku tak peduli."
Ryu membelai rambut Yue sayang. "Aku kemari hanya untuk mencari Miku dan anakku. Bukan memikirkan hal tak penting seperti itu."
🌷🌷 To be Continued 🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai memnacanya 😄😄
Menerima kritik dan saran yang membangun 😊😊
________________________________
Selala, 23 Juni 2020
__________________________________
__ADS_1
Klik, please
👇