
Masaya tersenyum seperti bukan dirinya yang biasa. Ia tersenyum yang lebih pantas disebut senyuman bodoh. Tak kusangka, aku lumayan terkenal seperti kapten Nagato. Dia bangga akan dirinya yang disukai banyak orang. Ternyata aku keren juga. Pria Fujimine itu kembali tersenyum sendiri mengingat kejadian barusan.
"Anata!" sapa Miku lagi karena sang suami masih diam tak menjawab.
Masaya masih tersenyum sambil menggendong Satoshi kemudian ia duduk di sebelah istrinya dan
menyerahkan bayi tampan itu padanya.
"Masaya, selamat, ya."
Pria itu hanya tersipu. "Kau juga tahu?"
"Tentu saja, aku, kan dokter," jawab dokter Ayame heran.
"Justru karena kau dokter makanya aku kaget kau juga tahu," ujar Masaya salah mengerti, masih mengira tentang goal ciptaannya tadi. Jika saja wanita blonde ini membelah kepalanya sekarang, mungkin di otak Masaya hanya ada satu gambar. Bola.
Miku menatapnya tak percaya. "Anata, jadi kau sudah ...."
"... ya, benar!" Masaya tersenyum puas, "kau sudah lihat bagaimana perjuanganku waktu itu? Bukankah aku keren?"
Wajah Miku memerah malu.
"Aku yang melakukannya!" Lanjutnya bangga.
"Tentu saja kau yang melakukan, memangnya siapa lagi?" dengus Miku sebal menahan malu di depan dokter Ayame yang hanya tersenyum.
Masaya terlihat bangga bahkan ia mengepalkan tangannya seraya berkata "Yes."
"Anata!"
"Kau tahu, kan bagaimana perjuanganku? Aku mati-matian melakukannya hingga berhasil. Its amazing!" Masaya mencubit pipi istrinya gemas.
"Sudah cukup jangan diteruskan!" Wajah Miku semakin memerah. Dia tidak tahu sejak kapan suaminya begitu terbuka soal hal itu.
"Sudahlah jangan bertengkar di sini, nanti anak kalian menangis." Dokter Ayame menatap Satoshi.
"Satoshi, sebentar lagi kau akan punya adik kecil, jadilah kakak yang baik, ya?" Dielusnya kepala Satoshi sayang.
"Adik?" Mata Masaya melotot , ia menatap kedua wanita itu tak mengerti, "tunggu ... tunggu ... apa maksudnya? Bukankah tadi kita sedang membicarakan sepak bola dengan goal yang aku buat?"
Kali ini Miku dan si dokter blonde yang bingung, tapi sedetik kemudian barulah dokter Ayame sadar kalau Masaya salah mengerti. Ditatapnya pria penggila bola itu lekat-lekat. "Masaya, istrimu hamil hampir empat bulan."
"Apaa?!!" Masaya kaget bukan main bahkan dia hampir terjungkal dari tempat duduknya. Dia tertegun sejenak, "jadi kau memberiku ucapan 'selamat' karena istriku hamil? Begitu?"
Dokter Ayame mengangguk. Demikian juga Miku.
"Memangnya saat dokter Ayame mengucapkan kata 'selamat' kau ini mikirnya ke mana, sih?" tanya Miku gemas.
Masaya terdiam lalu menertawai dirinya yang bodoh. "Maaf aku salah mengira. Kupikir kalian tadi menyaksikan pertandinganku di TV yang berhasil mencetak goal kemenangan. Karena setiap berpapasan dengan orang-orang di rumah sakit ini mereka selalu
menyalamiku dan mengucapkan 'Fujimine, selamat dengan goal kemenanganmu',"
Dokter Ayame memijat pelipisnya pelan. Dia ingin memberikan suntikan kering pada pria jangkung di depannya ini supaya jadi manequin.
Masaya menatap mereka, lalu melanjutkan kata-katanya, "Makanya, saat kau mengatakan selamat tadi aku langsung ...."
"... berpikir dokter sesibuk aku menyempatkan diri menonton pertandinganmu, begitu?" potong dokter Ayame gemas.
Masaya menggaruk-garuk kepalanya. "Begitulah," jawabnya konyol.
Duk! Dokter cantik itu memukul keras kepala Masaya dengan map yang dipegangnya. "Jangan samakan aku dengan maniak bola sepertimu, memangnya aku punya waktu luang untuk menyaksikan sekelompok orang-orang bodoh yang memperebutkan satu bola, hah?" omelnya gemas.
Masaya hanya tertawa. Dia menatap Miku dan berterima kasih. Saat mereka pamit pulang, dokter Tsunade menggoda mereka. "Masaya, goal ciptaanmu membuahkan hasil," Tunjuknya pada perut Miku, "itulah goal sesungguhnya. Selamat untuk goal kemenanganmu."
__ADS_1
Masaya tersenyum, menyeringai nakal "Sepertinya aku lebih menyukai gawangku yang ini? Aku akan lebih sering mencetak goal-nya mulai sekarang!"
"Anata!" Miku semakin malu digoda habis-habisan.
Wanita blonde itu menahan tawa. Dasar Masaya si maniak bola, tetap saja tak berubah!
🌷🌷🌷🌷
"Kakek!" Pria itu berteriak kesenangan mencari sang kakek begitu sampai di rumahnya.
Hayato yang asyik menonton acara berita di TV jadi terganggu dan sewot, "Kenapa berteriak? Aku ini belum tuli!"
Masaya segera duduk di samping kakeknya. "Kakek, Miku hamil lagi," ujarnya senang.
"Oh," jawab Hayato tak acuh, matanya kembali fokus pada berita lagi seolah-olah berita gembira itu tidak penting.
"Hanya begitu?" Alis Masaya bertaut tanda heran, "Kakek, kau tidak senang? Dia hamil anakku." Masaya kembali bersemangat.
Pria tua itu hanya meliriknya lalu kembali acuh. "Masaya, singkirkan kepalamu, aku ingin menonton berita itu!"
Masaya jadi sebal karena lelaki tua itu mengabaikannya. "Memangnya Kakek mengerti apa yang dibicarakan oleh penyiar TV itu?" dengusnya gemas karena penyiar itu menyiarkan berita dengan bahasa Inggris. Bukan bahasa Jepang.
"Siapa yang peduli dengan isi berita, aku hanya ingin melihat wajah cantik penyiar berita itu."
Miku dan Masaya terlongo, jadi selama ini kakeknya setiap malam jam 7 selalu stand by di depan TV hanya untuk melihat wajah cantik Yuriko Kagawa si penyiar TV terkenal itu? Bukan ingin tahu berita luar negri? Tuhan ... kepalaku rasanya mau pecah.
Usai menonton acara itu, Hayato menyuguhi Miku sup bayam.
"Kakek, aku bosan setiap tiga hari sekali makan sup bayam," ujar Miku pelan, karena dua bulan ini, dia disuguhi sup bayam hampir setiap hari saat makan malam.
"Kakek saja yang makan supnya, biar Miku aku buatkan sup lain."
"Bayam itu sangat bagus untuk ibu hamil, karena itu aku selalu memasak sup ini untukmu agar kau dan bayimu sehat."
Masaya menatap kakeknya. "Kakek sudah tahu Miku hamil sejak kapan?" Pria itu bertanya-tanya heran.
"Kakek sudah tahu lama?" Masaya jadi takjub.
"Ya, dan kau lelet sekali menyadarinya. Suami macam apa kau?!" omel Hayato judes. Lalu dia menoleh pada Miku dan tersenyum manis, "Miku, makan supnya, ya?" Entah kenapa lelaki tua itu langsung berubah lembut jika berbicara pada Miku, tapi kembali sinis jika bicara pada Masaya.
"Kenapa Kakek tak memberitahuku?"
"Kerena aku ingin tahu seberapa peka dirimu terhadap dia."
Usai makan Miku bersiap tidur, tapi Masaya terus menempel pada istrinya. Seperti di kasur saat ini.
"Anata, bagaimana dengan sekolahku?"
"Jangan dipikirkan, hanya tinggal dua bulan sampai kelulusan. Aku akan melakukan sesuatu agar kau tak terlihat hamil. Mulai besok pakailah jaket," Masaya memeluknya dari belakang, "mulai sekarang makanlah yang banyak agar bayi kita sehat. Kau tak perlu takut gendut."
Miku mengangguk.
"Miku, terima kasih telah mengandung anakku," ucapnya lembut seraya mencium keningnya sebentar, "tidurlah, bukankah besok kau ujian Matematika, kan?"
"Ya." Miku berbaring di samping Masaya lalu menutup matanya dan mulai terlelap. Mereka tidur berpelukan.
Tuhan ... aku senang sekali hari ini. Aku sungguh bahagia. Terima kasih.
🌷🌷🌷🌷
Esok harinya, Masaya terlonjak kaget begitu jam sudah menunjukkan pukul 07.15 dia bangun kesiangan padahal harus mengajar. Pria itu segera
membangunkan istrinya yang juga masih terlelap.
__ADS_1
"Miku, bangun! Sudah jam 7 lewat."
Sontak Miku membuka matanya, lalu dia melesat ke kamar mandinya sedangkan Masaya melesat pergi ke kamar mandi bawah. Pagi itu terasa sibuk. Terdengar suara gaduh karena mereka kesiangan.
Hayato santai bersama Satoshi duduk menikmati camilan di depan TV. "Satoshi, kita santai, ya, pagi-pagi begini?" sindirnya begitu melihat Masaya dan Miku sudah siap berangkat ke sekolah.
"Aa ... Aa ...," jawab Satoshi gembira melihat orang tuanya di depan dengan memasang wajah bete, karena mereka belum sempat sarapan. Dalam hati Masaya menyumpahi kakeknya karena tak membangunkannya.
"Memangnya apa yang kalian semalam lakukan sehingga bangun sesiang ini?" selidik kakeknya.
"Kami tak melakukan apa-apa, kok!" jawab Miku polos.
Hayato mencibir. "Kalau pun terjadi sesuatu juga tidak apa-apa, bukankah kalian sudah menikah? Siapa yang akan melarang?"
"Kakek! Tidak terjadi apa-apa semalam!!" seru keduanya kompak karena gemas.
Hayato hanya tertawa dengan reaksi keduanya.
"Miku, di mana sapu tanganku?" tanya Masaya saat melihat sapu tangannya tak ada.
"Aku cuci kemarin dan masih di jemuran. Ambil saja sendiri." Lanjut Miku tak sopan. Dia masih sibuk menghafal beberapa rumus ujian yang akan dijalani hari ini. Mulutnya komat-kamit.
Masaya bergegas ke beranda atas untuk mengambil sapu tangannya.
"ANATA, CEPATLAH NANTI KITA KETINGGALAN KERETA!!" teriak Miku cemas dari bawah karena 30 menit lagi kereta yang akan membawa mereka ke SMA Minami akan berangkat.
"IYA!" jawab pria itu buru-buru mengambil sapu tangan tersebut dari jemuran. Dengan cepat dia mengambil kain berwarna pink, tanpa melihat apa yang diambil dan dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya. Masaya salah fokus. Lalu ia pun bergegas turun, kemudian pamitan setelah mencium Satoshi yang tersenyum manis padanya.
"Bye, Satoshi!" Mereka melambaikan tangannya kemudian keluar rumahnya.
Sebuah sapu tangan putih itu terjatuh ditiup angin masuk ke teras rumah mereka. Satoshi yang melihatnya jadi tertarik untuk mengambilnya, balita itu berjalan mendapatkan sapu tangan putih milik ayahnya, lalu ia memain-mainkan benda itu dengan senang.
Hayato menatap benda yang dipegang cicitnya. "Satoshi, itu, kan sapu tangan ayahmu? Tunggu-tunggu ... lalu apa yang dibawa si bodoh itu?" tanyanya bingung.
Sementara itu Masaya masih tidak sadar jika yang tadi diangkat dari jemuran bukan sapu tangan melainkan benda segi tiga berwarna pink milik istrinya. Ya, benda pribadi milik wanita.
🌷🌷🌷
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
___________________________
Minggu, 10 Mei 2020
________________________________
__ADS_1
Klik, please
👇