Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[53] Diculik


__ADS_3

Langit kemerahan di bagian barat mulai menampakkan diri tanda malam mulai datang. Satoshi dan ZeroΒ  bersiap pulang. Sebelum meninggalkan tempat itu mereka melewati Ryu yang sedang bersiul-siu menatap langit.


"Ah ... kalian sudah mau pulang?" tanya pria itu tersenyum.


"Ya, Tuan," sahut mereka kompak.


"Hm ... karena hari ini aku sangat bahagia masing-masing hutang kalian aku potong seratus dollar," kata Ryu sambil melenggang tak acuh. Tentu saja kedua anak muda itu kaget luar biasa.


"Aku harap lamarannya diterima agar dia terus gembira." Satoshi bergumam pelan. Semalam ia dan Zero melihat bagaimana menderitanya pria itu. Berteriak kesakitan saat seorang perawat wanita bernama Rion itu mengontrol keadaan kakinya. Wanita muda itu marah karena Ryu lupa menelan pil yang setiap harinya harus dikonsumsi selama hampir seminggu. Akibatnya kakinya terasa ngilu luar biasa. Lalu Rion dengan ahli memijat kaki kanannya. Tak memedulikan teriakan Ryu yang mirip Tarzan kesiangan.


Pencariannya dalam menemukan Miku membuat pria itu lupa minum obat. Seharusnya Ryu tak boleh terlalu capek hingga berefek pada kakinya. Meski sudah sembuh namun, rasa ngilu itu masih datang jika Ryu lupa minum obatnya dan terlalu capek.


"Tuan Hikaru mau menikah?" tanya Zero kaget.


"Ya, karena itulah akhir-akhir ini dia terlihat bahagia sekali."


Remaja itu menggeleng takjub. "Makanya dia terlihat lain, tidak lagi marah-marah. Semoga saja diterima, karena dengan dia senang kita juga yang kena imbasnya."


Mereka segera berlalu meninggalkan tempat itu.


🌷🌷🌷🌷


SMA Kita.


Bel istirahat berbunyi, murid-murid menghambur keluar dari kelas masing-masing.


"Lihat! Cantik sekali gadis itu!" Tunjuk salah satu murid kelas 3. Mau tak mau beberapa siswa langsung menoleh pada objek yang maksud itu.


"Tinggi, sexy, cantik," gumam Akai takjub.


"Seperti model, ya?" Tambah Ichiya ikut-ikutan kagum.


"Apa dia artis?"


Semua mata pemuda tertuju pada sosok anggun mengenakan jaket tebal. Liburan musim dingin sebentar lagi. Dengan kacamata yang masih dipakai Yue melangkah santai dan melihat sekolah itu. Dia tersenyum setiap ada yang menyapa dirinya.


Bukan main cemburu para gadis yang sudah memiliki pacar melihat kekasihnya menatap tak berkedip pada sang balerina.


Siang ini Satoshi sudah berkali-kali menelponnya agar datang ke sekolahnya. Apa sih, yang


dipikirkan anak itu? Yue kembali menatap layar ponselnya saat benda itu berbunyi kembali. "Aku sudah sampai di sekolahmu. Cepat kau keluar."


"Kau mencari siapa?" tanya salah satu siswi tersenyum bersahabat. Rambutnya pendek dan kecokelatan.


"Ah, kau bisa mencarikan Satoshi untukku?"


"Satoshi Fujimine?"


"Ya."


"Apa hubungannya kau dengan Satoshi?" Tiba-tiba sosok gadis cantik yang tak kalah seksi bertanya judes. Dia menatap Yue tak suka.


"Hanako, jangan kasar begitu." Senggol gadis itu karena dia tahu Hanako cinta mati pada Satoshi.


Yue tertawa, memamerkan deretan giginya yang putih bersih. "Menurutmu aku apanya?" Yue balik bertanya. Dasar bocah labil, bagiku di dunia ini hanya Lucas yang paling tampan.


"Apa mungkin kau ... pacarnya?"


"Jika dia pacarku, apa kau akan berhenti mengejarku?" Tiba-tiba Satoshi muncul.


"Satoshi." Hanako terlihat tak senang.


Remaja itu tersenyum menatap Yue. Lalu kembali dingin jika melihat Hanako. "Aku rasa kau pasti paham hubunganku dengannya. Jadi berhentilah berharap padaku," ujarnya ketus. "Abaikan dia, ayo pergi." Ajaknya sambil menarik tangan Yue.


Hanako menatap mereka kesal. Dia pun menelpon saudara lelakinya.


"Hei, Satoshi Fujimine kau ingin mati, ya? Sejak kapan aku jadi pacarmu?" tanya Yue sebal seraya menjitak kepalanya. "Harus kau ingat, laki-laki di hatiku hanya Lucas?" Ulangnya gemas.


"Jangan menggerutu begitu. Gadis itu setiap hari mengirimiku surat cinta hingga lokerku penuh. Dengan begitu dia akan berhenti mengejarku."


Yue menggeleng. "Tapi jangan melibatkanku. Aku tak ingin mencari musuh di sini."

__ADS_1


"Berhentilah mengomel, hari ini adikku ulang tahun. Dia ingin sebuah laptop. Bantu aku mencari laptop, jika bisa yang gratis."


"Hah?"


Satoshi menunjukkan sebuah kertas. "Semalam Zero memberiku ini, ayo ke tempat ini dan bantu aku. Kau duduk diam saja di sana."


"Memangnya ada acara apa?"


"Kompetisi dance. Hadiah utamanya adalah laptop. Aku rela bolos sekolah hari ini asal bisa mendapatkan hadiahnya." Mata Satoshi tertuju pada mobil sport baru itu. "Ini mobil baru kakakmu? Kau bisa mengemudi mobil? Berarti usiamu diatas 17 tahun?" Satoshi berteriak tak terima.


"Eh," Yue terdiam. Ini hadiah ulang tahunku dari kakak. Hari ini aku juga ulang tahun.


"Kenapa diam? Berapa usiamu sebenarnya?"


"Lupakan, tak penting berapa usiaku. Mobil ini aku pinjam darinya. Oke, beritahu aku di mana tempat itu." Yue menstrater Lamborgini putih miliknya itu, tak lama kemudian mereka meninggalkan SMA Kita. Tatkala mereka melewati tikungan, Satoshi melihat si manusia dengan rambut jamur itu menggandeng tangan Himeka dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


"Sialan! Serangga itu mengajak Himeka bolos."


"Kau juga bolos!" Yue mengingatkan.


"Aku berbeda. Aku bolos karena ada kepentingan, bukan kencan seperti mereka," bantah Satoshi.


"Tak usah sinis begitu, Satoshi. Mark anak baik. Dia tidak akan macam-macam pada Himeka. Aku jamin," ujar Yue seolah tahu pikiran remaja itu.


Satoshi manyun. "Dengan apa kau menjaminnya?"


Yue tertawa lepas. "Dengan nyawaku." Ia menoleh pada pemuda yang masih cemberut itu. "Percaya padaku jika kau tak mempercayainya."


"Kenapa kau memanggilnya berbeda denganku? Kau selalu memanggilku seperti anak kecil. Aku ini bukan anak SD!" Entah kenapa Satoshi kesal mendengar Yue menyebut Mark.


"Karena dia lebih tua darimu."


"Panggil aku Kakak."


"Tapi aku suka memanggilmu Satoshi. Itu imut sekali."


Ingin rasanya Satoshi bunuh diri dikatai imut.


'Happy birthday my Angel. Di ulang tahunmu ini aku ingin kau menjauhkan si bule itu dari Tuan Puteri-ku. Kencan kami selalu gagal karena dia yang terus membuntuti kami. Oke?'


Yue tersenyum sendiri mengingat kejadian itu.


🌷🌷🌷🌷


Miku keluar dari market terdekat, tiba-tiba sebuah Ferari Enzo merah berhenti di depannya. Sejak pertemuannya dengan Miku waktu itu, Ryu terus membuntuti wanita itu meski ia sempat kehilangan jejak. Ada satu hal yang ia sadari bahwa mereka tinggal di daerah yang sama. Dekat, meski Ryu belum tahu di mana Miku tinggal.


Jantung Miku berdebar tak karuan. Ia tak bisa kabur. Bagaimana bisa pria itu menemukan dirinya di sini? Apa Ryu tahu tempat tinggalnya? Semoga tidak. Dadanya terasa nyeri seolah diremas hebat melihat Ryu keluar dari mobil sport yang diberi nama Ace itu.


"Kita harus bicara."


Miku memalingkan wajahnya. "Aku tak punya waktu."


"Jangan memaksaku," ujar Ryu datar.


"Heh!" Miku tersenyum simpul. "Kau pikir aku akan menurutimu?"


Ryu maju, tanpa banyak bicara dia memaksa Miku masuk ke dalam mobilnya walau wanita itu meronta-ronta. Setelah itu dia mengunci mobilnya lalu melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga membuat Miku menjerit-jerit takut.


"Ryu Hikaru, hentikan! Kita bisa mati!!"


"Memangnya kenapa kalau kita mati bersama, apa kau takut?" jawabnya acuh. Ryu malah menambah kecepatannya.


"TURUNKAN AKU! KAU SUDAH GILA?!"


Tetap tak ada reaksi dari pria itu. Mobil itu melaju cepat meninggalkan Tokyo, memasuki distrik demi distrik hingga mereka terdampar di daerah yang sama sekali tak pernah mereka ketahui. Wilayah Tottori.


"Kenapa berhenti?" tanya Miku judes.


"Aku juga tidak tahu!" balas Ryu tak kalah judes meski sudah berkali-kali menstrater tapi mobil itu tak mau jalan. "SIAL! Kehabisan bensin!" umpatnya sambil memukul kemudi itu kesal.


"Apa? Kau bilang apa?" jerit Miku kesal.

__ADS_1


"Aku bilang kehabisan bensin!" Mereka jadi ribut.


"Bagus sekali, setelah menculikku kau kehabisan bensin dan kita terdampar di tempat ini. Ini hutan."


Ryu menoleh." Bisakah kau tak dingin padaku? Aku hanya ingin bicara denganmu." Ditatapnya wajah sang pujaan hati itu lembut. "Di mana anak kita? Aku ingin bertemu dan memeluknya."


"Aku tak pernah melahirkan anakmu."


"Hentikan kebohonganmu itu!" bentaknya emosi.


"Siapa yang bohong?"


"Kalau begitu siapa dia?" Ryu menyerahkan selembar foto kumal karena seringnya dia lihat hingga menangis


Wajah Miku langsung pias. "Di foto itu aku sangat mengenal wanita itu. Aku sangat mencintainya. Bahkan detik ini pun aku masih mencintainya. Tapi ... bocah laki-laki itu ... aku tidak tahu. Hatiku mengatakan dia adalah anak kita." Ryu menatap wajah Miku. "Putraku bukan?"


Wanita bermata sendu itu terdiam, lidahnya terasa kelu sekedar menjawab 'iya'. Dan butiran bening itu mulai turun dari matanya.


Ryu sudah tahu jawabannya. Ia menggapai wajah Miku, lalu menghapus air matanya. "Aku tahu kau sangat membenciku, tapi ... bisakah kita memulai dari awal bersama? Aku ingin kita bersatu, kembali seperti dulu."


"Aku tak bisa."


"Kenapa?"


Miku tersenyum kecut. "Aku tak percaya padamu. Lagi pula untuk apa kita bersama lagi? Anak kita?" Miku tertawa sinis. "Rupanya kau terlalu berharap. Aku akui, anak itu memang lahir, tapi dia sudah kutitipkan di panti asuhan. Kau terlambat."


"Kebohongan apa lagi yang kau ceritakan?"


"Terserah. Sejak anak itu kutitipkan di panti asuhan, aku menikah lagi dengan pria lain dan kini kami hidup bahagia membangun rumah tangga bersama anak-anak."


"Aku tak percaya. Kau bukan ibu yang kejam."


Miku menatapnya ketus. "Jika kau tak percaya datang saja ke rumahku, bersama pria itu aku memiliki anak perempuan dan seorang anak laki-laki berusia 7 tahun. Ryu, aku mohon. Ini hari ulang tahun anak bungsuku, dia pasti mencariku jika aku tidak segera kembali!" Wajah Miku memelas.


Ryu tertawa. "Simpan saja ceritamu."


Miku semakin emosi, dia membuka pintu mobil itu kemudian keluar dan membanting pintu mobil itu dengan keras.


"Mau kemana?"


"Bukan urusanmu!"


Ryu tersenyum. "Apa kau berpikir di tempat ini akan ada taxi lewat? Hari makin terik, aku tahu kau tidak tahan panas matahari dan juga... buta arah." Ryu memandangnya. "Masuklah, dua jam lagi mobilku yang lain akan menyusul dan kita akan pulang. Aku janji."


Meski enggan, Miku akhirnya masuk.


Dalam hati Ryu tersenyum, dia bisa menatap Miku lebih lama.


🌷🌷 To be Continued 🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda likeΒ  [πŸ‘] usai membacanya, ya πŸ˜„πŸ˜„


Menerima kritik dan saran yang membangun 😊😊


__________________________________


Senin, 29 Juni 2020


_________________________________


Klik, please

__ADS_1


πŸ‘‡


__ADS_2