
SMA Kita.
Semua mata menatap tak berkedip pada dua manusia berpenampilan keren. Seorang pemuda mengenakan kaos hitam yang dipadu dengan jaket hitam bermotif bintang yang sangat kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Matanya tersenyum bersahabat saat beberapa siswi perempuan tersenyum ke arahnya.
Seorang lagi tak kalah kerennya dengan kaos putih bertuliskan 'Zoo', lalu hem kotak-kotak biru dan dipadu dengan celana jeans bolong yang senada dengan sepatu birunya. Ia memakai kacamata hitamnya.
Ini dia sekolah Princess. Tuan putriku. Mark tersenyum. Ya, pemuda itu sibuk mencari informasi lewat beberapa kenalannya yang ada di Jepang untuk mencari tahu tentang keadaan keluarga Masaya.
Semenjak kematian Masaya yang menghiasi koran dan berbagai media, ia pun bertekad akan terus mencari Tuan Puterinya. Akhirnya jerih payah itu terbayar sudah hari ini.
Sementara Zhou sibuk dengan mp3-nya. Sesekali kepalanya ikut bergoyang sedikit mengikuti irama musik yang didegarnya itu.
Di saat yang sama Himeka keluar kelasnya buru-buru karena mendengar kakaknya berkelahi dengan temannya.
"Itu dia Himeka. My Lovely Princess," ujar Mark kepedean sambil tersenyum. Zhou segera melepas kacamata hitamnya mengikuti mata anak tiri saudaranya.
"Jadi dia yang bernama Himeka Fujimine itu?"
Pemuda berambut hitam itu mengangguk. "Zhou, ayo kita ikuti dia."
"Tidak mau! Aku di mobil saja."
Mark menatapnya. "seratus Yuan."
"Aku ingin dollar."
Mark meliriknya sebal. "Aku tambah 10 dollar lagi."
Mendengar tawaran 10 dollar, gadis itu buru-buru memperbaiki sikapnya. Dia tersenyum manis pada Mark. "Yes, Boss!"
"Huh dasar matre." Mark sewot lalu diikuti Zhou.
"Biar matre, kau tetap membutuhkanku," sindirnya.
Dalam hati pemuda itu mendumel karena saudara ibu tirinya ini hanya mau menjalankan tugas jika diiming-imingi uang. Tapi apa boleh buat hanya Zhou yang bisa menolongnya dan bisa diandalkan. Apa mungkin dulu Tuhan keliru memasukkannya sebagai perempuan karena dilihat bagaimanapun dia lebih cocok menjadi anak laki-laki.
π·π·π·π·
Pria berambut merah itu menyeduh kopinya, setelah mencicipi ia meletakkan cangkir itu di meja kemudian pandangan matanya fokus pada wanita cantik di depannya. Lebih dari 18 tahun lamanya ia menyimpan rasa cinta pada wanita bermata sendu ini, tapi sayangnya wanita itu bukan jodohnya. Sekuat apa pun dia berusaha melupakannya semakin kuat pula rasa cintanya yang tumbuh di hatinya. Bahkan dialah yang pertama kali jatuh cinta pada wanita ini sebelum Ryu.
Ya kala itu dia baru datang ke Jepang dan diterima sebagai murid pindahan di SMA Asahi. Sekolah asrama khusus untuk anak lelaki. Saat itu Shun menangis bahagia karena lulus sebagai murid dengan nilai yang sempurna waktu sekolah di Dubai. Shun ikut ayahnya yang bertugas di Jepang. Sang ayah adalah seorang diplomat. Bersama kedua saudaranya ia menetap di Tokyo.
Masih terekam jelas bagaimana ia pertama kalinya bertemu Miku. Di bawah pohon maple yang mulai bersemi, ia menangis bahagia akhirnya bisa di terima di sekolah impiannya.
Tiba-tiba terulur saputangan putih ke arahnya, saat mendongak didapatinya sosok gadis manis yang tersenyum kearahnya. "Tak perlu menangis, kau bisa mencobanya tahun depan. Tidak lulus memang menyedihkan." Miku duduk di sampingnya. Sementara Shun melongo.
Gadis ini bicara apa? Siapa yang tidak lulus?
"Ini untukmu." Gadis berambut ikal kecokelatan itu menyerahkan radio tape beserta kasetnya. "Coba dengarkan baik-baik dan hayati. Kau pasti terhibur. Itu lagu favoritku. Muzukashii no Ai, tapi versi Jepang. Penyanyinya bernama Ichika Watanabe. Saat aku sedih aku memutar lagu itu lalu kesedihanku akan hilang."
"Cinta yang rumit?" ucap Shun tak paham. Memang begitu kenyataannya. Cinta selalu rumit.
Pemuda itu menyetel radio tape yang dipegangnya itu. Lalu terdengar melodi yang menggetarkan hatinya. Juga suara merdu gadis bernama Ichika Watanabe itu mampu mendamaikan hatinya.
"Bagaimana kau menyukainya?"
Shun tersenyum. "Apa ini untukku?"
"Ya. Hari ini aku sangat bahagia karena di terima di SMA Seika Jogakkan."
Shun tertawa. "Terima kasih. Aku menangis bukan karena tidak lulus, tapi karena aku berhasil masuk di SMA Asahi dengan nilai tertinggi."
__ADS_1
Kali ini Miku terdiam. Ia sangat malu pada pemuda tampan di depannya itu. "Maaf ... aku kira ...."
"Tidak ... karena kau kebahagiaanku sempurna."
Miku buru-buru pamit. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Betapa bodohnya dia saat itu. Dia berlalu saja meski Shun meneriaki dan bertanya namanya. "Hei .. kita belum berkenalan. Ingat! Namaku Shun Namiki!"
Miku tak peduli dia sangat malu. Namun, apa dikata 6 bulan setelah kejadian itu dia melihat sendiri sosok pemuda jangkung menyatakan cintanya tepat di bawah pohon maple itu pada gadis Muzukashii no Ai-nya. Dan gadis itu mengangguk senang menerima pernyataan cinta pemuda lain. Shun tersenyum sedih. Ia datang terlambat. Ia membuang mawar merahnya begitu saja. Sejak saat itu ia menjadi pemuda dingin.
"Shun." Miku membuyarkan lamunan pria di depannya itu.
"Maaf, aku melamun. Ceritamu tadi membuatku teringat akan masa lalu."
"Maafkan aku." Miku jadi tak enak.
"Jangan sungkan seperti itu. Kita ini sudah menjadi teman sejak dulu. Satoshi sudah aku anggap seperti anakku sendiri."
Miku hanya menatap malas kopi miliknya lalu dia menghela napas. "Kau sudah terlalu banyak membantuku."
"Lalu kau anggap aku apa? Aku juga ikut kepikiran kalau Satoshi bekerja untuk mengganti kerugian itu. Kau bahkan tidak tahu seperti apa orangnya."
"Satoshi bilang itu adalah tanggung jawabnya. Tapi sebagai ibunya aku terus menerus memikirkan anak itu."
Shun mengerti apa yang Miku risaukan. "Jika cuma 5000 dollar biar aku menemui dia dan pada siapa dia bekerja. Mungkin bisa dibicarakan secara kekeluargaan."
Miku menarik tangan pria merah itu saat Shun beranjak. "Tolong jangan katakan hal-hal yang membuatnya sedih."
Shun mengangguk.
"Terima kasih. Maaf selalu merepotkanmu."
Shun hanya tersenyum. "Itulah gunanya teman." Pria itu berlalu pergi, debaran aneh di dadanya kian membuatnya sesak.
π·π·π·π·
Isao mundur saat ada tiga pemuda menghadang jalannya. Mereka menyerigai menatap bocah itu yang ketakutan.
Sementara di tempat lain, seorang pemuda bernama Jun terlihat senang melihat Satoshi datang sendirian. "Satoshi Fujimine akhirnya kau datang juga."
Satoshi diam sejenak. "Aku tak punya urusan denganmu, ada apa kau menyuruhku kemari?"
"Hanako memutuskan aku begitu saja saat dia tahu kau tak punya pacar. Karena itulah aku ingin menghajarmu."
Satoshi tersenyum simpul. "Tak masuk akal sekali. Pacarmu meninggalkanmu karena tahu aku masih single."
"Ya, wajahmu itulah yang membuat masalah."
Senyum evil kembali menghiasi wajah Satoshi. "Wajahku sudah memang seperti ini sejak lahir dan kau tak bisa menyalahkanku. Lagi pula aku
tidak tahu siapa itu Hanako. Seperti apa orang? Dan kenapa harus aku yang disukainya?" Satoshi mengangkat bahunya cuex. "Jika tak ada hal penting lainnya, aku pergi."
Habis sudah kesabaran Jun. "Hei, Satoshi Fujimine!" bentaknya.
Tiba-tiba...
"Kakak ... tolong aku?"
Satoshi berhenti melangkah. Itu suara Isao. Remaja 17 tahun itu segera menoleh dan benar ternyata adiknya dijadikan sandera mereka.
Isao terlihat ketakutan sekali dan hampir menangis.
"Dia tidak ada hubungannya dengan ini, Jun!" kecamnya datar.
__ADS_1
Jun tersenyum penuh kemenangan. "Jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan adikmu, maka diamlah saat aku pukul. Bagaimana?"
Dasar brengsek! Satoshi tak punya pilihan lain. Dia menatap Jun. "Baiklah, lepaskan dia dan pukullah aku sepuas kalian," ujarnya dongkol.
Tak ada satu detik mereka bertiga mengeroyok anak muda itu. Mereka memukuli, menendang dan berkali-kali menjotos wajah Satoshi hingga babak belur. Meski kesakitan remaja itu tetap diam. Dia bahkan sudah hampir mati rasanya dengan tubuh tak melawan dikeroyok seperti itu.
"Kakak ... huhuhu ... kakak jangan mati ... jangan pukul kakakku lagi," tangis Isao memohon.
Mereka tak peduli. Dari jauh Himeka berlari kearah mereka.
"HENTIKAN!! MAU KALIAN APAKAN KAKAKKU?!" Himeka berteriak judes. Matanya melotot tajam. "Kakak ...." Gadis itu menolong saudaranya yang hampir pingsan. "Kakak, kau terluka."
"Kakak, mereka jahat!" tangis Isao mengadu.
"Wah, ternyata saudara perempuan si brengsek ini lebih cantik dari Hanako. Bagaimana jika kau bersenang-senang bersamaku, gadis cantik?"
Satoshi berusaha berdiri. "Jangan coba -coba kalian menyentuhnya! Aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisi kalian," ujarnya geram.
"Sudah sekarat masih berani menantang."
"Bagaimana kalau kalian berempat sekaligus melawanku?" Tiba-tiba sebuah suara memecahkan ketegangan itu.
"Kau itu siapa? Kau bukan target kami." Jun menatap pemuda berambut itu heran.
"Namaku Mark Akechi. Aku adalah pacar Himeka. Aku tak suka jika ada orang jelek seperti kalian macam-macam pada Himeka."
Himeka melongo, memandangnya aneh. "Kau siapa? Jangan bercanda aku itu pacarmu!"
"Ini aku, apa kau lupa? Pangeran kecilmu dulu!" Ujar Mark tersenyum manis.
"Cih ... ini bukan dongeng. Kalian semua serang pemuda itu, urasanku dengan Satoshi," ujar Jun.
Mark tersenyum seperti memang sudah menunggu hal itu. Dia akan menjadi pahlawan bagi Himekanya. Saat mereka bertiga hendak menyerangnya dia menoleh pada Zhou. "Zhou! Satu pukulan lima dollar. Jika mereka pingsan bonus sepuluh dollar."
Mendengar kata dollar Zhou segera maju sambil tersenyum. Sifat matre selangitnya langsung bangkit "Siap laksanakan tugas, Boss!" Zhou melambaikan tangan. "Hallo, baby," sapanya mengerikan pada tiga pemuda di hadapannya. Ia mengedipkan matanya sebelah namun anti genit. Lalu menunjuk satu tangannya.
"Apa maksudmu?" tanya mereka heran.
Zhou tersenyum. "Melawan kalian cukup satu menit saja. Ayo lawan aku." Gadis itu tersenyum bahagia karena sebentar lagi rekeningnya akan kembung.
π·
π·
π·
π·
π·π· To be Continued π·π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda likeΒ [π] usai membacanya, ya ππ
Menerima kritik dan saran yang membangun ππ
__________________________________
Jumat, 26 Juni 2020
___________________________________
Klik,
__ADS_1