
Ketiga pemuda itu babak belur akibat pukulan Zhou. Keadaannya lebih parah dari Satoshi karena gadis itu memukul mereka sambil membayangkan dollar. Jun yang melihat anak buahnya KO langsung kabur.
Zhou tersenyum bangga, dia mendekati Mark. "Empat puluh dollar."
Pemuda itu langsung mentransfer uangnya ke rekening gadis matre itu.
"Kakak Ipar!" seru Mark saat melihat keadaan Satoshi yang hampir pingsan.
"Siapa yang kau maksud dengan Kakak Ipar itu?" protes Satoshi tak suka karena panggilan tersebut berarti kakak ipar. Cari mati saja!
"Tentu saja kau. Wah ... bibirmu berdarah. Wajahmu juga memar. Kita harus harus ke rumah sakit!" cerocosnya tiada henti.
"Kau ini siapa, sih?!" Himeka mulai kesal dengan tingkah laku Mark yang sok akrab. "Kakak, ayo kita pulang," bujuk Himeka.
"Aku tak bisa pulang dengan wajah seperti ini. Kaasan pasti khawatir." Lalu Satoshi menatap pemuda yang usianya lebih tua darinya yang sejak tadi memanggilnya kakak ipar. "Kau ini siapa?"
"Kau lupa?" Mark membulatkan matanya. "Bukankah dulu saat kecil aku selalu mentraktirmu jus stroberi lalu kita menemani Princess ... eh maksudku Himeka di rumah sakit. Apa kau sungguh lupa?" tanya pemuda itu hampir putus asa. "Dulu kau memukul kepalaku dengan botol susu saat aku mencium Himeka. Ingat?"
Satoshi hanya mengerutkan keningnya. Pemuda di depannya ini tak waras.
"Dulu aku memanggilmu bule."
"Bule kepalamu!" Himeka menjitak kepala Mark gemas hingga pemuda itu mengadu kesakitan. Sembarangan mengatai saudaranya.
"Sebaiknya kau pergi sebelum aku menghajarmu."
Mark tertawa. "Kau tak akan bisa melakukannya karena aku punya bodyguard. Dia adalah atlet Wushu kebanggaan China." Tunjuknya bangga pada Zhou.
Ponsel Satoshi berdering. Dari Yue. dia pun segera menjawab panggilan itu. Tak lama setelah itu sebuah lamborgini putih berhenti di depan mereka. Lalu muncullah sang balerina dari dalam.
"Ya Tuhan, wajahmu kenapa?" tanya Yue kaget. Dia mendekati Satoshi lalu menyentuh wajahnya pelan, sekilas pemuda itu meringis. "Sorry."
"Lupakan," jawab Satoshi datar. Lalu pandangan Yue tertuju pada sosok pemuda yang tak berkedip menatapnya. Mereka berdua sama-sama kaget.
"Yue Scheider Young!"
"Mark Akechi!"
Seru keduanya bersamaan sambil menunjuk kaget. "Kau?" Keduanya langsung mendekat dan saling mendekap mulut lawannya. Yue mendekap mulut Mark dengan tangannya begitu pula pemuda Cina itu. Mata Yue mengancam seolah mengatakan 'Jangan beritahu aku pada mereka kalau aku adalah balerina dunia.' Begitu pula dengan mata Mark yang juga mengancam seolah mengatakan 'Jangan beritahu mereka kalau aku seorang atlet sepak bola terkenal.'
Mereka sama-sama mengangguk. Lalu melepas bungkaman mulut masing-masing.
"Kalian saling kenal?" tanya Satoshi curiga.
"Tentu saja, karena mereka adalah ... uhm ..." Belum selesai Zhou menyahut buru-buru Mark menutup mulutnya. "Lima puluh dollar, tapi tutup mulutmu."
50 dollar hanya menutup mulut? Wow itu amazing!
"Satoshi, ayo ke rumah, aku akan mengobati lukamu," ajak Yue.
"Tapi mereka ...,"
"... serahkan saja padaku. Aku yang akan mengantar mereka," kata Mark serius.
"Siapa yang percaya pada manusia sepertimu? Jangan membuatku menambah daftar serangga di buku hitamku."
"Aku percaya padanya. Dia anak baik-baik sepertimu. Aku mengenalnya dengan baik," bujuk Yue lalu tersenyum pada Himeka dan Mark.
Dalam hati Mark berterima kasih pada malaikatnya itu. Yue kau benar-benar malaikatku.
"Baiklah." Satoshi melirik Mark. "Aku setuju karena aku percaya padanya, bukan padamu." Akhirnya Satoshi mengalah.
π·π·π·π·
"Di mana temanmu si hitam itu?" selidik Ryu sambil menatap Satoshi intens.
"Hi-hitam?" ulang pemuda itu. "Maksud Anda Zero?"
"Siapa pun namanya, aku tak mau tahu. Suruh dia cepat datang dan hari ini kalian potong rumput di halaman."
"Tapi Kak, Satoshi sedang sakit."
Ryu menatap Yue heran. "Wah, tingkahmu menunjukkan jika Satoshi bekerja kau yang keberatan!"
"Tidak apa-apa, Tuan Hikaru." Satoshi menyenggol lengan Yue.
__ADS_1
Ryu menatapnya tajam. "Apa kau habis berkelahi?" Satoshi hanya diam. "Panggil saja namaku, aku tak suka dipanggil nama margaku." Ryu sewot.
"Maaf, saya tak bisa," kata Satoshi tegas.
"Memangnya kenapa?"
"Sudah saya katakan saya tidak bisa." Suara Satoshi agak meninggi. Tersimpan rasa kesal. Jangankan menyebut nama Ryu, mendengarnya saja membuat telinganya sakit.
Ryu memandangnya dengan senyum aneh. "Apa kau pernah trauma pada sosok bernama Ryu? Apa pacarmu dulu dibawa kabur oleh pemuda bernama Ryu? Apa karena Ryu itu kaya lalu kekasihmu mencampakkanmu yang miskin?"
Satoshi hanya diam.
Ryu tertawa. "Jika diam jawabanku benar. Pasti Ryu memang tampan-tampan dan kaya. Apa boleh buat. Orang bernama Ryu dan bermarga Hikaru memang kaya dan tampan. Lihatlah aku. Aku terlahir dengan nama Ryu Hikaru."
Satoshi mendengus sebal. "Hanya kebetulan saja wajah Anda tampan lalu bernama Ryu dan bermarga Hikaru. Tidak semua mereka yang memiliki nama dan marga sepertu itu kaya dan tampan."
Yue menatap Satoshi sewot. Mungkin dia yang paling tidak terima remaja itu berkata seperti itu. "Kau salah! Mereka yang bermarga Hikaru memang tampan-tampan dan sangat kaya, seolah mereka yang bermarga Hikaru adalah keturunan dewa!"
"Jangan berlebihan," bantah Satoshi.
"Kau tahu Albert Hikaru?"
"Kenapa harus tahu?"
"Beliau adalah pebisnis paling kaya nomer satu di Amerika." Lanjut Yue bangga, Ryu tersenyum puas. "Mantan personal High Class, Naka Hikaru yang sekarang menjadi youtuber terkaya di dunia, Lalu pemain sky Sean Hikaru yang terkenal di Eropa? Apa kau tidak tahu itu?" Yue menjelaskan panjang lebar. "Dan di antara mereka semua yang paling tampan adalah suamiku tercinta Lucas Hikaru. Kau tahu?"
Kembali Satoshi memasang wajah datar.
Yue terlihat putus asa. "Dasar payah! Seandainya saja kau juga berasal dari kalangan orang kaya, padahal wajahmu mirip Lucas. Omong-omong nanti kuberi kau stiker dan poster Lucas."
"Jangan lupa Ryu Hikaru juga termasuk orang tampan dan kaya. Catat namaku di daftar orang-orang tampan dan kaya itu." Sambung Ryu songong.
Satoshi menatap serius wajah Yue. "Benarkah aku mirip Lucas Hikaru?"
"Ya. Tapi kau sangat muda."
"Dan kau menyukai Lucas karena wajahnya?" Yue mengangguk mantap. "Kalau begitu ... ada kemungkinan kau akan menyukaiku karena wajahku mirip Lucas!" ucapnya percaya diri.
Bukan hanya Yue yang kaget, Ryu bahkan terlongo, pria itu tertawa menganggap omongan Satoshi itu konyol. "Aku ada urusan. Jika dia macam-macam padamu patahkan saja lehernya," ujar Ryu sambil berlalu.
Yue tersenyum kaku, omongan Satoshi membuatnya kikuk. "Dia adalah kakak paling kuat dan paling baik di dunia. Kau tak mengenalnya dengan baik, jika kau tahu seperti apa dia sebenarnya kau pasti akan bersahabat dengannya. Ayo, aku obati dulu lukamu."
"Mana mau aku bersahabat dengannya." Lanjut Satoshi sambil mengikutinya. "Oh ya, memangnya ada urusan apa kalian datang ke Jepang? Aku rasa bukan cuma bisnis yang dia tangani."
"Dia kemari untuk mencari kekasihnya."
"Jauh-jauh dari Jerman hanya untuk mencari seorang wanita? Apa wanita sudah tidak ada lagi sampai harus mencarinya di sini?"
"Karena dia sangat mencintainya." Yue mulai mengobati luka di wajah Satoshi.
"Sudah ketemu?"
Yue menggeleng. "Karena itulah dia terus mencarinya meski sudah lewat tujuh belas tahun lamanya. Aku pernah melihat fotonya. Cantik sekali."
"Pasti wanita itu sudah menikah dengan pria yang lebih segalanya dari gege-mu dan sekarang mereka membangun rumah tangga yang bahagia bersama anak-anaknya." Satoshi tertawa jahat." Kasihan sekali kakakmu."
Reflek Yue menekan keras memar di sudut pipi Satoshi hingga remaja itu berteriak kesakitan.
"Kau sengaja, ya?"
"Makanya jangan sembarang bicara. Aku tak mau melihat dia stress, mengerti?!" Nada Yue jadi judes.
"Tapi kejadiannya kan sudah lama, siapa tahu saja wanita itu sudah menikah. Siapa yang bisa
melawan takdir? Seharusnya dia mempersiapkan mentalnya jika kelak bertemu dengan kekasihnya tapi sudah digandeng pria lain. Tak sabar menunggu hari itu."
"SATOSHI FUJIMINE!"
"AAKH!!" Satoshi berteriak ketika Yue mencubit keras memarnya tanpa kasihan.
π·π·π·π·
Bulan Desember memiliki arti tersendiri bagi Ryu. Di bulan itu ia pertama kali bertemu dengan Miku saat gadis itu bahagia menerima kado ulang tahun dari gadis bercepol. beberapa bulan setelahnya mereka berpacaran dan di bulan desember pula ia berpisah dengan Miku.
"Aku merindukanmu, Miku," ujarnya pelan sambil menatap langit. "Tuhan, kumohon nerikan aku keajaiban di bulan desember ini."
__ADS_1
Masa lalunya datang bagai gelombang air laut.
Ryu meniup lilin yang berangka 17. Wajahnya terlihat bahagia meski mommy dan daddy-nya hanya mengiriminya paket.
"Hikaru, kenapa teman-teman belum datang?" tanya Miku heran karena apartemen pemuda itu sepi.
"Karena kau satu-satunya tamu yang aku undang." Ryu tersenyum, dia menatap Miku lama." Aku ingin hadiah."
Gadis itu tersenyum, mengeluarkan bingkisan dari dalam tasnya lalu memberikannya pada kekasihnya.
"Aku ingin hadiah lain."
"Kau tak suka?"
Pemuda tampan itu menggeleng. "Aku selalu suka apa pun pemberianmu. Tapi di ulang tahunku ini aku ingin yang spesial."
"Apa?" Miku tak mengerti.
Ryu menunjuk bibir Miku. "Kita berciuman."
Tubuh Miku menegang. Enam bulan mereka berpacaran tapi mereka tak pernah melakukan hal itu wajar jika Ryj menginginkannya.
"A-aku ...." Gadis itu terlihat gelisah.
"Jika tidak mau jangan memaksakan diri, aku akan memunggumu sampai kau siap," kata Ryu.
Wajah Miku merona. Ia menunduk. "A-aku tidak ke-keberatan," gagapnya pelan.
Mendapat lampu hijau dari kekasihnya, Ryu tak membuang kesempatan itu, lalu mereka pun melakukannya. French kiss.
Sasuke tersenyum mengingat kejadian itu, tubuhnya mulai bergetar dingin karena salju turun. Dia segera beranjak dari tempat duduknya menuju paggani zonda miliknya yang diparkir di pinggir pusat taman.
Saat akan menuju mobilnya di sebrang jalan mendadak sebuah motor melaju kencang dan hampir menabraknya tapi Ryu berhasil menghindar namun sebagai gantinya dia menabrak seorang pejalan kaki hingga barang- barang yang dibawanya berserakan.
"Maaf," ujar Ryu sambil buru-buru membantu memunguti barang-barang orang yang ditabraknya barusan. "Maafkan sa ...." Kata-kata Ryu tercekat dan tak bisa dikeluarkan seolah berhenti di kerongkongan. Di depannya muncul sosok yang belasan tahun lalu ia tinggalkan. Apa ini juga sebagian dari ilusiku?
Wanita yang ditabrak itu masih memunguti barang-barangnya yang berceceran dan gerakannya berhenti saat ada yang mendekapnya dari belakang dengan erat.
"Miku," ujarnya datar. "Akhirnya aku menemukanmu." Waktu seolah berhenti bagi mereka. Terlebih wanita yang dipanggil Miku tadi.
Suara ini ... wangi tubuh ini ... aku masih mengenalnya. Wanita itu terhenyak.
"Miku."
Detak jantung Miku langsung memberikan respon yang luar biasa. Perlahan dia menoleh. Mereka saling menatap lama. "Ryu," lirihnya luar biasa kaget.
"Aku merindukanmu." Ryu
menatapnya tersenyum. Dan ada air mata mengalir di pipinya saat mengucapkan kata-kata tadi tanda bahwa pria ini tak bohong.
π·π· To be Continued π·π·
π·
π·
π·
π·
π·
π·
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda likeΒ [π] usai membacanya πππ
Menerima kritik dan saran yang membangun π
__________________________________
Jumat, 26 Juni 2020
____________________________________
Klik, please
__ADS_1
π