Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[26] The Little Prince From Beijing


__ADS_3

Namanya adalah Mark Akechi. Dia anak laki-laki lucu dan tampan. Semenjak Masaya membolehkan dia menengok Himeka--putri kecilnya, bocah itu setiap hari bersemangat pergi ke Klinik SONE. Anak itu selalu mengatakan kalau dia berasal dari bulan. Entah apa alasannya, yang jelas Mina menertawainya dan mengatakan bocah pemimpi.


Ah, soal adu jambak kemarin, Miku berhasil memisahkan mereka. Ia menyeret Satoshi, sedangkan Mark diambil ayahnya. Perlu diketahui jika Takeru Akechi adalah seorang astronot. Jadilah dengan bangga Mark mengatakan kalau ayahnya pernah ke bulan dan mengaku dirinya berasal dari bulan.


Mark memanggil Himeka dengan sebutan Queen. Katanya lebih keren. Setiap kali bocah kepala jamur itu memasuki ruangan kamar Miku, Satoshi selalu memasang tampang cemberut seolah mau menyatakan perang. Si bibi cantik Miku berkata kalau Satoshi menyukai sesuatu yang berwarna merah seperti apel dan stroberi. Karena itulah, hari ini bocah rambut hitam itu membawa troli yang diisi box minuman rasa apel dan stroberi, makanan dan camilan berbagai jenis stroberi dan apel berharap dengan pemberiannya itu, si sulung Fujimine tak cemburu lagi jika dia dekat Queen-nya.


"Hei, bule ...," Kali ini Mark datang menggunakan helm putih mirip astronot. Bukan tanpa alasan bocah itu mengenakan helm, trauma dijambak Satoshi membuatnya mewanti-wanti agar memakai helm.


Dengan mimik sombongnya Satoshi kembali bersikap tak acuh. Dasar turunan Ryu.


"Hime?" Anak kecil itu menggelang keras sambil menyebut nama adiknya.


"Lihat ini?" Pamer Mark.


Satoshi yang belum genap 2 tahun itu tampak senang saat anak lelaki itu memberinya dua box minuman kaleng rasa kesukaannya dan berbagai jenis camilan ringan berwarna merah. Ada sekotak kue mochi berbentuk stroberi warna warni, 2 bungkus manisan apel berukuran besar, sebungkus stroberi besar-besar yang segar dan sekantong apel merah yang menggiurkan. Mark sengaja membawa banyak makanan seolah itu untuk cadangan makan Satoshi sebulan ke depan.


"Ini untukmu, tapi sebagai gantinya kau harus membiarkan aku bermain dengan adikmu, ya?" Mark memberinya penawaran.


Disodori sedemikian banyak makanan rasa kesukaannya, Satoshi langsung mengangguk, dia sangat senang dengan pemberian itu, ditambah lagi, Mark memberinya uang koin 1 buah membuatnya sudah tak memedulikan adiknya lagi.


Rupanya, Satoshi sangat suka dengan uang koin, saat diberi koin, balita 2 tahun itu langsung membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan rivalnya masuk.


Mark dengan gembira mendekati Himeka yang masih tidur itu. "Bibi ... kenapa dia belum bangun?" Mark jadi manyun melihat bayi Himeka tertidur pulas di box.


"Wah, Mark perhatian sekali pada Himeka. Apa kau tidak bosan setiap hari kemari?" tanya Miku.


"Tidak," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun pada Miku, matanya fokus pada Himeka. "Aku, kan suka Himeka. Bibi, Himeka boleh aku panggil Queen?"


"Tentu saja. Bukankah nama itu bagus?" kata Miku sambil tersenyum.


Mark mendongakkan wajah menatap Miku. "Bibi cantik sekali."


"Oh ya? Lebih cantik siapa antara Bibi dengan Himeka?" goda Miku.


Bocah itu berpikir sejenak. "Cantik Bibi, sih," jawabnya polos, "tapi kalau sudah besar nanti, Queen akan secantik Bibi, kan?"


Miku mengeleng.


"Kenapa?"


"Himeka pasti jauh lebih cantik kalau sudah besar nanti."


"Kalau Queen nanti tumbuh menjadi gadis yang lebih cantik dari Bibi, aku tidak mau menjadi kakaknya lagi," kata Mark, "aku mau menjadi pengantin laki-lakinya saja. Boleh, kan?"


Miku tertawa mendengarnya. Aduh ... anak ini lucu dan pintar sekali, secara tidak langsung dia sudah melamar Himeka. Hm, dasar anak-anak, polos saja omongannya. Hal yang sulit diungkapkan orang dewasa malah keluar dengan lancarnya bagi anak kecil sepertinya. Wanita itu mengelus kepala bocah itu. "Mark, kau anak yang pintar. Bibi suka padamu."


Mark tersenyum senang. Dia menatap Himeka yang kini membuka matanya. "Queen ... Kakak datang menemuimu lagi," sapanya ramah.


Tiba-tiba Masaya datang. Dia heran dengan keadaan hari ini. Biasanya Satoshi akan kesal jika anak dengan model rambut jamur itu kemari. Namun, entah kenapa putranya kini jadi diam dan tak acuh saat Mark bermain bersama putrinya.


"Miku, ada apa dengan Satoshi? Biasanya anak itu akan melempar apa pun jika Mark datang. Tapi sekarang ...." Masaya tak habis pikir.


Miku hanya tertawa. "Mark menyogoknya dengan berbagai camilan, makanya Satoshi diam."

__ADS_1


"Hah?" Alis Masaya terangkat sebelah. Dia menggeleng tak percaya. "Kecil-kecil sudah matre."


🌷🌷🌷🌷


Sore itu Ryu duduk di kursi rodanya. Matanya menatap pemandangan di peternakan sapi organik milik keluarga Scnheider, Kakek Yue di Desa Schockingen, Ditzingen di Stuttgart. Peternakan seluar 100 hektar itu terpampang jelas di mata Ryu. Ratusan sapi dilepas bebas sedang makan rumput di peternakan tersebut.


Sudah satu minggu, pemuda Hikaru itu keluar dari rumah sakit dan tinggal di dekat daerah peternakan di Stuttgart. Ryu masih lumpuh dan ia ditemani salah seorang perawat wanita asal Stuggart bernama Loori. Setiap sore Loori akan mengajaknya keluar agar pemuda itu tidak bosan. Terkadang Yue akan ikut menemani jika gadis kecil itu tidak mengikuti latihan atau kompetisi balet. Saat ini Ryu ditemani Juana.


"Mom," panggil Ryu pelan.


Juana menoleh dan menghampiri putranya. "Ada apa?" jawabnya sambil membelai rambut pirang putranya.


"Kapan aku bisa kembali seperti dulu?" tanya Ryu datar, "bisa berjalan, bermain bola dan tak merepotkan kalian? Apa aku bisa?"


"Tentu," jawab wanita itu berusaha membesarkan hati putranya, "karena itulah, kau harus terus percaya. Bukankah Tuhan sudah mengembalikan suaramu? Kau harus percaya akan keajaiban."


"Tapi aku sudah tak percaya." Suaranya terdengar bergetar. Dia menatap wajah ibunya.


"Kau harus percaya."


"Pada siapa aku harus percaya? Bahkan Tuhan yang membuatku seperti ini."


"Ryu,"


"Dokter menyatakan kalau aku lumpuh. Mommy tak perlu membohongiku, aku bukan anak kecil lagi." Air mata Ryu mulai berjatuhan. Suaranya terdengar begitu serak. "Aku tahu apa arti lumpuh. Jadi berhentilah menghiburku!" Tangan Ryu mencengkram keras pegangan kursi rodanya.


"Mommy yakin kau pasti sembuh. Semuanya butuh waktu." Tangis Juana hampir pecah. Ia menyentuh tangan Ryu. Betapa putranya mulai berputus asa.


"Sampai kapan? Bulan depan? Satu tahun lagi? Sepuluh tahun lagi atau aku memang tak akan pernah sembuh hingga ajal menjemputku?"


"Kalian hanya bisa menangis, tapi apa kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan?" Tatapnya benci. "Tiga tahun aku seperti mayat hidup. Kalian tak'kan pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan," tekannya datar.


Juana dan Albert saling berpandangan miris.


Ryu terlihat putus asa. Dia sering berfikir kenapa Tuhan tidak segera mencabut nyawanya? "Go ..." ujarnya pelan. Sebelah tangannya menutup wajahnya.


"Ryu ...."


"I say go from me, now!! I hate you all!! Go!!" teriaknya menggila.


Mau tak mau, mereka menyingkir dari hadapan putranya itu. Membiarkan Ryu sendiri meratapi nasibnya.


Pemuda itu menangis. Dia benci, keadaannya sekarang. Dia benar-benar ingin mati. "Tuhan kau tak adil padaku! Jika kau membenciku, ambil saja nyawaku!" teriaknya kesal. Meluapkan emosinya.


Tak jauh darinya, seorang gadis cilik menatapnya sedih. Ia ingin menangis melihat Ryu seperti itu.


"Jangan mati," isaknya sembari mendekati pemuda itu. "Aku tidak mau Lakak mati. Cukup mama dan Kakak Mingzhi yang pergi meninggalkanku. Kau tak boleh pergi ... tidak boleh ... hiks ..." Buliran bening membasahi pipi Yue.


Ryu menoleh. "Yu-Yue," lirihnya pelan. Yue mendekat ke arah pemuda itu.


"Jika mati, Kakak tak akan kembali. Jangan mati, aku mohon." Tangisnya semakin pecah. Ia memeluk Ryu. "Bagiku kau sangat berarti. Jangan katakan hal itu lagi. Aku takut itu menjadi kenyataan."


Ryu tersenyum tipis. "Maafkan aku." Ia memeluk sayang tubuh kecil itu.

__ADS_1


Dokter Peter yang melihatnya terharu. Jika dipikir-pikir, putra pertamanya meninggal seusia Ryu. Ya, tiga tahun lalu. Sebulan sebelum Ryu dikirim ke rumah sakitnya.


🌷🌷🌷🌷


Sayangnya, Mark harus ikut ayahnya kembali ke China, dengan berat hati dan ingin menangis, dia harus meninggalkan Himeka dan Satoshi. Meski hanya kenal satu minggu dengan keluarga Fujimine, Mark seolah sudah sangat mengenalnya lama meski kadang Satoshi kerap menjahilinya.


Dia menatap satu persatu keluarga itu. Miku ikut sedih dengan kepulangan bocah itu. "Bibin, Paman ... Himeka tetap akan menjadi pengantinku, kan kalau aku sudah besar nanti?"


Masaya mengangguk. Dia memeluk bocah itu, tak lupa dia mengaitkan jari kelingkingnya atas permintaan Mark untuk janjinya.


"Mark, jika sudah sampai jangan lupa tulis surat untuk kami, ya?" kata Miku.


Mark mengangguk. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Dulu saat mamaku hamil, aku dan papa memesan kalung ini untuk Queen, adikku. Sekarang aku berikan kalung ini untuk Himeka," ujarnya sambil menyerahkan kalung dengan mainan yang cukup unik.


Miku menerimanya.


Lalu pandangannya beralih pada Satoshi yang menatapnya. "Hei, bule ... jika aku besar nanti aku akan kembali ke sini untuk mengambil adikmu."


"Hime?" Satoshi mengangguk setuju dan hal itu membuat Mark tersenyum. Tak lupa ia memberikan Satoshi helm astronotnya. Saat pesawat penerbangan Tokyo - Beijing akan berangkat, Mark dan ayahnya berpamitan.


Ia melambaikan tangannya pada Satoshi. "KAU HARUS MENGINGATKU! JANGAN MELUPAKANKU, YA?!" teriak Mark sebelum benar-benar menghilang dikerumunan orang.


Masaya melambaikan tangannya hingga tubuh bocah itu menghilang dibalik ribuan orang yang lalu lalang. Ia menggendong Satoshi dan mengangkatnya hingga bocah itu duduk nyaman di pundaknya. Tangan kanannya memegangi tangan Satoshi agar tak jatuh, sementara tangan kirinya menggandeng tangan Miku yang menggendong si kecil Himeka.


Mereka meninggalkan bandara Narita menuju rumah.


🌷🌷 To be Continued🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [πŸ‘] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


___________________________________


Selasa, 12 Mei 2020


___________________________________


Klik, please

__ADS_1


πŸ‘‡


__ADS_2