Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[42] - Sebuah Pengakuan


__ADS_3

"Sebenarnya kau itu hanya memanfaatkan Yue, kan?" tanya seorang pemuda bule bermata hijau itu pada pemuda di sampingnya yang berparas tampan dengan rambut hitamnya yang lebat dan bermata biru.


Pemuda itu adalah Leonard Piscassio, pasangan tari balet Yue. Leon, begitu panggilannya, ia hanya tersenyum tipis. "Dia cinta mati padaku."


"Leon, aku tahu kau hanya mencintai Lauren. Kau mendekati Yue hanya untuk membuat Lauren cemburu. Bagi Lauren tak ada gadis yang bisa membuatnya cemburu selain anak Cina itu. Karena bagi Lauren, Yue adalah saingan terberatnya."


"Aku memang memanfaatkannya."


"Sampai kapan?"


Leon tersenyum simpul. "Sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Lauren juga rumah sakit milik profesor Peter Young," jawab Leo sambil tersenyum penuh ambisi.


Pemuda bermata hijau itu hanya mengeleng. "Kau benar-benar brengsek."


Leon menatapnya tajam. "Jangan sok suci kau, Russel! Jika bukan karena kebaikan orang tuaku, kau sudah mendekam dan membusuk di penjara seumur hidupmu gara-gara narkoba. Ingat itu baik-baik."


"Jika kau dan ayahmu begitu menginginkan rumah sakit itu, aku tidak akan ikut campur. Tapi jika kau mempermainkan perasaan Yue, tidakkah itu keterlaluan? Hanya dia yang mempercayaimu seratus persen meski dia tahu kau hanya memanfaatkannya!" Pemuda bernama Russel itu jadi kesal. "Aku sudah mengingatkanmu saat ini, jika terjadi apa-apa denganmu karena perbuatanmu jangan salahkan aku." Russel terlihat muak. "Oh ya, Jangan lupa lelaki kebangsaan Jepang itu sudah tahu niatmu."


"Manusia ajaib itu" Ya, Leon menyebur Ryu manusia ajaib mengingat lelaki dengan perjuangan yang sangat panjang itu masih bisa bertahan sampai sekarang.


"Ya, sekarang dia sudah bisa berjalan normal. Berhati-hatilah, dia sangat membencimu karena dia sangat menyayangi Yue seperti saudaranya sendiri." Russel menjelaskan. "Lelaki


bernama Ryu Hikaru itu sangat mengerikan. Aku bisa membayangkan jika kau melukai Yue, dia pasti akan membunuhmu."


Leon hanya tersenyum tipis. "Jika Yue berada digenggamanku, manusia ajaib itu bisa apa?"


Russel mencibir. Dia teringat kata-kata Ryu kemarin saat tak sengaja bertemu di lorong rumah sakit.


"Hei, Namamu Russel Mayer bukan? katakan pada sepupumu itu jika dia menyakiti hati Yue, maka aku akan membuat sepupumu itu merasakan hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, sehingga dia ingin sekali menjemput kematiannya dengan cepat. Ingat itu baik-baik."


Sebenarnya Russel merinding mendengarnya, tapi dia tak berani menyampaikan hal itu pada Leon secara langsung, karena dia tahu Leon sangat pemarah.


"Leon!" Suara ceria khas Yue memecah di antara mereka, "hai, Russel juga di sini?" sapanya riang.


Russel tersenyum, dia menatap teman sejak SMP-nya itu kasihan. Malang sekali nasibmu Yue, tidakkah kau sadar kalau Leon mendekatimu hanya demi membuat Lauren kembali padanya? Juga keluarga Leon yang menginginkan rumah sakit milik keluargamu.


"Eh, Russel, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yue heran.


Russel menggeleng tersenyum. "Karena kau sangat cantik. Seperti bidadari. Aku iri pada Leon yang bisa mendapatkanmu," ujarnya seraya berlalu meninggalkan mereka.


Yue hanya tersenyum. "Oh ya Leon, kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu hari ini?" tanyanya sambil duduk di samping pemuda itu.


"Ayahku ingin mengundangmu dan dokter Peter ke rumah besok malam."


"Eh? Kenapa mendadak sekali."


Leon tersenyum. "Aku juga tidak tahu. Sepertinya ayahku sangat menyukaimu, mungkin dia ingin kita segera bertunangan," jawab Leon santai.


Yue terkejut bukan main. "Leon ... kita baru satu bulan berpacaran, kenapa mendadak sekali?"


Leon menatap lembut tepat ke dalam retina sang balerina dan itu membuat Yue jadi luluh seketika. "Karena aku sadar kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku bisa mati," katanya sambil menggenggam tangan Yue.


Gadis itu menatapnya tak percaya. Aku ini kenapa? Seharusnya aku senang mendengarnya ... tapi kenapa hatiku agak takut. Seolah-olah berkata pergilah sejauh-jauhnya. Yue terdiam dalam kebisuannya. Ia membiarkan angin meniup-niup rambutnya yang panjang.


"Kenapa diam?"


Sang balerina tersadar sejenak. Dia tersenyum. "Baiklah, aku akan segera memberitahu papaku."


Leon juga tersenyum. Tak kusangka akan semudah ini cara mendapatkanmu juga rumah sakit itu. Ayah, tunggulah sebentar lagi, kita pasti berhasil menguasai rumah sakit itu. Bersabarlah sebentar lagi.


Ia memeluk gadisnya senang. Yue? Tentu saja gadis itu bahagia karena poros kebahagiaan gadis itu hanya terletak pada Leonard Piscassio seorang.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Bukan cuma Satoshi yang kaget dengan perubahan ayah mereka, tapi kedua saudaranya juga terheran-heran melihat penampilan Masaya yang berubah. Wajah itu terlihat pucat dan lelah.


"Ayah sakit?" tanya Isao heran.


Menanggapi hal itu Masaya hanya


tersenyum. Dia menoleh pada Satoshi yang menyebabkan anak itu jadi berpikir keras dan paling mengkhawatirkan anaknya. "Satoshi, ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu nanti malam."


Satoshi mengangguk.


Masaya menghampiri anak-anaknya. "Ayah baru pulang dari Nara dan membawakan kalian oleh-oleh. Ini untuk Isao, ini untuk Himeka, lalu ini untuk Satoshi." Masaya membagikan barang-barang yang sangat diinginkan anak-anaknya sejak dulu.


Satoshi mendapatkan laptop baru, Himeka mendapatkan sepatu skate yang diimpikan, lalu Isao memperoleh sepeda.


"Wuah terima kasih, Ayah," seru mereka senang dengan hadiah masing-masing. Tak lupa sebagai ucapan terima kasih mereka mencium pipi ayahnya.


Melihat anak-anaknya bahagia Masaya ikut tersenyum.


"Isao, Ayah ingin melihatmu memakai seragam TK, kita foto bersama, ya."


"Tapi aku 'kan masih tahun depan sekolahnya?" tanya Isao heran.


Miku menghampirinya, "Tadi kami mampir ke rumah Akira dan meminjam seragam Takeshi. Kita akan berfoto bersama untuk dijadikan kenangan," jelas Miku, "kalian berdua pakai seragam sekolah masing-masing."


Meski tidak mengerti, ketiga anak itu menuruti kata-kata ibunya. Satoshi mengenakan seragam SMP, Himeka SD sedangkan Isao memakai seragam Takeshi yang masih TK. Mereka pergi ke studio foto lalu berfoto bersama.


Pulang dari studio foto Masaya langsung mengajak Satoshi ke tempat favorit mereka. Yaitu di balkon atap rumah mereka. Sementar Himeka sudah tidur di kamarnya. Hinata menemani Isao tidur.


"Apa yang ingin Ayah bicarakan?" Satoshi memulai pembicaraannya.


"Bercerita roman." Masaya tersenyum memulai.


"Oh ya?" Satoshi terlihat tak percaya. Ayahnya bercerita kisah percintaan? Yang benar saja, mendengarnya membuat Satoshi ingin tertawa.


Satoshi hanya tersenyum. "Ayah mengingat masa lalu, ya? Kalian memang pasangan yang serasi. Ayah tampan dan ibu cantik."


Masaya mengelusnya. "Mereka saling mencintai."


"Lalu menikah dan melahirkan tiga anak. Mereka bernama Satoshi, Himeka dan Isao. Iya, kan?" Satoshi melanjutkan kata-katanya, "Ah, Ayah ingin pamer kisah cinta padaku. Mentang-memtang aku belum punya pacar."


Masaya menggeleng. "Bukan kok, aku hanya ingin bercerita tentang kebenaran. Ayah tidak bercerita tentang diri Ayah."


"Bohong!"


"Dengarkan saja."


"Tapi aku 'kan sudah tahu ceritanya," kata Satoshi mulai malas.


"Tapi ceritamu salah."


"Eh?"


"Mereka tidak menikah melainkan berpisah."


"Mana mungkin!"


Masaya tersenyum. "Pemuda itu pergi jauh ke luar negeri demi menggapai impiannya, yaitu menjadi pesepak bola terkenal dengan meninggalkan gadis cantik yang dicintainya itu." Lanjut Masaya gemetar dan berkaca-kaca.


Satoshi yang mendengarnya jadi merinding. "Lalu?"


"Gadis itu hamil dan pemuda itu tidak tahu."


Tangan Satoshi mencengkram rapat-rapat jaketnya. Entah kenapa cerita itu ada kaitannya dengan dirinya nanti. "Lalu?" cicitnya pelan, tubuhnya bergetar.

__ADS_1


"Karena malu gadis itu berniat bunuh diri, tapi untunglah Tuhan mengirimnya seorang pemuda yang akhirnya gadis itu tertolong." Masaya menatapnya. "Apa kau ingin tahu siapa pasangan yang saling mencintai itu, tapi akhirnya berpisah?"


Satoshi mengangguk.


"Gadis itu adalah Miku Higashiyama dan pemuda tampan itu adalah Ryu Hikaru. Ayah kandungmu." Lanjut Masaya sembari menekan kata-kata 'ayah kandungmu' itu pada Satoshi.


Satoshi terperajat kaget. "Ayahku Masaya Fujimine, bukan yang lain."


Masaya menggeleng. "Maafkan aku, Satoshi. Kau bukan putra kandungku. Ayahmu bernama Ryu Hikaru."


Satoshi mulai terisak. "Kenapa ... hiks ... kenapa bercerita seperti itu? Kenapa Ayah tak mau mengakuiku sebagai anakmu? Apa Ayah membenciku? Hiks ... padahal aku tidak nakal lagi, kan?" Satoshi mulai menangis.


Masaya mendekapnya. "Tidak Satoshi ... dengarkan baik-baik ... Ayah terpaksa mengatakan yang sebenarnya padamu, karena Ayah takut tak sempat mengatakannya. Meskipun kau bukan anak kandung Ayah, tapi Ayah yang membesarkanmu. Ayah sangat menyayangimu."


"Kenapa Ayah bercerita hal ini? Lebih baik aku tak pernah tahu siapa ayah kandungku. Aku lebih suka kebohongan dari pada kebenaran yang ternyata menyakitkan."


"Ayah tak punya banyak waktu lagi." Ditatapnya wajah Satoshi lekat-lekat, "Ayah sakit Satoshi," Air mata Masaya menetes. "Kanker ... dan Ayah akan segera mati."


Satoshi menggeleng. Dia menangis sambil memeluk ayahnya. "Ayah tidak boleh mati ... huhuhu .. Ayah tak boleh meninggalkan kami ..." Tangis Satoshi pecah. Mereka saling berpelukan dan menangis.


"Ingat, Satoshi. Jangan pernah kau membenci ayah kandungmu. Apa pun yang sudah terjadi dulu. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kau mau berjanji?"


"Aku tak ... bisa berjanji."


"Ayah mohon."


Di samping mereka Hayato yang mendengarkan sejak awal ikut menangis.


Di luar bulan sabit tergantung indah.


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


_________________________________


Selasa, 23 Juni 2020


____________________________________


Klik, please


👇

__ADS_1


__ADS_2