
"Satoshi, berhentilah mengoceh," kata Yue geli krena masih mengulang kata-katanya sejak memasuki mobil tadi sembari memeluk laptopnya. Masalahnya logat remaja itu terdengar mengerikan di teliganya saat melafalkan kalimat tersebut. Mobil itu kini melaju di sekitar Akibahara.
Ponsel Satoshi berdering, sebuah pesan bergambar dari Himeka. Mata remaja itu membulat kaget. "Ya Tuhan, dia benar-benar serius melakukannya. Ini pasti karena serangga norak itu yang mengabulkan keinginan Isao!"
Yue meliriknya. "Memangnya apa yang dilakukan Mark?"
"Dia mewarnai rambut Isao dengan warna merah menyala seperti rambut Sean Hattori. Isao fans berat pesepak bola itu." Satoshi memperlihatkan gambar sang adik yang memakai baju olah raga dengan nomer punggung 29 milik Hattori.
Sang balerina terkikik. "Adikmu lucu." Ia menepikan mobilnya di tempat parkir, meminta waktu sekitar 20 menit agar Satoshi mau menunggu. Alasannya klise, urusan perempuan. Nyatanya Yue pergi untuk membeli hadiah untuk Isao. Usai itu ia kembali ke mobilnya sambil membawa kado yang cukup besar.
"Apa itu?"
"Hadiah untuk adikmu yang lucu," ucapnya sembari memasang sabuk pengaman. Lamborgini putih itu melaju kembali. Kini mobil itu sudah berhenti di pertigaan jalan lalu menepi. Saat ini mereka sudah di depan rumah Satoshi, gadis itu menyerahkan sebuah kado yang tadi sengaja dibelinya di toko."Ini hadiah untuk adikmu dariku, dan katakan saja laptop itu kau yang mendapatkannya. Aku pulang dulu." Yue pamit.
"Kenapa kau tidak masuk? Ini masih sore, bukan?"
Yue menggeleng. "Aku ingin jalan-jalan sendiri. Bukankah ini hari yang istimewah untuk keluargamu?"
Satoshi mengangguk. "Omong-omong, kenapa tadi kau mengaku Miku Higashiyama?"
"Kenapa? Apa itu nama mantanmu?"
Satoshi mengerucutkan bibirnya. "Seperti nama wanita yang aku cintai dan dibuat menangis oleh Ryu Hikaru."
Yue tertawa sembari menggeleng. Ternyata itu alasan Satoshi tak mau menyebut nama Ryu. "Sudah, ya, aku pulang."
"Terima kasih hadiahnya!" teriak Satoshi saat mobil itu meluncur menjauh dari rumahnya.
"Kakak!" Isao berlari ke arah Satoshi dengan senang. "Kami dari Disneyland tadi. Kakak Ipar membelikanku banyak buku cerita. Kak Himeka memberiku sepatu baru. Bagus bukan?" Pamer Isao senang.
Satoshi tersenyum. Dia tahu Mark tak akan membelikan Isao laptop karena semalam dia sudah mengancam pemuda asal China itu untuk tidak membelikan sang adik laptop jika masih ingin bersama Himeka. "Itu hadiah dari Zhou Brother." Tunjuknya pada boneka anjing raksasa.
"Zhao itu wanita!" Satoshi melotot.
Anak kecil itu hanya tertawa.
"Kakak bersama Ibu?" Tiba-tiba Himeka muncul. Satoshi menggeleng. "Aneh, tadi pagi katanya ibu mau pergi rumah Paman Matsumoto lalu ke super market, tapi sampai sekarang belum datang."
"Telpon?"
"Sudah tapi tidak aktif." Himeka menggeleng.
"Tunggu saja, sebentar lagi datang," jawab Satoshi sembari memasuki rumahnya. Saat memasuki ruang tamu dia melihat Mark dan Zhou sedang mendekorasi ruangan itu sebagus mungkin. Rupanya Mark begitu senang melakukan hal itu.
"Zhou, kau bisa membetulkan lampu yang mati itu, kan?"
"Tenang saja, serahkan semuanya padaku. Kau fokus saja membuat tart untuk Isao dan Angel-mu," sahut gadis itu yang masih sibuk meniup balon.
"Baiklah aku percayakan padamu."
"Tapi ...."
"Apa lagi?" Seakan curiga Mark menghentikan aksinya yang sedang melukis tart Isao itu. Pasti ada maunya lagi.
"Membetulkan lampu mati beda ongkos loh."
Mark mendengus sebal. "Astaga. Total semuanya, nanti tagihkan ke rekeningku. Puas?"
"Ya, puas." Sahut Zhou tersenyum menyerigai tanpa merasa berdosa.
🌷🌷🌷🌷
Ryu keluar dari Buggati veron bersama Miku. Sesampai di pertigaan jalan Miku menoleh. "Cukup sampai disini kau mengantarku. Aku tak mau suami dan anak-anakku salah paham melihat kita."
"Tidak mau," jawab pria itu nakal. "Aku ingin bertemu anakku, dan aku akan melamarmu di depan dia."
"JANGAN BERCANDA!" Miku berteriak membuat Ryu seketika menutup kedua telinganya kaget.
"Hei, kau mengagetkanku. Suaramu itu tidak semerdu Ichika Watanabe," gerutu Ryu. Lelaki jangkung itu selalu membandingkan suara penyanyi solo yang tak lain adalah istri dari aktor terkenal Lucas Hikaru tersebut, jika Miku sedang berteriak kesal. Ichika Watanabe merupakan penyanyi solo favorit Miku.
Miku terus berjalan tak menghiraukan Ryu yang terus membuntutinya hingga mereka berjalan bersisihan. Terkadang Ryu mencoba menyentuh tangan Miku tapi wanita itu dengan cepat menepis tangan pria tampan itu lalu buru-buru memasukkan tangannya ke dalam kantong jaketnya. Ryu hanya tersenyum simpul. Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah sederhana yang di depannya ada sebuah toko bunga kecil yang bertulisakan, 'Rainbow'.
Miku memencat bel rumahnya.
__ADS_1
"Ah ... ayahmu datang anakku," gumam Ryu senang tak sabar ingin melihat seperti apa putranya sekarang. Tampan seperti dirinya? Sudah pasti. Tak ada sejarah yang mencatat jika keluarganya itu jelek.
Sementara Miku sewot tatkala mendengar Ryu berkata seperti itu.
🌷🌷🌷🌷
Persiapan pesta ulang tahun Isao sudah selesai. Tart Cherry buatan Mark sudah jadi. Sebuah lilin angka 7 tak lupa menghiasinya. Tart untuk Yue sudah pemuda itu kirim sejak satu jam lalu melalui jasa pengantar.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
"Itu pasti Ibu!" seru Isao senang.
"Biar aku yang membukakan pintunya," ujar Satoshi sambil beranjak dari tempatnya. Remaja itu segera menuju halaman depan untuk membuka pintu. "Ibu, kena-pa ..." Kata-kata Satoshi tercekat begitu saja begitu tahu siapa yang datang."
"Hallo, Satoshi," sapa lelaki itu tersenyum sambil membawa sebuah kado yang cukup besar. "Apa pestanya sudah dimulai? Maaf aku datang terlambat."
"Ah, Paman Shun, kukira Ibu. Ayo masuk, Paman."
Shun segera masuk. "Memangnya ibumu ke mana?"
"Jalan-jalan sebentar." Satoshi tersenyum lalu mereka ke masuk. Tak lama kemudian bel kembali berbunyi lalu datang Zero bersama Minako sambil membawa kado masing-masing. Lalu disusul Akai dan Himawari.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Miku juga belum pulang. Acaranya memang pukul 7.
Bel kembali berbunyi. Isao segera berlari keluar. Saat membuka pintu, anak lelaki itu berteriak senang. "Ibu ke mana saja, aku sudah lama menunggu!" kata Isao cemberut sembari memeluk Miku.
Miku tersenyum menatap putranya.
Sementara di belakangnya Ryu diam mematung menatap sosok anak kecil itu. Ibu? Anak itu memanggil Miku ibu? Reflek Ryu menyentuh dadanya. Dia tidak tahu tiba-tiba dadanya terasa nyilu dan sakit sekali.
"Loh, inikan paman yang dulu naik mobil bagus itu, kan? Paman teman ibu, ya? Apa ibu sudah memarahi Paman?" Isao berceloteh sambil menatap Ryu.
"Miku, dia siapa?" tanya Ryu begitu datar. Tatapan matanya tak lepas dari Isao.
"Paman ini yang siapa, dia ibuku."
Tangan Ryu bergetar, entah kenapa dia begitu membenci sosok makhluk kecil di depannya itu. Ingin rasanya dia membanting Isao.
"Miku akhirnya kau ...." Kata-kata Shun terhenti begitu saja saat melihat sosok musuh bebuyutannya kini muncul di depannya. "Hikaru!"
"Shun," Suara Ryu tertahan. Ia yang sangat shok melihat Shun berkumpul diantara mereka.
Mereka saling menatap. Lama sekali. Menerka-nerka dengan pikiran masing-masing.
Jadi Miku sudah menikah? Dengan Shun Namiki? Dan anak-anak ini adalah anak mereka? Pantas saja, anak perempuan itu begitu mirip Miku, lalu yang kecil berambut merah ini mirip Shun. Ryu mundur selangkah. Gontai.
Ryu sudah kembali? Shun tersenyum tipis. Ada getaran aneh yang tiba-tiba memasuki hatinya. Tentu saja Miku pasti akan kembali padanya karena Ryu memiliki kartu As yang akan mengikat mereka. Dan kartu As itu adalah Satoshi. Anak mereka.
"Pulanglah, Ryu. Hari ini adalah ulang tahun anakku yang kecil, aku tak ingin kehadiranmu di sini hanya akan merusak suasana. Pergilah." Kemudian Miku mengajak Isao masuk dan meninggalkan Ryu.
"Kenapa paman itu tidak diajak masuk? Kasihan dia, kan?" tanya Isao heran.
"Karena dia bukan tamu kita," jawab Miku datar. "Ayo Isao kita mulai pestanya."
Mereka pun memulai pesta ulang tahun itu, meski terlihat senang namun Shun tahu hati Miku saat ini tidak disini. Wanita itu masih memikirkan Ryu.
"Kakak Ipar, kalian tadi kencan, ya?" goda Mark.
"Siapa yang berkencan?" Alis Satoshi terangkat sebal. Dan mereka mulai menggoda remaja itu hingga wajah Satoshi memerah seperti tomat.
"Isao, ini hadiah dariku dan ini dari kakak Yue." Satoshi mengalihkan perhatian.
"Wah, terima kasih, Kak." Isao mengambil hadiah itu. "Wah laptop!" serunya girang lalu dia membuka kado pemberian Yue. "Wuah ... mobil-mobilan seperti punya Yuki."
"Sungguh?" tanya Satoshi kaget. Itukan sangat mahal.
"Wah, kau beruntung sekali adik ipar."
Isao mengangguk senang.
"Kakak Ipar, kau memberi hadiah apa pada Angel-ku tadi?"
"Hadiah? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Hari ini Yue juga berulang tahun, masa' tidak tahu?" Sela Zhou.
Satoshi terdiam. Jadi hari ini dia juga berulang tahun? Kenapa dia tak berkata-apa-apa tadi? Satoshi beranjak lalu mengambil jaketnya, masuk ke toko bunga untuk mengambil beberapa tangkai bunga mawar.
"Satoshi, mau ke mana? Ini sudah jam 10 lewat?" tanya Miku.
"Aku ada urusan!" jawabnya sambil berlari keluar.
"Ada apa dengannya?" Miku
bertanya-tanya.
"Urusan cinta, Bibi. Satoshi sedang jatuh cinta," ledek Zhou.
Satoshi berlari mengambil sepedanya lalu mengayuhnya cepat, mendadak memutar arah dan kembali ke rumahnya. Ia mencari Mark karena yang dipanggil tak muncul-muncul diapun berteriak. "ADIK IPAR, CEPAT KE SINI!"
Mendengar teriakan yang Satoshi yang tak biasa, Mark menyembulkan kepalanya yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu.
"Akhirnya ...." Mata Mark berbinar-binar mendengar Satoshi menyebutnya adik ipar.
Satoshi menatapnya inten. "Ni ke yi xi wo chi wan fan ma?" tanyanya dengan nafas masih diburu.
Mark yang mendengarnya bengong. Karena tak menjawab Satoshi mengulangnya, kali ini lebih keras dan setengah berteriak kesal. "Apa
artinya?"
"Maukah kau mentraktirku makan?" ucap Mark takut juga heran.
Satoshi segera berlalu. Ternyata traktiran makan. Remaja keluar dan segera menuju ke rumah Ryu dengan mengendarai sepedanya cepat
🌷🌷🌷🌷
"Leon?" ujar Yue kaget begitu sampai di depan rumah Ryu. Pria yang pernah ia cintai kini muncul di hadapannya.
Leon tersenyum sambil membawa seikat mawar merah dan sebuah kotak yang berisi cincin.
"I miss you, Honey. Happy birthday." Leon berjalan ke arahnya tanpa melepas pandangan matanya. Saat pria berambut panjang itu akan memeluknya, Yue mundur tapi Leon terus maju hingga dia berhasil mendekapnya. "I love you, Honey. Aku tak akan melepasmu lagi karena kebodohanku. Aku tak mau kehilanganmu."
Yue terdiam. Kenapa dia muncul di saat seperti ini?
"Aku meninggalkan papaku juga keluargaku hanya untukmu. Aku ingin hidup denganmu dan memulai dari awal."
Yue masih diam, membiarkan Leon memeluknya.
Satoshi tiba di rumah Ryu, ia memarkir sepedanya di halaman besar itu. Segera ia berlari memcari Yue sambil tersenyum. Yue, semoga aku belum terlambat untuk mengucapkan happy birthday padamu meski sudah hampir berganti hari sebentar lagi.
Namun, senyumnya hilang saat dia melihat Yue berasama seorang pemuda bule yang tak dikenalnya. Dan bule itu memeluk gadis itu sembali berkata 'I love you' berkali-kali. Langkah Satoshi terhenti. Dia tersenyum kecut. "Kau terlambat, Satoshi. Apa yang kau harapkan dari Yue sebenarnya?" ucapnya pada diri sendiri, Satoshi berbalik. Dia tak ingin menyaksikan adegan itu. Tangannya bergetar begitu melihat sosok itu memeluk Yue seerat itu. "Bodoh! Apa yang sudah aku lakukan di sini? Rupanya aku terlalu berharap." Satoshi tersenyum kecut.
🌷🌷 To be Continued 🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya 😄😄
Menerima kritik dan saran dengan tangan terbuka 😊
________________________________
Senin, 29 Juni 2020
__________________________________
Klik, please
👇
__ADS_1