
Satoshi teringat cerita Mark semalam. Saat pemuda berambut hitam itu berada di atas genting duduk menatap bulan purnama, di sampingnya Himeka menyandarkan kepalanya pada bahu Mark. Indahnya menggoda Tuan Puterinya.
"Kakak, indah, ya bulannya?"
Mark mengangguk. "Semua terasa indah jika bersamamu." Pria itu mulai menggombal. Tangan mereka saling menggenggam. Mereka menatap bulan keemasan yang tergantung indah di langit. Saat mata mereka saling bertemu, Mark tersenyum. Ia menggapai wajah Himeka lembut. Ketika wajah mereka semakin dekat, entah kenapa perasaan mereka mendadak tak enak!
Benar saja. Kesenangan mereka terusik kala Satoshi tanpa permisi ikut duduk bersama mereka dengan wajah datar.
"Kakak Ipar!" Mark kaget bukan main.
"Kenapa?" Satoshi melirik adiknya tajam membuat Himeka segera berlalu meninggalkan Mark. Ia menatap pria itu dengan seribu pertanyaan.
"Tadi ...."
Satoshi menatapnya intens. "Kenapa Yue selalu memperlakukanku seperti adiknya? Memangnya berapa umur dia berapa?" tanya Satoshi penasaran.
Mark tertawa. "Ya ampun, kupikir masalah apa. Dia lebih tua dariku 3 tahun, dan denganmu? 7 tahun."
"APA?" Anak muda itu terlonjak kaget. Matanya hampir keluar saat mendengarnya. "Tapi kenapa wajahnya masih terlihat seperti remaja begitu. Bahkan saat kemarin aku membeli segalon air, dia dikira adikku."
Mark menepuk bahunya. "Itulah kenapa dunia memanggilnya Angel. Karena wajahnya terlihat seperti bidadari yang selalu awet muda. Kau tahu, Zhou sampai berkata bahwa wajah Yue itu mengkhianati usianya."
"Dunia?" Satoshi mengerutkan keningnya.
Seakan keceplosan Mark meralat perkataannya. "Maksudku orang-orang."
Kemudian pria itu juga bercerita tentang pria bernama Leon yang sudah mengkhianati Yue. Pemuda berparas eropa yang menguasai berbagai bahasa termasuk bahasa Jepang.
Satoshi kembali pada kehidupan nyatanya. Dengan rasa malas ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Namun, baru empat langkah dia berjalan, remaja tampan itu berhenti. "Kenapa harus aku yang pergi? Jika ada yang pergi orang itu bukan aku."
Satoshi tersenyum menyerigai.
Dia membalikkan badannya menatap mantan sepasang kekasih itu berpelukan. "Satoshi Fujimine, ayo tunjukkan keahlianmu. Jika dulu kau yang dikejar-kejar wanita sekarang giliranmu mengejar wanita d harus kau dapatkan," bisiknya yakin pada dirinya sendiri. "Hm ... Ryu Hikaru untuk pertama kalinya aku bangga padamu karena aku terlahir dari keluarga Hikaru yang dianggap keturunan para Dewa."
Dengan kepercayaan diri yang tinggi anak muda itu menghampiri mereka. Dia memasang senyuman maut warisan Ryu, tak lupa dia acak sedikit rambutnya agar terkesan berantakan dan terlihat nakal.
"YUE!!" panggilnya lantang.
Kontan saja Yue dan Leon saling menjauhkan tubuh. Mereka kaget bukan main melihat Satoshi muncul tanpa pemberitahuan.
Wajah Yue memerah bukan main. Malu. Sementara wajah Leon memerah sebal karena keasyikannya diganggu pemuda tak dikenalnya. "Satoshi ... apa ... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yue gugup. Ia melihat kilatan cemburu di wajah Leon.
"Siapa dia?" tanya Leon tak suka menggunakan bahasa Jerman, bahkan pemuda itu langsung punya firasat kalau anak muda di depannya ini adalah saingannya.
"Ah, kenalkan, namaku adalah Satoshi Fujimine. Kau pasti saudaranya, kan?" tanyanya santai. Diliriknya Yue ."Yue, dia saudaramu yang mana lagi?"
"Aku bukan saudaranya," bantah Leon tegas yang kini berganti menggunakan bahasa Jepang.
"Oh ya?" Satoshi pura-pura kaget. "Kupikir kau adalah saudaranya karena wajahmu mirip kakaknya yang bernama Ryu Hikaru itu, ya setidaknya rambut kalian sama-sama panjang meski beda warna." Alasan yang sangat tidak masuk akal.
Leon tersenyum sinis. "Justru wajahmu itu yang mirip dengan manusia ajaib itu. Coba kau ubah warna dan panjangkan rambutmu kalian pasti terlihat kembar."
"Aku lebih tampan dari dia!" Satoshi tak terima.
"Satoshi." Yue menarik lengannya agar menjauh dari Leon.
"Benarkah aku mirip kakakmu? Berarti aku terlihat kaya, kan?" Sejenak pemuda itu bergaya cool.
"Satoshi!" Yue jadi gemas.
__ADS_1
Satoshi tersenyum lepas membuat gadis di depannya terperagah meski sejenak. Astaga pendengarannya terasa indah jika Yue yang mengucapkan. "Seharusnya aku yang kesal padamu, kenapa kau tak jujur padaku setelah seharian kita habiskan waktu bersama dan mengikuti kontes bodoh hingga menjadi pemenang, tapi kau tak memberitahuku bahwa hari inipun kau berulang tahun," cerocosnya tiada henti.
Yue terdiam sejenak. Kenapa dia jadi secerewet ini? "Sudahlah. Ini sudah sangat larut. Pulanglah"
"Aku tak mau pulang."
"Satoshi Fujimine!"
Leon melihat keakraban antara pemuda tak dikenalnya itu dengan Yue yang membuatnya jadi kesal.
"Lalu apa maumu?" Yue semakin gemas karena Satoshi tak mau pulang.
"Happy birthday!" ucapnya senang seraya menyerahkan hadiahnya pada Yue.
Yue tersenyum. "Xie xie, Satoshi."
Leon berjalan ke arahnya. "Suruh anak itu pulang segera."
Satoshi tertawa. "Hei ... aku juga tinggal di sini."
"Apa?" Alis Leon terangkat.
"Ya, aku tinggal di sini. Kami tinggal bersama. Apa kau akan menumpang di sini malam ini?" Lanjut Satoshi tegas membuat Leon jadi berpikir yang tidak-tidak. Padahal di sini Satoshi hanya menjadi pelayan Ryu.
Tangan Leon bergetar. "Apa maksudmu?" Pria mulai emosi, tanpa sadar mencengkram baju Satoshi.
Dengan wajah selugu anak kecil, Satoshi menatap Yue. "Yue, kau tak bercerita kalau kita tinggal bersama di sini? Kenapa kau tak menjelaskannya dari awal? Aku akan mempersiapkan kamar tamu untuknya."
"Damn!" Hampir saja Leon mendorong Satoshi hingga pemuda itu mundur.
"Lepaskan dia dari tanganmu Leonard Piscassio, atau aku akan mengirimmu ke rumah sakit terdekat?" Tiba-tiba sosok yang paling dibenci Leon muncul.
Satoshi dan Yue kaget dengan kedatangan Ryu yang mendadak datang dengan penampilan lain. Ryu menatap tajam ke arah Leon. "Ini rumahku, aku berhak menerima atau mengusir siapa pun yang aku mau. Pergilah selagi aku bisa bicara baik-baik." Suaranya terdengar tajam.
Leon menggerutu lalu pergi. Biar bagaimanapun, ia tak bisa menang melawan pria sombong itu.
Sementara dua anak itu masih menatap Sasuke tak percaya.
"Rambutmu ... dipotong?" tanya Yue tak percaya karena selama ini Ryu tak mau memotong rambutnya meski dibujuk akan diberinya uang sekoper penuh.
Ryu tersenyum cuek, lalu menyalakan sebatang rokok. "Kenapa, apa tidak pantas?"
"Bukan ... tapi kenapa? Kau juga tiba-tiba merokok."
Lagi, Ryu tersenyum tipis. "Untuk menghibur hati yang sedang gelisah karena ditolak wanita." Suara Ryu terdengar mengerikan.
"Hah?" Satoshi menganga. Astaga tuannya ternyata ditolak! Entah kenapa melihat penampilan barunya, anak muda itu seolah melihat Ryu seperti dirinya. Kenapa, ya?
"Dia harus membayar semuanya ... dengan air mata darah. Itu pasti." Ditatapnya keduanya sesaat. "Aku tahu apa yang kalian rasakan saat ini karena aku juga pernah muda."
Pandangan Ryu beralih pada Satoshi seolah hendak menguliti tubuhnya. "Jika kau berani mematahkan hatinya akan kupatahkan lehermu, Satoshi."
"Tuan ... Anda salah ...."
"... setan bernama Leon itu sudah pergi, kecuali kau tak mau serius dengan pria mana pun." Ditatapnya Yue lekat-lekat. "Aku sudah pernah bilang padamu, siapa pun pemuda itu yang bisa membuatmu melupakan Leon, aku beri dia nilai plus."
Satoshi masih bingung. Tentu saja karena setiap berbicara pada Yue ia menggunakan bahasa Jerman lalu kembali berbahasa Jepang jika berbicara dengannya. Apa artinya pria ini memberiku lampu hijau untuk mendekati Yue? Apa statusku tidak dipermasalahkan?
Yue menatap Ryu.
__ADS_1
"Dia seribu lebih baik dibanding Leon. Pakai jaketku jika kau mau keluar." Ryu memakaikan jaketnya pada gadis itu kemudian segera berlalu meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong. Miku ... aku tak akan melepasmu. Akan kutunjukkan siapa diriku yang sebenarnya. Lihatlah nanti, kau akan menyesal. Ryu tersenyum tipis.
Sementara itu Satoshi masih tercengang dengan tingkah ajaib tuannya itu. Ia melirik Yue yang
masih diam. "Ayo kita pergi. Aku tahu di mana kedai yang buka meski lewat tengah malam."
"Kau mau mentraktirku?" Yue terlihat kaget. Dia tahu artinya secepat itu? Tapi gadis Jerman itu langsung tahu jika pemuda ini pastilah bertanya pada Mark atau Zhou.
"Tentu saja. Tapi dengan syarat, kau harus mau dibonceng sepedaku ini."
Tawa Yue meledak. "Kau yakin, Satoshi? Naik sepedamu?"
"Kenapa? Kau tak mau?"
"Tidak, hanya saja aku trauma. Aku pernah terjatuh dulu lalu mama memarahiku." Kenangnya sambil tersenyum
Senyum Satoshi terukir menggoda. "Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu terjatuh."
Dan tengah malam yang dingin itu Satoshi mengendarai sepeda kesayangannya sambil membonceng Yue. Pertama kali dalam hidupnya remaja itu mengendarai sepedanya bersama seorang gadis. Bahkan Himeka tak pernah ia bonceng meski si jelita copy-an Miku itu adiknya.
Mereka tiba di sebuah kedai yang cukup ramai. Satoshi memarkir sepedanya di pinggir kedai itu lalu keduanya masuk. Remaja itu memesan sup rumput laut dan kue beras pedas.
Yue yang langsung tergoda melihat lucunya kue-kue itu, ia langsung mencomotnya cepat. Namun baru satu gigitan dia mengeluarkannya lagi. Bibir gadis itu merah bukan main. Wajahnya ikut memerah menahan pedas.
Satoshi ingin tertawa tapi ia tahan melihat Yue yang kepedesan itu. Sial!! Kenapa justru di saat seperti ini bibirnya terlihat menggoda! Tenangkan dirimu, Satoshi! Kau bukan pemuda mesum! rutuk Satoshi dalam hati. "Baru pertama kali?"
Yue mengangguk. Ia tak mau lagi mencobanya. Ia mengambil sup rumput laut untuk menghilangkan pedasnya tapi sayang sup itu masih panas.
Melihat hal itu Satoshi jadi kasihan, diambilnya sup rumput itu lalu ia mengaduknya pelan sambil meniup-niup sup tersebut setelah selesai ia memberikannya pada Yue.
Kali ini wajah Yue memerah bukan karena kepedasan tapi karena perlakuan Satoshi. Hatinya seperti ditumbuhi berbagai macam bunga. Oh My God ... Kenapa aku jadi gugup begini? Gadis itu memegang dadanya yang mulai berdesir aneh. Ia menunduk, matanya tak sengaja menemuka lutut Satoshi yang berdarah. Celana jeansnya robek. Ya, karena buru-buru tadi
Anak muda itu sempat terjatuh dari sepedanya. Anak bodoh ini ....
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
To be Continued
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya 😄
Menerima segala kritik dan saran yang membangun 😊
__________________________________
Selasa, 30 Jun 2020
___________________________________
Klik, please
__ADS_1
👇