
DisneyLand Tokyo.
Himeka terlihat senang saat Mark berhasil membidik boneka beruang kecil di arena permainan adu ketangkasan. Bukan cuma itu, ada juga gantungan kunci berbentuk kelinci putih lalu bandana hijau dan sepasang jaket coupel yang tadi dibelinya. Gadis cantik itu menunjuk celengan kepala doraemon yang diletakkan di atas.
"Kakak, Isao suka Doraemon. Bidik yang itu."
Pemuda itu menurutinya. Memicingkan matanya lalu membidik dengan tepat permintaan sang Tuan Puteri. Mungkin hari ini Mark sangat bahagia karena serangga bernama Satoshi tak lagi membuntutinya. Mereka pergi ke taman bermain seharian, berempat bersama Zhou dan Isao. Dan tentunya Mqrk sudah membuat rencana sendiri agar hanya berdua dengan Tuan Puteri-nya. Yah, sogokan seratus dollarnya sudah lebih dari cukup bagi Zhou untuk mengurus Isao, toh bocah itu memiliki hoby yang sama dengan gadis tomboi itu.
Mereka menaiki roller coaster, masuk ke rumah hantu dan bermain bola. Isao memperoleh boneka anjing yang besarnya melebihi Satoshi! Boneka itu didapat karena berhasil mengumpulkan 1000 poin dengan cara memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke dalam keranjang. Dan sudah pasti Zhou yang melakukan semuanya. Bahkan anak kecil itu tak memanggil gadis bermarga Zhou itu dengan sebutan Brother.
"Di mana mereka?" tanya Mark usai mendapatkan celengan kepala Doraemon.
"Itu!" Tunjuk Himeka pada dua anak manusia yang sedang asyik bermain tembak-tembakan.
"Mereka benar-benar cocok." Mark tersenyum. "Mau makan buah Cherry?"
"Mau!" Mata Himeka berbinar senang sekali, copy-an Miku itu tak mengerti kenapa Mark tahu betul apa yang disukainya dari hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Oh ... salahkan Isao yang dengan polosnya akan bercerita dengan senang hati pada Mark jika diiming-iming cokelat dan kue-kue lezat. "Tapi susah mencarinya di sini." Himeka cemberut namun tetap saja gadis itu terlihat cantik.
"Apa kau tahu di mana tempatnya?"
Himeka mengangguk. "Di toko kue pertigaan jalan memang menjual buah Chery, tapi pemiliknya judes. Suka marah-marah jika tokonya mau
ditutup tapi masih ada pelanggan."
"Apa jam segini sudah mau tutup?" Mark melirik jam tangannya. Pukul 4 sore. "Kalau begitu ayo cepat ke sana sebelum tokonya tutup." Ajaknya. Ia berteriak pada Zhou agar segera ikut. Gadis tomboy itu tampak kesusahan membawa boneka anjing yang besarnya melebihi tinggi tubuhnya.
Boneka lucu itu pun diberi nana Vivian. Vivi, begitu Isao menyebutnya, diletakkan di jok belakang mobil karena tak muat untuk menempati kursi mobil. Mobil itu melaju cepat meninggalkan Disneyland Tokyo menuju toko yang dimaksud Himeka.
30 menit kemudian Mark dan Homeka berdiri di depan toko kue 'Akira'. Memang sudah waktunya toko itu tutup. Zhou dan Isao menunggu di dalam mobil.
"Kau mau ke mana?" tanya Himeka takut begitu melihat Mark dengan nekat memasuki toko yang sudah tutup itu melalui pintu samping yang kebetulan masih terbuka. Pemiliknya tidak ada meski beberapa kali Mark memanggil si pemilik toko.
Pemuda itu mengendap-ngendap seperti maling dan ketika matanya menemukan sesuatu yang dicarinya, Mark tersenyum. Didapatinya setoples penuh buah Cherry yang sangat segar itu.
"Apa kau akan mencurinya?" tuduh Himeka ketakutan.
"Siapa yang mau mencuri?" Mark tersenyum kemudian membuka dompetnya lalu mengeluarkan sepuluh lembaran yen. Pemuda itu tahu uang sebanyak itu tak akan membuat pemilik toko itu mengomel karena buah Cherry-nya berubah menjadi uang seharga 5 toples buah Cherry.
Himeka tertawa. Mereka diam-diam keluar dari tempat itu. Dalam hati Mark bertanya-tanya bagaimana kabarnya si bule dan Angel-nya itu?
🌷🌷🌷🌷
Sementara itu Satoshi dan Yue sudah sampai di tujuan. Ramai sekali kompetisi dance hari ini. Aku harus menjadi juara 1 agar bisa mendapatkan laptop itu untuk Isao.
"Satoshi, sana cepat ambil nomer," kata Yue begitu mereka berada di tempat antrian. Satoshi justru menarik tangan gadis itu agar ikut mengambil nomer antrian juga.
"Tunggu dulu, kenapa aku juga diberi nomer?"
"Ikut saja."
"Apa? Jangan sembarangan mendaftarkanku. Aku tidak bisa menari."
Satoshi memasang wajah memelasnya. "Bantu aku."
"Tidak!"
__ADS_1
"Aku mohon. Permintaan pertama dan terakhirku." Remaja itu mengatubkan kedua tangannya.
Yue tetap kekeuh dengan pendiriannya, seolah tak terusik dengan wajah memelas Satoshi. "Kubilang tidak, ya tidak!"
"Calon istri Lucas Hikaru masa depan, aku mohon!"
Mendengar pujian seperti itu, sang balerina langsung menjawab, "Oke!" Gadis itu segera mengisi pendaftaran formulir sambil bersenandung kesenangan.
Dasar, kutipu sedikit saja kau langsung mau jika menyangkut Lucas.
"Hei, Fujimine! Kau ikut kompetisi dance juga, ya?" sapa sosok pemuda berambut hitam itu remeh. "Aku sudah dengar kalau kau mengikuti kompetisi dance ini. Karena itulah aku datang ingin bertanding denganmu. Kita lihat siapa yang akan menang." Pemuda itu menepuk pundaknya sembari berlalu pergi. Dia menoleh pada Satoshi sejenak. Lihatlah, aku akan mengalahkanmu. Aku tak akan membiarkanmu mendapatkan hadiah utama itu. Pemuda itu tersenyum menyerigai.
Satoshi tampak lesu. Dia tahu pemuda itu sangat jago dance dan terkenal karena dancenya di sekolahnya. Tak ada yang tak mengenal Hasegawa Tomoya si raja dance itu. Jika melawan pemuda itu sudah pasti Satoshi kalah telak, karena pemuda itu sudah terdaftar sebagai traini artis di Tokyo. Sebenarnya Tomoya tak butuh hadiahnya melainkan ingin melihat keputusasaan wajah Satoshi saat mengalahkannya.
"Kenapa murung begitu? Tadi kau semangat sekali," tanya Yue heran.
"Dia saudara lelakinya Hanako. Membenciku karena sudah menolak adik. Jika seperti ini aku pasti kalah." Wajah Satoshi tampak putus asa.
Yue jadi bingung. "Sehebat itukah si Tamo ... eh siapa namanya?"
"Hasegawa Tomoya. Dia sangat hebat." Satoshi memandang gadis itu. "Kita tak boleh kalah darinya." Dipegangnya kedua tangan Yue sambil menatapnya. "Apapun yang terjadi pikiranmu harus fokus pada laptop itu. Kita harus bisa mendapatkan laptop itu. Mengerti?" kata Satoshi mengancam.
"Kau mengancamku?"
"Please!" Mata biru cerah itu menatap sang balerina bak anak kecil.
Akhirnya kompetisi dimulai. Dan ketika giliran Tomoya naik ke atas panggung dan memulai aksinya semua penonton berteriak heboh. Pemuda itu menari dengan sangat keren. Bahkan melebihi hebohnya Satoshi saat menari tadi.
Satoshi mulai putus asa. Lalu kini giliran nomer Yue yang dipanggil. Gadis itu menatap Satoshi tak percaya diri. "Satoshi, aku tidak bisa menari."
mengekspreasikan gayamu di panggung. Ingat, fokus pada laptop itu." Lagi-lagi Satoshi mengancamnya tak berkelas. "Pikirkan adikku. Aku tak ingin mengecewakannya di ulang tahunnya."
Yue menggeleng ikut tak percaya diri, melihat kemampuan Tomoya menari tadi dia kepercayaan dirinya lenyap.
"Fighting!" Satoshi memberinya semangat.
"Tapi ...."
"LAPTOP, PLEASE!!" tekannya mengancam.
Bibir gadis itu mengerucut, namun Yue tetap naik ke atas panggung itu. Dia sangat gugup. Terlebih teriakan penonton. Dia melihat wajah Satoshi yang penuh pengharapan padanya. Tapi dia tak bisa menari sehebat Tomoya. Sejenak dia memejamkan matanya. Ini adalah ulang tahunku, aku ingin memberikan hal terbaik yang aku bisa untuk seorang menyebalkan seperti Satoshi. Mama ... Kak Mingzi bantu aku. Yue membuka matanya, dia tersenyum percaya diri. Toh panggung kecil ini tidak ada apa-apanya jika dibanding panggung-panggung yang sebelumnya dia hadapi. Ia sudah biasa. Bukankah ia seorang Balerina?
Ketika musik dinyalakan ia membuka jaketnya lalu menari dengan lincah. Dari bangku penonton Satoshi menatapnya tak percaya, dia bahkan tak berkedip melihat kemampuan tarian Yue yang indah itu. Bahkan penonton lainnya diam tak bersuara ketika melihat sang balerina dunia itu menari bak peri. Sangat memukau. Saat musik berhenti tepuk tangan meriah sekali.
Bahkan Satoshi terlihat paling bersemangat sekali saat bertepuk tangan menyambut kedatangan Yue. "Wuah ... kau keren sekali tadi," pujinya kesenangan.
Yue hanya tersenyum malu sambil memasang jaketnya. "Jangan menggodaku."
"Tapi kau keren ... aku yakin kau pasti masuk ...." Remaja itu terdiam tak berani melanjutkan kata-katanya. "Ah ... lupakan."
Kurang lebih 15 menit, akhirnya juri pun memutuskan juara 1-2-3. Semua penonton tegang menunggu keputusan juri. Terlebih para peserta.
"Juara ketiga oleh Nona Aoyama Moe dari Minato. Juara kedua oleh Hasegawa Tomoya dari Arakawa." Suara sang MC terdengar lantang.
Dari bangku penonton Satoshi berharap Yue yang mendapat juara satu. Tomoya dan gadis bernama Moe itu maju ke atas panggung.
__ADS_1
"Dan mari kita sambut juara pertama yaitu Nona ...."
Seakan tak bisa bernapas, Satoshi sangat tegang.
"... Miku Higashiyama dari Shibuya."
Mata Satoshi membulat. Bukan ibunya, kan? Lemas sudah diri remaja itu, bukan Yue apalagi dirinya yang dipanggil. Wajah Satoshi sangat kecewa dan sedih, tapi apa boleh buat itu sudah keputusan juri. Dari atas panggung Tomoya tersenyum mengejek.
"Ayo kita pulang," Ajaknya lesu. Tapi di luar dugaan, begitu juri memanggil nama Miku Higashiyama, Yue justru berteriak senang sekali sambil berlari ke atas panggung membuat Satoshi jadi bingung.
"Nona Miku Higashiyama, tarian Anda hebat sekali, kelima juri killer ini langsung memberi nilai 10 untuk Anda," sapa MC itu kagum.
"Ah ... terima kasih." Yue membungkukkan hormat. Pujian seperti ini sudah hal yang biasa ia dengar bahkan tak memberinya pengaruh.
"Nona Higashiyama, tarian Anda mengingatkan saya pada seorang balerina asal Jerman. Hebat sekali, kau terlihat mirip dengannya. Hanya berbeda warna rambut. Apa kau juga penggemarnya? Aku dan keluargaku penggemar beratnya," Puji juri laki-laki itu kagum.
Yue tersenyum. Itu memang aku dan aku mengubah warna rambut cokelatku menjadi blonde saat ini. "Terima kasih."
"Rasanya ingin sekali menjadikan kau menantuku, Nona Higashiyama." Tambah juri perempuan itu senang.
"Saat menari, kau seperti tak memiliki tulang."
Lagi-lagi Yue hanya tertawa. Dari bawah Satoshi tersenyum melihat Yue yang dengan santainya bicara dengan para juri. Usai menerima hadiah, sang balerina turun dari panggung.
"Amazing," ucap Satoshi takjub. "Tapi ... kenapa kau menulis nama Miku Higashiyama, bukan Yue Hikaru di formulir tadi?"
Yue hanya tersenyum. "Tidak boleh?" Itu aku pakai nama pacar kakak, karena aku takut jika menulis nama Yue mereka langsung mengenaliku, terlebih juri laki-laki tadi, dia mengaku penggemarku. "Satoshi ...." Untuk sesaat gadis itu terdiam. Sembari menyerahkan laptop itu dia berkata "Ni ke yi xi wo chi wan fan ma?"
"Hah?" Satoshi melongo tiba-tiba saja Yue berbicara menggunakan bahasa Mandarin. "Kau bicara apa?"
"Kau tak paham? Ya sudah." Yue berlalu cuek tapi Satoshi terus meminta mengulangnya hingga akhirnya dia hafal kata-kata itu. 'Ni ke yi xi wo chi wan fan ma' Remaja itu penasaran apa arti pernyataan tadi.
🌷🌷 To be Continued 🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membacanya, ya 😄😄
Menerima kritik dan saran yang membangun dengan tangan terbuka 😄😄
_______________________________
Senin, 29 Juni 2020
___________________________________
Klik, please
__ADS_1
👇