Muzukashii No Ai

Muzukashii No Ai
[11] New Life


__ADS_3

Musim mulai berganti, sekarang mulai memasuki musim semi. Miku berhenti sekolah sejak menikah dan tinggal dengan Masaya. Hayato Fujimini sangat menyayangi anak itu meski tak banyak bicara. Masaya sendiri mengundurkan diri sebagai pelatih sepak bola di SMA Seika Jogakkan dan sebagai gantinya dia diterima di salah satu klub sepak bola sebagai pemain cadangan, meski bukan pemain inti. Dia juga tetap mengajar di sekolah putri Minami sebagai guru bahasa inggris dua kali dalam seminggu.


"Masaya, apa kau sudah selesai?" tanya Miku canggung di balik pintu melihat suaminya masih mengenakan pakaiannya. Awalnya Miku bingung mau memanggil suaminya mengingat dulu Masaya adalah pelatih di sekolahnya. Namun dengan tegas Masaya mengatakan cukup memanggil nama kecilrnya.


"Ya, sebentar lagi aku turun," jawabnya masih sibuk mengancingkan kemeja birunya. Selang beberapa menit kemudian pria berambut hitam itu turun.


Miku terlihat sudah siap sejak tadi. Hari ini mereka akan jalan-jalan ke taman kota untuk menikmati indahnya sakura yang bermekaran.


Si gadis pecinta buah jeruk itu menatap sang suami yang baru saja turun, pandangan gadis itu terlihat lain. Walau Masaya suaminya, pemuda itu tak pernah macam-macam padanya. Pemuda Fujimine itu bersikap layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Masaya mengenakan kemeja biru yang dipadu dengan celana panjang putih.


"Masaya, kenapa diam saja, gandeng tangannya," bisik Hayato.


Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, lalu berkata, "Kenapa harus digandeng? Dia bisa jalan sendiri."


DUK! Hayato menjitak kepalanya gemas. "Dia istrimu." Lelaki tua itu menatapnya geram.


"Begitu, ya?" tanya Masaya sambil mengelus kepalanya yang sakit. Kebiasaan Hayato, selalu saja menjitak kepalanya jika sudah kesal pada cucunya.


Hayato memelototkan matanya, perintah tak langsung agar menggandeng tangan istrinya.


Pemuda itu menatap sang jstri yang memakai baju putih longgar, perut buncitnya kelihatan besar. Ia mensejajarkan dirinya dengan Miku yang membawa bekal. "Berikan bekal itu padaku."


"T-tidak perlu, ini tidak berat kok," tolak Miku.


"Kalau begitu berikan tangan kirimu karena tangan kananku menganggur."


"Eh?" Rona kemerahan di pipi gadis itu tak bisa disembunyikan lagi.


Masaya tersenyum manis. Tanpa banyak bicara dia meraih tangan kiri Miku dan menggenggamnya.


Ada rasa lain yang sedikit demi sedikit mulai memasuki hati keduanya. Perasaan gembira yang tak bisa diucapkan. Hayato tersenyum melihatnya dari belakang.


Taman kota Ueno.


Saat ini taman Ueno sangat ramai. Banyak sekumpulan anak sekolah, pegawai kantoran dan berbagai keluarga ikut menikmati indahnya sakura yang bermekaran. Mereka semua terlihat gembira, saling tertawa duduk di atas karpet yang mereka bawa. Tak lupa bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Juga makanan ringan dan juga soju.


Masaya, Miku dan Hayato duduk di bawa pohon sakura sambil menikmati makanan ringan.


"Orang-orang Jepang sering mengibaratkan sakura itu seperti kecantikan seorang wanita," jelas Hayato sambil meneguk sojunya, "setelah menikah, kecantikan wanita Jepang jadi cepat memudar. Itu karena para istri sangat penurut kepada suami dan keluarga suaminya walau dia tak menyukainya, sehingga mereka lebih banyak memendam perasaannya."


"Kakek bicara apa sih, dia tetap cantik kok," ujar Masaya sewot yang malah membuat wajah Miku memerah malu, "aku keberatan dengan pernyataan Kakek. Aku lebih suka mengibaratkan sakura itu seperti kehidupan para samurai."


Miku menatap suaminya. "Sepertinya lebih keren."


"Tentu saja, karena para samurai harus selalu siap mengorbankan jiwanya untuk tuannya. Itu sama seolah-olah hidup para samurai tidak panjang seperti halnya mekarnya bunga sakura."


"Aku lebih setuju pendapat Masaya dibanding pendapat Kakek."


"Huh, kalian ini tahu apa tentang sejarah Jepang."


Masaya mengangkat bahu cuek, yang disambut senyuman tipis Miku.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Berlin, Jerman.

__ADS_1


Hampir empat bulan berlalu, tapi Ryu masih saja menjadi pangeran tidur. Albert menatap miris keadaan putranya yang berbaring tak berdaya itu. Dia sadar selama ini dia sangat egois. Melihat putranya seperti itu hatinya benar-benar hancur.


"Hanya keajaiban yang dapat menolongnya." Kata-kata itu terus tergiang-ngiang di telinganya. Saat melihat lokasi kejadian tabrakan itu, ia seperti tersambar halilintar. Bagaimana tidak, mobil sport biru yang baru dibelinya hancur dan remuk total. Tentunya dia sangat pesimis jika mengharapkan putranya baik-baik saja.


"Tuan Hikaru, kami hanya para dokter yang tak lain juga manusia biasa, kami bukan Tuhan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin merawat putra Anda. Pengobatan dan peralatan di sini memang yang paling canggih, tapi tetap saja mustahil bagi kami untuk menciptakan nyawa cadangan. Berdoalah."


Albert terpekur di samping Sasuke. "Ryu, maafkan Ayah. Kumohon bangunlah, apa pun ... apa pun itu permintaanmu akan aku kabulkan asal kau bangun. Daddy janji." Digenggamnya tangan Ryu yang lemah. Lelaki tua itu tak menyangka semuanya akan berakhir dengan seperti ini.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Malam itu Miku membuka pintu, Masaya langsung menabrak tubuh sang istri. Dari mulutnya tercium bau alkohol. Pemuda itu berjalan sempoyongan.


Masaya mabuk setelah pulang dari latihan sepak bola bersama teman-temannya tadi.


"Masaya?"


Masaya hanya tersenyum. Dengan susah payah Miku membimbingnya ke kamar mereka. Karena tak kuat, Miku membiarkan suaminya tidur di lantai.


Gadis itu melepas kaos kaki suaminya dan saat akan melepas jaket, tiba-tiba Masaya mencengkram tangannya keras hingga Miku meringis kesalitan. "Masaya ... sakit ...."


"Kyoko ... aku sudah menikah, tapi ... bagaimana ini? Kenapa susah sekali melupakanmu." Masaya membuka matanya, dia tersenyum sambil mengelus pipi Miku yang di dalam pikirannya adalah wajah mantan kekasihnya bukan istrinya.


"Masaya," ujarnya kaget.


"Sst ...." Pria berambut hitam itu meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya, "Kyoko, kenapa tiba-tiba rambutmu pirangmu berubah hitam? Kau jadi terlihat seperti istriku," Masaya tertawa aneh sambil mengamati sejengkal demi sejengkal wajah Miku.


Ada yang sakit di hati gadis bermata sayu itu. Kumohon, jangan dilanjutkan ....


"Kyoko, maukah kau menikah denganku? Kita ke luar negeri dan hidup bersama."


"Padahal aku ingin menikahimu ... tapi ayahmu ... hihihi ... dia mengancam akan menghancurkan hidupku. Aku bekerja keras siang dan malam di London hanya untuk membeli ... cincin ini. Cincin pernikahan kita ...." Masaya jadi hilang kendali.


Miku menatap cincin pernikahan yang dipakainya. Jadi ini cincin untuk gadis bernama Kyoko itu? Cincin yang kupakai saat ini ternyata untuk gadis lain? Miku menatap suaminya sedih.


Tak seharusnya kau menikahiku, jika begini aku hanya menghalangi masa depanmu.


"Kyoko ... beritahu aku, bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu ...," Tangis Masaya disela-sela mabuknya, "aku mencintaimu ... sungguh aku masih mencintaimu."


Miku menjauh. Tidak sadar ada air mata yang mengalir di pipinya. Ini ... air mata apa? Aku menangis? Kenapa? Kenapa malam ini dadaku sesak sekali? Gadis itu meraba bagian perutnya yang semakin membesar. Usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Ia naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya. Entahlah dia sepertinya tak ingin mendengarkan igauan suaminya saat ini.


Hatinya tiba-tiba menjadi sakit saat Masaya menyebut nama gadis lain. Kenapa seperti ini? Masaya berhak mencintai gadis mana pun. Kau bukan apa-apa baginya, ingat itu Miku. Dia terpaksa menikahimu karena kasihan padamu. Kau tak boleh jatuh cinta padanya. Ingat itu!


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Pagi itu Masaya menatap istrinya yang sedang menjemur cucian di halaman rumahnya. Pandangan pemuda itu lekat menatap wajah Miku bahkan tanpa ia sadari sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Lama Masaya memandangi wajah sang istri sambil melipat kedua tangannya di atas perut, bahunya menyandar pada tiang.


"Masaya, ambilkan gunting rumput di gudang," perintah Hayato yang tengah kesulitan memangkas bonsai.


Hening.


Masaya tetap menikmati wajah Miku. Akhir-akhir ini ia suka memandang wajah istrinya diam-diam. Dia akan sangat betah memandang wajah manis itu kala tidur.


Karena diacuhkan, Hayato menoleh. Hooo ... rupanya anak bodoh itu melamun. Didekatinya sang cucu diam-diam kemudian ikut berdiri di sebelahnya. Lelaki tua itu tersenyum menggoda, "Miku cantik, ya?"


"Hm ... sangat cantik." Pemuda Fujimine itu tersenyum, "entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu ingin dekat dengannya. Aku rasa aku sudah jatuh cinta padanya," Masaya bergumam tanpa sadar.

__ADS_1


Hayato tersenyum, ditepuknya pundak cucunya dengan keras hingga pemuda itu kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Kakek, kau mengagetkanku?!" serunya sebal, dia mengelus dadanya sesaat karena kaget.


"Kenapa wajahmu kaget begitu?" goda lelaki tua itu tersenyum.


"Kakek sendiri kenapa ada di sampingku? Bukannya mencabuti rumput?" Masaya sewot bukan main.


Hayato mencibir. "Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan? Bagianmu menyapu halaman, 'kan?"


"Aku ... eh ...." Masaya jadi gugup, dia sendiri heran dengan apa yang sudah ia lakukan saat ini. Padahal, tadi dia sedang menyapu halaman, tapi lihat apa yang sedang dia lakukan? Berdiri bengong dan tak memegang apa-apa. Bahkan dia tidak tahu di mana sapunya ia tinggalkan.


"Apa yang kau perhatikan hingga tak mendengar kata-kataku tadi, hah? Memandang seseorang diam-diam?"


Wajah Masaya memerah. "Kakek bicara apa, sih? Tadi aku istirahat, tidak boleh?" elaknya sambil berlalu mencari sapu lidinya.


"Memandangi wajah istri sendiri bukan tindak kejahatan, bodoh!"


Masaya pura-pura tak mendengar. Ia sudah yakin, wajahnya saat ini memerah karena malu. Oh sapu, di mana kau! umpatnya kesal dalam hati mencari sapu lidinya yang lupa ia letakkan di mana. Akhirnya ia menemukan sapu lidi itu di dekat pembakaran sampah. Tanpa menghiraukan omongan kakeknya dia menyapu halaman. Astaga aku ini kenapa, sih? Ah, ini benar-benar memalukan! Masaya menyapu


dengan tenaga kuda, giat agar pikirannya tak terus galau membayangkan wajah istrinya yang menggoda. "Pergi kau ... pergi kau ... pergi!" umpatnya sebal pada daun-daun kering yang ia sapu.


Miku menatap takjub ke arah suaminya yang menyapu dengan sangat giat, seolah yang disapu itu berlian bukan daun-daun kering. "Tak kusangka dia rajin bersih-bersih."


🌷🌷🌷


🌷🌷🌷To Be Continued 🌷🌷🌷


🌷


🌷


🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda bintang [🌟] usai membaca, ya 😊


Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.


Salam,


Ren Hikaru


____________________________


Selasa, 21 April 2020


_______________________________


Klik, please


πŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2