
Langit di kota Hamburg terlihat cerah. Gumpalan awan putih berarak layaknya domba yang digiring ke gurun savana.
Ry membuka matanya. Kenapa antara sadar dan tidaknya aku merasa sama saja? Tak ada yang bisa aku lakukan. Aku ingin mengakhiri semua! Mata pemuda itu berkaca-kaca.
Tentu saja pemuda itu lebih memilih mati dibanding hidup tapi seperti ini. Tak bisa bicara, bergerak, makan atau pun minum. Makan dan minum pun melalui infus. Hanya isyarat mata yang bisa ia lakukan. Ini sungguh menyiksa hidupnya. Pantas saja jika dia berputus asa karena seperti tak ada harapan di masa depannya.
"Ryu," sapa ibunya.
Ryu memutar bola matanya lalu kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Mommy membawakanmu sesuatu," ucapnya lembut sambil mengeluarkan sebuah bingkai dari dalam tas. Bingkai yang berisi foto seorang gadis cantik berambut cokelat panjang ikal yang sedang tersenyum manis. Foto Miku Higashiyama.
Ryu menatap foto itu, dia ingin meraihnya, tapi sayang tubuhnya tak bisa melakukan.
"Mommy harap dengan kehadiran foto ini, bisa membuatmu kembali sembuh secepatnya."
Ryu ingin tersenyum, tapi bibirnya susah sekali digerakkan. Ada secercah harapan halus yang mulai memasuki aliran darah dan syaraf-syaraf di bagian tubuhnya.
Juana yakin dengan adanya foto Miku bisa itu mempercepat kesembuhan putranya. "Sayang, kau harus segera sembuh agar kau bisa mendapatkan kembali apa yang ingin kau gapai dulu. Mommy selalu ada untukmu."
Mata Ryu mulai berbinar seolah dia setuju dengan dukungan ibunya. Thank you, Mom. I dear you.
Kembali Juana mengelus rambut Ryu. Diciumnya kening itu sayang. Wanita itu menjaga putranya dengan setia. Albert terkadang datang menjenguk, tapi tekanan darah Ryu itu langsung naik. Pemuda itu tak sudi dijenguk ayahnya.
🌷🌷🌷🌷
"Hei, Miku Higashiyama!" teriak Joy padanya ketika Miku diam-diam menatap Masaya yang sedang dikerubuti teman-temannya.
"Ah ... Joy?"
Gadis itu tersenyum. "Kau juga menyukai kakak kami, ya?"
"Hah?" Alis Miku menyatu heran.
"Pak Fujimine." Joy menjelaskan, "Aku tahu kau diam-diam sering menatapnya sambil tersenyum."
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, kok." Miku tersenyum geli.
"Tidak apa-apa kau menyukai kakak kami, asal kau tak boleh memonopolinya sendiri. Jika kau tahu sesuatu tentang kakak kami harus beri tahu kami," jelas Fumiko.
"Oh begitu?"
"Ya, karena dia adalah pangeran kebanggaan SMA Minami," lanjut Yui bangga.
Miku tersenyum bodoh. Dia hanya bisa mengangguk lalu meninggalkan mereka.
Tiba-tiba Sakura menepuk pundaknya. "Pak Fujimine memang tampan dan keren sih, makanya banyak yang suka," hibur Sakura.
"Menyebalkan," geretu Miku yang malah disambut tawa oleh Sakura. "Kenapa tertawa?"
"Pak Fujimine itu milik kami jika di sekolah, tapi kalau di rumah dia seutuhnya milikmu, Nyonya Fujimine," goda Sakura tersenyum melihat ekspresi wajah cemburu sahabatnya itu. Sakura tahu, kalau Miku kerap memandang cemburu melihat suaminya dikerubuti teman-temannya. "Sebenarnya sulit baginya untuk menghindari mereka, bukankah bagus jika Pak guru banyak yang menyukai dari pada banyak yang membenci?"
Miku berpikir. Dia sungguh bersyukur punya sahabat baik seperti Sakura. "Sakura, kutraktir kau beli es krim karena sudah menghiburku."
Si pinky ini menyanggupinya, lalu ke duanya menuju kantin sekolah yang agak sepi itu.
🌷🌷🌷🌷
Miku bangun kesiangan lagi, buru-buru ia menuju dapur setelah cuci muka. Namun, saat di dapur, dia sudah melihat masakan yang sudah dihidangkan. Tampak Masaya sudah mempersiapkan semuanya sambil menggendong Satoshi.
"Maaf, aku kesiangan lagi,"
"Tidak apa-apa, jika masih mengantuk tidurlah kembali." Masaya tersenyum, ia menyuapi Satoshi yang duduk dipangkuannya. "Kenapa bengong begitu?"
Miku tersadar dari lamunannya. Dia juga heran kenapa akhir-akhir ini dia menjadi over-protektif pada suaminya.
Semenjak memasuki SMA Putri Minami, ia merasa ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Masaya. Ia merasa suaminya terlalu menarik untuk menjadi seorang guru. Banyak teman atau adik kelasnya yang ingin menempel pada Masaya. Dia sendiri tak bisa memungkiri perasaannya yang semakin hari terus menggebu-gebu pada suaminya.
Ya, perasaan seperti itu memang perasaan senti mental khas perempuan, tapi bagi Miku dia sungguh-sungguh merasakannya ketika bersama Masaya. Ada satu hal yang kadang masih mengganggu ketika dia lama menatap suaminya. Rasanya dia sedang tak berada di sana. Jika Masaya sedang tidur, ia selalu ingin mendengarkan detak jantungnya. Hal yang ia sadari adalah dia tak ingin kehilangan suaminya.
__ADS_1
"Miku."
Sepi. Si wangi lavender ini masih saja menatapnya.
"Miku Fujimine!"
"Eh ... i-iya?"
Masaya menggeleng. "Kau ini kenapa sih, akhir-akhir ini suka sekali melamun. Seperti orang bodoh saja."
Aku seperti ini karenamu! Miku menatapnya sebal karena Masaya tak peka. "Aku lapar!"
"Ya sudah makan," jawab Masaya tak acuh, lalu kembali fokus pada Satoshi yang asyik dengan mainannya.
Tiba-tiba bel berbunyi, Miku yang hendak menyendok nasi ke dalam mulutnya ia urungkan lalu bergegas menuju pintu depan. Siapa pagi-pagi begini sudah datang ke rumah orang?
Sungutnya sebal.
Namun, betapa kagetnya ia ketika tahu siapa yang sedang berkunjung ke rumahnya. Dia berlari ke arah Masaya.
"Anata, Shizuka Nakamouri datang kemari," katanya panik.
"Hah?!" Wajah Masaya tak kalah kagetnya. "Kenapa dia bisa tahu alamatku?"
Miku menatapnya sinis. "Memangnya apa yang sudah kau perbuat sehingga dia datang kemari?"
"Tidak ada."
"Bohong!" potong Miku cepat.
"Aku tidak bohong." Miku jadi
sebal. "Cepat sembunyi, jangan sampai dia tahu kau istriku."
Miku menuju kamarnya kesal. Mengabaikan rasa lapar di perutnya. Sedangkan Masaya mengambil foto pernikahannya yang terpajang di ruang tamu. Juga membereskan seragam dan sepatu istrinya yang ada di dekat jemuran bawah. Selang beberapa menit barulah dia membukakan pintu untuk muridnya itu.
"Oh, Shizuka Nakamouri," sapanya pura-pura kaget sambil tersenyum.
Masaya ikut tersenyum. "Hm, begitu, masuklah," ajak Masaya ramah, tiba-tiba saja Satoshi merengek karena merasa diabaikan ayahnya.
Satoshi diletakkan di ruang keluarga sendirian yang bersampingan dengan ruang tamu.
"Maaf, putraku menangis." Masaya segera mengambil Satoshi. "Wah, jagoan ayah kenapa menangis?" Hiburnya sambil mencium pipi Satoshi.
Shizuka yang kebetulan melihatnya semakin menyukai Masaya. Sudah lama gadis itu menaruh hati pada guru muda di sekolahnya itu. Dia juga tahu kalau gurunya ini sudah menikah dan punya anak. Menurut kabar, istri orang Amerika dan masih muda. Gurunya ini tak pernah membahas seperti apa istri dan anaknya. Para tetangganya mengatakan kalau gurunya itu hidup bersama kakek dan adik perempuannya. Sedangkan istrinya tak pernah tahu seperti apa. Mungkin bercerai, atau hidup terpisah. Entahlah. Mereka tak memusingkan hidup orang lain.
"Di mana istri Pak guru?" tanya Shizuka.
"Di Amerika,"
"Pak guru hidup terpisah?"
Masaya meliriknya. "Kenapa?"
Shizuka hanya tersenyum. "Tinggal bersama kakek yang sudah tua, adik perempuan dan anak laki-laki tanpa istri, apa kehidupan Anda bahagia?" Selidiknya.
Anak ini kenapa? Masaya jadi waspada. "Menurutmu, apa aku tipe laki-laki kesepian?"
Shizuka terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum. Cantik sekali, sayangnya Masaya tak terpengaruh dengan kecantikannya.
"Saya hanya penasaran seperti apa wajah istri Pak guru, karena seminggu yang lalu saya tidak sengaja melihat salah satu teman yang saya kenal masuk ke rumah ini."
Masaya tetap bersikap santai. "Memang ada beberapa murid yang datang ke rumahku akhir-akhir ini, mereka bertanya soal ujian dan belajar di sini. Tidak hanya murid, beberapa tenaga pengajar juga kadang datang kemari."
"Tapi apa wajar jika setiap hari teman yang saya kenal itu setiap hari pulang ke rumah ini? Bahkan saya melihatnya 4 empat hari berturut-turut anak itu berangkat ke sekolah bersama Pak guru. Ketika di kelas kalian bersikap tak acuh."
Masaya menatapnya tajam. "Nona Nakmouri, jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Apa yang kau lihat tidak selalu benar."
Shizuka tersenyum cantik. "Oh ya?" Dia menatap Satoshi. "Wajah anak ini sama persis dengan wajah yang saya kenal."
__ADS_1
"Shizuka Nakamouri!" Suara Masaya mulai meninggi.
"Saya hanya ingin mengatakan satu hal, bahwa saya tahu siapa istri Pak guru, awalnya saya ragu, tapi setelah melihat tanda pengenal ini yang terjatuh di lantai, saya jadi yakin, orang itulah istri Anda. Miku Higashiyama, benarkan?" Shizuka tersenyum misterius.
"Jangan mengira-ngira jika kau tidak tahu yang sebenarnya." Masaya masih bersabar dengan tingkah muridnya.
"Saya bisa menjaga rahasia ini, asal Pak guru mau mengabulkan permintaan saya."
"Kau mengancamku?"
"Saya harap tidak. Tapi setidaknya Pak guru bisa pikirkan kembali."
"Apa maumu?"
"Jadilah pacar saya."
Masaya terkejut bukan main, dia tak menyangka gadis pendiam ini sangat mengerikan.
"Aku tidak bisa!" jawabnya datar, juga tegas
"Kenapa? Apa kurangnya saya? Saya mencintai Anda sejak Pak guru menolong saya dari pencopet."
Masaya hanya tersenyum tipis. "Kau hanya mengagumiku & terobsesi padaku. Terlebih kau terobsesi pada lelaki yang sudah menikah. Cinta tidak seperti itu. Carilah laki-laki lain. Banyak pemuda yang mencintaimu."
"Tapi saya hanya mencintai Anda, Pak Fujimine!" Air mata gadis itu mulai menetes dan mulai sesegukan. Well, Masaya benci akan hal itu karena kelemahan terbesarnya adalah air mata wanita. Biar bagaimana pun dulu Masaya pernah goyah melihat Kyoko yang menangis.
Anata, jangan terperdaya! Miku takut pertahanan suaminya runtuh.
Pria tampan itu terdiam. Ia tahu Miku pasti mendengar semuanya. Masaya bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya saat ini. Mungkinkah Miku akan menangis seperti dulu, lalu pergi meninggalkannya lagi? Tidak, setelah perjuangannya mendapatkan Miku itu tidak gampang, pria itu tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi lagi. Masaya menghela napasnya pelan. Cukup Kyoko yang pernah menyakitinya. Dia sudah banyak menderita.
Masaya mencium pipi gembul Satoshi, lalu kemudian pandangan matanya terarah pada gadis yang kecantikannya bahkan melebihi istrinya. Lama ia menatap wajah Shizuka lekat-lekat lalu tersenyum. "Nona Nakamouri, sekali lagi aku minta maaf. Aku tak bisa melakukannya, aku hanya mencintai istriku."
"Kenapa Anda menolak saya?"
Shizuka terlihat kecewa. Padahal ia yakin jika Masaya melihat air matanya hatinya pasti luluh dan menerimanya.
Masaya menatapnya intens. "Karena aku bukan laki-laki hebat yang bisa mencintai dua wanita sekaligus. Maafkan aku."[1]
Miku yang mendengar percakapan mereka dari atas jadi merinding dengan kata-kata suaminya. Tanpa sadar ada buliran bening turun dari bola matanya. Anata ... kini aku sungguh percaya padamu. Aku mencintaimu. Miku menangis dalam diam. Bangga akan sikap suaminya yang bisa tegas pada semua wanita.
🌷🌷🌷
🌷🌷🌷 To Be Continued 🌷🌷🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷🌷🌷🌷
Pembaca yang baik hati tolong tekan tanda like [👍] usai membaca, ya 😊
Terima kasih telah mampir di cerita milikku. Menerima segala kritik dan saran.
Salam,
Ren Hikaru
___________________________________
[1] Shuichi Akai DC
Senin, 11 Mei 2020
___________________________________
__ADS_1
Klik, please
👇